
Keesokan harinya.
Amel terbangun pukul dini hari, ia mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat sudah pukul berapa sekarang, dan ternyata sudah pukul 06:00 subuh. Matanya menatap Azka yang masih belum terbagun dari tidur panjangnya.
"Huff ... kamu belum sadar juga," ucapnya sendu, disertai hembusan nafas kasar yang keluar dari rongga hidungnya.
Amel berlalu ke dalam toilet yang ada dalam ruangan VVIP itu, ia kesana hanya sekedar membasuh wajahnya serta berkumur-kumur agar sisa bau amis dalam mulutnya sedikit berkurang.
Ia kembali mengambil pakaian kameja basah milik Azka dalam lemari, lalu kembali lagi ke dalam toilet, membasahi kameja itu dengan air di wastafel. Kemudian meremas agar air yang masih tersisa di pakaian itu sedikit terbuang.
Amel keluar dari toilet dan segera membasuh wajah Azka menggunakan baju kameja yang sudah ia peras. Amel menggulung lengan baju dan celana Azka, supaya ia lebih leluasa membasuh area kaki dan tangan Azka.
Tiba-tiba mata elang itu pun mengerjap beberapa kali, lalu perlahan-lahan membuka matanya lebar-lebar, setelah melihat si jantung hati yang terlihat sibuk dengan aktivitasnya, Azka pun kembali memejamkan matanya, pura-pura tidur.
Amel merapikan kembali pakaian Azka. "Apa aku harus membasuh tubuhnya juga?" lirihnya Amel. Ia memperhatikan baju di bagian dada Azka.
"Hm ... sebaiknya tak usah deh," ucapnya kemudian. Amel menundukkan kepalanya, bibirnya berhasil di daratkan ke dahi lelaki yang sedang pura-pura tidur itu.
"Semoga kau cepat siuman, aku merindukanmu," lirih Amel pelan. Sedang orang yang baru saja dicium itu, tersenyum senang dalam hati.
Ciuman Amel tidak berhenti, ia mengecup bibir Azka singkat, namun saat Amel akan menggangkat kepalanya ke atas, tangan Azka sudah menekan tengkuknya, dan membalas kecupan singkat itu dengan ciuman yang lebih bergairahh, mengecaap, melumaat, seraya mencicipi setiap sudut rongga mulut Amel.
Setelah melepas tautan itu. "Morning kiss, sayang," ucap Azka tersenyum, memperlihatkan gigi rapihnya.
"Ternyata kamu sudah bangun,"
ucap Amel dengan nafas terengah-engah.
"Kalau aku tidak bangun sekarang, aku khawatir dan bahkan takut jika seseorang melecehkanku tanpa sepengetahuanku," ucap Azka memberikan tatapan penuh arti pada calon istrinya.
Azka bangun dan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Sedang Amel menatapnya dengan penuh haru, bulir-bulir bening sudah terkumpul di pelupuk mata indahnya, hanya dengan sekali kedipan mata saja, air bening itu pun bakal jatuh juga.
"Eh, kenapa malah nangis?" tanya Azka panik. Kini Amel mulai terisak. "Aku mengaku salah. Maafkan aku," lirih Azka khawatir.
"Huwaa ...." Bagaikan anak kecil, Amel pun segera naik ke atas ranjang, ia mengambil posisi duduk di pangkuan Azka dan langsung memeluk Azka dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.
"Kenapa tangisanmu makin tambah kencang, sayang?" tanya Azka mengelus rambut panjang Amel. Amel masih tidak menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, aku salah," ucap Azka lagi, karena Amel masih diam dan air matanya tidak kunjung berhenti.
"Hiks ... hiks ...la--lain kali. J--Jangan mena ... hiks ... kutiku, lagi. K--Kamu ja--hat ... hiks."
"Maafkan aku sayang. Iya aku janji, aku tidak akan menakutimu lagi," bujuk Azka. Ia menyapu air mata Amel menggunakan kedua jari jempolnya.
Menatap Azka. "J--Janji, ya?" Amel ingin Azka menautkan jari kelingking pada jari kelingking miliknya.
Tanpa ragu Azka segera menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Amel. "Iya, aku janji," ucap Azka singkat.
Azka menyatukan keningnya dengan kening Amel. "Jangan menangis lagi," ucapnya lagi, lalu mengecup singkat mata indah milik Amel secara bergantian.
Amel mengatur nafasnya. "Aku sudah tahu semuanya tentangmu. Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" ungkap Amel menatap manik mata pria yang ada dihadapannya.
"Apa kau tahu dari Arya?" tanya Azka. Ia membalas tatapan mata Amel.
