Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 116


__ADS_3

Sesampainya di ruang dapur, pandangan mata Ayu terpana dengan suasana meja makan yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya. Ada lilin yang sudah menyala di sana, disertai dengan makanan istimewa yang sudah tertata rapi di atas meja, sungguh suasana itu begitu romantis. Ayu tidak habis fikir kalau Arya juga bisa seromantis itu.


"Hm, ini semua Om yang menyiapkannya?" tanya Ayu, terpancar binar di matanya.


"Ya, mau siapa lagi," jawab Arya santai.


"Biasa aja kali, Om. Jutek amat, sih," sugut Ayu, memayunkan bibirnya ke depan.


Mereka berjalan mendekati meja makan yang sudah Arya tata dengan dua kursi yang saling berhadapan. Arya menarik kursi ke belakang dan mempersilahkan Ayu untuk duduk di sana.


"Silahkan duduk!" pinta Arya lembut.


"Iya, Om."


"Oke, tunggu sebentar, ya," ucap Arya. Arya tidak langsung duduk di kursinya.


"Iya."


Arya berjalan dan mematikan lampu khusus ruang dapur, ia membiarkan cahaya lilin saja yang menerangi ruangan itu. Cahaya lilin menambah suasana romantis sepasang kekasih yang baru saja menjalin kisah asmara.


'Senangnya, makan berdua bareng pasangan. Hihihi.'


Arya kembali dan mendekati meja makan lalu duduk di kursi yang telah ia siapkan, berhadapan dengan orang yang telah merebut hatinya.


'Tidak buruk juga, aku mengikuti browser itu.'


Arya mengingat kembali, saat ia melihat meja makan yang tampak biasa-biasa saja, lalu entah mendapatkan ide dari mana ia membuka browser lalu menelusuri 'Bagaimana Caranya makan malam romantis bareng pasangan di rumah.' Setelah mengetahui jawabannya, ia pun langsung bergegas mengaturnya seperti yang tertera di browser itu.


Makanan yang ia masak adalah steak istimewa dari daging sapi pilihan.


"Silahkan dinikmati!" Arya mempersilahkan Ayu untuk makan makanan hasil masakannya.


"Oke, Om. Dilihat dari tampilannya, steaknya pasti enak deh," ucap Ayu memuji Arya.


Ayu mencium aroma steak di piringnya. "Hm ... wangi, Om." Ia menatap Arya lalu tersenyum.


Ayu langsung mengambil garpu dan pisau khusus memotong steak, Ayu mengira memotong steak itu mudah ternyata ia sangat kesusahan saat memotong steak yang ada di piringnya itu, hingga ia beberapa kali tertawa canggung ke arah Arya yang sedang memotong steak dengan cara yang elegan, Arya memotong steak utuh menjadi beberapa potongan-potongan kecil.


"Ini, untukmu!" Arya menyodorkan piring berisi steak yang telah ia potong pada Ayu.


Ayu belum mengambil piring itu. "Wah ... aku tak akan sungkan loh Om." Ia menatap Arya tanpa ragu.


"Ya, ambillah."


Ayu pun tersenyum dan meraih piring berisi potongan steak dari tangan Arya. "Terima kasih, Om." Setelah meletakkannya di atas meja. Barulah Ayu mengambil steak utuh miliknya dan memberikannya pada Arya. "Ini Om, steak punyaku."


Arya mengambil piring berisi steak yang masih utuh itu. "Iya. Silahkan makan!" Ia meletakkan di atas meja dan belum memotongnya. Arya masih fokus menatap Ayu sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Iya." Tidak sungkan-sungkan lagi, Ayu langsung memakan steak itu.

__ADS_1


'Nggak nyangka masakan Om sangat enak.'


Ayu melirik Arya. "Eh, kok Om belum makan?" tanya Ayu heran pada Arya yang masih menatapnya dalam diam.


"Kamu makan duluan saja, aku ingin melihatmu makan menikmati masakan buatanku," jawab Arya santai.


"Atau ... jangan-jangan ... Om mau aku yang suapin, ya?" tanya Ayu menaik-turunkan kedua alisnya.


"Jangan ngaco dan makanlah!"


"Om, malu-malu tapi mau, kan?" tanya Ayu lagi dengan gaya yang sama.


"Bocah tengil ini tidak ada habisnya," ujar Arya membuang pandangan.


"Katanya umur kita tidak begitu jauh, tapi kenapa Om malah memanggilku seperti itu?" tanya Ayu. Ia menusuk steak dan memasukan ke dalam mulutnya.


"Bukankah kamu yang duluan memanggilku dengan sebutan,Om. Jadi terserah aku lah mau manggil kamu dengan sebutan apa," terang Arya santai.


"Ya, ya, kamu benar Om. Oke sekarang ayo buka mulutmu, Om!" pinta Ayu, ia menusukkan garpu ke steak di piringnya. "Aaaaaa," ucap Ayu agar Arya membuka mulutnya.


