Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 121


__ADS_3

"Apa yang Om sembunyikan dariku, ya? Tapi ya sudahlah, mending aku menunggunya di sini saja," lirih Ayu pelan.


Ayu memilih menunggu Arya dan membuang jauh-jauh segala fikiran negatif dari otaknya. Ia membuka Applikasi berlambang huruf 'F' di ponselnya, lalu melihat-lihat kegiatan apa saja yang dilakukan oleh teman-temannya di sana.


Ayu mengeser layar ponselnya ke atas, dilihatnya bermacam-macam foto beserta caption yang di posting di benda pipih miliknya, ia menekan emoji jempol di bagian kiri layar ponsel untuk menyukai postingan yang sempat dilihatnya. Setelah beberapa kali mengeser layar, tiba-tiba ia melihat Sonya juga sedang memposting sesuatu dan waktunya sekitar lima menit yang lalu.


Postingan Sonya berupa foto tangan seseorang yang sedang mengemudi, di sana juga ia menuliskan caption yang cukup di pahami oleh Ayu, sudah di pastikan bahwa itu ialah tangan Darren. Caption Sonya bertuliskan satu kata saja yaitu 'Kanda', dengan emoji berbentuk hati di akhir kata Kanda tersebut.


Ayu tersenyum, tiba-tiba ia mengingat sesuatu dan segera mengirim pesan pada Sonya lewat akun sosmednya.


[ Halo, Son. ] Pesan pun sudah terkirim, namun Sonya belum membalas dan bahkan membacanya juga.


Beberapa menit kemudian.


[ Halo juga, Kak. Ada apa? ] tanya Sonya. Di ujung pesan ia meletakkan emoji tersenyum memperlihatkan gigi yang tersusun rapi.


[ Kakak mau nanya sama kamu, Son. Semalam, kenapa kamu tiba-tiba memutuskan sambungan telepon? ] tanya Ayu penasaran.


[ Hm ... gimana ya, Kak. Aku sangat-sangat senang. Maafkan aku, jika aku membuat Kakak tak enak hati. Hehe. ] Sonya benar-benar tidak enak hati, saking senangnya ia memutuskan sambungan telepon secara mendadak dan bahkan tidak mengabari Ayu sama sekali sampai pada saat ini.


[ Iya, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong kamu di mana sekarang? ] tanya Ayu. Ia penasaran dengan postingan Sonya.


[ Masih dalam perjalanan pulang, Kak. ]


[ Kalian tidak ngapa-ngapain, kan? ] tanya Ayu, di akhir pesannya ia meletakkan emoji mata melotot.


[ Tidaklah Kak. Pokoknya kakak tenang saja, ya! ]


[ Sebenarnya kalian pergi ke mana, sih? Kakak penasaran nih, apalagi kamu juga tidak pulang semalaman. ] ungkap Ayu pada pesannya.


[ Kami dari rumah Nenek di kampung. Kita nginap di sana. ] Jujur Sonya.


[ Pantes aja kamu dengan yakin mengatakan bahwa kalian tidak akan melakukan apa-apa. ]


[ Hehehe, iya Kak. Tapi, sebelum ke rumah nenek. Kami ke rumah kak Darren dulu. ] terang Sonya.


[ Serius? ] tanya Ayu antusias.


[ Iya, Kak. Pasti Kak Ayu penasaran apa yang kami lakukan di rumah kak Darren, kan? Biar aku jelasin, jadi gini, kak Darren membawaku ke sana tuk menemui ayah dan ibunya, sekalian meminta restu mereka. ] jelas Sonya.


[ Waaahh ... kakak iri deh. Terus-terus apa yang orang tua Darren katakan padamu? Mereka Galak, judes atau baik dan lembut? ] tanya Ayu dengan beberapa pertanyaan.


[ Kalau Ayahnya aku tidak tahu pasti, karena beliau ada di kantor kemarin. Dan kalau ibunya sudah tentu, baik banget Kak. ]


[ Baguslah, Kakak juga turut senang mendengarnya. ]


[ Hehe, aku jauh lebih senang Kak. Karena apa yang aku mau sudah tercapai sekarang. ] Sonya cengar-cengir sendiri dalam mobil, tingkahnya dilihat oleh Darren.

__ADS_1


[ Iya, kamu harus selalu bahagia. ]


[ Terima kasih, calon Kakak iparku. ] Senyuman Sonya makin terkembang tak kala mengirim pesan itu pada Ayu.


[ Hahaha. Kamu ada-ada saja deh. ] Ayu juga ikut-ikut tersenyum.


[ Hehe, kakak malu, ya? Hm ... aku offline dulu, ya kak? Soalnya Kandaku sedang menatapku dengan tatapan penuh selidik karena sejak tadi senyam-senyum sendiri. ] terang Sony yang sudah sedikit risih dengan tatapan Darren padanya.


[ Iya deh. Bilang padanya hati-hati saat menyetir, jangan ngebut-ngebutan! ]


[ Oke kak. Nanti aku bilangin pada Kandaku, ya? Bye. ] Sonya secepatnya mengakhiri percakapan mereka lewat sosmed.


[ Bye. ]


Benar saja, setelah mengakhiri chatinggannya, Sonya langsung offline begitu saja tanpa melihat dan membalas lagi chat dari Ayu yang terakhir.


"Siapa itu?" tanya Darren serius.


"Calon kakak iparku, Kanda." Sonya tersenyum manis ke arah Darren.


"Oh, kirain cowok lain."


"Cowok lain dari mana? Orang juga tidak pernah pacaran, kalau teman sih, ada. Tapi, kami tidak terlalu akrab."


"Hahaha. Kanda bercanda Dinda. Kanda percaya kok sama Dinda."


