
Sorry kali ini ngetiknya agak tergesa-gesa😅. Semoga kalian dapat memahami😉🙏
...................❤...................
Di ruang TV.
"Bagaimana di sana, Kak? Bagaimana rasanya ketemu sama calon ayah dan ibu mertua?"tanya Ayu kepo.
"Sempat gerogi dan gemetar, namun tak sejahat yang dibayangkan. Ayahnya baik tapi ibu tirinya alias ibunya Riski, agak tidak senang padaku,"terang Amel. Amel sempat melihat wajah tak senang yang diberikan Laksmi padanya.
"Tidak apa-apa, yang penting Kak Amel didukung sama calon Ayah mertua. Terus kapan kak Azka melamar kak Amel?"tanya Ayu. Ayu sudah tak sabar ingin melihat kakak angkatnya itu bahagia, karena dia tahu perjuangan Amel selama ini sangatlah tak mudah.
"Kakak rasa ... langsung nikah deh!"ujar Amel.
"What? Secepat itu? Tidak tunangan dulu?"tanya Ayu. Padahal dia sangat senang jika Amel dan Azka langsung nikah saja.
"Yah, mana Kakak tahu. Intinya apapun keputusan Azka, Kak Amel tetap harus mengikutinya. Ini juga demi kebaikan putra dan putri Kakak. Iya, kan?"tanya Amel.
"Aku juga setuju Kak. Lebih cepat lebih baik!"ucap Ayu antusias, tak sabar.
"Eh, iya Kak. Apa Sonya sudah tahu, ya?"
"Mungkin belum, nanti juga dia tahu dari pak Arya, abangnya."
"Iya, benar juga."
"Kalian juga harus bersiap-siap. Sebulan lagi acara pernikahan Kakak akan dilangsungkan,"ungkap Amel.
"Aku berani menjamin, bahwa aku dan Sonya selalu siap siaga Kak, terutama menjaga anak-anak saat malam pertama Kakak tiba. Hahaha,"goda Ayu, ia tertawa hingga tawanya berubah menjadi hik hik hik.
'Anak ini tidak ada habis-habisnya menggodaku,"batin Amel.
"Jangan fikirkan hal itu dulu, Yu. Bagaimana kalau kamu memikirkan caranya mendapat jodoh, agar tidak masak pohon." Amel balik menyemprot Ayu dengan perkataannya.
"Ka'kaaak!" Ayu sedikit kesal dengan apa yang baru saja Amel ucapkan.
"Hahaha. Kena 'kan kamu!" Kini giliran Amel yang tertawa.
"Macak ohon tu pa, Mama?"tanya Bunga yang mendengar pembicaraan Amel dan juga Ayu. Sedang yang lainnya fokus menonton TV.
"Bukan apa-apa sayang!"jelas Amel, ia mengelus puncak kepala Bunga dengan lembut.
Setelah perbincangannya bersama Azka telah usai, Arya turun ke lantai bawah untuk pamit pada Amel dan juga Ayu yang masih berada di ruang TV.
__ADS_1
Dia mengendarai mobilnya membela jalan berkotaan yang begitu padat akan kendaraan. Debu-debu di jalanan berterangan kesana-kemari. Arya juga kali ini terjebak macet yang lumayan panjang. Hingga membuatnya tiba di rumah sudah agak terlambat dari biasanya.
"Kakak baru pulang?"tanya Sonya.
Sonya baru saja ingin mengambil air minum namun pandangan matanya tertuju pada Arya yang baru masuk rumah dasinya sudah di longgarkan karena kepanasan.
"Sekalian ambilkan minum buat Kakak juga,"pinta Arya, ia berjalan menuju sofa dan duduk sambil menyenderkan badan ke kepala sofa.
"Iya, tunggu bentar!"seru Sonya.
Sonya mengambil botol air di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam dua gelas. Lalu berjalan menghampiri kakaknya yang sedang duduk di sofa.
"Nih Kak, airnya!" Menyodorkan segelas air pada Arya.
"Apa ada masalah?"sambung Sonya lagi.
Gluk ... gluk ... gluk ...
Arya meneguk air dingin itu dengan sekali tegukkan. Tenggorokan yang awalnya kering kini sudah basah kembali dan sedikit terasa lebih segar dari pada sebelumnya.
"Tidak ada, hanya saja Kakak terjebak macet di jalan,"terang Arya. Kali ini dia begitu ceroboh.
"Kok bisa? Biasanya juga kakak nggak pernah terjebak macet tuh,"ucap Sonya heran.
'Ya bisalah, orang fikirannya terbayang mulu pada kakak lucumu itu,'batin Arya. Dia masih terbayang wajah Ayu yang sedang tertawa.
