
"Terserah. Aku tak peduli. Pergi sana! Menganggu makanku saja," usir Amel. Amel meneruskan makan kuenya yang sempat tertunda.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri pacarnya. "Sayang, sedang apa kau di sini?" tanya pria itu.
Suara ini persis seperti dari si pria bajin*an itu. batin Amel.
"Ini Yank. Kamu masih ingat dengan wanita itu atau tidak?" tunjuk Yuni pada Amel yang sedang memakan kue.
"Wanita yang mana?" tanya pria itu.
Pria itu memang tidak jelas melihat Amel karena Amel membelakangi mereka. Pergerakan mereka bertiga sedang di pantau oleh seseorang bahkan dia ingin menonton pertunjukkan yang akan mereka lakukan.
"Lihat saja sendiri!"
"Hei! Lihatlah ke sini!" ucap pria itu sedikit berteriak. Amel memutar bola matanya jengah.
Sial sekali. Tadi, seekor kecowa betina menghampiriku dan sekarang di tambah lagi satu ekor kecowa jantan. Bikin muak saja. Mau makan kue rasanya tak enak melihat wajah mereka. batin Amel.
"Ada apa? Kenapa kalian berisik sekali sih? Menganggu tahu!" ketus Amel. Amel sudah tidak tahan lagi dengan keberadaan mereka. Amel berbalik menghadap mereka.
"A--Amel! Sedang apa kau di sini?" tanya pria itu terkejut melihat Amel.
"Menurut kamu?"
"Kenapa kau berada di tempat seperti ini?" tanya pria itu lagi.
"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini? Mau bilang aku tak pantas berada di acara besar seperti ini?" tanya Amel sewot.
"B--Bukan begitu juga.Hanya saja ... hanya saja, lama tidak bertemu kau makin cantik." Pria itu memuji Amel.
Cantik? Apa Riski tertarik lagi padanya? Cih, aku tidak akan membiarkan ini terjadi. batin Yuni.
"Oh." Amel menjawab dengan singkat.
"Riski, apa yang kamu lakukan?" tanya Yuni pada Riski, mantan pacar Amel.
"Santailah sedikit sayang. Amel juga dulu adalah sahabatmu. Kamu sudah tahu 'kan dengan sifat asliku?" Riski sedikit memberi kode pada Yuni.
Cih, mau bermain trik denganku? Tidak akan terjadi lagi. Dasar tukang bersandiwara! Batin Amel kesal.
"Maaf ya. Aku tidak kenal dengan kecowa seperti kalian. Permisi!" ucap Amel acuh tak acuh. Amel melangkah ingin pergi karena tidak mau berlama-lama dengan kedua orang itu.
__ADS_1
"Ckck.Rupanya kau dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu saja seperti ini, tidak ada orang yang berani memaksamu. Tapi, sekarang kau sudah beda, kau sudah tak suci lagi seperti dulu. Sayang sekali." Riski mencomooh Amel. Amel menjadi marah karena perkataan Riski.
Berani sekali dia mengungkit masa laluku. Dasar bermuka tebal! batin Amel.
"Aku jadi seperti sekarang karena kalian berdua. Dan terima kasih telah memberikan kebahagiaan padaku lagi. Aku tidak mau berurusan dengan kalian berdua, anggap saja kita tidak saling kenal. Oke?"
Amel marah dengan mereka tapi Amel juga bersyukur karena berkat kejadian itu, Amel bisa hidup dengan anak-anaknya.
"Tidak bisa begitu. Hasratku belum terpuaskan. Aku ingin mencicipimu." Dengan tidak tahu malunya Riski mengucapkan kata itu pada Amel.
"Riski! Apa ya--" ucap Yuni tertahan.
Plak!
"Jaga ucapanmu! Dasar laki-laki tidak tahu malu!" Amel menampar pipi Riski dengan keras. Membuat Riski memegang pipinya.
"Heh. Bukankah kamu juga adalah wanita yang tidak tahu malu? Berani mencari lelaki tua untuk ditiduri?" Riski bukannya diam malah balik mengejek Amel.
"Terserah, kamu mau mengatakan apa tentangku.Sekarang aku tidak peduli lagi dengan kalian. Awas aku mau pergi!"
Amel beranjak pergi meninggalkan Riski dan Yuni. Riski meraih tangan Amel dan mencekamnya.
"Lepaskan tanganku!" bentak Amel.
"Dasar gila!" hardik Amel kesal.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu." Riski mempererat genggaman tangan Amel. Amel meringis kesakitan akibat cengkraman di pergelangan tangannya.
"Lepaskan tangannya!" hardik seseorang, membuat mereka melihat ke arah asal suara. Seseorang ini adalah dia yang sedari tadi memantau pergerakan mereka.
