Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 141


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat seorang wanita sedang menikmati cemilan dengan santai di ruang tamu. Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Aulia melihat siapa yang meneleponnya. Aulia buru-buru menerima panggilan telepon dari bawahannya yang ia perintahkan untuk memantau pergerakan Ayu.


"Halo, Bos." Sapa seseorang dibalik telepon.


"Hm, ada apa?" tanya Aulia sedikit malas.


"Kelima preman yang kita perintahkan untuk membunuh wanita itu telah dilumpuhkan. Bahkan mereka semua juga di tangkap oleh polisi," terang si penelepon tanpa banyak basa-basi.


"Apa!!! Bagaimana bisa!!!" teriak Aulia. Dirinya tak senang saat mendengar kabar dari sang bawahan.


"Saya juga tidak tahu Bos. Saat saya sedang memantau kelima preman itu, mereka masih baik-baik saja, sampai saat mereka membawa wanita itu ke dalam sebuah bangunan tua yang ada di dalam gang. Setelah beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dari sana tanpa ada lecet sedikit pun pada tubuhnya."


Orang suruhan Aulia menjelaskan secara rinci. Aulia kaget tak percaya bahwa rencananya gagal.


'Bagaimana mungkin, padahal kami telah mencari preman yang profesional. Mereka juga tidak pernah dikalahkan oleh siapa pun, tapi kenapa mereka kalah.'


"Apa dia tahu ilmu bela diri?" tanya Aulia butuh penjelasan, barang kali sang bawahan juga melihat Ayu yang melakukan perlawanan pada preman suruhannya.


"Saya juga tidak tahu jelas Bos," ungkap si penelepon dengan jujur, pasalnya dirinya hanya melihat kejadian di luar ruangan saja, dan tidak melihat saat para preman membawa Ayu ke dalam ruangan, jadi dirinya tidak mengetahui apa yang telah terjadi.


"Dasar bodoh!!! Oke, sekarang tugasmu panggil temanmu. Dan tugas kalian berdua, kumpulkan para preman-preman yang lebih profesional dan lebih hebat dari preman sebelumnya. Kalian harus mengumpulkan banyak preman dalam beberapa hari ke depan. Kita akan meluncurkan rencana yang lebih besar lagi selanjutnya," titah Aulia mengebu-gebu.


"Baiklah Bos."


Aulia segera memutuskan sambungan teleponnya. Klik!


Prank!! Toples cemilan yang berada di atas meja di banting oleh dirinya. Pecahan demi pecahan toples kaca itu berserakan acak di lantai.


"Kurang ajar!!! Heh, hari ini kau bisa lolos dariku. Tapi lain kali, aku bisa menjamin, rencanaku selanjutnya akan berhasil. Hahahahaha, kau tunggu saja. Dasar wanita sialan!!!" Aulia tersenyum sinis. Ia yakin Ayu tidak akan berkutik lagi, jika rencana besarnya nanti telah dilaksanakan.


Pembantu parubaya yang ada di rumah Aulia datang tergopoh-gopoh, dirinya takut terjadi sesuatu pada Nona mudanya. Sebab akhir-akhir ini mood Nonanya buruk, hingga beberapa kali Nonanya harus membanting barang-barang yang ada di dekatnya.


"Non, apa Nona baik-baik saja?" tanya Bibi.


Wanita parubaya itu ialah pembantu yang sudah bekerja lama sejak Aulia masih kecil.


"Aku baik-baik saja, Bi. Bibi tidak perlu khawatir," terang Aulia.


"Tapi Non."


"Sebaiknya Bibi beresin pecahan beling yang ada di lantai dulu. Aku ingin ke kamar Bi," pinta Aulia. Bahkan tidak tersirat kemarahan pada dirinya.


"Baiklah," ucap Bibi. Aulia tersenyum dan beranjak pergi menuju tangga.


