Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 150


__ADS_3

Saat Laksmi masuk ke dalam kehidupan Daniel, semuanya tampak baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu Daniel yang hidup bersama Laksmi, sedikit memberikan cintanya pada Laksmi, agar Laksmi bertaubat dan tidak melakukan hal-hal jahat lagi.


Ketika Azka mulai beranjak dewasa perbuatan Laksmi semakin menjadi-jadi. Ada saja siasatnya agar membuat Daniel membenci Azka begitu pun sebaliknya. Namun Daniel sama sekali tidak bisa membenci buah cinta antara dirinya dan Diana.


Sebagian besar cinta Daniel telah dibawah pergi oleh Diana. Ia hanya berpura-pura tak mempedulikan Azka agar membuat Laksmi menyerah mengincar Azka. Tapi tetap saja, Laksmi tak kunjung melepaskan Azka dengan mudah. Sehingga membuat Daniel harus melindungi Azka secara diam-diam. Namun tidak disangka-sangka Azka dewasa dapat mengagalkan semua rencana jahat Laksmi dengan baik.


Dan kali ini Daniel tidak akan membiarkan rencana Laksmi berhasil. Ternyata Daniel juga telah mengumpulkan orang-orang suruhannya untuk melindungi Azka dan keluarga besarnya, tapi ketika mengetahui bahwa Azka telah melakukan persiapan dengan matang, Daniel hanya dapat membatalkan semua persiapan yang telah ia lakukan dan membiarkan Azka yang akan menyelesaikan semuanya.


"Bergeraklah sekarang," titah Azka.


Tiba-tiba orang suruhan Azka segera masuk ke dalam aula bahkan berhasil merobohkan pintu yang telah di kunci rapat. Sebagian orang yang ada di dalam terkaget-kaget.


Orang suruhan Azka mulai menerobos masuk dan langsung saling baku hantam dengan orang suruhan Laksmi.


Terjadi pertarungan sengit antar kedua kelompok itu. Para tamu undangan yang sedang berteriak-teriak histeris di tenangkan dan segera di tuntun ke pojokkan oleh Ayu dan lainnya. Itu semua juga demi mereka agar tidak kenah pukulan atau tendangan dari orang-orang berbadan kekar yang sedang berkelahi.


Azka, Arya dan Darren juga ikut dalam pertarungan itu. Hampir setengah jam, masih dalam situasi yang sama.


Tinggal sedikit lagi mereka meraih kemenangan karena orang suruhan Laksmi sudah hampir dikalahkan.


Kini orang-orang suruhan Laksmi telah kewalahan menghadapi serangan-serangan dari orang suruhan Azka. Dan pada akhirnya orang suruhan Azka berhasil melumpuhkan lawan mereka.


Namun, orang suruhan Laksmi yang masih setengah sadar, mengambil pistolnya yang telah ia sembunyikan. Dia melayangkan pistol itu ke arah Azka, tidak ada seorang pun yang melihatnya. Orang suruhan Laksmi berdiri dan langsung menembakan peluru pada Azka, pergerakannya itu dilihat oleh Daniel.


Daniel yang melihat putra sulungnya sedang berada dalam bahaya segera berlari ke arah Azka.


Dor!


"Azka, awas!!!" teriak Daniel. Azka sontak melihat ke arah ayahnya. Azka menggeleng kepala agar ayahnya tidak mendekati dirinya.


Namun Daniel tidak mempedulikan isyarat yang diberikan Azka padanya, ia langsung memeluk putranya dengan erat untuk melindungi anaknya dari peluru yang sedang mengincar nyawa Azka.


Brek ...


Darah segar dari kepala Daniel mulai mengalir deras akibat peluru itu. Sebelum Daniel pingsan, wajah keriput itu tersenyum bahagia ke arah putranya.


'Setidaknya ayah bisa melindungimu walau hanya sekali.'


"Ayah!!!" teriak Azka. Daniel samar-samar mendengar panggilan yang keluar dari bibir putranya. Hatinya senang dan tenang akhirnya Azka mau membuka hatinya tuk memanggilnya dengan sebutan ayah.


"Ayah, bangun!!!" teriak Azka.


Sementara Arya segera membereskan orang suruhan Laksmi.


"Ayah!!!" teriak Amel.


"Om!!!" Ayu, Sonya dan Darren ikut berteriak.