"Kakak kurang konsentrasi saja,"ungkap Arya tidak memberitahu semua kebenarannya.
"Sedang memikirkan apa, hayoo? kak Ayu, ya?"tanya Sonya dengan senyuman jahilnya.
"Enak saja! Apa kamu mau dengar kabar baik?" Arya buru-buru mengalihkan perhatian, agar Sonya tidak membahas Ayu lagi.
"Kabar baik?"tanya Sonya.
"Ya. Mau tidak?"tanya Arya.
"Mau dong, Kak. Emang kabar baiknya apa?"tanya Sonya. Dia begitu penasaran dengan kabar baik yang akan di sampaikan oleh kakaknya itu.
"Sebulan lagi Azka dan Amel akan menikah!"terang Arya.
"Beneran, Kak?"tanya Sonya seakan tak percaya.
"Hmm." Arya hanya berdehem saja.
__ADS_1
"Ah senangnya, si para bocah kecil bakalan punya orang tua yang lengkap." Sonya benar-benar senang dan sangat bahagia.
"Dan tentunya Amel akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu, sampai acara pernikahannya tiba,"terang Arya.
"Waahh ... itu tandanya aku bakalan bertemu para bocah kecil itu lagi. Aku senang sekali kak. Assyiikk rumah kita pasti ramai." Sonya begitu antusias, matanya berbinar-binar.
"Itu semua dilakukan agar tidak ada hal-hal yang aneh terjadi lagi,"ucap Arya mengingat kembali kejadian di balkon waktu itu. Namun, dia tidak tahu kalau Sonya juga melihat kejadian itu.
'Sonya pasti tidak tahu apa yang aku maksudkan,'batin Arya.
"Maksud Kakak, seperti hal yang terjadi di balkon?"tanya Sonya menebak.
"Kamu melihatnya juga?"kaget Arya.
Dia tidak habis fikir adiknya yang polos juga melihat adegan itu. Arya tidak tahu sejak Sonya masuk ke dalam kehidupan Amel dan Ayu, Sonya sering menonton drama bareng Ayu di laptop hingga membuatnya kecanduan.
Banyak adegan romantis yang sudah pernah Sonya tonton dalam flim drama. Dan ... pada malam itu, saat dia tak sengaja melihat Amel dan Azka di balkon sedang memadu kasih, ia ingin menonton adegan itu sampai tuntas, karena menurutnya lebih menarik jika melihat adegan yang nyata. Tapi, sungguh di sayang'kan, Ayu menariknya masuk ke dalam, jadi gagal-lah sudah rencananya itu.
"Tidak sengaja Kak. Hampir saja aku menontonnya terus. Kali ini Kakak harus berterima kasih pada kak Ayu, dia malah yang menarikku masuk ke dalam. Jadi gagal deh menonton adegan itu sampai akhir,"terang Sonya jujur.
Sonya sengaja mengungkapkan nama Ayu di depan kakaknya, agar kakaknya itu dapat melihat kalau Ayu adalah wanita baik-baik. Tapi, tidak dengan menonton flim drama, Ayu memang pakarnya.
"Apa?! Astaga ... ternyata, menyuruhmu pulang ke rumah lebih awal itu lebih baik." Arya tidak habis fikir, adiknya yang terbilang polos kini sudah mulai berani.
"Jadi Kakak sengaja?"tanya Sonya yang sudah curiga dari awal.
"Ya."
"Tapi, tidak apa-apa yang penting mereka semua akan menginap di rumah kita. Jadi, kapan kak Amel ke sini, Kak?"ucap Sonya, ia tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan Arya lagi.
"Paling cepat hari ini, paling lambat, mungkin esok hari,"jelas Arya.
'Semua tergantung Azka. Jika dia sadar diri, maka dia akan secepatnya membawa Amel ke sini dan jika dia kelewat bucin, maka tunggulah beberapa hari kemudian, barulah ia mengantar Amel ke sini,'batin Arya yang sudah menebak jalan fikiran Azka.
"Masalah waktu tidaklah penting. Bagiku dapat bertemu kembali, bermain, menonton dan makan bersama sangatlah bahagia." Sonya sudah tak sabar lagi bertemu dengan mereka.
"Ya sudah, Kakak hanya menyampaikan itu saja. Kakak ke kamar dulu, ya?"pamit Arya. Dia sudah sangat berkeringat ingin membersihkan diri.
"Iya Kak. Terima kasih atas kabar baiknya, nanti Sonya masakin makanan enak buat Kakak tercinta,"ucap Sonya tersenyum manis.
"Terserah kamu saja,"ucap Arya. Ia berdiri dan berjalan menjauhi Sonya menuju kamar tidurnya.
Bersambung❣
__ADS_1