
Darren memangku kakinya. "Baiklah biar Darren saja yang menjawab pertanyaan, Mommy. Darren juga mau secepatnya menikahi Sonya, Mom. Tapi, untuk saat ini waktunya belum tepat. Pernikahan Azka sudah tinggal beberapa hari lagi dan Arya juga belum memiliki kekasih, walau bagaimana pun dia yang harus menikah duluan, Mom. Untuk itu maksud kedatangan kami ke sini adalah meminta restu pada Mommy dan Daddy. Apa Mommy merestui kami?"ucap Darren panjang lebar.
"Tentu saja Mommy merestui hubungan kalian. Apalagi wanita yang kamu pilih sangat cantik dan imut." Monica tersenyum bahagia.
"Mommy memang yang terbaik." Darren mengacungkan kedua ibu jarinya pada Monica.
"Yang kamu ucapkan ada benarnya juga, harusnya Arya yang menikah duluan, bukan Sonya, adiknya. Semoga saja rencana kalian berhasil!"
Monica benar-benar berharap semuanya berjalan dengan lancar agar Darren dan Sonya juga bisa leluasa menjalin hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
"Mommy tahu dari mana tentang rencana kami?"tanya Darren penuh selidik, sedang Sonya hanya tersenyum kecil.
"Dari anak perempuan Mommy-lah, mau dari siapa lagi?" Monica menatap Darren lalu menjulurkan lidahnya ke depan.
Darren dan Sonya yang melihat tingkah Monica barusan, mengulum senyum di bibir mereka.
"Dinda percaya sekarang 'kan sama Kanda?"tanya Darren.
Sonya tersenyum. "Ya. Dinda percaya dan bahkan sangat percaya."
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"tanya Monica yang tak paham dengan maksud dalam ucapan keduanya.
"Bukan apa-apa, Mom. Oh iya Mom, Apa Daddy lagi ke kantor?"tanya Darren mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, seperti biasa. Tapi tidak perlu khawatir, setelah Daddy-mu pulang, Mommy akan menyampaikan kabar bahagia ini padanya." Rasanya Monica sudah tidak sabar memberitahukan pada suaminya.
"Baiklah, Mom. Jawaban itulah yang sudah sejak tadi aku tunggu dari Mommy. Aku langsung ke intinya saja, ya Mom. Sebenarnya kami akan pergi ke kampung neneknya Sonya. Jadi kemungkinan besar kami bakal nginap di sana,"ucap Darren. Kini mereka ingin melancarkan rencana kedua.
"Kenapa harus ke sana?"tanya Monica yang belum paham-paham juga.
"Selain ingin mendekatkan anak Mommy yang satunya lagi dengan wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta, Aku juga ingin meminta restu pada nenek mereka, Mom."
'Oh, jadi begitu. Bagus juga jika mereka berduaan terus, rencana Darren dan Sonya pasti berjalan sangat mulus. Dan semoga saja Darren juga secepatnya mendapatkan restu dari neneknya Sonya.'
"Oke-oke, Mommy setuju."
"Apa kalian sudah sarapan?"sambung Monica lagi.
"Nanti kami makan di luar saja, Mom. Kami juga sedang buru-buru,"jelas Darren membuat Sonya tak enak hati.
"Baiklah. Semoga berhasil!" Monica membalas ucapan Darren dengan senyuman manisnya.
"Mommy di sini juga harus banyak berdoa untuk Darren,"ucap Darren mengingatkan ibunya.
"Tentu saja. Mommy selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
__ADS_1
"Terima kasih Mommy,"ucap mereka serempak.
Sonya merasa nyaman berada di dekat Monica, dia yang awalnya berfikir kalau calon mertuanya itu galak dan kejam, malah buyar begitu saja melihat respon positif Monica padanya. Sonya bahkan tak sungkan-sungkan berbicara panjang lebar pada Monica.
Sebelum keduanya berpisah dengan Monica mereka bertiga berpelukkan dahulu. Selesai berpelukkan Darren lebih dulu pergi ke garasi rumah mereka, sedang Sonya masih di tahan oleh Monica di dalam rumah.
"Mommy berharap kau dapat membahagiakan anak Mommy,"ucap Monica serius menatap lekat manik mata Sonya.
Sonya meraih tangan Monica dan mengengamnya dengan erat. "Mommy tidak perlu khawatir, Sonya janji pada Mommy, Sonya akan selalu berada di samping kak Darren dan membuatnya bahagia,"ucap Sonya tulus.
Mengelus puncak kepala Sonya. "Baiklah, sayang. Mommy percaya padamu."
"Terima kasih, Mommy." Sonya memeluk Monica dengan erat, Monica juga membalas pelukkan Sonya.
"Sudah pergi sana! Nanti anak bandel itu, malah galau lagi."
"Haha, Mommy bisa aja. Oke Mom kalau gitu, Sonya pamit, ya?"
"Iya sayang! Hati-hati di jalan. Sampaikan salam Mommy pada nenekmu juga."
