Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 125


__ADS_3

Di tempat lain, khususnya di rumah Aulia, ia sedang berjemur matahari pagi di dekat kolam renang. Tidak henti-hentinya Aulia melihat ke arah benda pipih miliknya, tentunya sedang menanti informasi dari bawahannya.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya bawahannya memberi kabar juga. Mata Aulia membulat sempurna melihat foto wanita yang dianggapnya kampungan, tengah bersandar pada dada mantan kekasihnya. Dilihat foto yang lainnya lagi, Arya dan Ayu sedang bergandengan tangan begitu mesra, semua foto itu sukses membuat Aulia marah.


Matanya memerah menahan kesal tiada tara, selesai melihat semua foto, dan mengeser ponselnya ke atas layar, ada satu file yang belum di bukanya, file itu berupa satu video. Tangan Aulia mengklik layar ponselnya, untuk memutar video itu.


Dilihatnya lekat-lekat kedua orang yang sedang duduk di bawah pohon kelapa. Video itu terus berputar, memutar kejadian di mana Ayu ingin berdiri, namun tangannya di tarik oleh Arya. Pada akhirnya Ayu jatuh kepelukkan Arya, sedetik kemudian bibir keduanya bersatu, keduanya tampak menikmati tautan itu.


"Aaaaarrrrrgggttt! Sialan!" teriak Aulia dengan penuh amarah. Ia tidak segan-segan membanting kasar ponselnya di lantai.


Meremas rambutnya dengan kedua tangan. "Kalian ... lihat saja nanti. Kebahagiaan kalian saat ini tidak akan bertahan lama. Aku akan membunuhmu, dasar wanita kampungan," berang Aulia.


"Hahaha, lihat saja. Aku akan membuat kalian berdua hancur berkeping-keping. Cih, Arya kau kira aku tidak tahu kalau kamu dan wanita kampungan itu hanya pura-pura menikah? Heh? Berani-beraninya kamu bahagia di atas luka yang kuderita." Aulia tertawa sinis. Rencana jahat sudah tersusun rapi dalam otaknya.


"Kalian tunggu beberapa hari ke depan. Semuanya akan berakhir dengan mayat wanita sialan itu. Dan kau Arya, akan menangis bertekuk lutut padaku. Hahaha." Tawa jahat Aulia semakin menjadi. Ia benar-benar emosi, kenapa hidupnya tidak bahagia dan Arya malah sebaliknya.


Aulia memungut ponselnya yang sudah retak dan membawa pergi dari area kolam renang itu.


...****************...


Orang suruhan Aulia masih terus memantau pergerakan kedua sejoli yang masih setia duduk di bawah pohon kelapa.


Kini keduanya sudah tidak malu-malu lagi. Bahkan sekarang senyum keduanya merekah sempurna.


"Apa Bee tidak haus?" tanya Ayu. Selepas berciuman membuat bibirnya serasa kering tersedot oleh Arya.


"Kenapa? Apa minuman yang aku berikan padamu masih kurang, Honey?" tanya Arya tersenyum menggoda.


"Bee ... aku serius loh," ucap Ayu mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Lihat bibir munggilmu itu. Apa perlu aku mencicipinya sekali lagi?" tanya Arya, senyum jahat tersungging di bibirnya.


"Ya ampun Bee. Sejak kapan otakmu menjadi mesum begini?" tanya Ayu, berusaha menghindar.


"Mesum? Kita masih jauh dari kata itu Honey. Setelah kita menikah nanti, barulah aku menunjukkan bagaimana cara menjadi mesum yang sebenarnya padamu," goda Arya masih dengan senyuman jahatnya.


"Bee ...!" pekik Ayu, merasa malu.


"Hahaha. Ya sudah, ayo kita ke sana membeli minuman kelapa muda," ajak Arya mengakhiri pembicaraan panasnya.


"Wah ... ayo Bee. Sudah lama aku tidak minum air kelapa muda," ajak Ayu antusias. Arya hanya mengganguk saja.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan, tidak lupa telapak tangan keduanya melekat sempurna. Kini keduanya telah duduk di salah satu tempat duduk yang telah disediakan di sana.


Payung warna warni berjajar rapi di dekat tempat penjualan kelapa itu, dan mereka berdua duduk disalah satu payung yang masih satu lokasi di situ.


Payung itu bertujuan untuk melindungi para pengungjung, dari terik sinar matahari saat menikmati hidangan di tempat penjualan mereka.


"Tunggu di sini sebentar, ya. Biar Bee yang memesan kelapa mudanya," pamit Arya.


"Siap Bee."


Arya berlalu meninggalkan Ayu sendiri yang sedang duduk di sana, menatap air laut yang berkilauan. Ayu juga memerhatikan sekitar, matanya tidak sengaja menangkap orang yang mencurigakan sedang menatapnya dari kejauhan.


'Gerak-gerik Orang itu sangat mencurigakan.'