"Ya. Aku bahkan kesal padamu. Masalah sebesar itu, kamu malah tidak memberitahuku, huh!" sungut Amel merajuk. Matanya dipalingkan ke sembarang arah.
Azka meraih dagu Amel lalu menariknya pelan agar pandangan mata Amel menatapnya kembali. "Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir," ucap Azka sendu.
"Tapi tetap saja, aku kesal."
"Uhuk ... lupakan saja. Intinya kamu tidak boleh menyembunyikan sesuatu lagi dariku." Amel mengerti apa yang Azka katakan barusan, ia hanya mencoba menghindar.
"Iya aku janji," ucap Azka serius.
"Apa kamu baik-baik saja berada di rumah sakit?" tanya Amel merubah topik pembicaraan yang lebih serius.
"Ya, itu semua karena ada kamu di sini. Aku tertidur sudah berapa lama?" terang Azka.
"Aku tidak tahu pasti, yang jelas Arya dan Darren, menemukanmu sudah pingsan di dalam mobilmu," jelas Amel.
"Oh, padahal dalam mimpiku waktunya sangat singkat."
"Emang kamu mimpi apa?" tanya Amel penasaran.
"Aku bermimpi bertemu ibu lagi. Kenangan itu seakan-akan tidak bisa hilang dalam benakku," ungkap Azka.
__ADS_1
"Kau tahu, aku juga bermimpi kalau aku ingin sekali ikut pergi bersama ibu. Namun, beliau tidak mengizinkanku untuk pergi dan pada akhirnya aku mendengar suaramu memanggil namaku, disitulah kamu mengulurkan tanganmu dengan senyuman cerah ke arahku. Aku pun meraihnya dan memelukmu dengan erat. Hingga aku tersadar karena air dingin yang kau basuhi pada tangan dan kakiku. Sekalian mengambil kesempatan untuk melihatmu bertingkah, ternyata kamu malah menciumku. Hahaha, dan tentu saja aku sangat senang. Hihihi," terang Arya tertawa dan bahkan terkikik geli.
"Iiih, kamu!" kesal Amel.
"Hahaha." Azka malah tertawa lebih kencang.
"Aku sangat merindukanmu. Oh iya, kemarin Ayah datang menjengukmu," ucap Amel.
"Bersama keluarganya?" tanya Azka.
"Yah. Terlihat jelas kalau Ayah sangat mengkhawatirkanmu," ungkap Amel.
"Aku tahu. Hanya saja aku yang belum bisa membuka hatiku tuk memaafkan dirinya atas kesalahannya pada ibu. Aku juga sakit, apalagi saat diriku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ayah membuat Ibu menangis," ucap Azka mengaduh pada Amel.
"Apapun yang terjadi itu semua sudah suratan takdir sayang. Manusia tidak akan bisa menghindar dan terlepas dari takdirnya. Ingat, kamu harus bisa memaafkan Ayahmu sebelum semuanya terlambat." Amel hanya bisa memberi nasihat dan saran pada Azka.
'Semoga hatimu bisa luluh, sayang. Aku tahu dan dapat melihat dengan jelas ada tatapan penyesalan di manik mata Ayahmu.'
"Ya, aku akan berusaha. Aku dan Arya masih menyelidiki tentang kasus kecelakaan itu," ucap Azka mengepalkan kedua tangannya.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Arya. Aku berharap orang itu bisa segera tertangkap," ucap Amel menenangkan Azka.
"Ya, semoga saja."
Amel ingin beranjak untuk turun, namun Azka menahannya.
"Ayo temani aku sebentar saja. Aku juga merindukanmu," bisik Azka.
Azka merubah posisinya seperti semula, berbaring terlentang. Sedang Amel masih berada di atasnya, Azka meraih tubuh Amel agar berbaring tengkurap di atas tubuhnya. Kemudian merengkuh tubuh Amel dalam pelukkan eratnya.
Telinga Amel tepat berada di dada bidang milik Azka, ia sangat jelas mendengar degub jantung Azka yang sedang berirama.
"Jika posisi kita begini, aku takut kalau badanmu kaku karena aku terlalu berat," ucap Amel, sedikit merasa tak nyaman.
"Tidak apa-apa. Nikmati saja," ucap Azka enteng, nyatanya dia juga sedikit gugup.
"B--Baiklah."
__ADS_1
Azka memejamkan matanya, beberapa detik kemudian ia kembali terlelap dan tertidur pulas. Suara dengkuran halus Azka, membuat Amel mengulas senyum indahnya. Amel juga kembali memejamkan matanya, hingga dirinya pun terbang ke alam mimpi menyusul Azka.
Bersambung❣