"Daniel!!!" Laksmi, Jonathan dan Monica juga melakukan hal yang sama.


Seketika Laksmi menjadi pucat. Semuanya berlari menghampiri Azka yang sudah merubah posisi memangku ayahnya.


"Ayah bangun!!!" Azka mengucang-guncangkan tubuh Daniel. Terlintas kejadian di masa lalu saat dirinya pertama kali melihat banyak darah. Namun saat ini dia sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Awas biar kuperiksa!" Darren buru-buru memeriksa denyut nadi Daniel.


"Detak jantungnya mulai melemah. Sebaiknya kita segera bawah Om ke rumah sakit," ucap Darren setelah memeriksa kondisi Daniel.


Tanpa berpikir panjang lagi mereka membopong tubuh Daniel keluar dari gedung hotel itu. Kini tubuh Daniel sudah berada di dalam mobil.


Laksmi juga ada di dalam mobil itu, ia menyesal telah melakukan hal jahat pada Azka dan mengakibatkan Daniel terluka. Masa lalu terus terbayang-bayang di benak Laksmi, hingga membuatnya terbungkam.


"Arya, kamu bareng Mommy, Daddy juga yang lainnya. Biar aku, Azka, kakak ipar dan Tante Lakmsi yang akan membawa om Daniel ke rumah sakit sekarang," ucap Darren.


"Baiklah. Berhati-hatilah saat menyetir."


"Iya."


Darren segera tancap gas membela jalan perkotaan. Sedang Arya menghampiri orang tua Darren sekaligus dengan kedua wanita yang ia cintai.


"Bagaimana?" tanya Monica.


"Kita akan pergi setelah menjemput anak-anak, Mom." Arya langsung to the point.


"Anak-anak juga ada di sini?" tanya Monica.


"Iya Mommy. Mereka berada di kamar Hotel," jawab Sonya.

__ADS_1


"Ayo keatas! Kita menjemput mereka dulu," ucap Arya.


"Baiklah."


Semuanya berlalu kembali ke Hotel dan pergi menuju lantai atas menemui anak-anak di sana.


Tok! Tok! Tok!


Salah satu orang suruhan Azka segera membuka pintu sambil tetap siaga. Setelah melihat siapa yang datang barulah dirinya menurunkan kewaspadaannya.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Arya.


"Iya. Silahkan masuk Bos."


Ternyata salah satu orang suruhan Azka harus menurunkan martabatnya tuk bermain kuda-kudaan bersama anak-anak. Anak-anak segera berlari setelah melihat om tampan mereka datang.


"Om!!!" teriak keempat bocah kecil. Mereka sudah merasa bosan terus terkurung dalam kamar besar itu.


"Om, Papa an Mama di ana?" tanya Rasti.


"Ceritanya panjang. Sebelum itu kalian ikut Om keluar dulu, ya. Kita akan menemui seseorang."


"Aik Om." Arya hanya tersenyum membalas ucapan serempak dari keempat bocah itu.


"Kalian sudah boleh pergi dari sini. Sebelum itu selidiki dengan baik kejadian yang terjadi pada hari ini," titah Arya.


"Baik Bos," jawab kedua orang itu serempak. Lalu keduanya pun berjalan menuju pintu.


"Entar tita aing agi a Om tetar," teriak Rasti.


Kedua orang suruhan Azka hanya bisa tersenyum pahit. Keduanya benar-benar kapok dibuat mereka. Bagi keduanya ada baiknya jika mereka berkelahi saja, dibanding harus mengurus para bocah kecil yang tidak pernah lelah dalam bermain itu.


Arya keluar mengendong kedua putri kecil, sedang kedua bocah lelaki mengikuti langkah kakinya dari belakang.


Monica langsung menghampiri Arya. "Wah ... apa mereka semua anak-anak Azka?" tanya Monica kagum, ia tak pernah menyangka bahwa Azka memiliki anak-anak yang sangat menggemaskan.


"Iya Mom," jawab Sonya cepat.


"Mirip ibunya dan sedikit mirip alm. Diana, ibu Azka," ucap Monica. Matanya bergantian menatap keempat bocah kecil itu.


"Wah ... anak lelaki itu sangat mirip dengan Azka," ucap Monica lagi, matanya berbinar penuh kagum.


"Mereka ayah dan ibu, dari Om Darren. Kalian bisa memanggil mereka dengan sebutan Nenek dan Kakek," jelas Arya.


