Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 84


__ADS_3

Darren menghampiri ibu dan ayahnya yang masih menikmati waktu berdua di ruang keluarga.


"Selamat malam, Mom, Dad!"sapa Darren.


"Tumben malem-malem keluar, ada apa? Kenapa nggak istirahat di kamar?"tanya Monica ibu Darren. Ia menatap anaknya curiga.


"An--Anu Mom. Aku ingin menginap lagi di Apartemen Azka." Darren yang melihat tatapan ibunya menjadi gugup.


"Emang Azka kenapa?"tanya wanita parubaya itu lagi.


"Nggak kenapa-kenapa sih, Mom, hehe,"ucap Darren.


"Itu Mom, Aku dengar dari Sonya, Azka akan segera menikah, jadi ... boleh 'kan jika aku menginap di sana?"jelas Darren. Dia berusaha membujuk ibunya agar setuju dia menginap di Apartemen Azka.


"Menikah? Sama siapa?"tanya Monica menatap putra semata wayangnya dengan serius.


'Yes, Mommy sudah termakan umpanku,'batin Darren.


"Ya sama wanita yang ia cintailah Mom. Mommy seperti orang yang tak pernah muda saja,"terang Darren acuh tak acuh.


"Mommy fikir wanita yang sering dibangga-banggakan Laksmi Itu. Mommy nggak terlalu suka dengan wanita yang sering dipuji oleh Laksmi, yang seorang model dari negara tetangga itu loh,"terang Monica.


Laksmi adalah salah satu teman sosialita Monica, namun Monica tidak terlalu akrab dengannya, sejak kematian yang di alami oleh kakaknya dulu.


Mereka dulunya bersahabat, tapi ada kejadian yang masih mengganjal di hati Monica, dia curiga kalau Laksmi itu dalang di balik kematian kakaknya, ibu dari Azka.


Monica tidak akan pernah melupakan kejadian kala itu dengan mudah, namun sampai sekarang dia tidak mendapatkan bukti apapun. Dan membiarkan masalah itu sampai sekarang belum bisa diselesaikan bahkan polisi juga tidak memproses tentang kecelakaan mobil orang tua Azka.


Biar bagaimana pun tidak ada bukti kuat untuk menuduh Laksmi, jadi mau tidak mau Monica hanya menutup rapat-rapat kecurigaannya itu.


Di tempat perkumpulan ibu-ibu konglemerat seperti mereka, banyak ibu-ibu yang memuji-muji putra dan putrinya. Berbeda dengan Laksmi dia sengaja memuji Azka di depan para ibu-ibu sosialita agar dianggap baik dan menutupi kedok buruknya. Sifat Laksmi yang seperti itu membuat Monica muak tak suka.


Apalagi Laksmi juga sengaja mengatakan bahwa Azka akan segera bertunangan dengan wanita yang bernama Kirana, membuatnya lebih lebih tidak menyukainya bahkan tatapan tak sukanya ia perlihatkan secara terbuka.


Monica dan suaminya memang menghadiri acara ulang tahun perusahaan milik Abraham group, namun mereka melewatkan pertunjukan menarik saat Azka memperkenalkan Amel sebagai wanitanya.


Mereka terjebak macet yang begitu panjang, mobil mereka berada di tengah-tengah mobil lainnya, mau putar balik pun sudah terlambat, banyak mobil yang antri juga di belakang mobil mereka.


Kalau macet biasa masih mendingan namun macet pada waktu itu disebabkan oleh kecelakaan antara mobil dan truk pengantar barang, hingga membuat mereka menunggu lama di dalam.


Sudah menunggu cukup lama namun masalah kecelakaan itu tidak kelar-kelar juga, dan pada akhirnya mereka turun dari mobil dan mencari taxi.

__ADS_1


"Bukan yang itu Mom. Mommy tenang saja. Wanita yang ingin dinikahi Azka bukan dia. Tapi, seorang Wanita yang sederhana dan sangat lembut,"ungkap Darren.


"Mommy juga akan terkejut jika aku mengatakan sesuatu. Tapi, ini belum saatnya tuk memberitahukan hal yang penting itu pada Mommy and Daddy,"ucap Darren lagi.


"Kenapa kau harus memberi kami semacam teka-teki, Mommy jadi penasaan, kan?"ucap Monica.


"Hahahaha. Aku akan membocorkan sedikit tentang rahasia itu. Tapi, Mommy harus janji tidak akan menceritakan tentang ini pada teman sosialitanya Mommy."


"Iya Mommy janji. Kan kamu tahu sendiri Mommy nggak pernah mengumbar tentang masalah keluarga di luar."


Monica tidak suka bergosip tentang keluarganya di luar, dan di waktu perkumpulan ibu-ibu dia hanya menjadi penyimak saja.


"Iya. Aku percaya, Mom. Begini Mom ... sebenarnya kalian sudah mempunyai cucu da--"ucapan Darren terputus.


"Apa?! Kenapa kau seperti ini Darren. Mommy dan Daddy-mu tidak pernah mengajarimu melakukan hal itu pada seorang wanita. Kenapa kau malah memiliki anak dahulu, hancur sudah martabat keluarga kita. Siapa wanita itu? Kau harus segera membawanya ke sini, untuk bertemu dengan kami,"ucap Monica menyergah ucapan anaknya dengan cepat. Dia tak habis fikir dengan anaknya.


"Mommy tenang dulu." Darren berusaha menenangkan ibunya yang tengah menatapnya dengan tatapan yang mematikan.


"Tenang bagaimana? Masalah sudah sebesar ini bagaimana Mommy bisa tenang? Dad, lihatlah apa yang putra kita lakukan di belakang!" Monica mengadukan perbuatan anaknya pada suaminya yang hanya duduk diam saja sedari tadi.


