Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 130


__ADS_3

Melihat ada pergerakan dari Azka membuat orang yang berada di ruangan yang sedang duduk di sofa, segera menemui Azka yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Azka, di mana yang sakit, Nak?" tanya Monica, setelah menghampiri keponakannya.


"D--Dimana ibu, Tante?" tanya Azka dengan suara seraknya. Azka tidak mempedulikan rasa sakit pada tubuhnya, yang ia inginkan hanyalah bertemu sang ibu tercinta.


"Kamu minum dulu, ya. Baru bicara lagi," ucap Monica, memaksa tersenyum agar keponakannya kuat.


"Tante, Azka ingin bertemu ibu," pinta Azka.


Monica memeluk keponakannya, Ia tidak menyangka Azka yang masih kecil sudah mengalami hal yang berat seperti ini.


Bagaimana jika Azka mengetahui bahwa ibunya telah tiada? Apa yang harus Monica katakan nanti? Memikirkannya saja Monica sudah tak sanggup.


"Kenapa diam Tante? Azka ingin menemui ibu," ungkap Azka.


Jonnatan menepuk pundak Monica seraya menyalurkan kekuatan pada istrinya. "Azka harus kuat ya sayang. Azka harus sabar, Azka 'kan anak pinter," terang Monica, ia berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Tante aku ingin bertemu ibu," pinta Azka lagi.


"Ibu sudah tenang, Nak. Kamu main dengan Darren saja, ya? Darren juga ada di sini loh," bujuk Monica. Berusaha tetap tegar di depan anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya.


"Tidak mau Tante. Aku ingin bertemu ibu. Huhuhu." Azka menangis dikala permintaannya tak kunjung dituruti.


Monica mengusap air mata Azka. "Baiklah. Tante janji, setelah tubuh Azka membaik dan tak sakit lagi, Tante akan membawa Azka menemui ibu?" bujuk Monica.


"Tapi, Azka ingin menemui ibu sekarang, Tante."


"Oke, Azka makan bubur dulu. Tante sudah masakin enak buat Azka. Nanti, setelah makan bubur, barulah Tante anterin Azka menemui ibu." Akhirnya Monica mengalah.


"Iya Tante. Azka harus makan yang banyak biar Ibu senang," terang Azka girang. Dia senang tantenya akan mempertemukan dirinya pada ibu tercinta.


"Iya."


Azka menghabiskan buburnya dengan cepat, lalu segera melompat turun dari ranjang rumah sakit, ia langsung menarik lengan Monica untuk segera membawannya menemui ibunya.

__ADS_1


Monica yang masih terpukul akan kejadian yang menimpah kakak kandungnya, mau tidak mau, siapa atau tidak siap, dia harus menguatkan hatinya untuk memberitahukan kejadian pahit ini pada Azka.


Monica mengandeng tangan Azka. Darren di gendong oleh Jonathan, juga menemati Monica untuk mengatar Azka ke ruangan jenazah tempat dimana ibunya berada.


Monica sempat berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan menyayat hati itu. Setelah mengatur nafasnha barulah ia dan yang lainnya masuk ke dalam ruang jenazah.


Sesampainya di dalam, Monica melepaskan tangan Azka, dan berjalan berjalan sendiri melewati beberapa jenazah, lalu berhenti tepat di kaki jenazah yang bertuliskan nama Ny. Diana.


Setelah itu barulah Monica memberanikan diri tuk memanggil Azka mendekatinya, Azka hanya menuruti saja tanpa tahu kejadian buruk apa yang nanti akan dia terima.


Melihat Azka yang sudah berada dijangkauannya, Monica segera mengulurkan kedua tangan, menggendong Azka tuk melihat seseorang yang sudah terbujur kaku di ranjang rumah sakit.


Monica berjalan mendekati kepala jenazah. Berulang kali dirinya membuang nafas kasarnya, dengan berat hati, akhirnya Monica berhasil membuka penutup kain berwarna putih di bagian kepala jenazah itu.


Azka melihat dengan mata kepalanya sendiri, wajah ibunya yang semalam masih tertawa bercanda ria bersamanya kini telah berubah menjadi wajah yang sudah kebiruan. Bibir yang semalam masih merah merona karena lipstik, kini telah berubah menjadi pucat pasi. Mata ibunya yang terbuka lebar dan indah saat menatapnya semalam, kini telah tertutup rapat dan teduh.