Arya menatap Ayu serius. "Aku bukan anak kecil," ungkapnya.


"Ayolah, Om. Aaaaa." Ayu tidak menghiraukan ucapan Arya.


Arya membuang nafas. "Baiklah, ini semua karena kau yang memaksaku," terangnya.


"Iya-iya. Ayo buka mulutnya. Aaaaa," ucap Ayu dan Arya hanya menurutinya saja.


Acara suap-suapan bukan di lakukan hanya sekali saja, Ayu terus memaksa Arya agar menerima suapan darinya bahkan Ayu juga memaksa agar Arya juga menyuapinya. Walaupun Arya menolak mentah-mentah, namun tetap saja ia menuruti semua kemauan Ayu dan tidak di pungkiri bahwa ia juga menikmati suasana romantis itu.


Sehabis makan Ayu bergegas ingin membersihkan meja makan, baru saja ia ingin mengambil piring bekas makan mereka, tangannya sudah dipegang oleh Arya yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya, hingga membuat wanita tomboy itu menoleh padanya.


"Biarkan saja. Biarkan aku yang membereskannya," pinta Arya.


"Tidak. Biar aku saja, Om. Kan tadi Om udah masak, masa harus membersihkan piring kotor lagi," tolak Ayu.


"Tidak apa-apa. Aku saja yang membersihkannya, kamu tinggal duduk dengan santai di sana." Tunjuk Arya ke sembarang arah.


"Biar aku saja, Om." ucap Ayu tidak mau kalah.


Arya mendengus. "Ya sudah," balasnya singkat.


"Nah, gitu dong."


Di saat Ayu membereskan piring kotor dan memindahkannya ke wastafel. Arya bangkit dari duduknya dan meyalahkan lampu khusus dapur kembali seperti semula. Ia juga membereskan meja dan menyusun kembali kursi seperti sedia kala.


Menepuk tangannya. "Beres!" lirih Arya pelan.


Ayu sedang bersenandung ria dengan piring kotor yang ia pengang, dengan perlahan ia mengosok piring itu mengunakan spons yang busanya sangat banyak.

__ADS_1


"Lalalala ... syalalala ..."


Senandungnya didengar oleh Arya, Arya berjalan mendekatinya tanpa mengeluarkan suara.


Selesai makan malam di Apartemen, mereka semua pun bergegas untuk kembali ke rumah Arya, karena anak-anak merengek ingin segera kembali ke sana. Mau tidak mau, Amel dan Azka harus menuruti permintaan bocah kecil mereka.


Arya berdiri di belakang Ayu, menatap punggung orang itu dan tersenyum penuh arti. Arya pun melingkarkan kedua tangannya pada perut rata Ayu.


"Aaapa yang sedang Om lakukan?" tanya Ayu panik.


"Memelukmu!" terang Arya. Ia meletakkan dagunya ke pundak Ayu.


"O--Om." Ayu menjadi gugup.


"Hm!"


"Menjauh dulu dariku, Om." Suara Ayu sedikit bergetar.


"Tidak mau. Ayo lanjutkan pekerjaanmu dengan benar."


'Bagaimana aku bisa tenang. Kalau kamu berada tepat di belakangku.'


"I-Iya." Ayu membuang nafas dengan kasar.


Arya mengendus. "Wangi!" lirihnya pelan. Ayu masih tetap mencuci piring yang sudah hampir selesai.


'Wanitaku sangat wangi!'


Arya masih terus mengendus wangi tubuh Ayu. Ayu yang baru merasakan momen itu untuk pertama kalinya merasa bulu kuduknya meremang dikala nafas Arya menyapu lehernya.


Ayu merasa ada gelagar aneh yang sedang menjalar di tubuhnya. Arya sudah tidak tahan lagi, ia begitu menikmati tubuh wangi wanita tomboy yang ada di pelukkannya, perlahan tapi pasti ia mendekatkan bibirnya ke ceruk leher milik Ayu lalu mengecupnya pelan.


Cup!


Ayu kaget dan secepat kilat membalikkan badannya hingga pelukan mereka terlepas begitu saja. "Aaaapa yang Om lakukan?" pekik Ayu panik, menatap manik mata pria yang ada di depannya.


'Dia sangat polos. Hahaha.'


"Tidak ada," jawab Arya acuh tak acuh.


"L--Lalu?" tanya Ayu yang belum mengerti situasinya.


"Lalu?" Arya berjalan satu langkah ke depan mendekati Ayu.


"Om!"


'Aku benar-benar sudah terpesona oleh dirinya.'


Arya mendekatkan wajahnya pada wajah Ayu, Ayu yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak memenjamkan matanya. Tinggal beberapa centi lagi bibir keduanya bertemu namun ketika Arya lebih menekan kepalanya untuk mencium Ayu ada seseorang yang datang menganggu.

__ADS_1


"Ehem! Sedang apa kalian berdua di situ?"


Bersambung❣


__ADS_2