Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 56


__ADS_3

Sebelum menyelidiki nomor itu Arya mengirim rekaman CCTV pada Amel. Setelah itu barulah dia melaksanakan apa yang Azka perintahkan padanya.


Arya dengan gesit melihat lokasi terakhir nomor yang dikirim Azka. Arya sedang memantau pergerakan nomor tidak dikenal itu yang beberapa menit lalu masih berada di sekitar hutan bambu yang ada di bagian selatan kota H.


Namun, pemilik nomor itu perlahan-lahan menjauhi hutan bambu. Arya lebih memilih mengabari Azka lewat telepon namun dia lupa bahwa ponsel Azka sudah tidak aktif akibat kehabisan baterai. Dia mumutuskan


untuk menelepon Amel saja.


...****************...


Di rumah sederhana milik Amel mereka sedang menunggu informasi dari Arya. Tidak begitu lama Arya menelepon mereka, Amel segera mengangkat teleponnya dan membesarkan volume suara di ponselnya.


“Hallo Ar, bagaimana apa kau sudah menemukan jejak dari nomor itu?”tanya Azka.


“Aku sudah menyelidiki lokasi dari nomor yang kau berikan padaku, pemilik nomor itu beberapa menit yang lalu berada disekitar hutan bambu bagian selatan, namun setelah memantau sekali lagi, pemilik nomor itu bergerak menjauh dari hutan itu,"terang Arya.


“Terus pantau keberadaan dari pemilik nomor itu. Juga segera selidiki Yuni pacar Riski. Jika ada pergerakan tambahan darinya maka laporkan semuanya padaku. Amel mencurigainya karena melihat CCTV yang kau kirimkan padaku. Masalah ini pasti tidak sesederhana yang kita bayangkan, jadi tetaplah waspada."


“Baiklah, aku akan menyelidikinya segera.”


Mereka segera mengakhiri telepon. Arya melakukan tugasnya, sedang Amel dan yang lainnya hanya bisa berdoa dan menunggu. Mereka tidak diizinkan oleh Azka untuk panik, karena selama ada dia tidak akan terjadi sesuatu pada anaknya. Dalam lubuk hati yang terdalam, Azka berjanji tidak akan pernah meloloskan orang yang menculik anaknya.


Kirana yang mengingat sesuatu segera menghubungi Yuni. Kirana menyuruh Yuni segera membuang SIM card-nya, agar tidak ada yang bisa memantau pergerakan mereka, namun Yuni sangatlah ceroboh, dia baru membuang SIM card-nya ketika Kirana memperingatinya. Setelah itu barulah Yuni menganti SIM card-nya dengan yang baru.


Bisa-bisanya dia sebodoh itu. Jika terjadi sesuatu nanti, aku akan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa dan tentunya semua kesalahan kuserahkan pada Yuni si wanita bodoh. batin Kirana setelah mengakhiri telepon.


Jejak nomor tidak dikenal menghilang dari pandangan Arya. “Sial! Jejaknya menghilang. Sebaiknya aku menyuruh seseorang memantau pergerakan Yuni dulu,"lirih Arya.


Yuni tampak senang namun berbeda dengan Kirana. Kirana was-was memikirkan sebab akibat yang akan ditimbulkan dari penculikan ini.


“Jika Azka tahu Amel sudah memiliki anak dengan pria lain apakah dia masih mau menerima Amel sebagai wanitanya? Dengan pemikiran Azka, pasti tidak mungkin menerima wanita bekas seperti Amel itu. Dan bagaimana kalau dia dapat menerima masa lalu Amel, apa dia akan membantu Amel menyelidiki tentang penculikkan ini? Kalau memang ia mungkin sedari tadi kami sudah dipantau oleh Azka. Semua karena wanita bodoh itu. Jangan salahkan aku jika aku menghalalkan segara cara untuk melimpahkan semua kesalahan ini padamu,"lirih Kirana.


