
Hari ulang tahun perusahaan sudah tiba dan akan dilaksanakan sebentar malam. Azka sangat sibuk dengan rencana yang Darren berikan untuk menaklukan kelinci kecil yang sudah beberapa hari ini menganggu fikirannya. Darren senang dapat membantu sepupu sekaligus sahabatnya itu.
Malamnya Azka tampak begitu senang karena apa yang Darren sarankan padanya berjalan dengan mulus. Bahkan Amel masih tersipu dengan godaan halus yang keluar dari mulut Azka waktu di dalam mobil.
Amel mengandeng tangan Azka, mereka tampak serasi dan sangat cocok. Tampan dan cantik bak pangeran dan putri itu pun berjalan menginjakkan kaki di karpet merah. Para media secara live menyiarkan sosok keduanya hingga memasuki lobby dan menuju aula besar perusahaan.
Banyak hidangan sudah tertata rapi di atas meja, suasana yang begitu megah memancarkan aura kekayaan yang membawa. Ini bukan perayaan ulang tahun lagi. Ini seperti acara besar-besaran yang dilaksanakan oleh perusahaan Abraham Group Agency.
Amel menatap takjub pemandangan yang ada di depannya. Matanya fokus ke hidangan kue yang tertata rapi di meja panjang.
Azka yang melihat teman-teman ayahnya pun pamit pada Amel untuk menemui mereka yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Sebelum Azka pamit dia sudah mempersilahkan Amel untuk mencicipi kue yang sudah Amel lihat sedari tadi.
Setelah Amel mengiyakan barulah Azka pergi menemui teman ayahnya. Azka berbicang mengenai memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan milik teman-teman Daniel.
Mata Azka sesekali memperhatikan Amel yang sedang menikmati kue dengan bahagia. Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Amel.
Azka juga tidak begitu kenal dengan wanita itu, karena selama ini dia hanya memfokuskan diri pada pekerjaannya saja dan tidak terlalu fokus dengan hal lainnya.
Azka melihat terjadi perdebatan antara Amel dan wanita itu. Azka segera mengakhiri percakapanya dan pergi perlahan mendekati mereka, namun mereka tidak menyadari Azka yang sedang melihat dan bahkan mendengar apa yang mereka debatkan.
Siapa wanita itu? Batin Azka.
Azka terus memperhatikan mereka, percapakan sebelum sudah Azka lewatkan, Azka hanya mendengar sisanya saja.
"Sahabat? Jangan tidak tahu malu deh kamu. Sahabatku sudah mati sejak 3 tahun lalu. Dan maaf kamu siapa, ya?"
Apa mereka teman lama? Kenapa Amel sampai marah begitu saat melihat wanita itu?
"Tampaknya kamu begitu sombong sekarang. Sudah berhasil mengoda Om-Om tua, 'kan? Oh iya, mana anak harammu itu?"tanya wanita itu mencemooh Amel.
Aku orang yang kamu maksudkan dengan Om tua. Anak siapa yang dimaksudkan oleh wanita itu? Apa mungkin pada waktu itu Amel memgandung anakku?
"Bahkan Om-Om tuaku lebih tampan dari seekor anj*ng yang pernah kau tiduri."
Sedikit pujian untukku juga bagus. Tapi yang dimaksud oleh Amel dengan seekor anj*ng yang kau tiduri itu apa? Pertunjukan ini semakin menarik untuk ditonton.
"Cih. Amel, Amel. Kamu sudah mulai berani sekarang, ya? Kamu ke sini karena sedang mencari pria kaya, 'kan? Dasar bermuka tebal!"
Aku pria tua yang kamu katakan itu.
Azka pengen sekali membantu Amel melawan wanita itu, namun dia tetap tidak bergeming pada tempatnya berdiri, Azka juga ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Haha. Harusnya kamu berkaca, yang bermuka tebal itu kamu sendiri. Suka sekali ya memungut sampah orang lain. Dan apa kamu bilang, aku mencari pria kaya? Heh, sudah kukatakan padamu, Om-Om tuaku lebih tampan dari seekor anj*ng yang kau pelihara."
Dia terus memujiku, bikin gemas saja.
"Ckck. Aku dengan dirimu masih mending aku. Aku jelas tidur dengan pacarku sendiri. Sedangkan kamu, tidurnya dengan orang lain dan bahkan hamil anaknya. Dasar perempuan tak tahu malu!"
Apa-apaan wanita itu.
"Haha. Yang tidak tahu malu di sini itu kamu Yuni. Bisanya merebut pacar sahabatnya sendiri dan bahkan dengan tidak tahu malunya mengaku pacaran dengannya. Dasar PHO!"
__ADS_1
Apa? Jadi dulu Amel punya pacar? Tapi tidak apa, aku yang merebut malam pertamanya jadi mantan pacarnya itu tidak sebanding denganku.
"Haha. Salah sendiri kenapa kamu terlahir dari keluarga miskin dan pas-pasan. Membuat orang yang kamu cintai berpaling dari kamu."
Wanita murahan ini, kenapa dia terua memojokan kelinci kecilku? Ayo kelinci kecil lawan ular kobra itu, buktikan bahwa yang tidak mungkin menjadi mungkin.