'Kasihan Non Aulia. Sejak Tuan dan Nyonya berpisah, dirinya menjadi anak yang haus akan perhatian. Padahal sewaktu kecil dia tidak seperti ini.'

__ADS_1


Yah, walaupun ayahnya memanjakan dirinya, namun sebenarnya Aulia merasa sunyi sehingga membuat dirinya menjadi seperti sekarang.


Dulu Aulia mengkhianati Arya sebabnya karena dirinya merasa tak nyaman saat Arya lebih memetingkan pekerjaannya ketibang dirinya, hingga membuatnya bosan dan mencari lelaki lain yang bisa mengerti keadaannya.


Hubungannya dan lelaki itu berjalan seperti yang diharapkan oleh dirinya. Lelaki yang penuh perhatian siapapun juga akan betah dan nyaman saat di dekat orang seperti itu. Hingga keduanya terikat dalam hubungan yang lebih intim.


Saat Arya tahu semua yang telah dirinya lakukan, Aulia merasa frustasi karena dirinya masih mencintai Arya dan tidak ingin melepaskan Arya dan ketika Arya mengusirnya tempo hari, membuat Aulia hampir menyayat pergelangan tangannya di rumah, untung saja pembantu yang ada di rumahnya melihat apa yang terjadi dan segera menghentikannya, jika tidak maka saat ini pasti dirinya sudah berkabung tanah.


Berkat Bibi, Aulia bangkit kembali, bahkan dirinya masih menjalin hubungan bersama kekasih keduanya. Hubungan mereka masih terjalin sampai sekarang, namun pacarnya itu masih berada di luar negeri untuk mengurus pekerjaan. Dan itu membuat Aulia menjadi lebih seenaknya, saat tahu Arya juga telah menemukan dambatan hati.


Di waktu yang bersamaan, Kirana yang masih berada di rumah keluarga besar Abraham menemui Laksmi di teras rumah karena tidak ada Daniel di sana.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Laksmi saat pandangan matanya melihat Kirana.


"Aku mau tahu rencana apa yang akan tante lakukan pada Azka," ucap Kirana tanpa duduk di dekat Laksmi.


"Itu rahasia. Dan kamu tenang saja, Tante telah mengatur semuanya," ucap Laksmi.


"Baiklah Tan. Kalau gitu aku pamit ke dalam dulu." Pamit Kirana. Baginya percuma juga ia berada di situ.


"Hm." Laksmi hanya berdehem pelan. Saat melihat Kirana sudah hilang di balik pintu dirinya menyunggingkan senyum jahatnya.


'Kamu dan wanita itu, tidak akan pernah mendapatkan Azka. Hahaha.'


Laksmi mengingat kembali, beberapa menit yang lalu saat Kirana belum datang menemuinya. Laksmi sudah memerintahkan orang-orangnya untuk melakukan latihan fisik, agar rencana kali ini berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan apapun.


"Nomor tak di kenal. Siapa, ya?" lirih Laksmi. Ia segera mengeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo, siapa?" tanya Laksmi.


"I--Ini saya, Nyonya."


Laksmi mengerutkan dahinya mengingat suara orang yang baru saja menelepon dirinya. Matanya melotot saat mengingat siapa pemilik suara berat itu.


"Kenapa kamu menelepon saya?" tanya Laksmi berbisik. Pandangan matanya melihat sekeliling, takut-takut ada yang memergoki dirinya.


"Beberapa hari ini saya tidak bisa kemana-mana, Nyonya. Semua jalan sudah ditutup oleh seseorang dan sekarang saya masih terjebak di sebuah desa terpencil di sini," jelas orang itu.


"Apa!! Kamu jangan panik dan berdiam dirilah di situ lebih lama lagi. Jangan sampai kamu tertangkap oleh siapapun di sana," ucap Laksmi memperingati.


'Apa orang-orang yang menutup jalan adalah orang-orang suruhan Azka? Kalau iya, bisa gawat jika orang itu tertangkap oleh mereka.'


