Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 60


__ADS_3

Mobil Azka melaju membela jalan perkotaan, melewati berbagai gedung-gedung pencakar langit. Sayup-sayup terdengar alunan angin yang masuk melalui jendela mobil yang sengaja dibuka oleh Amel.


Nada tawa yang keluar dari bibir anak-anak munggilnya mengema di dalam mobil. Betapa bahagianya Amel hari ini, apakah kebahagiaan ini akan terenggut lagi atau ini memang awal dari kehidupannya yang pernuh warna? Tidak ada kata terindah hanya rasa syukur yang Amel lontarkan dalam hati kecilnya.


Ayu dan Sonya juga terlibat meramaikan suasana malah mereka yang menganggu anak-anak hingga melahirkan canda tawa di jok belakang. Sedang Azka sekali-kali melirik Amel dengan tatapan tajamnya, dia memikirkan apa yang sedang Amel fikirkan sehingga membuat Amel diam namun masih tetap tersenyum cerah. Tanpa dilihat dan diperhatikan oleh orang lain Azka mengulurkan tangannya dan langsung memegang sebelah tangan Amel.


"Bongkahan Es!" Amel kaget dengan refleks berteriak, seketika membuat suasana tiba-tiba menjadi sunyi.


"Kakak kenapa?"tanya Ayu.


Azka memberi isyarat agar Amel mencari alasan, Amel yang mengerti arti dari tatapan Azka langsung menjawab asal.


"Haha. Kakak tidak apa-apa! Itu, itu loh ada serangga. Ada seekor serangga besar yang tidak sengaja menyengat Kakak."


"Ooooh."


Serangga? Alasan macam apa itu? Itu juga seperti alasanku waktu itu. Biarkan sajalah toh bukan urusanku juga.


Ayu menjadi curiga dengan ucapan Amel, namun dia tidak mau bertanya lagi dan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Azka yang masih memegang sebelah tangan Amel sengaja meremasnya dengan pelan.


Apaan? Tanya Amel dalam hati,matanya melototi Azka.


Kamu harus menjelaskan apa yang tadi kamu katakan.


Terjadi sedikit peran batin antara Amel dan Azka. Amel seakan mengerti arti tatapan yang Azka berikan padanya membuatnya mengangguk begitu saja. Amel kemudian mendekat pada Azka.


"Menyetirnya itu yang fokus! Tidak baik menyetir menggunakan satu tangan saja!"ucap Amel penuh penekanan terpampan senyum indah di wajahnya. Azka segera melepaskan tautan tangannya secara perlahan.


Kamu masih ada hutang penjelasan padaku. Bongkahan Es? Amel, awas saja kamu!


Amel dan Azka hanya diam saja sedang orang yang duduk di jok belakang masih tertawa riang dan gembira. Mereka terus bermain dan bahkan tertawa bersama.


Apa dia marah? Batin Amel.


Mobil Azka terus melaju membelah jalan, tidak begitu lama mereka telah tiba di area rumah sakit. Salah satu bangunan yang kokoh di bangun, terpampan jelas nama rumah sakitnya, RS. Abraham.


Azka segera memarkirkan mobilnya ke tempat parkir yang sudah tersedia kemudian dia turun dan membukakan pintu untuk semuanya.


Mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Perawat dan dokter yang mengenali Azka memberi hormat padanya. Mereka tampak bertanya-tanya siapa yang di bawah oleh Azka? Kenapa salah satu anak sangat mirip dengan Azka? Bahkan Azka yang terbilang tidak pernah pergi ke rumah sakit malah hari ini bisa berada di sini.


Azka dengan berani berjalan penuh wibawa namun dalam hati kecilnya ada trauma yang membuatnya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Bau obat-obatan menyengat disetiap perjalanan, Azka mau tidak mau harus menahannya, karena semua demi Amel dan juga buah hati kecil mereka.


Tahan Azka tahan. Sekali pun ini siksaan dari neraka kau harus dapat menahannya. Batin Azka.


Apa Azka baik-baik saja? Aku ingat betul pak Arya mengatakan dia tidak suka dengan bau obat-obatan yang ada di rumah sakit. Kenapa? Hmm, aku belum sepenuhnya berhak menanyakan ini padanya. Aku berharap dia yang mengatakannya sendiri padaku.


Amel menatap Azka yang sedang berjalan sejajar dengannya. Azka tampak tengang namun dia masih terus bertahan.


"Fokuslah! Nanti kamu tersandung,"ucap Azka tanpa menoleh.


"I--Iya."


Aku begini juga 'kan mengkhawatirkannya. Sebenarnya apa yang membuatmu trauma? Batin Amel kasihan.

__ADS_1


Darren yang sudah keluar melihat dan memeriksa kondisi Bara pun keluar menemui Arya. Darren masih penasaran dan butuh penjelasan dari Arya. Darren begitu keras kepala padahal Arya sudah mengatakan bahwa biarlah Azka yang menjelaskan semuanya namun dia tetap kekeuh mau mendengarnya dari Arya. Pada akhirnya Arya menceritakan semuanya kepada Darren.


"Apa yang kalian berdua lakukan di situ?"tanya Azka yang sudah tiba di depan ruangan tempat Bara di rawat.


Azka? Aku kira dia tidak berani datang kemari. Ternyata dia memilih untuk menahannya. Apa tidak ada orang yang lihat kalau tangannya sudah berkeringat? Batin Arya.


