Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 59


__ADS_3

Darren melihat Arya yang sedang duduk di bangku depan ruangan VVIP No.106. Terlihat dia sedang bermain ponsel di tangannya.


"Hei, aku dengar dari perawat kamu bawah anak kecil ke sini? Siapa anak itu?"tanya Darren tiba-tiba.


Arya menoleh dengan cepat. "Ceritanya panjang."


"Di singkat saja."


"Anak yang ada di dalam adalah darah daging Azka bersama Amel,"ungkap Arya.


"What??? Jangan bercanda! M--Mana mungkin? Kok bisa? Kenapa aku baru tahu, ya? Kalian benar-benar sahabat tidak setia, masa hal-hal penting seperti ini tidak ada yang memberitahuku. Huh!"tanya Darren sedikit kesal pada Arya dan juga Azka. Nyatanya mereka juga baru saja mengetahui kebenarannya.


"Kamu jangan terlalu banyak bicara! Jika kamu penasaran, segera ke dalam dan lihatlah sendiri! Aku akan mengabari Azka dulu, nanti kau tanyakan saja padanya secara langsung."


Darren mengangguk dan langsung masuk menuju kamar tempat Bara di rawat. Arya segera menelepon Amel. Azka yang berada di kamar langsung menerima panggilan telepon dari Arya karena pemiliknya sedang tertidur pulas memeluk buah hati mereka.


"Hallo Ar, ada apa?"tanya Azka.


"Kebetulan kau yang angkat telepon dariku!"


"Bagaimana perkembangannya?"tanya Azka.


"Nah, itu yang ingin kusampaikan padamu. Aku sudah menemukan anakmu, namun dia lemah sehingga aku segera membawanya ke rumah sakit keluarga,"jelas Arya.


"Baiklah, kau temani anakku dulu. Aku akan ke sana dengan mereka semua nanti."


"Oke. Sampai ketemu di sini!"


"Ya!"


Saat mendengar Azka berbicara lewat telepon, membuat Amel terusik dari tidur cantiknya sehingga perlahan-lahan membuka mata.


"Siapa yang telepon?"tanya Amel dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"Arya!"


Seketika mata Amel terbuka lebar. "Apa Bara sudah ditemukan?"tanya Amel. Amel duduk di atas kasur menatap manik mata Azka.


"Ya. Sekarang anak kita berada di rumah sakit. Kamu mau ke sana sekarang atau besok?"tanya Azka.


"Yah sekaranglah! Aku sudah kangen padanya. Ayo kita pergi!"


"Kamu yakin mau pergi sendiri seperti itu? Tidak mau membangunkan yang lain dulu?" Azka heran dengan tingkah Amel. Mungkin dia terlalu senang sehingga tidak mempedulikan penampilannya dan bahkan melupakan orang yang berada di dekatnya.


"Ya ampun!" Amel menepuk jidatnya pelan.


"Oke. aku bersiap dulu sebentar!"


"Hu'um!"


Amel berlalu ke kamar mandi sekedar mengosok gigi dan mencuci muka, setelah itu barulah dia keluar menghampiri Azka yang sedang menatap lembut tiga malaikat yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


"Aku bangunin mereka dulu!"


"Silahkan Nyonya Azka!"goda Azka.


"Apaan sih!?" Amel tersipu, kini pipinya bersemu merah seperti buah jambu.


Bahkan saat dia malu-malu wajahnya tetap selalu cantik, membuat hatiku berdebar dan ingin sekali menerkamnya.


"Sayang! Ayo bangun!" Amel membangunkan anaknya dengan lembut diiringi kecupan-kecupan kecil di setiap sudut wajah para malaikat kecilnya.


"Apa Ayahnya juga boleh dapat kecupan seperti itu?"tanya Azka masih menggoda Amel. Azka juga mau kalau dikecup oleh Amel seperti itu.


"Malu dilihatin anak-anak. Lagian sudah besar juga mau dikecup segala!" Amel seakan mengejek Azka.


"Kalau tempat yang tidak ada anak-anak, apa boleh?"tanya Azka manja.


"Leh ap Mama?"tanya Rasti tiba-tiba yang sudah terbangun dari tidurnya.


"B--Bukan apa-apa sayang." Amel kalang kabut menjawab pertanyaan anak polosnya.


Si Bongkahan Es ini, hampir saja ketahuan oleh anak-anak. Sebaiknya aku memberitahu tentang Bara pada Ayu dan Sonya dulu.


"Kamu temani mereka dulu, ya? Aku ke keluar sebentar!"pinta Amel.


Mau menghindariku? Lain kali tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja. Azka menyerigai.


Apa arti dari senyum jahatnya itu? Batin Amel bergidik ngeri melihat tatapan mata elang si Bongkahan Es yang penuh dengan tanda tanya.