"K--Kakak. Hehe. Lihatlah Kak, biar aku perkenalkan padamu. Dia Amel, mantan pacarku yang miskin dan sok suci dulu." Riski masih belum melepaskan genggamannya.
Kakak? Apa Azka adalah kakaknya Riski? batin Amel.
"Lepaskan tangan kotormu darinya!" hardik Azka lagi.
"T--Tapi Kak. Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Riski. Riski heran dengan tingkah Azka pada Amel.
Apa Amel kenal dengan Kakak tiriku? Mana mungkin Kakak menyukai gadis kotor sepertinya? Dan kenapa Amel bisa kenal dengan Kakak. Apa dia menjual diri pada Kakak? batin Riski.
"Lepaskan!" bentak Azka. Riski yang tersadar dengan lamunannya segera melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Ayo ikut saya!"
Azka segera meraih tangan Amel dan membawanya pergi menjauhi Riski. Azka membawa Amel duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Kenapa Bapak malah menarik tangan saya?" tanya Amel menepis tangan Azka.
"Saya tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu," ungkap Azka. Azka kemudian duduk di samping Amel.
Orang lain? Bukankah Riski memanggilnya dengan sebutan Kakak? Ada apa ini? Dan Ternyata menunda memberitahunya tentang rahasia yang aku sembunyikan memang tepat. Aku tidak akan berhubungan dengan mereka lagi. Jika Riski dan Azka saudara maka mereka pasti sama. batin Amel.
"Acaranya sebentar lagi di mulai. Kamu tetaplah di sini saja," ucap Azka datar. Amel hanya diam tidak menangapi Azka.
Pokoknya sehabis acara malam ini, besok aku harus mengundurkan diri dari perusahaan Azka. Apa pun yang terjadi tetap aku harus bisa keluar dari perusahaan ini. batin Amel.
Kenapa dia diam? Apakah dia marah aku memegang tangannya? batin Azka.
Kata demi kata peyambutan disampaikan oleh tokoh-tokoh terkait, bahkan ayah Azka juga sudah memberikan kata peyambutan untuk semua tamu yang hadir. Daniel juga membicarakan tentang perihal menjodohkan putra sulungnya. Semua orang tampak bersorak. Kini giliran terakhir kata peyambutan dari Azka.
"Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana kalau tidak mau gajimu di potong." Azka sengaja mengancam Amel agar Amel tidak pergi lagi dan diganggu oleh Riski.
"Iya." Dengan malas Amel hanya menjawab singkat.
Azka maju ke panggung dan bediri di podium, dia lalu mulai berbicara. Dengan wajah dinginnya dan kharismanya bahkan seekor nyamuk pun takut bersuara dan tentunya hanya melihatnya dengan tatapan penuh damba.
"Selamat malam semua, saya selaku CEO dan Direktur di perusahaan Abraham Group Agency, mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk pihak-pihak terkait yang sudah bekerja sama dengan perusahaan ini hingga menjadikan perusahaan ini berkembang sangat cepat.
Saya lebih berterima kasih kepada para karyawan dan karyawati yang telah bekerja keras dan mengabdikan diri pada perusahaan saya.
Untuk itu dalam seminggu ke depan saya akan membuka diskon besar-besaran untuk perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan saya."
(Semua orang bertepuk tangan.)
"Masih ada hal yang ingin saya sampaikan lagi. Perihal perjodohan yang dibicarakan oleh ayah saya. Saya selaku putra sulung dari pak Daniel yang terhormat, mengakui bahwa saya tidak mau dijodohkan dengan siapapun.
Karena saya sudah memiliki seorang yang saya dambakan. Untuk itu kalian semua harus mendukung saya agar saya bisa mendapatkannya karena dia sangat sulit di dekati. Biar saya perkenalkan dia pada kalian semua."
Semua orang tampak heran dan bertanya-tanya, pasalnya baru kali ini Azka dengan lantang mengakui sedang menyukai seseorang dan bahkan ingin memiliki orang itu.
Sulit di percaya seorang yang sesempurna seperti Azka bisa menyukai wanita. Wanita mana yang tidak menyukai Azka bahkan yang sudah bersuami pun ingin memiliki Azka.
Banyak yang mengatakan bahwa wanita yang di sukai oleh Azka adalah wanita yang sangat beruntung. Kirana yang bahkan hadir di acara tersebut mengira bahwa dirinyalah yang di maksud oleh Azka.
__ADS_1
Dengan bangga dan keyakinan yang kuat, Azka menunjuk Amel untuk naik ke atas panggung. Dengan marah Kirana meremas gaunnya dengan kuat. Amel yang memang tidak konsen dengan arah pembicaraan Azka langsung naik begitu saja ke atas panggung. Semua orang bertepuk tangan dan bahkan memuji mereka adalah pasangan yang serasi.
Bersambung❣