
Di ruang tamu. Azka juga pusing melihat tingkah Arya yang terbilang sangat langkah. Bahkan saat kepergian Sonya, Arya tidak membuka suaranya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ar? Apa kau ada masalah?"tanya Azka mencoba mencairkan suasana.
"Entahlah." Jawaban singkat Arya membuat Azka semakin gencar untuk berbicara lagi.
"Ayolah Ar. Jika kamu ada masalah kamu bisa menceritakannya padaku,"pinta Azka.
"Tau ah."
'Dia ini keras juga.'
"Apa kau masih menganggapku sebagai saudara?"tanya Azka mengeluarkan jurus ampuh miliknya.
'Kau tidak dapat menyembunyikan masalahmu padaku, Ar.'
"Maafkan Aku, Az."
"Kau tahu aku pusing melihatmu diam seperti ini. Dan kau bahkan sudah menganggu waktu diriku ingin melancarkan aksiku pada Amel. Kau dan pria tua itu sama saja. Baru juga ingin mendaratkan bibir sudah di ganggu saja sama kalian,"ungkap Azka mengingat kembali kejadian di mobil dan di sofa.
"Aku juga binggung dengan diriku. Entah sudah sejak kapan aku seperti ini, yang jelas akhir-akhir ini aku terus memikirkan gadis itu." Akhirnya Arya mengeluarkan unek-uneknya dalam hati.
"Serius? Emang dia kenapa?"tanya Azka pura-pura tak tahu.
"Ya. Dia sukses membuatku kesal,"ucap Arya merubah ekspresi wajahnya.
"Kesal? Kok bisa?"tanya Azka semakin penasaran.
"Tau ah. Aku kalau sudah membahas tentang gadis itu, pengennya naik darah mulu."
'Apalagi saat mereka membahas tentang pria tukang ojek itu.'
"Mending kau banyak-banyaklah istirahat." Saran Azka enteng.
"Saranmu sudah bosan kulakukan hingga membuatku gagal fokus. Masa minyak kelapa kukira air putih,"terang Arya mengingat kebodohannya waktu itu.
"Hah? Sampai separah itu? Apa kau ... juga meminumnya?"tanya Azka lagi.
"Ya. Benar-benar sial."
Azka hampir saja tergelak mendengar penuturan sahabat sekaligus orang yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Azka tak habis fikir, minyak kelapa dan air putih sangatlah berbeda dan dia pada saat itu tidak dapat membedakannya sungguh itu di luar nalar.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Jangan ditahan-tahan! Itu membuatku sangat frustasi."
Akhirnya tawa Azka pecah juga. "Kamu 'kan yang sering mengejekku bucin? Nah, kualat 'kan kamu,"ucap Azka setelah tawanya meredah bahkan sekarang dia masih terkikik.
"Aku sama kamu berbeda jauh."
"Ya, sangat-sangat jauh berbeda. Aku bucinnya terus terang, kalau kamu pendam sendiri. Jadi kamunya juga yang sengsara sendiri,"ucap Azka penuh penekanan. Dia bahkan sedikit menyidir Arya.
__ADS_1
"Emang aku sakit apa, ya? Kenapa bisa begitu?"tanya Arya. Arya benar-benar tidak paham dengan ucapan Azka padahal ucapan Azka sudah sangat jelas.
'Dia benar-benar menjadi bodoh.'
"Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta, Ar. Itu saja kamu tak tahu." Azka langsung berbicara pada inti penyakit Arya.
"Masa? Aku bisa jatuh cinta lagi? Sebenarnya aku sangat binggung, Az. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti sekarang, dulu waktu bersama Aulia tidak separah ini,"ungkap Arya.
"Hati-hati Ar, sebaiknya kau secepatnya menyadarinya. Jangan sampai kau terlambat menyadari perasaanmu! Dan orang lain yang akan merebut dia darimu." Azka menakut-nakuti Arya.
"Apa benar begitu?"tanya Arya serius.
"Ya. Kau sebagai seorang pria harus mempunyai keberanian penuh. Di terima atau di tolak tidak ada yang tahu. Makanya kau cobalah dulu, jangan sampai ke depannya kau menyesal nanti!"
Azka melirik Azka sekilas, ucapannya dapat membungkam mulut Arya.
"Its okay, kamu berfikirlah yang mateng. Aku ke kamar menemui Amel dulu, sekalian aku akan pamit pulang padanya,"ucap Azka lagi dan berdiri dari duduknya.
"Baiklah. Aku tunggu kau di sini. Nanti kita pulang bareng ke Apartemenmu,"ucap Arya.
