Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 128


__ADS_3

Selesai masak dan menyajikan makan malam di meja, Amel berjalan ke arah ruang keluarga untuk menemui anak-aka yang ia tinggalkan di sana, namun yang ia dapati hanya Darren dan Arya saja.


"Di mana anak-anak?" tanya Amel.


"Di kamar, Kak," jawab Darren.


"Baiklah. Kalian bersiaplah dulu. Barulah kita makan malam bersama," pinta Amel.


"Oke Kakak ipar."


"Oh iya. Apa kalian melihat Azka?" tanya Amel yang belum melihat batang hidung Azka.


"Tidak Kak," jawab Darren, menggeleng pelan.


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apa Azka tidak memberi kabar padamu?" tanya Arya.


"Dia pamit pergi ke rumah Ayah. Namun sampai sekarang Azka tidak memberi kabar lagi padaku," ungkap Amel.


"Apa Azka sudah pulang ke Apartemennya, ya?" tanya Darren.


"Coba kalian hubunggi dia dulu. Kakak pamit menemui anak-anak di kamar, nanti baru ke sini lagi," ucap Amel.


"Baiklah."


Amel pun berlalu pergi dengan perasaan yang tidak enak. Selepas Amel pergi, Arya mencoba menghubunggi Azka, namun terdengar suara wanita yang begitu menjengkelkan di telinganya. Berulang kali ia menelepon Arya namun sama sekali tidak membuahkan hasil.


Arya segera menyuruh Darren untuk menelepon Azka, namun sama saja, suara wanita masih terdengar jelas di ponsel milik Darren. Keduanya menjadi frustasi dibuatnya.


"Ponselnya tidak aktif," jelas Darren.


"Sial! Oke, aku coba telepon ke kantor dulu," gerutu Arya.


Arya bergegas menelepon bawahannya yang masih berada di kantor karena lembur.


Tut ... tut ... tut ... Setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Hal--"


"Apa hari ini Presdir datang ke kantor?" tanya Arya menyela orang di seberang telepon.


"T--Tidak Pak."


Setelah mendengar jawaban singkat dari bawahannya, Arya pun segera memutuskan sambungan teleponnya. Sedang orang yang berada di kantor hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Bagaimana?" tanya Darren. Arya hanya menggeleng pelan pertanda bahwa Azka juga tidak berada di Kantor.


"Apa telah terjadi sesuatu padanya?" tanya Arya panik.

__ADS_1


Darren menepuk pundak Arya pelan. "Tenanglah. Buang jauh-jauh fikiran burukmu itu. Mungkin dia masih berada di rumah om Daniel," ucap Darren. Berusaha menenangkan Arya.


"Kamu 'kan tahu sendiri, sejak kejadian itu, Azka tidak pernah akur lagi dengan ayahnya," ucap Arya.


"Tapi tetap saja, kamu harus berfikiran positif, Ar."


"Iya, semoga saja begitu." Arya membuang nafas kasar.


Selang beberapa menit berlalu, Amel yang telah menuntun anak-anaknya, muncul dan segera berjalan mendekat ke arah Arya dan Darren di ruang keluarga.


"Gimana? Apa sudah ada kabar?" tanya Amel.


"Ponselnya tidak aktif, Kak."


"Ya sudah. Kalian bawah anak-anak ke meja makan, ya. Biar kakak saja yang panggil Ayu sama Sonya untuk makan bersama," ucap Amel.


"Baik."


"Oke. Ayo semua ikut Om ke meja makan!" seru Darren.


Anak-anak dengan patuh mengikuti kedua Omnya menuju meja makan. Amel pun pergi memanggil Ayu dan Sonya yang masih berada di kamar. Setelah itu, barulah mereka bertiga pergi bersama ke arah meja makan. Ayu yang melihat ada kejanggalan langsung membuka pembicaraan.


"Loh, kak Azka mana?" tanya Ayu, matanya menatap ketiga orang dewasa itu satu persatu.


"Kami juga tidak tahu," ungkap Amel, Arya dan Darren serempak, nada lesu terdengar jelas pada ucapan mereka.


"Sudah, tapi ponselnya tidak aktif," jawab Arya dengan mimik wajah sedikit panik.


Ayu pun seketika terdiam, dia juga tidak tahu Azka berada di mana. Mereka masih belum bergerak untuk sekedar mengambil nasi.


Anak-anak juga terlihat kebingunggan, tapi berbeda dengan Raka yang selalu peka dalam menyikapi sesuatu. Dia hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada Ayahnya.