Arya segera memerintahkan bawahannya menyelidiki keberadaan Yuni saat ini. Setelah itu barulah dia kembali ke rumah Amel menemui semuanya.


Arya yang sudah berada di rumah sederhana Amel pun menjelaskan bahwa nomor yang dia coba selidiki telah hilang jejak.


"Rupanya mereka pintar juga,"ucap Azka.


"Apa kita tidak perlu lapor polisi?"tanya Ayu.


"Ini belum memakan waktu 24 jam, polisi tidak akan bertindak gegabah. Jadi biarkan masalah ini kita selidiki dulu. Nanti ketika kita membutuhkan polisi, barulah kita meminta bantuan mereka,"jelas Azka.


"L--Lalu apakah Bara akan baik-baik saja?"tanya Amel sedikit gugup.


"Nona tenang saja, jika ada suami Nona di sini, semua masalah akan kelar dengan cepat." Arya menyahuti pertanyaan Amel.


"Hah? Suami? Siapa?"tanya Amel.


"Bukan siapa-siapa!"


"Ehem! Jangan bercanda seperti itu!"ucap Azka membuat Arya memberi isyarat mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Eh, apa kalian melupakan sesuatu?" Amel tiba-tiba mengingat ada yang janggal.


Semua orang tampak binggung dan ingin mengetahui apa yang mereka lupakan.


"Kata Pak Arya, tempat terakhir penelepon itu ada di hutan bambu bagian selatan, kan?"tanya Amel.

__ADS_1


"Ah iya. Saya hampir lupa Nona. Saya akan menyuruh seseorang untuk memeriksa hutan bambu itu. Barangkali mereka membawa Bara di sana,"ucap Arya, Amel mengangguk mengiyakan ucapan Arya.


Pantas saja dia menjadi seorang asisten, tanpa banyak penjelasan dia langsung mengetahui dengan jelas apa yang aku maksudkan.


"Kenapa kau ceroboh sekali?"tanya Azka.


"M--Maaf, aku akan segera menyelidikinya."


Ada saatnya juga Es Batu ini menjadi gugup. Espresi wajahnya sangatlah lucu. Hihihi. Batin Ayu yang duduk di samping Amel.


Arya tidak sengaja melihat tatapan Ayu seakan sedang mengejeknya.


Kenapa gadis gila ini melihatku seperti itu? Hei, kenapa? Hah, kenapa kau menatapku seperti itu? Batin Arya membalas menatap Ayu.


Kenapa dia jadi melotot padaku? Oh rupanya si Om-Om ini mau peran mata denganku! Heh, kau kira aku takut dengan es batu sepertimu? Lihat saja nanti siapa yang akan menang. Batin Ayu dan terus menatap manik mata Arya.


Kau tidak akan mengalahkanku gadis gila. Lihat saja nanti siapa yang akan menang. Kau sebaiknya menyerah saja.


Aku tidak akan menyerah semudah itu.


Sonya yang melihat arah pandangan mata kakaknya langsung melihat apa yang sebenarnya membuat kakak datarnya itu tidak berkedip sedikit pun.


"Ehem!" Sonya berdehem membuat Azka dan Amel melihat ke arahnya. Sedang Arya dan Ayu posisi matanya masih tetap sama.


Sonya memberi isyarat pada Amel untuk melihat Ayu di sampingnya. Amel segera mengikuti apa yang Sonya ucapkan Azka juga sama. Mereka bersamaan melihat keduanya saling tatap-tatapan.


Kau kira aku akan kalah sama Om-Om sepertimu? Tidak akan.


Dia tidak mau mengalah juga, dasar gadis gila!


"Arya!"teriak Azka.


Amel dan Azka hampir bersamaan mengagetkan mereka berdua. Seketika itu membuat keduanya tersadar dan pada akhirnya tidak ada menang dan kalah dari pertarungan perang mata.


"Kenapa, Kak?"