What? D--Dia beneran ke rumah sakit? Dulu saat dia terluka parah, dia mati-matian tidak mau datang ke sini. Azka,Azka kenapa kau harus menahannya? Hmm, mungkin dia tidak mau terlihat menyedihkan di depan Amel dan juga anaknya. Haiss, dia begitu hebat, sekali tidur dapatnya empat. T--Tunggu-tunggu, Anya juga datang ke sini? Haha. Tidak sia-sia dia tinggal bersama Amel. Aku dan dia mungkin sudah di takdirkan bersama. Batin Darren.


"Jangan hiraukan dia! Apa Bara ada di dalam?"


"Iya Nona. Silahkan masuk ke sini! Perihal kesehatan Bara, Anda bisa tanyakan langsung ke dokter yang menangganinya atau Nona juga bisa tanyakan kepada Darren."


"Terima kasih banyak pak Arya. Terima kasih banyak telah menyelamatkan Bara,"ucap Amel mengengam tangan Arya.


"Ekhem!" Azka berdehem cukup keras sehingga Arya secepatnya melepaskan tangan Amel dari tangannya.


"Itu sudah menjadi tugas saya, Nona. Silahkan masuk!"


Orang yang masuk ke dalam cukup terbatas jadi tinggallah Arya,Ayu dan Sonya yang masih berada di luar ruangan.


Saat melihat Bara yang masih terbaring lemah jantung Amel memicu dengan sendirinya tidak terasa air matanya luruh begitu saja.


"Sayang! Ini Mama, Nak!"


"Kakak tenang saja. Anak Kakak baik-baik saja. Dia hanya lemah dan perlu istirahat. Nanti, ketika dia sudah sadar barulah Kakak memberinya makan agar dia mendapat nutrisi yang cukup."


"Baiklah terima kasih pak Dokter."


"Oh iya, Kak. Yang perlu dikhawatirkan di sini adalah calon suami Kakak itu,"ucap Darren, Azka langsung melototinya.


"Dia kenapa?"tanya Amel pura-pura.


"Dia tidak bisa berlama-lama di sini, Kak. Sebaiknya suruh dia pulang duluan saja."


"Jangan sembarang! Aku masih mau tetap di sini!"tegas Azka.


"Kamu yakin?" Tatap Darren curiga.


"I--Iya!"


"Ya sudah, aku juga tidak akan memaksamu keluar. Kak Amel aku pamit, ya? Tolong jaga juga bayi besar itu!"ucap Darren sedikit mengejek Azka.


"Haha. Baiklah-baiklah!"


Ketiga bocah yang sedang duduk di sofa segera menghampiri Amel dan Azka.


"Papa! Mama! Ami engen liat tak Bala,"ucap Rasti.


Azka langsung mengendong kedua putrinya dan Amel mengendong Raka.


"Mama, apa Bala aik-aik aja?"tanya Raka.


"Iya sayang."

__ADS_1


"Emoga tak Bala ecap dar,"ucap Bunga.


Darren yang sudah keluar dari ruangan langsung disambut oleh Sonya. Karena berada di antara Ayu dan Arya malah membuat Sonya tercekik, dia ingin sekali menjodohkan kakaknya dengan Ayu namun situasi seperti ini membuatnya sangat canggung karena Arya dan Ayu sama-sama dia walau Sonya sudah berusaha mencairkan suasana.


Kebetulan sekali ada Kak Darren. Kalau ada kesempatan aku pura-pura ikut bersama Kak Darren saja, deh. Biar kak Ayu dan Kak Arya berduaan di sini.


"Hei, kalian tidak masuk ke dalam?" Baru juga Sonya ingin menyapa, sudah di sapa duluan oleh Darren.


"Tidak!"ucap Ayu dan Arya serempak.


"Kenapa?"tanya Darren.


"Tidak juga!" Tetap masih serempak.


Kenapa Es Batu ini mengikutiku?


Kenapa gadis gila ini mengikutiku?


"Kalian berdua sedang kesambet, ya?"


"Jaga ucapanmu!" Masih tetap sama.


"Jawaban kalian juga sama. Jangan-jangan jodoh lagi!"


"Jodoh sama dia! Tidak tertarik!" Jawaban keduanya masih tetap sama. Membuat Sonya sedari tadi menahan senyum di bibirnya.


"Jangan-jangan ka--"


Dia mau bicara apa lagi? batin Ayu.


Awas saja kalau kau macam-macam Darren.


"Ah, Kak Darren. Apa kakak masih ada kerjaan?"segah Sonya.


"Tidak."


"Baguslah! Temani aku beli minum dong!"


"Ayo!"


Kesempatan nih. Anya tahu aja kalau Kakak rindu berat. Batin Darren.


"Kak Ayu, Kak Arya. Keknya aku tidak bisa menemani kalian di sini deh. Aku pamit ya, Kak? Hehe,"ucap Sonya.


"Ayo, Kak Darren!"ajak Sonya yang sudah berjalan menghampiri Darren.


"Tapi 'kan!" Darren mencoba membantah karena dia tahu betul tidak biasanya Arya merelakan adiknya didekati olehnya.


"Sudahlah, cepat kita pergi dari sini!"sergah Sonya mendorong tubuh Darren agar cepat berlalu dari tempat itu.


"Aku pamit ya, Ar." Arya tidak menjawab pamitan Darren dan hanya diam saja.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2