"Terserah kau saja."
Azka segera berlalu menjauhi Arya yang masih duduk di sofa ruang tamu, bahkan sesekali Azka tersenyum. Akhirnya dia sudah mengetahui bahwa Arya telah jatuh cinta lagi dan kali ini sudah pasti cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Azka berharap Arya dapat mengutarakan perasaannya pada Ayu agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Karena hati seseorang bisa berubah kapan saja. Jadi, sebelum itu terjadi kita juga harus berusaha.
'Semangat, Ar.'
"Kenapa semakin dipikirkan malah semakin rumit, sih?" lirih Arya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Kedua sejoli kini sudah masuk kembali ke dalam rumah. Mereka melihat Arya masih duduk di sofa. Sonya pamit pada Darren untuk ke kamar saja, agar Arya tak curiga. Lalu Darren segera menghampiri Arya yang sedang meremas rambut tak bersalahnya.
"Lama-lama kau bisa botak, Ar."
Kemunculan seseorang yang tiba-tiba membuat Arya terperanjat kaget.
"Jangan mengejekku!" Ucap Arya datar.
"Siapa yang mengejekmu. Sebaiknya kau obati dulu hatimu."
"Kok kamu balik sendiri, di mana Sonya?"tanya Arya mengalihkan pembicaraan.
"Dia sudah kembali ke kamar, kamu saja yang tak melihatnya,"jelas Darren sedikit berkilah.
"Oh."
"Di mana Azka?"tanya Darren.
"Dia pergi menemui Amel, untuk pamit pulang."
__ADS_1
"Kau ini harusnya kau memanggilnya dengan sebutan kakak Ipar. Huh! Tak ada sopan-sopannya,"gerutu Darren.
"Aku tak biasa."
"Harus di perbiasakan,"
"Baiklah akan aku coba."
"Nah, gitu dong."
Azka melihat anak-anaknya masih tertidur pulas di kamar. Dia menghampiri Amel di sofa, Amel masih fokus menatap ponsel di tangannya dan saking seriusnya ia tak menyadari kedatangan Azka.
Azka mengambil kesempatan itu untuk mengecup pipi tembem milik Amel.
Cup!
Tentu saja membuat orang yang memiliki pipi tembem tersebut terperanjat. Bahkan Amel refleks memukul Azka sekuat tenaga. Azka malah menerima pukulan itu dan terkikik di tempat.
Dia pun akhirnya pamit pada Amel untuk kembali ke Apartemen, tidak lupa ia mengingatkan kembali pada Amel tentang foto prewedding mereka. Selesai pamit barulah ia keluar menuju ruang tamu.
Di hampirinya kedua lelaki dewasa yang masih betah duduk santai di sana.
"Ayo kita pulang!" Ajak Azka dan langsung berjalan menuju pintu keluar.
Sontak mereka berdua melihat ke arah sumber suara. Tanpa bicara keduanya bangkit dari duduk dan berjalan mengikuti Azka dari belakang.
Sonya yang sudah masuk ke dalam kamar, menatap Ayu yang
sedang tertidur pulas, senyum Sonya terlukis indah di bibirnya.
'Aku harap kakak dan kak Arya segera bersatu. Karena aku adalah orang pertama yang akan bahagia melihat kalian bersama.'
"Maafkan aku, Kak. Untuk kali ini saja aku tak akan membocorkan rencana besarku demi melihat kalian berdua bersama,"lirih Sonya.
Sonya perlahan berjalan mendekati Ayu dan duduk di ranjang. Kemudian ia mengusap wajah teduh Ayu dengan lembut.
'Kak Ayu, orang pertama yang membuatku nyaman saat bercerita. Sopan dan baik hatinya, aku sangat-sangat menyukaimu. Nenek juga pasti akan senang mendapatkan cucu menantu seperti kak Ayu. Pokoknya kak Ayu yang terbaik.'
Sonya terus mengusap wajah Ayu hingga Ayu mengerjapkan matanya dan perlahan-lahan membuka mata.
"Ada apa? Apa sudah sore?" Tanya Ayu dengan suara paraunya.
"Eh, belum Kak. Tadi ada nyamuk jadi aku berusaha menyingkirkannya. Maaf, Kak." Sonya sedikit berkilah.
"Tidak apa-apa. Kalau gitu Kakak lanjut tidur lagi, ya? Masih ngantuk nih." Ayu kembali menutup matanya.
"Iya, Kak. Lanjutkan saja tidurnya. Hehe." Sonya menjadi legah.
'Hampir saja."
__ADS_1
Bersambung ❣