"Kamu sedang lihat apa, Honey?" tanya Arya berjalan mendekati Ayu.


Di tangan sebelah kanannya membawa satu buah kelapa muda, yang sudah di tata sedemikian rupa untuk segera di nikmati. Sedang di tangan sebelah kirinya, membawa sepiring pisang goreng hangat.


Melirik ke arah Arya. "Itu Bee," tunjuk Ayu ke arah orang yang ia lihat.


Arya mengikuti arah tunjuk Ayu. " Mana? Tidak ada siapa-siapa di sana," terang Arya yang tidak melihat apa-apa di tempat yang Ayu tunjuk.


"Mana mungkin. Tadi beneran kok, aku melihat ada orang yang mencurigakan di situ, Bee." Ayu berusaha menyakinkan Arya bahwa penglihatannya tidak mungkin salah.


"Baiklah Bee." Ayu melihat ke arah itu lagi.


'Aku yakin tadi di situ ada orang.'


Arya duduk menghadap Ayu. "Ayo, silahkan dinikmati," ucap Arya tersenyum manis, setelah menopang dagunya dengan sebelah tangannya.


Ayu menatap heran ke arah meja. " Loh kok kelapa mudanya cuma satu? Punya Bee, mana?" tanya Ayu menatap manik pria yang ada dihadapannya.


"Itu gampang. Milikmu adalah milikku dan milikku adalah milikmu. Jadi, kita minum berdua di kelapa yang sama," jelas Arya mantap.


"Mana cukup Bee," keluh Ayu. Tiba-tiba raut wajah Arya berubah murung.


Ayu menghembuskan nafas pelan. "Baiklah. Kita minum berdua saja di sini," ucap Ayu.


"Nah, gitu dong." Arya tersenyum senang.


"Oh iya. Kemana sedotannya Bee? Apa pedagang itu lupa menaruhnya?" tanya Ayu heran menatap sebuah kelapa yang tidak ada sedotannya.

__ADS_1


"Gimana kita mau minum?" sambungnya lagi. Menatap Arya yang sedang menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Ayu memincingkan matanya. " Kenapa Bee melihatku seperti itu?" tanya Ayu penasaran saat menatap senyuman Arya yang dianggapnya tidak biasa.


Merongoh sesuatu di saku bagian belakang celananya. "Tara ..." Arya memperlihatkan sedotan berbentuk hati pada Ayu. Sebuah sedotan berbentuk hati berwarna pink itu, memiliki dua bagian menyedot yang biasa di pakai untuk pasangan.


"Ya ampun Bee. Pantes aja, ternyata sudah mempersiapkannya dari awal," ucap Ayu. Ayu tak habis fikir dengan tingkah pria yang ia cintai.


"Hehe, iya dong."


Mereka menikmati pisang goreng hangat itu hingga tandas. Lalu keduanya minum air kelapa menggunakan sedotan berbentuk hati itu. Saat mata keduanya bertemu, masing-masing malah saling melempar senyum termanis yang mereka punya.


Dengan jahilnya Ayu menyedot air kelapa banyak-banyak, Arya juga tidak mau kalah, mereka sedang peran minum sekarang, hingga air kelapa itu habis tak tersisa. Setelah mulut mereka terlepas dari ujung sedotan, kedua orang itu pun tergelak di tempat, mengingat kembali apa yang barusan mereka lakukan.


Arya pamit untuk membayar pesanan mereka, setelah itu barulah pergi menghampiri Ayu yang masih duduk di kursi.


"Ayo kita pergi!" ajak Arya.


"Kali ini kita mau pergi kemana lagi?" tanya Ayu. Ia bangkit dari duduknya, dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Arya.


"Temani aku membeli baju untuk acara nikahan Azka dan juga Amel," jawab Arya. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Ayu yang sudah melingkar indah di pergelangan tangan Arya.


Ayu mendongak menatap Arya. "Eh, bukankah Bee sudah membelinya hari itu, ya?" tanya Ayu mengingat-ingat.


"Jangan tanyakan hari itu, Honey," pinta Arya. Membuang nafas kasarnya.


"Emang kenapa Bee?" tanya Ayu penasaran.


"Hari itu fikiran Bee tidak baik-baik saja dan memilih baju sembarangan," jelas Arya. Bahkan baju yang ia beli hari itu tidak pas di tubuhnya.


Ayu tersenyum menggoda. "Apa itu karena cemburu?" tanya Ayu. Matanya berkedip-kedip masih menatap menatap Arya.


"Kalau sudah tahu jawabannya, kenapa harus di tanya lagi?" protes Arya.


"Hahaha. Bee sangatlah manis ketika sedang cemburu. Hihihi," Ayu tertawa dan bahkan terkikik geli mengingat kenangan mereka waktu di butik tempo hari.


"Ayo cepat jalan! Jangan mengejekku terus!"


"Hahaha. Oke Bee."


Keduanya pun berjalan mendekati mobil Arya yang masih terparkir di tempat parkir yang ada di sana.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2