"Nenek, Kakek!!" teriak mereka serempak.


Monica mendekati mereka. "Lucunya," ucapnya sedikit mencubit pipi Bara.


"Mending kita semua secepatnya pergi ke rumah sakit," timpal Arya. Yang lainnya hanya manggut-manggut saja.


"Ayo sini Tante gendong," pinta Ayu pada Raka. Sedang Sonya langsung menggendong Bara.


Mobil Darren sudah diparkirkan di tempat khusus parkir rumah sakit. Azka keluar dan langsung berteriak sekuat tenaga agar dokter atau suster segera datang dan mengurus ayahnya.


Dokter dan suster berbondong-bondong datang ke arah Azka dan Darren yang tengah membopong tubuh lemah Daniel.


Mereka langsung membaringkan Daniel di brangkar. Lalu secepatnya di bawah lari ke ruang operasi untuk pengangkatan peluru yang masih bersarang di kepala Daniel.


Tidak lama kemudian mobil Arya juga sudah memasuki area parkir rumah sakit. Setelah turun dari mobil, Jonathan dan Monica mengambil ahli tuk menggendong Rasti dan Bunga. Sedang Raka di gendong oleh Arya dan Bara di gendong oleh Ayu.


Semuanya berjalan memasuki rumah sakit besar itu. Setelah bertanya kepada beberapa perawat, barulah mereka menuju ke arah ruang operasi.


Di depan ruangaan operasi sudah ada Azka, Amel dan juga Laksmi. Azka sangat merasa bersalah, Amel terus mengelus pundak Azka guna memberi kekuatan agar ia tidak terpuruk seperti dulu lagi.


'Ayah, kau harus tetap hidup. Maafkan Azka ... maafkan Azka, selama ini Azka telah menghiraukanmu.'


Keempat bocah itu turun dari gendongan, lalu berlari menghampiri ayah dan ibu mereka.


"Papa!!!"


"Mama!!!"


Teriak keempat bocah hampir bersamaan. Azka dan Amel serentak menoleh pada buah hati kecil mereka. Azka segera mengusap air mata yang sempat menetes di pipinya.


"Sayang ... anak papa!!! Sini!" Azka menyuruh keempat bocah itu agar lebih dekat lagi dengannya. Ia lalu merengkuh keempat buah hatinya dalam pelukannya.


'Sayang ... maafkan Papa. Gara-gara Papa, Kakek kalian masuk rumah sakit. Dan gara-gara Papa juga, kalian belum sempat menemuinya.'

__ADS_1


"Papa nanis?" tanya Bunga.


"Tidak sayang. Papa tidak nangis kok," kilah Azka.


"Papa dak oleh engeng, dah ua uga," timpal Rasti. Anak kecil itu sengaja membuat sedikit lelucon agar ayahnya tidak merasa sedih lagi.


"Peltaya deh, asti Kakek aik-aik taja," sahut Raka.


"Iya benel ap tata tak Laka. Kakek asti aik-aik taja. Papa dak oleh edih agi ya." Rasti tersenyum, tangan kecilnya mengusap pelan puncak kepala Azka.


Mata Laksmi melihat kearah ayah dan anak kembar itu. Walau tampak binggung dirinya tiba-tiba sadar, salah satu anak kembar itu sangat mirip sekali dengan Azka dan ada juga yang sedikit mirip dengan Diana.


"D--Diana!!!" teriak Laksmi gugup. Semua mata menoleh pada Laksmi.


"D--Diana!!!" Mata bulat itu terus menatap ke arah Bunga.


"Maafkan aku," lirih Laksmi.


"Hiks ... hiks ... hiks ... maafkan aku. Huhuhuhuhu ... jujur aku tidak bahagia setelah mengambil semuanya darimu. Maafkan aku Diana ... maafkan aku ...."


"D--Dan sekarang ... atas perbuatan jahatku. Daniel ... Daniel ... terluka. Aku sangat mencintainya .... hiks ... hiks ... hiks ... tapi, aku juga ... huhuhuhu ... yang telah membuatnya terluka," ungkap Diana. Matanya sudah dibanjiri air mata penyesalan.


"Diana ... kumohon ... maafkan aku ...."


"Mama ... olang tu tiapa? Tenapa ia menatat Unga?" tanya Bunga.


"Dia Nenek jahat. Jangan menatapnya!!!" ungkap Azka dingin.