"Mommy sabar dulu, coba kita dengarkan apa yang akan Darren ucapkan,"ucap Jonattan ayah Darren, dia tidak mau mengambil kebijakan yang gegabah. Dia juga ingin mendengar penjelasan dari putranya.


"Terserah Daddy saja, Mommy sudah pusing dibuatnya." Monica memijat pelipisnya.


"Begini Mommy, itu anak dari Azka bukan dariku Mom, jadi jangan salah paham! Mommy ingat kejadian 3 tahun lalu, waktu aku memberitahu kalian tentang Azka yang tidur dengan seorang wanita asing, kan? Nah, wanita itu yang saat ini akan dia nikahi,"jelas Darren serius.


"Benarkah? Mommy nggak nyangka, Mommy malah senang Azka dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Terus kapan kira-kira Mommy dapat bertemu dengan cucu Mommy itu?" Wajah Monica berubah seratus delapan puluh derajat yang tadinya marah malah menjadi sangat senang.


"Anakmu di sini, Mom. Belum menikah dan mempunyai anak,"ucap Darren pura-pura cemberut.


"Sama saja. Mommy dan Alm. Ibunya 'kan saudara kandung. Jadi, anaknya Azka juga itu cucunya Mommy. Lalu bagaimana denganmu? Mommy juga sudah tak sabar mengendong cucu dari anakmu."


Monica kembali mengingatkan Darren yang sudah berumur 28 tahun namun masih berstatus single, padahal banyak yang mengantri untuk menjadikannya sebagai suami tapi Darren tetap saja menolak wanita-wanita itu. Darren masih memperjuangkan cinta Sonya yang belum sempat terbalas.


'Lah, tadi takut aku melakukan hal itu pada seorang wanita. Setelah mendengar kabar tentang Azka mempunyai anak saja, langsung berubah drastis. Dasar Mommy!'batin Darren heran dengan kelakuan ibunya.


"Jangan berfikiran sembarangan, tentunya kau menikah dulu baru lahirkan cucu untuk Mommy dan Daddy." Monica seakan tahu apa yang Darren fikirkan saat ini.


"Yaelah Mom, masih dalam proses berjuang. Tugas Mommy dan Daddy tentunya banyak berdoa biar Darren cepat diterima,"ucap Darren enteng.


"Kapan ke tahap selanjutnya? Ah, kamu payah dari dulu jawabanmu selalu sama, kapan nikahnya kalau tidak ada kemajuan sama sekali,"cibir Monica pada putranya.

__ADS_1


"Intinya malam ini Mommy dan Daddy harus memberi izin padaku untuk menginap di Aparatemen Azka."


"Ya pergi saja. Yang paling penting jangan melupakan tugas kamu sebagai dokter. Kamu tidak usah menghiraukan kami di sini. Temani saja kakak sepupumu itu,"pinta Monica.


"Baiklah Mom. Mommy tenang saja dan baik-baiklah di sini. Ambil kesempatan ini untuk dinner romantis bersama Daddy saat Darren tak ada." Darren menggoda ibunya sambil mengedipkan sebelah mata. Orang tuanya hanya geleng-geleng kepala.


"Kalau gitu, Darren pamit ya, Mom, Dad."


"Iya hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut!"titah Monica.


"Iya, Mommy sayang."


Darren pun mengambil kunci mobil yang masih ada di kamarnya tidak lupa membawa ponsel menuju Apartemen Azka.


Sepanjang perjalanan Darren terus memikirkan Sonya. Dia sibuk memikirkan cara agar bisa berani mengatakan cinta pada Sonya secara bertatap muka. Memikirkannya saja membuatnya gugup.


"Waktu mengoperasi pasien aku tak segugup ini. Dan baru kali ini aku menjadi gugup padahal belum mengatakan cintaku secara empat mata pada orangnya,"lirih Darren. Tangannya sudah berkeringat hingga mengharuskan ia mengosok keringat itu dengan tisu. Dia kembali fokus menyetir melajukan mobilnya yang pelan menuju sedang.


Azka dan Arya kini telah tiba di Apartemen. Azka belum sempat memberitahukan Darren untuk menginap di Apartemen miliknya.


Mereka yang baru saja turun dari mobil dikagetkan dengan suara klakson mobil lainnya. Yah, itu mobil Darren yang juga baru sampai di sana.


"Apa kau sudah memberitahunya?"tanya Azka penuh selidik.


"Aku sibuk menyetir, jadi tak sempat menghubunginya. Dan harusnya aku yang menanyakan ini padamu. Apa kau yang menghubunginya?" Arya balik bertanya.


"Tidak. Aku ... lupa mengghubunginya,"jelas Azka.


'Lupa karena terlalu memikirkan Amel, kan?'batin Arya.


Kedua pria itu melihat Darren turun dari mobil memperlihatkan senyuman mengembang ke arah mereka. Darren berjalan perlahan menghampiri Azka dan Arya yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hai!"sapa Darren.


"Kesambet, ya?"tanya Arya.


"Kamu tahu dari mana kalau kita akan menginap di sini?"tanya Azka penuh selidik.


"Si datar A (Azka) yang terhormat dan Si datar B (Arya) yang aku sayanggi, ayo kita masuk dulu, ya! Di luar dingin, takut masuk angin,"ucap Darren acuh tak acuh.


Tanpa mendengar balasan dari keduanya, Darren segera melangkah pergi dan masuk ke dalam Apartemen. Azka dan Arya saling pandang mereka heran dengan tingkah Darren yang terbilang sedikit aneh.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2