Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 93


__ADS_3

Amel dan Azka baru tiba di depan rumah Arya. Setelah memberi salam, Amel langsung masuk ke dalam bersama Azka. Mereka melihat Arya dan Darren yang sedang duduk di ruang tamu.


"Anak-anak ke mana?"tanya Azka. Matanya keliling menyapu ruangan.


"Tidur di kamar,"ucap Arya.


"Oh, makasih telah menjaga mereka. Aku ke kamar dulu, ya!" Amel segera pamit.


"Sama-sama kakak ipar, sudah menjadi tugas adik ipar tuk membahagiakan ponakannya,"timpal Darren tersenyum. Amel juga ikut tersenyum.


Setelah Amel pergi Azka pun berjalan dan duduk di sofa bergabung bersama sahabatnya.


"Ada apa dengan wajah cerahmu itu? Apa kau sedang memenangkan sebuah lotre yang sangat besar?"tanya Azka. Dia sedari tadi memperhatikan wajah Darren.


"Kurang lebih seperti itu. Apa kalian tahu, hari ini aku sangat bahagia,"sahut Darren antusias. Tampak binar kebahagiaan dalam indera pekatnya. Bahkan hatinya juga ikut berbunga-bunga mengingat kembali waktu Sonya membalas perasaannya.


"Sudahlah tidak usah kau jelaskan. Lalu kenapa dengan wajah kesalmu Arya?" Kini Azka bertanya pada Arya yang wajahnya sedang ditekuk.


"Kami mengajak anak-anakmu pergi bermain ke mall, namun tak sengaja bertemu dengan Aulia,"terang Arya.


"Kok bisa bersamaan gitu? Apa mungkin ada suatu hal yang sedang Aulia rencanakan? Jangan-jangan kalian sejak awal sudah di pantau oleh dirinya lagi!"


"Terserah dia, aku mah tidak peduli,"ucap Arya.


Arya masa bodoh dengan perkataan Darren. Mau di pantau atau tidak, sudah bukan urusannya lagi, tapi jika Aulia sedang merencanakan sesuatu yang buruk, Arya juga tidak akan pernah membiarkan Aulia melakukan itu, apalagi sampai melukai orang-orang terdekatnya.


"Lalu bagaimana dengan Ayu?"tanya Azka.


Azka tidak mau jika Aulia sampai menyakiti Ayu dan membuat Amel sedih. Lagian itu bukan urusan Azka jadi Azka berharap Arya dapat menyelesaikannya.


"Entahlah,"ucap Arya.


"Lah kok gitu? Ayo, Bang! Semangat dong!" Darren mencoba memberi dorongan pada Arya. Darren tahu Arya masih binggung dengan perasaannya.


"Sejak kapan aku menjadi Abangmu?"tanya Arya. Arya menatap Darren dengan tatapan mengintimidasi.


"Sejak Sonya menerima perasaanku,"ungkap Darren bangga.


"Kamu serius?"tanya Azka ingin tahu.


Mengerutkan alisnya. "Sejak kapan?"tanya Arya.


"Waktu di Mall." Jawab Darren cepat.


"Arya, Arya. Masa kau kalah sama Darren,"ucap Azka. Ia tertawa sinis mengejek Arya.


"Kau tak memaksanya, kan?" Arya tak meladeni ucapan Azka, dia justru bertanya pada Darren yang sedang mesem-mesem tak jelas.


"Tidak kok. Mana mungkin aku memaksanya. Kami menjalin hubungan suka sama suka bukan karena paksaan." Darren pun masih tetap memperlihatkan senyum manisnya.


"Patut diacunggi jempol,"ucap Azka.

__ADS_1


"Eh, iya Ar. Apa kamu ingat, waktu Sonya dan Ayu keluar dari Toko pakaian?"tanya Darren. Dia hampir saja melupakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Iya. Kenapa?" Ucap Arya acuh tak acuh.


"Apa mungkin mereka ingin membeli gaun ke acara pernikahan Azka sama Kakak ipar, ya?"


"Mungkin,"ucap Arya tak peduli.


"Bagaimana kalau kita sekalian saja membeli pakaian yang akan kita kenakkan di acara nikahan Azka nanti." Darren memberi solusi, hitung-hitung bisa lebih dekat lagi dengan Sonya.


"Apa kau tidak dapat menutupi tampang modusmu itu? Kami berdua dapat melihatnya dengan jelas,"ucap Azka.


"Siapa yang modus. Ini mah demi menyenangkan hati calon istri." Darren mengelak bahkan dia keceplosan.


'Kenapa aku mengatakan itu, semoga saja mereka tak mendengarnya,'batin Darren penuh harap.


"Calon istri?"tanya Arya serius. Darren yang kini membatu seketika batu itu hancur berkeping-keping mendengar pertanyaan Arya padanya.


'Terpaksa aku harus berkata dengan jujur. Dasar mulut durhaka,'batin Darren mengutuk dirinya sendiri.


"Iya, aku langsung melamar adikmu dan dia menerima lamaranku,"ucap Darren santai.


"Emang Kenapa?"tanya Darren lagi.


"Tidak kenapa-kenapa. Kau juga harus segera menemui nenekku untuk meminta restu,"terang Arya.