"Ada apa?" Keduanya menyahut hampir bersamaan.


"Kalian berdua kenapa?"tanya Azka mengintimidasi.


"Dia gadis gila yang aku ceritakan padamu waktu itu,"jelas Arya.


"Hei, Om. Loe tarik kembali ucapan loe itu." Ayu tidak terima dikatakan gadis gila oleh Arya.


"Kalau saya tidak mau kamu mau apa, hah?"


"Tarik nggak?"


"Tidak mau!"


"Loe--"


"Ayu, kakak tidak mengajarkanmu berkata kasar seperti itu. Cepat minta maaf pada pak Arya." Amel menyelah perdebatan keduanya.


"Tapi Kak. Dia sangatlah menyebalkan."


"Heh, kau mengerjaiku dan membuatku muntah serta membuatku malu dengan rambut acak-acakkan. Kau pikir siapa yang paling menyebalkan di sini?"

__ADS_1


"Apa benar yang pak Arya katakan, Yu?"tanya Amel.


Kak Amel sampai segitunya sama aku. Awas saja kamu. Om-Om sialan!


"I--Iya Kak."


Melihat ekspresi Ayu yang nampak kesal membuat Arya tersenyum kemenangan dalam hati.


Haha. Rasain kamu, emang enak dimarahin.


Semua tidak terlepas dari pandangan Azka.


"Ayo minta maaf pada pak Arya,"ucap Amel.


Demi kak Amel aku akan mengalah.


"G--Gue minta maaf Om."


"Sejak kapan aku menikah sama Bibimu?"lirih Arya sangat pelan.


"Arya! Harusnya kamu yang meminta maaf duluan bukan dia. Pantas saja kamu tidak pernah berkencan dengan seorang wanita." Azka tiba-tiba ikut bicara.


Azka apa-apaan sih, kenapa harus membongkar aibku di depannya. Heh, bukan aku saja, kau pun begitu. Selalu lari dari wanita, jika tidak ada kejadian 3 tahun lalu kau pikir akan mendapatkan seorang wanita seperti Amel? Batin Arya menatap Azka.


"Kau sedang lihat apa? Cepat minta maaf!"ucap Azka datar.


Baiklah. Aku akan mencoba mengalah ini demi reputasiku jangan sampai Azka terus menyudutkanku.


"Saya juga minta maaf."


Puff! Sonya hampir tertawa membuat semuanya menoleh padanya.


"Apa yang kau tertawakan?"tanya Arya.


"Aku baru kali ini lihat kakak minta maaf pada orang lain. Kak, aku sangat menyukai kak Ayu. Jadi kakak baik-baiklah padanya."


"Apa? Jadi dia kakakmu? Pantas saja mobilnya waktu itu kek sedang syuting flim horor, ternyata orangnya lebih horor dari mobilnya."


"Maaf Kak. Aku juga kaget banget Kak dengan situasi sekarang. Ternyata dunia ini memang sangatlah sempit, mungkin Kak Ayu dan Kak Arya ditakdirkan untuk bersama."


"Hehe. Terima kasih atas niat baikmu Son. Tapi kakak tidak akan mau menerima kakakmu itu." Ayu sengaja membesarkan sedikit suaranya agar Arya mendengarnya.


"Kamu fikir aku juga mau bersama dengan gadis gila sepertimu? Mimpi!"


"Sudah-sudah, jangan bertengkar! Nanti anak-anak bisa bangun!" Amel melerai pertengkaran mereka. Jika tidak, masalah ini pasti akan berkepanjangan.


"Maaf Kak."


"Maaf Nona."


"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Kita akan menunggu informasi dari orang suruhan kita, barulah kita bertindak lagi,"pinta Azka.


"Baiklah!"ucap mereka serempak.


Sonya dan Ayu segera pergi ke kamar yang di tempati oleh Ayu. Azka dan Amel berlalu ke kamar anak-anaknya berada. Sedangkan Arya membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2