"Diana ... maafkan aku ... obsesiku terlalu besar sehingga membuat keluargamu hancur ... hiks ... hiks ... aku iri padamu ... sangat iri ... sampai harus membuat akal sehatku hilang. Huhuhuhu." Laksmi terus merocos membaca semua isi fikirannya.


"Cukup!!!" teriak Azka muak.


"Arya, usir wanita ini dari sini. Aku tidak ingin melihatnya berada di depanku!!!" sambung Azka lagi.


Tanpa banyak bicara, Arya segera menghampiri Laksmi dan menarik tangan wanita parubaya itu.


"Tidak ... jangan!!! Aku ingin meminta maaf pada Diana!" teriak Laksmi. Matanya menatap ke arah Monica yang sedang mengacuhkannya.


"Monica!!! Tolong aku!!! Aku ingin meminta maaf pada Diana," pinta Laksmi.


Monica membalas tatapan mata Laksmi, ada rasa benci di dalam lauatan bening itu. Monica membenci Laksmi karena kecurigaannya terhadap Laksmi itu benar adanya.


"Kenapa kau tega pada Diana!!! Apa salahnya!!! Padahal dia baik sekali padamu, dia juga tulus berteman denganmu!!! Namun, kau malah membalasnya dengan melenyapkannya. Apa kau puas, hah? Bahkan sekarang kau juga ingin mencelakai anaknya!!! Perbuatanmu ini sudah tidak bisa di maafkan lagi Laksmi. Arya seret wanita jahat ini keluar!!!" hardik Monica geram. Akhirnya hari ini dia bisa meluapkan amarahnya terhadap Laksmi.


"Maaf Tante. Sebaiknya kita pergi dulu dari sini," ucap Arya memaksa Laksmi.


"Hahahahahahaha ... Diana apa kamu sesombong itu hingga tidak mau memaafkanku?"


"Hahahahaha .... arrrrgggghhhttt!!! Diana ... kenapa kau harus terlahir dari keluarga kaya. Hahahahaha ...."


Arya segera menyeret Laksmi keluar, kondisi Laksmi menjadi tidak terkendali bahkan dirinya hanya bisa berteriak-teriak tidak jelas. Mulutnya mengoceh sepanjang jalan.


Arya membawa Laksmi ke ruangan dokter yang merawat pasien gangguan mental.


"Hahahaha ... pak Dokter, aku berhasil membunuh wanita itu, tapi kini dia hidup kembali. Bahkan sikapnya yang dulu baik terhadapku telah berubah menjadi orang yang sombong, ia tidak mau memaafkanku. Hahahahah ... dan kini ... dan kini ... suaminya yang telah berhasil kurebut juga sedang terluka dan semua itu terjadi karena aku. Huhuhuhuhu ... aku sangat mencintainya ... hiks ... hiks ... hiks ... benar-benar mencintaimu, Daniel."


Kondisi Laksmi tidak stabil dirinya begitu frustasi, rasa bersalah, amarah, tercampur aduk menjadi satu. Akal sehatnya seakan mendadak hilang dari raganya. Kadang tertawa dan kadang juga menangis.


"Tolong rawat dia, Pak."


"Baik, Pak."


Setelah mendegar ucapan Dokter, Arya pun berbalik badan dan berjalan perlahan meninggalkan mereka di sana.


"Jangan pergi!!! Jangan tinggalkan aku di sini!!!" teriak Laksmi, namun Arya sama sekali tidak mempedulikannya.


"Tolong Bu. Ikut saya!!" ucap dokter sopan.


"Tidak. Lepaskan aku!!! Aku ingin menemui Daniel dan Diana!!!"


"Tolong menurut, Bu."


"Lepaskan!!! Lepaskan aku!!!"


"Suster!!!" teriak sang dokter, ia kewalahan menahan pergerakan Laksmi.


Beberapa suster datang dan langsung membantu dokter menahan Laksmi. Mereka menyeret Laksmi ke dalam kamar ruang rawat pasien gangguan mental. Lalu secara paksa membaringkan Laksmi ke atas brankar.

__ADS_1


Para suster itu pun memegang kaki dan tangan Laksmi agar dirinya tidak bisa bergerak. Setelah itu dokter pun menyuntikkan obat bius agar Laksmi dapat beristirahat dengan tenang.


Bersambung ❣


__ADS_2