Di waktu yang bersamaan. Azka terbangun dari tidur panjangnya. Nafasnya sesak di kala melihat ruangan yang begitu gelap. Ia pun merongoh ponsel miliknya dan melihat jam di sana. Sudah pukul 19:25 malam.


"Kenapa aku bisa tertidur selama itu di sini?" tanyanya pada diri sendiri. Ia mengambil posisi duduk dan sejenak merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Setelah di rasa sudah cukup, barulah ia bangkit dan menyalahkan lampu di kamar lamanya itu. Azka mengambil album biru yang masih tergeletak di atas kasur, lalu kembali menyimpannya ke tempat semula.


"Aku harus segera pulang. Mereka semua pasti sedang mencemaskanku," lirih Azka.


Azka pun keluar dari kamarnya, lalu melangkah perlahan-lahan menelusuri rumah besar milik ayahnya. Daniel yang baru saja turun dari tangga tidak sengaja melihat Azka.


'Bukankah dia sudah pulang? Apa dia balik lagi ke sini?'


"Azka!" teriak Daniel yang masih berada di pertengahan anak tangga.


"Hemm." Deheman Azka terkesan malas.

__ADS_1


"Sedang apa kau di sini?" tanya Daniel. Ia heran kenapa anaknya itu sedang berada di rumahnya.


"Saya ketiduran di sini," jawab Arya jujur.


"Oke. Kebetulan kamu masih berada di sini, ayo sekalian kita makan bersama!" pinta Daniel.


"Tidak usah. Saya harus segera pulang sekarang."


"Tapi, sebentar lagi mau hujan"


'M--Mau hujan? Aku harus pulang cepat agar tidak kehujanan di jalan.'


"Tidak perlu. Saya akan segera pulang sekarang," ucap Azka tetap ngotot ingin segera pulang.


"Tapi."


Azka tidak mempedulikan Daniel, ia terus berjalan menuju pintu rumah. Daniel hanya menggeleng kepalanya, ia juga tidak akan memaksa Azka jika Azka tidak mau melakukan sesuatu yang ia pinta.


Sesampainya di luar, Azka mengendarkan pandangan matanya menatap langit malam, yang begitu gelap tanpa bintang-bintang.


Angin malam bertiup kencang menyapu kulitnya, hawa dingin sukses memasuki pori-pori kulit Azka, hingga membuat bulu kuduknya meremang.


Perut yang sudah keroncongan karena tidak diisi sejak pagi sedikit menganggunya. Namun, ia tidak mau berlama-lama di rumah ayahnya walau hanya sekedar makan malam bersama.


Rasanya tidak sudi jika harus makan bareng ayah dan keluarga baru ayahnya, apalagi di sana juga ada Kirana.


"Aku harus pergi dari sini, agar bisa sampai di rumah milik Arya dengan cepat," lirih Azka pelan.


Azka berjalan menghampiri mobilnya yang masih terpakir di garasi. Setelah menghidupkan mobilnya, barulah Azka mengemudikan mobilnya dengan lihai agar secepatnya keluar dari garasi.


Azka terus mengemudikan mobilnya membela jalan perkotaan dengan kecepatan tinggi agar dirinya bisa sampai ke rumah dengan cepat. Namun na'as, suara guntur dan petir menyambar begitu saja hingga membuat dirinya terangkat kaget.


"Please! Jangan sekarang!" Mohonnya. Azka melonggarkan dasi yang masih melekat pada kerak bajunya. Baginya dasi itu sedang mencengkam leher, hingga membuatnya harus melepaskannya.


Di rumah milik Arya, juga terdengar suara gemuruh guntur dari luar rumah. Rasa cemas dan khawatir kini menyelimuti Arya. Arya takut terjadi sesuatu pada Azka.


Amel menatap wajah Arya sekilas. 'Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Azka.'


Mereka semua masih belum bergerak mengambil makanan untuk di makan. Walau anak-anak sudah merengek meminta makan, tapi Amel segera membujuk mereka agar lebih sabar menunggu kedatangan sang ayah.


Arya kembali merongoh ponselnya dan segera menghubunggi Azka, namun suara wanita masih terdengar jelas di sana. Berulang kali Azka mencoba tetap saja ponsel milik Azka tak kunjung aktif juga.


Hujan rintik-rintik mulai menyentuh tanah yang masih kering di terpa cahaya matahari siang tadi.


Azka mulai cemas, kini bukan dingin lagi yang ia rasakan melainkan rasa panas yang sedang menjalari tubuhnya.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2