Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 77


__ADS_3

Arya sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, itu semua atas perintah dari Azka. Azka berpesan padanya, jika pekerjaan di kantor sudah selesai maka dia harus menemani anak-anak di Apartemen.


Arya sudah berada di garasi, ia sedang memakirkan mobilnya di sana. Arya turun dari mobil dan bergegas melangkah menuju pintu Apartemen Azka, tanpa membunyikan bell karena dia mengetahui kata sandi pembuka pintu untuk masuk ke dalam.


Ayu yang sedang menemani anak-anak, izin pamit ke dapur mengambil cemilan berupa biskuit yang dibeli oleh dirinya dan juga Arya tempo hari. Arya yang baru saja masuk ke dalam melihat Ayu berjalan pergi ke arah dapur, Arya diam-diam mengikutinya.


"Anak-anak ada di mana?"tanya Arya tiba-tiba.


Sontak berbalik badan. "Oh Tuhan! Bikin kaget saja. Apa Om, masih manusia? Masuk tanpa salam, berjalan tanpa suara!"pekik Ayu. Ayu terkejut dengan kedatangan Arya.


"Setidaknya jawab dulu pertanyaanku."


"Tahu ah, cari sendiri sana!"ucap Ayu ketus.


"Marah-marah mulu kerjaannya."


"Biarin, siapa suruh situ nyebelin." Ayu yang sudah memegang sebuah toples berisi biskuit langsung berjalan duluan, meninggalkan Arya.


"Kok, aku malah ditinggalin!"


Berhenti sejenak, berbalik menatap Arya. "Mau menemui anak-anak, kan? Ayo! Mereka semua lagi nonton TV di sana!"ucap Ayu kemudian.


Ayu meneruskan langkah kakinya menghampiri anak-anak yang hanya diam menikmati acara yang di tayangkan di TV besar milik Azka.


"Siapa yang mau makan biskuit?"tanya Ayu.


"Atu au, Ante,"ucap Rasti girang.


"Atu uga au,"sahut Bunga.


"Atu au ang anyak." Bara juga ikutan, dia ingin makan banyak biskuit.


"Ckck." Raka mendecak heran dengan tingkah adik-adiknya.


"Ee, Om anteng atang uga tetini?"tanya Bunga.


"Kalian apa kabar?"tanya Arya.


Arya menjadi sedikit tak enak hati pada para bocah kecil itu, walau dia berada di


Apartemen Azka kemarin, dia tidak sempat berbicara pada mereka karena terlalu sibuk.


"Aik Om,"ucap semuanya serempak.


"Om Anteng, matatih. Elah mennelamattan Bala." Bara berterima kasih kembali pada Arya.


"Sama-sama. Kalian jangan takut, ada ayah dan Om yang akan melindungi kalian nanti,"ucap Arya serius.


"Papa an Om ntu olang ebat, adi ami emua idak akut agi,"ucap Bara.


"Hm, Papa bita melindunni Mama an tita beldua, tedang Om bita melindunni Bala an Tak Laka."

__ADS_1


Rasti ikut menimpali, dia berfikir kalau ayahnya melindungi semuanya pasti akan kewalahan jadi dia berbagi agar Arya juga bisa melindungi Ayu dan saudara lelakinya.


Arya tidak habis fikir anak sekecil Rasti bisa berbicara seperti itu. Membuatnya dan Ayu saling pandang hingga membuat keduanya salah tingkah.


"Iya kalian tenang saja, Papa dan Om akan melindungi kita semua. Jadi, makan biskuitnya dulu sambil nonton, biar enak!"


Ayu menaruh setoples biskuit di atas meja dan duduk di samping Rasti. Dia berusaha mengalihkan perhatian para malaikat kecil.


"Ia Ante. Matatih!"ucap Bunga.


"Sama-sama sayang."


"Kalian sedang nonton apa?"tanya Arya sedikit berbasa-basi agar tidak terjadi keheningan. Arya berjalan ke sisi sofa dan duduk di samping Raka.


"Onton lim tu, Om!"tunjuk Bara pada flim yang sedang tayang di TV.


"Oh,"jawab Arya singkat.


Mereka bersama-sama menikmati menonton TV. Sesekali anak kecil itu tertawa melihat tingkah lucu parah tokoh yang membintangi flim yang mereka tonton.


'Apa menikah rasanya seperti ini? Duduk bersama istri dan juga anak, melakukan hal yang sederhana saja dapat membuat bahagia. Rasanya lebih hangat nan indah. tidak terlalu buruk!'fikir Arya.


Arya menoleh pada Ayu yang duduk di sisi sofa. Ayu tertawa karena merasa flim yang di tontonnya sangatlah lucu, pandangan mata Ayu menangkap Arya yang sedang memerhatikannya, seketika membuat dia tertawa canggung dan secepat kilat mengalihkan pandangannya ke layar TV lagi.