"Oke, Mom. Bye-bye!"
"Bye-Bye!"
"Kamu nyetirnya hati-hati. Jangan sampai anak perempuan Mommy lecet sedikit pun." Ancam Monica pada Darren yang sudah berada di kursi kemudi.
"Iya, Mom."
"Da, Da. Sayang!" Monica melambaikan tangan ke arah Sonya yang duduk di samping Darren.
Sonya membalas lambaian tangan Monica. "Da, Da juga Mommy!"
Darren mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan keluar dari rumah mewah kedua orang tuanya. Dalam perjalanan mereka tak henti-hentinya tersenyum bahagia, kini tangan sebelah Darren mengenga tangan milik Sonya.
"Bagaimana? Apa Dinda senang?"tanya Darren melirik Sonya sekilas.
"Kalau boleh jujur, Dinda benar-benar, sangat-sangat senang. Terima kasih, Kanda."
"Sama-sama Dinda-ku sayang. Kanda juga ikut senang saat melihat Dinda tersenyum dari pada melihat Dinda yang sedang khawatir saat baru pertama memasuki rumah Kanda."
"Ya, Dinda benar-benar gugup. Dinda takut kalau ibunya Kanda orangnya kejam. Tapi malah sebaliknya, Mommy sangat baik."
Darren tersenyum masih menatap lurus ke depan. " Daddy juga sangat baik. Kanda bersyukur memiliki ayah dan ibu yang harmonis seperti mereka. Kasihan ayah dan ibu dari Azka, memikirkannya saja Kanda merasa prihatin."
"Begitulah kehidupan manusia, Kanda. Semua telah diatur oleh Tuhan. Kita hanya dapat menerimanya. Semoga kelak dapat di balas dengan hal yang baik."
__ADS_1
Sonya tulus mengucapkan kata-katanya, ia tahu betul dengan kejadian yang menimpah ibu dan ayah Azka, karena ayah dan ibu Sonya, juga terlibat dalam kecelakaan itu.
"Sejak kapan Dinda menjadi bijak seperti ini?"tanya Darren.
"Kanda sedang mengejek, Dinda?"
"Tidaklah Sayang. Malahan, Kanda merasa gemas padamu." Darren mengacak-ngacak rambut Sonya. "Kanda bangga padamu." Darren melirik Sonya dan tersenyum. Sonya tak marah dengan perlakuan Darren padanya.
"Aku berharap kak Arya juga dapat menemukan kebahagiaannya,"ucap Sonya. Matanya berkaca-kaca dan air bening itu pun telah jatuh dan mengalir begitu saja.
Sonya mengingat bahwa selama ini Arya sudah cukup menderita. Dari Sonya kecil hingga menjadi seperti sekarang, Arya dan nenek mereka sajalah yang mengurusnya.
Bahkan Arya menjaganya seperti seorang ayah menjaga putrinya, terkadang Arya juga berperan sebagai ibu untuknya. Sonya benar-benar tidak melupakan akan hal itu, baginya kakaknya itu adalah orang yang paling hebat.
Sonya juga tahu tentang pengkhianatan mantan pacar kakaknya, dan dari awal dia sudah dapat membaca bahwa perempuan itu tidak baik untuk Arya, sekarang Sonya berharap bahwa Arya juga dapat bahagia dengan orang yang Arya cintai.
Darren yang melihat Sonya sedang tersedu-sedu, seketika menjadi panik, dia takut kalau perkataannya membuat Sonya tersinggung.
"Maafkan Kanda, Dinda." Darren hanya bisa melontarkan kata maafnya dengan tulus.
"Ini bukan karena Kanda, kok,"ucap Sonya, ia menghapus jejak air mata pada pipinya.
"Lalu?"tanya Darren heran.
"Dinda hanya mengingat masa kecil Dinda."
"Kamu tidak perlu mengingat masa-masa yang membuatmu sedih. Jangan buat Kanda khawatir lagi!" Pinta Darren sendu.
"Iya Kanda. Aku hanya teringat pada kak Arya,"ucap Sonya jujur.
"Dinda tenang saja. Jika Arya dan Ayu berjodoh, mereka pasti akan di persatukan, entah hari ini atau esok hari." Darren mencoba menghibur Sonya.
"Iya, Kanda. Dinda juga berharap seperti itu."
"Kalau begitu jangan sedih lagi, ya!" Pinta Darren lalu mengelus puncak kepala Sonya.
"Iya, Kanda." Patuh Sonya.
"Karena air mata Dinda terlalu mahal untuk Kanda lihat."
'Bisa-bisanya di saat seperti ini, kak Darren menggodaku. Terima kasih Tuhan, telah mempertemukanku pada dia yang benar-benar mencintaiku.'
Bersambung❣
Inshaa Allah besok, ya. aku update tentang kisah Ayu dan Arya. semoga kalian dapat bersabar dan menunggu.🤗
__ADS_1