"Tapi--"


"Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus bisa menghindari semua konsenkuensi yang akan terjadi. Saya tutup telepon dulu. Ingat! Jangan pernah menelepon saya jika tidak ada masalah serius."

__ADS_1


"Baik Nyonya."


Laksmi segera memutuskan sambungan teleponnya, ia segera memblokir dan menghapus nomor itu dari riwayat teleponnya.


'Jangan sampai pria tua itu menghancurkan semua rencanaku.'


Beberapa hari kemudian.


Kondisi Azka masih belum sepenuhnya pulih, namun masih harus melakukan tahap-tahap untuk memulai pemulihan yang sempurna agar dirinya dapat pulih total.


Sejak keluar dari sumah sakit tempo hari, dirinya di bantu oleh orang-orang yang berada di sekitarnya pergi berobat ke dokter spesialis psikologi, tanpa memberitahukan masalah itu pada Daniel.


Kebetulan hari ini hari berhujan dan itu terjadi di malam hari. Permohonan Amel terkabul juga sebab dalam beberapa hari yang mereka lewati, hujan tak kunjung membasahi tanah.


Amel dan Azka sudah berada di dalam mobil. "Cobalah untuk menyetir sekarang," pinta Amel lembut.


"Iya sayang." Azka menghidupkan mesin mobilnya, lalu memulai tuk segera mengemudi. Mobilnya perlahan-lahan menembus hujan lebat itu.


Beberapa kali Azka membuang nafas kasarnya, walau sulit tetap saja dirinya harus menembus hujan lebat dan keluar dari trauma masa kecilnya.


"Semangat! Tidak usah terburu-buru, kamu pasti bisa!" Amel berusaha menyemangati serta menguatkan Azka.


Ucapan Amel dan juga elusan Amel pada pundaknya membuat dirinya mendapatkan kekuatan super, sehingga Azka menjadi lebih rileks.


Amel terus mengajak Azka bicara, hingga Azka tidak lagi mengingat kenangan buruk itu lagi. Azka jauh lebih santai sekarang, dirinya bahkan sesekali mencoba untuk mengebut, dan kondisinya saat itu baik-baik saja tanpa ada rasa sesak yang mencekik lehernya sama sepeti pada malam berhujan itu.


Peran orang tercinta sangat penting untuk penderita gangguan psikis. Perhatian dan motivasi dari orang tercinta juga merupakan salah satu obat yang mujarab, perlahan-lahan dapat membantu sang penderita menyerap keamanan tanpa rasa takut dan rasa cemas lagi.


Mobil Azka sudah berada cukup lama di luar rumah, kini keduanya memutuskan untuk segera pulang dan mengakhiri kegiatan mereka saat ini.


Masih di perjalanan pulang. "Oh iya. Arya memberitahuku bawah ayah sudah membagikan undangan pernikahan kita," ucap Amel.


"Terus apa masalahnya, sayang?" tanya Azka heran.


"Begini, teman Ayu ingin menghadiri pernikahan kita." Amel ingat saat Ayu mengatakan bahwa Bayu juga ingin ikut menghadiri pernikahan mereka.


"Oh, jika undangannya tidak cukup atau tidak sempat diberikan pada temannya, maka temannya itu di perbolehkan datang melalui undangan lainnya," terang Azka santai.


"Undangan lainnya bagaimana?" tanya Amel tak mengerti.


"Ya ajak dia aja. Lwat pesan atau menelepon orangnya juga bisa, kan? Nanti jika di tanya atau di larang masuk oleh penjaga yang ada di sana. Dia bisa menelepon Ayu untuk menjemputnya di depan pintu Hotel tempat pelaksanaan acara pernikahan kita," jelas Azka mantap.


"Oh, oke. Jika sudah sampai di rumah barulah aku memberitahu Ayu."


"Iya, sayang."

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2