'Apa dia baru saja menatapku? Bikin deg-deg'kan saja. Aduh Om lain kali jangan menatapku seperti itu. Bisa gawat jika perasaanku tidak bisa dikendalikan. Apa Om mau tanggung jawab, hah?'batin Ayu.


"Flim apa yang sedang kalian tonton? Kayaknya seru deh! Sampai tidak tahu kedatangan kami!"ucap Amel tiba-tiba. Mereka sudah membunyikan bell namun orang yang berada di dalam belum keluar-keluar juga.


"Mama! Papa!"teriak keempat bocah itu. Mereka turun dari sofa dan berlari memeluk kaki Amel dan juga Azka.


Mereka di gendong oleh kedua orang tuanya. Kemudian ikut bergabung duduk di sofa ruang TV bersama Arya dan juga Ayu.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai di kerjakan?"tanya Azka pada Arya yang masih diam membatu di tempat.


"Kalau belum selesai, mana mungkin aku berada di sini,"ungkap Arya.


"Baguslah kalau begitu. Kau ikut aku ke atas, ada hal yang ingin aku katakan padamu!"titah Azka.


"Putri Papa, sama Mama dulu, ya? Papa masih ada keperluan sama Om Arya,"pinta Azka lembut.


"Aik Papa,"ucap Rasti dan Bunga serempak. Lalu turun dari pangkuan Azka.


"Anak pintar!"


"Kami pamit ke atas, ya?"pamit Azka.


"Iya."


"Baik, Kak."


Arya mengekori Azka dari belakang, mereka naik ke lantai paling atas menggunakan lift pribadi milik Azka. Belum ada seeorang pun yang naik ke lantai paling atas, itu sebuah tempat rahasia yang sangat indah.

__ADS_1


Suasana di atas sangat nyaman karena dapat melihat pemandangan kota dari sana, tempat itu juga bisa dikatakan sebagai tempat penghapus penat dan bersantai. Ada sebuah kolam renang yang cukup besar dan sebuah taman sedang, ditumbuhi jenis-jenis bunga yang sedang bermekaran.


Azka sengaja membuat tempat itu, setiap ada waktu senggang, capek pulang bekerja dan teringat akan kenangan masa kecil bersama ibunya bahkan saat dia susah tidur sekali pun Azka akan mensempatkan dirinya untuk naik ke lantai paling atas Apartemen sekedar merefresingkan diri.


Kini mereka sudah duduk di kursi. "Ada apa kau membawaku ke sini?"tanya Arya.


"Apa orang yang kita cari selama ini sudah ketemu?"


"Belum Az. Dia masih berada dalam zona aman. Makanya sampai saat ini kita belum menemukan dia. Tapi, kamu tidak usah khawatir pada orang itu. Kamu harus memfokuskan dirimu pada Amel dan juga anak-anakmu."


"Ya. Yang kau katakan memang benar. Dan aku ingin meminta bantuan padamu."


"Silahkan Az. Aku siap membantumu. Apa yang harus aku lakukan untukmu?"tanya Arya.


"Pernikahanku akan diadakan sebulan lagi."


"Kalian tidak bertunangan dulu?"tanya Arya.


"Tidak! Kami sudah lama memiliki anak bersama, jadi aku ingin secepatnya menikah dengannya,"terang Azka serius.


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Sebulan adalah waktu yang sangat lama buatku. Jika dapat mempercepat hari pernikahanku ini, aku ingin besok juga boleh segera dilaksanakan, namun aku juga harus bisa menahan diri."


"Kamu benar-benar bucin Az."


"Dan kamu juga pasti akan merasakan hal yang sama."


'Aku tidak percaya kalau aku akan sebucin ini, sama sepertimu,'batin Arya.


"Baiklah. Terus apa tugasku?"


"Seperti biasa, tugasmu menjaga keamaan agar acaranya berlangsung tanpa ada hambatan apapun."


"Lalu dekorasinya bagaimana?"


"Kamu tenang saja. Persiapan itu, biar pria tua yang akan mengurus semuanya untukku."


"Baiklah, aku mengerti. Kamu juga harus mengikuti peraturan yang berlaku Az,"ucap Arya.


"Peraturan apa?"tanya Azka.


"Pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh hidup dalam seatap. Untuk itu demi kebaikanmu dan juga Amel, aku akan membawa Amel ke rumahku. Sedang kau dan aku, untuk sementara waktu akan tinggal di sini dulu,"jelas Arya.


"Mana bisa begitu? Aku juga tidak akan melakukan apapun padanya." Azka mencoba mencari alasan. Dia tidak mau berpisah dengan Amel karena takut kehilangannya.


"Sayangnya aku tidak mempercai apa yang kau katakan, mengingat kau dan Amel di balkon tempo hari,"ungkap Arya.


"Baiklah, terserah kau saja. Tapi, ada waktu di mana aku akan menemuinya, kami akan fitting baju pengatin dan juga membeli cincin pernikahan bersama."


"Oke, aku sepakat."

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2