"Ibu jangan tidur lagi! Azka di sini, Bu. Ayo, bangunlah! Oh iya, tadi, Tante Monica memasak bubur untukku. Masakan Tante enak, Bu. Hingga Azk menghabiskan semua bubur itu. Hihihi," celoteh Azka.


"Sayang, relakan ibumu, ya Nak." Monica mencium puncak kepala Azka. Monica berusaha tetap kuat di depan Azka.


Pertahanan Monica runtuh, saat mendengar suara Azka yang sedang memanggil ibunya.


"Azka yang sabar ya sayang. Ibu telah meninggalkan kita semua. Huhuhu." Tangis Monica pecah.


"Kenapa ibu tidak bangun Tante?" tanya Azka polos.


"Azka yang sabar. Azka yang sabar. Huhuhu, mungkin Tuhan lebih sayang ibu. Makanya dia cepat mengambil ibumu. Pokoknya Azka yang kuat, Azka yang sabar. Biar arwah ibu bisa tenang," jelas Monica agar Azka bisa kuat dan mengerti.


"Huhuhu. Azka pengen ibu, Azka pengen ikut ibu. Huhuhu, jangan Ambil ibuku!! Jangan ambil ibuku!! Jangan!!!" teriak Azka tersedu-sedu dalam pelukkan Monica.


"Azka 'kan pintar. Masih ada Tante, masih Om, dan juga masih ada Ayah."


"Ayah!" lirih Azka mengingat kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi. Ayahnya sudah membuat ibunya menangis.


"Huhuhu, Azka tidak mau Ayah. Ayah jahat! Ayah jahat! Pokoknya Azka mau Ibu! Azka ingin pergi bersama Ibu. Azka ingin ikut Ibu!! Huhuhu! Ibu bangun ... Azka ingin ikut Ibu!! Huhuhu," renggek Azka, menangis keras.

__ADS_1


......................


"Ibu!! Ayah jahat!!" teriak Azka.


Azka yang begitu frustasi, meremas kepalanya dengan kedua tangannya. Mobil yang dikendarai olehnya menjadi tak terkendali. Kini ia sudah melawan arus dalam mengemudi.


Dari kejauhan terlihat mobil seseorang sedang melaju kencang ke arahnya. Melihat itu Azka refleks membanting stirnya, hingga mobilnya menabrak pembatas jalan. Untung saja Azka secepatnya mengerem mobilnya, kalau tidak, mungkin mobilnya sudah terjun bebas ke laut.


Azka meronggoh ponselnya di saku celana miliknya. Dia berusaha menelepon siapapun untuk segera menolongnya. Namun ponselnya tidak bisa digunakan.


"Sial! Kenapa aku malah mengaktifkan mode penerbangan?" umpat Azka frustasi, menahan sakit di pelipisnya.


Azka kemudian menonaktifkan mode penerbangan di ponselnya, dan segera memencet nomor panggilan Darurat pada ponselnya.


Di rumah milik Arya. Semuanya masih menunggu kabar dari Azka, makanan mereka juga sudah dingin karena telah dibiarkan begitu saja tanpa disentuh. Tiba-tiba ponsel milik Arya berdering, Arya segera melihat siapa orang yang meneleponnya.


"Dari Azka!"


"Ayo cepat angkat!" pinta Darren. Arya hanya mengangguk dan langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo Az, kamu di mana?" tanya Arya cepat.


"T--Tolong aku!!" pinta Azka dengan suara berat.


"Halo! Halo! Kamu di mana?" tanya Arya panik.


Arya melihat ke layar ponselnya. "Sial!!! Ponselku mati," gerutunya.


Setelah selesai menelepon panggilan darurat yang diperuntukkan untuk Arya. Azka pun seketika pingsan, karena pusing yang sudah tak tertahankan akibat pelipisnya terkena sedikit benturan pada stir kemudi saat menabrak pembatas jalan tadi.


Arya segera meminjam ponsel Darren untuk melacak keberadaan Azka melalui GPS yang tersambung pada ponsel milik Darren. Setelah mengetahui tempat di mana Azka berada, barulah mereka berdua bergegas ke lokasi Azka.


Tidak lupa menyuruh semuanya menunggu kabar dari mereka berdua. Juga menyuruh agar mereka semua makan duluan saja, tanpa menunggu kedatangan mereka nanti.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2