"Yaelah, itu 'kan masa lalu sayang. Lagian nih yah, Omku lebih tajir dari anj*ngmu itu. Lihat nih baju yang kupakai dibeli oleh dia. Barang branded pula."
Nah,itu baru benar. Om-mu ini tampan dan juga hebat tentunya. Ayo teruslah memujiku. Haha. Menonton juga tidak sia-sia. Batin Azka tertawa.
"Cih, barang palsu saja bangga. Dasar penggoda!"
Mata wanita itu benar-benar bodoh. Tidak tahu membedakan barang asli dan barang palsu.
"Terserah. Aku tak peduli. Pergi sana! Menganggu makanku saja."
Bagus Amel. Usir dia juga bagus, ular kobra itu harus di usir agar dia tahu diri.
Azka memerhatikan Amel yang kembali memakan kuenya. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri wanita itu.
"Sayang, sedang apa kau di sini?" tanya pria itu.
Riski? Jadi wanita ular itu pacar Riski? Dan Riski adalah mantan Amel?
"Ini Yank. Kamu masih ingat dengan wanita itu atau tidak?"
"Wanita yang mana?"
Riski memang tidak jelas melihat Amel karena Amel membelakangi mereka. Azka terus memantau pergerakan mereka bertiga.
"Hei! Lihatlah ke sini!"ucap Riski sedikit berteriak.
"Ada apa? Kenapa kalian berisik sekali, sih? Menganggu tahu!"ketus Amel.
"A--Amel! Sedang apa kau di sini?" tanya Riski terkejut melihat Amel.
"Menurut kamu?"
"Kenapa kau berada di tempat seperti ini?"
Awas saja kalau kau macam-macam padanya.
"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini? Mau bilang aku tak pantas berada di acara besar seperti ini?"
"B--Bukan begitu juga. Hanya saja ... hanya saja, lama tidak bertemu kau makin cantik."
Wanitaku memang sangatlah cantik dari ular kobra yang ada di sampingmu itu.
"Oh." Amel menjawab dengan singkat.
"Riski, apa yang kamu lakukan?"tanya Yuni.
__ADS_1
"Santailah sedikit sayang. Amel juga dulu adalah sahabatmu. Kamu sudah tahu 'kan dengan sifat asliku?" Riski sedikit memberi kode pada Yuni.
Jika kau mempunyai niat jahat pada wanitaku maka simpanlah dalam-dalam jangan sampai kau menyesal!
"Maaf ya. Aku tidak kenal dengan kecowa seperti kalian. Permisi!" Azka melihat Amel melangkah ingin pergi dari tempatnya.
"Ckck.Rupanya kau dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Selalu saja seperti ini, tidak ada orang yang berani memaksamu. Tapi, sekarang kau sudah beda, kau sudah tak suci lagi seperti dulu. Sayang sekali." Riski mencomooh Amel.
Kelihatan sekali di pandangan Azka bawah Amel tampak marah.
Wanitaku tak suci lagi itu karena diriku. Aku juga akan bertanggung jawab. Kenapa kau malah menggurusinya?
"Aku jadi seperti sekarang karena kalian berdua. Dan terima kasih telah memberikan kebahagiaan padaku lagi. Aku tidak mau berurusan dengan kalian berdua, anggap saja kita tidak saling kenal. Oke?"
Kebahagiaan yang Azka tangkap dari perkataan Amel adalah karena Amel bertemu dengannya lagi, namu kenyataannya kebahagiaan itu datang dari malam pertama yang mereka lakukan sehingga Amel dapat melahirkan para malaikat kecil yang lucu.
"Tidak bisa begitu. Hasratku belum terpuaskan. Aku ingin mencicipimu."
Kurangajar!
Azka mengepalkan tangannya dengan erat, dia juga sempat bergerak ingin menemui Riski dan memukulnya. Namun Azka juga sadar ini acara yang sangat meriah, banyak media yang hadir di sini. Sebagai pihak yang paling terkemuka dia juga harus menjaga citranya dan juga perusahaan.
"Riski! Apa ya--"ucap Yuni tertahan.
Plak!
"Jaga ucapanmu! Dasar laki-laki tidak tahu malu!"
Azka melihat Amel menampar pipi Riski dengan keras. Membuat Riski memegang pipinya.
"Heh. Bukankah kamu juga adalah wanita yang tidak tahu malu? Berani mencari lelaki tua untuk ditiduri?"
Jika kau tahu pria tua yang kau maksudkan itu aku. Apa yang akan kau lakukan?
"Terserah, kamu mau mengatakan apa tentangku.Sekarang aku tidak peduli lagi dengan kalian. Awas aku mau pergi!"
Azka terus memperhatikan Amel yang mau beranjak pergi meninggalkan Riski dan wanita itu, namun Riski meraih tangan Amel dan mencekamnya.
"Lepaskan tanganku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu,"ucap Riski.
"Dasar gila!" hardik Amel kesal.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu."
Riski mempererat genggaman tangan Amel. Amel meringis kesakitan akibat cengkraman di pergelangan tangannya.
Rupanya dia sudah bosan hidup.
Azka yang sudah tidak tahan lagi, langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Lepaskan tangannya!"hardik Azka, membuat mereka melihat ke arah Azka.
Bersambung❣