"Huuu ... jangan-jangan Kanda cemburu lagi sama kak Ayu? Hahaha." Sonya tergelak mengejek Darren.


Pufft! Sonya tertawa. "iya deh maaf Kanda." Darren mengelus kelapa Sonya lalu tersenyum manis ke arahnya. Sonya hanya menikmati sentuhan lembut Darren padanya.


Ayu kembali menunggu sang kekasih yang tak kunjung datang juga. Sedang Arya masih setia pada posisi yang sama, mondar-mandir menunggu bawahannya, namun kali ini rasa frustasinya sudah mencapai ubun-ubun dan siap untuk meledak kapan saja.


Di tempat lain khususnya di rumah besar milik keluarga Abraham. Terlihat Azka sedang berbincang dengan ketiga orang di ruang tamu. Awalnya Azka heran, kenapa Kirana juga berada di sana. Namun ia juga tidak terlalu mengambil pusing.


Azka sama sekali tidak menghiraukan Kirana yang duduk di samping Laksmi, ia menganggap Kirana hanyalah sebuah makhluk yang tidak ada wujudnya, tatapan Azka yang seolah-olah tak peduli membuat Kirana kesal bukan main pada dirinya.


Laksmi sedikit menginjak kaki Kirana agar merubah ekspresi wajahnya, namun sebelum ia merubahnya Daniel sudah melihat semua itu.


"Mah, Papa ingin bicara bedua sama Azka," pamit Daniel pada Laksmi.


"Eh, silahkan. Silahkan Pah!"


Daniel bangkit dari duduknya, lalu melangkah perlahan. "Ayo!" pinta Daniel. Azka juga bangkit dan langsung mengekori Daniel dari belakang.


Langkah kaki Daniel menuju kursi dekat kolam renang yang ada di wilayah rumah besar itu. Ia mendaratkan pantatnya pada kursi kayu yang ada di situ lalu menatap lurus ke depan.


"Tolong jelaskan maksud Anda pada saya," pinta Azka dingin. Ia masih berdiri, enggan untuk duduk di samping ayahnya.

__ADS_1


"Apa seperti itu cara bicaramu pada Ayahmu sendiri?" tanya Daniel.


"Sejak kapan Anda mengetahuinya?" tanya Azka to the point.


Daniel menghena nafasnya dalam-dalam dan menhembuskannya secara perlahan. "Sebelumnya maafkanlah Ayahmu ini, yang telah lancang mencari informasi mengenai Amel," ucap Daniel tulus.


"Saya tanya, sejak kapan?" tanya Azka penuh penekanan. Ia tidak suka Daniel bertele-tele.


"Waktu kamu mengumumkan Amel pada semua orang. Esoknya aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Amel."


"Namun kenapa, Anda perpura-pura tidak tahu? Sampai pada saat ini?" tanya Azka menginterogasi.


"Kau tidak perlu tahu soal itu. Yang perlu kamu ketahui adalah, kau harus lebih waspada dan hati-hati lagi nanti." Ucapan Daniel ibarat teka-taki, namun Azka tidak terlalu menanggapi.


"Apa wanita itu juga mengetahuinya?" tanya Azka ingin tahu.


"Tidak. Ibumu tidak mengetahuinya, Ayah sempat menyelidikinya dan Ayah jamin ibumu tidak mengetahuinya."


"Dia bukan ibuku," tegas Azka.


"Baiklah. Terus kapan kau akan mempertemukan Ayah dengan anak-anakmu?" tanya Daniel.


"Hemm."


"Tidak apa-apa jika kamu masih menyembunyikan mereka dari Ayah."


"Ya."


"Apa ada hal penting lainnya yang ingin Anda sampaikan pada saya?" tanya Azka pada Daniel.


"Tidak ada. Hanya itu saja. Ayah hanya ingin melihatmu saja, Nak."


"Baiklah. Saya pamit." Azka segera melangkah pergi meninggalkan pria parubaya yang sedang menatap punggungnya sambil tersenyum.


'Semoga kau selalu bahagia, Nak. Maafkan ayah, ayah belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu. Tapi ayah janji, kali ini ayah akan melindungi keluarga kecilmu.'


Azka terus berjalan menelusuri ruangan yang mereka lewati tadi, hatinya tertarik menatap kamar yang di tempatinya dulu.


Sebelum ia membeli Apartemen dan tinggal di sana, ia dulunya tinggal di rumah besar ini sendirian. Setelah keluarga ayahnya pindah kesini membawa istri dan anaknya yang lain, barulah Azka angkat kaki dari rumah ini dan membeli Apartemen.


Azka menatap pintu kamar itu, hatinya seakan sedang ditarik oleh magnet besar agar mendekat ke arah pintu kamarnya. Kini ia sudah berjalan mendekati pintu kamar itu, lalu ia membuka pintu dan langsung masuk ke dalamnya begitu saja, tidak lupa ia menutup pintu kembali.


Fikirannya menerawang jauh ke masa lalunya. Kamar yang di tempati oleh dirinya adalah ladang kefrustasiannya. Entah itu karena masalah keluarga atau karena masalah tentang dirinya sendiri.


Dilihatnya suasana ruangan itu lekat-lekat, sama sekali tidak ada yang berubah. Ruangan itu tampak bersih karena di rawat. Azka berjalan menuju nakas membuka laci yang ada di sana. Ia mengambil album biru miliknya, yang sudah lumayan usang termakan usia di dalam laci itu.


Sedikit berjalan ke kaki ranjang sambil membawa sebuah album di tangannya.

__ADS_1


Duduk di kaki ranjang, menatap ke album biru itu. Azka menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Ia mengusap sebuah album yang ia pengang lalu perlahan membuka album itu.


Bersambung ❣


__ADS_2