"Baiklah! Anak-anak apa kalian senang ditemani sama, Papa?"tanya Azka.


Amel berjalan keluar menuju kamar yang ditempati oleh Ayu dan Sonya.


Tok! Tok! Tok!


"Ayu! Sonya! Bangun!"teriak Amel di luar pintu.


"Bentar Kak!" Ayu membukakan pintu untuk Amel.


"Ada apa, Kak?"tanya Ayu.


"Mana Sonya?"


"Di kamar mandi Kak, biasa lagi kebelet."


"Oh, ya sudah. Beritahu padanya Bara sudah ditemukan. Kami akan ke rumah sakit, jadi cepat bersiaplah!"pinta Amel.


"Beneran, Kak?"


"Iya. Kakak balik ke kamar dulu, ya?"


"Oke."

__ADS_1


Amel kembali ke kamarnya sedang Ayu mengetuk pintu kamar mandi dengan keras membuat orang yang berada di dalam terkejut bukan kepalang.


"Tunggu sebentar, Kak! Ada apa sih!?"teriak Sonya.


"Bara sudah ditemukan. Cepatlah! Kita akan pergi ke rumah sakit."


"Oke-oke-oke."


Dengan gerakan secepat kilat Sonya membersihkan apa yang sudah semestinya dibersihkan. Tanpa mandi dia langsung mencuci muka dan mengosok gigi saja. Setelah Sonya keluar barulah Ayu masuk melakukan hal yang sama.


Amel yang baru saja masuk kamar terpana dengan senyuman manis yang di berikan Azka pada buah hati mereka, dia jarang melihat Azka tersenyum seperti itu saat melihatnya Amel langsung terbuai dan tenggelam di dalam lautan madu tersebut.


Tampan! Anak-anak lebih bahagia. Indahnya! Semoga keluarga kita kelak akan terus seperti ini.


"Sayang! Ayo bersiap kita akan pergi menemui Bara,"ucap Amel.


Seketika permainan mereka terhenti. Amel berjalan menghampiri mereka.


"Pa tita andi ulu?"tanya Raka.


"Tidak sayang, Mama akan membasuh kalian saja. Ayo ikut mama ke kamar mandi!"pinta Amel lembut.


"Papa danang pelgi agi,ya?"ucap Bunga polos. Bunga takut jangan sampai saat mereka pergi ke kamar mandi ayah mereka meninggalkan mereka lagi.


"Iya. Papa janji!"tegas Azka.


Papa janji tidak akan meninggalkan kalian semua lagi.


Anak-anak berjalan perlahan mendahului Amel dan masuk ke kamar mandi. Mereka tampak girang mendapat kabar bahwa saudaranya telah ditemukan ditambah dengan keberadaan sang ayah menambah warna baru dalam kehidupan mereka selanjutnya.


Di dalam kamar mandi, Amel hanya membasuh para malaikat kecilnya dengan air hangat saja, lalu keluar untuk menganti pakaian. Amel dengan telaten mengosok minyak kayu putih,menaburkan bedak di setiap sudut yang menimbulkan keringat,leher,ketiak dan ************ pada ketiga anaknya, setelah itu barulah dia menganti pakaian mereka, menyisir rambut dan memakaikan bedak di wajah. Kini mereka sudah wangi walau tidak mandi sekali pun.


Cantik!


Azka terus memperhatikan Amel melalui sorot matanya yang tajam seperti elang. Dia melihat Amel berjalan ke lemari pakaian yang tidak terlalu jauh dari anak-anak. Dengan sigap Amel mengambil pakaian untuk Bara dan menyiapkan segala keperluan para malaikat kecilnya.


"Ayo! Semua sudah siap!"


Azka masih terpana melihat Amel yang sedang serius. Amel bagaikan bidadari di hati Azka bahkan orang lain pun tidak bisa menandinggi kecantikan dari aura yang memancar pada pandangan matanya.


"Hei, jangan melamun! Ayo!"ucap Amel tersenyum lembut.


Bisa-bisanya dia melongoh seperti itu. Apa fikirannya sedang terusik?


Sejak kapan aku jadi seperti ini? Amel pasti menertawakanku jika tahu aku sudah bucin kepadanya. Semoga saja dia tidak membaca isi fikiranku.


Azka hanya mengangguk dan segera mengendong dua putri kecil cantiknya. Raka tidak mau digendong walau Amel ingin mengendongnya dia lebih memilih berjalan memeganggi jari kelingking Amel. Di ruang tamu Sonya dan Ayu sudah duduk manis di sana.


"Kalian sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan lagi?"tanya Amel.


"Kami sudah siap, Kak."

__ADS_1


"Baguslah! Ayo!"seru Amel. Ayu dan Sonya hanya mengangguk saja.


Bersambung❣


__ADS_2