"Kau tenang saja, semuanya sudah aku rencanakan dalam otakku ini. Lalu bagaimana denganmu? Masa adikmu yang akan menikah duluan, tidak mungkin 'kan, kau membujang sampai tua. Lagian kenapa kau masih binggung dengan cinta yang sudah ada di depan mata, kenapa kau tidak mencobanya dahulu."


'Benar juga, apa kata nenek nanti jika Sonya yang meminta restu menikah duluan. Tapi ...'batin Arya.


"Ah, payah. Ingat Ar, tidak semua wanita itu sama. Cobalah untuk membuka hati lagi. Aku yakin kok, Ayu orangnya tidak seperti Aulia."


"Lupakanlah masalah cintaku dan fikirkan bagaimana cara tuk bahagiakan adikku,"ucap Arya.


Arya tak mau Darren terus-terusan membahas tentangnya. Arya sudah berhasil move-on namun ketika melihat Aulia, rasa sakit di hatinya kembali lagi dan takut untuk melangkah ke depan.


"Kalau itu, sudah pasti Bang." Darren tetap tersenyum dia juga tidak ingin terlalu memaksa Arya tuk membuka lembaran baru lagi.


"Ah iya Az. Aku juga harus memberikan Raka hadiah,"ucap Arya mengingat kembali kecerdasan Raka.


"Kenapa? Apa kau fikir aku miskin?"tanya Azka datar.


"Bukan begitu. Anakmu sangat membantu, bahkan dia sangat pandai bersandiwara bersama kami,"jelas Arya.


"Bersandiwara? Sandiwara apa?"tanya Darren.


'Kenapa aku bisa keceplosan,'batin Arya.


"Ya, intinya dia sangat membantu dalam menyelesaikan urusanku,"ungkap Arya tak ingin menjelaskannya lebih detail.


"Pasti tentang hubungan pura-puramu dengan Ayu, kan? Hati-hati Ar, Aulia bukan orang yang mudah luluh. Kau harus menjaga Ayu. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya!" Azka memberi peringatan pada Arya.

__ADS_1


"Iya, aku paham."


"Hei, lalu bagaimana dengan pakaian yang akan kita kenakkan saat acara nanti. Aku sudah menyusun rencana, tiga hari lagi aku akan mengajak Sonya dan Ayu pergi ke butik langganan ibuku. Bagaimana denganmu, Ar ? Apa kau juga akan ikut bersama kami?"tanya Darren.


"Aku pasti sibuk,"ucap Arya asal.


"Oke, kalau begitu hanya kita bertiga saja yang pergi,"ucap Darren penuh penekanan. Padahal dia juga ingin agar Arya bisa lebih dekat dengan Ayu.


"Terserah."


'Kalian pergilah, agar aku bisa mempunyai waktu bersama Amel di sini,'batin Azka tersenyum jahat.


Tiga hari kemudian.


Sebelumnya Darren sudah menghubunggi Sonya dan Sonya menyetujuinya. Namun kini yang tidak menepati omongannya sendiri adalah Arya. Arya yang awalnya tak mau pergi ke butik malah sudah berada di dalam mobil duduk di sebelah Darren.


'Katanya sibuk, kenapa malah ikut? Tapi, ada baiknya juga sih, kalau Arya ikut. Setidaknya Ayu tak akan menjadi obat nyamuk di sana,'batin Darren melirik Arya sekilas.


"Jangan milirikku seperti itu!" Mendengar ucapan Arya barusan membuat Darren tersenyum dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dua hari yang lalu.


Arya terus memikirkan apa yang Azka katakan padanya. Ucapan Azka terus tergiang-giang dalam benaknya dan bukan ucapan Azka saja, ucapan Darren pun juga sama. Ucapan keduanya menganggu fikiran Arya dia juga menjadi tak fokus dalam melakukan sesuatu.


Arya tanpa sadar melakukan hal konyol berkali-kali. Ia yang waktu itu sudah selesai mandi, bukan ke lemari pakaian malah balik masuk lagi ke dalam kamar mandi dan mandi lagi.


Sama seperti saat ini, Arya yang sedang kehausan berniat pergi ke dapur untuk menghilangkan dahaganya namun bukan air putih yang ia ambil melainkan minyak goreng. Tanpa sadar Arya pun meneguk minyak goreng itu hingga membuatnya muntah-muntah.


Hoek ... hoek ... hoek ...


Dalam fikirannya hanya ada kata-kata Azka dan Darren.


Aulia bukan orang yang mudah luluh.


Kau harus menjaga Ayu.


Kita bertiga akan ke butik langganan ibuku.


Apa kau tidak akan ikut?


"Apa yang kau fikirkan Arya, sadarlah!"lirih Arya.


Arya kemudian membuka kulkas dan mengambil air putih lalu kembali ke kamarnya. Dia takut ada yang melihatnya muntah di wastafel dapur.


'Aku memang sudah gila!'batin Arya mengutuk dirinya sendiri.


Bersambung❣


Aku tak terlalu mahir dalam merangkai kata, jadi maafkanlah diriku jika masih ada typo yang berterbangan di mana-mana.❤


Author dari desa bkn dari kota jadi maklum hanya memiliki kemampuan terbatas😁

__ADS_1


__ADS_2