
Maaf kalau saya membuat kalian lama menunggu.🙏
...****************❤****************...
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Azka yang hanya melilit handuk di bagian tubuh bawahnya saja.
"Apa yang sedang kamu cari?" tanya Azka tiba-tiba.
"Ba--Baju!" Amel menoleh pada Azka.
"Aaaaa!" teriak Amel.
"Kamu tidak capek apa? Berteriak terus seperti itu? Tidak perlu malu semua yang kamu lihat sudah pernah kamu rasakan." Azka semakin menggoda Amel.
Rasakan? Kapan? Apa tiga tahun lalu, atau ... atau s-semalam? batin Amel.
Uuh, lucunya. batin Azka.
Azka melihat Amel yang sedang menutup mata. "Kamu mandi dulu sana! Nanti baju kamu biar saya saja yang mengurusnya."
Dengan malu Amel bergegas pergi ke kamar mandi menggunakan selimut. Namun dia ditahan oleh Azka.
"Jangan membawa selimut ke dalam kamar mandi. Nanti selimutnya basah!"
"Ba--Bapak berbalik saja ke depan. Saya ingin membuka selimutnya," pinta Amel merasa malu.
"Baiklah!" Azka melakukan apa yang Amel ucapkan dengan patuh. Amel perlahan membuka selimut yang berada di tubuhnya secara perlahan.
Amel tidak sadar di depan Azka ada cermin besar sehingga pantulan dirinya sudah dilihat oleh Azka. Azka hampir saja tertawa. Setelah itu barulah Amel masuk ke dalam kamar mandi.
Amel yang berada di kamar mandi melihat pantulan dirinya di cermin. Ada bekas kemerahan di bagian leher dan juga bagian gunung kembarnya.
Azka yang berada di luar pun mulai menghitung mundur. "3,2,1."
"Aaaaa!!" Amel berteriak dengan kencang di dalam kamar mandi membuat Azka terseyum dan bahkan tertawa.
"Hahaha. Dia sangatlah lucu!" Azka sudah tidak dapat menahan tawanya lagi.
Amel yang berada di kamar mandi sangat kesal dengan tingkah Azka. Sementara Amel berada di kamar mandi, Azka secepatnya menelepon Arya.
Tut ... tut ... tut ...
"Hallo, Arya."
"Ada apa kau meneleponku? Ini 'kan bukan jam kerja."
"Kamu perintahkah seseorang membeli dua set pakaian untukku dan Amel, beserta pakaian dalamnya juga. Nanti kukirim pesan ukuran Amel untukmu."
"Baiklah! Apa masih ada lagi?"
"Hari ini kamu harus selidiki tentang Amel. Lebih cepat itu lebih baik."
"Bukankah kamu tidak mau mencari tahu tentang privasi Amel? Kenapa mendadak berubah fikiran? Apa kamu sudah tersambar petir?"
"Hentikan omong kosongmu itu! Semalam saat Amel mabuk dia mengatakan jangan ambil anaknya. Jadi, kamu harus segera menyelidiki anak yang dimaksud oleh Amel. Mungkin anak itu adalah anakku juga."
"Hah? Baiklah. Aku akan menyelidikinya segera."
"Oke. Cepatlah!"
Azka memutuskan sambungan teleponnya lalu berjalan dan duduk di sofa. Azka mengirim pesan pada Arya dan dengan santai menunggu Amel keluar dari dalam kamar mandi.
Sebelum Arya pergi menyelidiki tentang Amel, Arya menyuruh seseorang mengurus baju sesuai permintaan Azka. Arya segera pergi menuju mobilnya. Dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Baju ganti? Anak?" lirih Arya.
Azka memang hebat! Jika memang benar dia mempunyai anak bersama Amel maka itu jauh lebih baik. Apartemen Azka yang sunyi bagaikan tidak berpenghuni malah jadi ramai karena Amel dan anaknya ada di sana, batin Arya.
Arya memilih menyelidikinya sendiri, mobil yang di kendarainya terus melaju membelah jalan perkotaan. Gedung demi gedung bertingkat sudah ia lewati. Jalanan di pagi hari begitu padat, banyak kendaraan yang berlalu lalang, untung saja belum terjadi kemacetan.
"Jalan ini 'kan jalan tempat di mana adikku bekerja!"
Arya mengingat kembali pertama kali dia menurunkan adiknya di depan gang. Arya menepi dan memakirkan mobilnya di tempat yang di larang parkir. Arya bergegas turun dari mobil dan menelepon Sonya adiknya. Barangkali Sonya mengetahui tentang daerah-daerah disekitar sini.
Tut ... tut ... tut ...
"Hallo Kak. Ada apa kamu meneleponku?"
"Aku di depan gang. Kamu boleh keluar tidak?"
"Tidak bisa Kak. Aku sendirian sama anak-anak. Kakak jalan saja ke sini."
"Kakak lagi cari alamat. Tidak ada waktu untuk menemuimu."
"Lah terus kenapa menyuruhku keluar?"
"Alamatnya ada di dekat tempat kerjamu. Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu tapi kamu sibuk. Kamu jagain mereka saja. Oke kututup teleponnya dulu."
"Maaf ya Kak. Orang rumah lagi tidak ada, bahaya meninggalkan anak-anak sendiri. Oke Kak, aku tu--"
Tut tut tut
"Kebiasaan deh. Belum juga selesai ngomong, sudah di putuskan saja. Dasar kakak!" ucap Sonya dan melanjutkan Aktivitasnya bersama anak-anak.
Arya mengingat betul dengan dokumen Amel yang mengatakan bahwa alamat Amel berada di sekitar sini. Arya lalu bergegas memasuki gang dengan berjalan kaki.
Gang di pagi hari sangatlah ramai, banyak ibu-ibu rumah tangga sedang beraktifitas, ada yang menenteng tas belanjaan, bisa dikatakan ibu itu mau pergi ke pasar, ada juga yang menjemur pakaian dan lain-lain.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya salah satu pria barubaya yang istrinya sedang menatap Arya. Seketika ibu itu pun langsung masuk ke dalam rumah karena melihat pandangan mata suaminya sudah tidak bersahabat.
"Saya lagi mencari alamat seseorang."
"Nama orang itu siapa? Siapa tahu Bapak kenal."
"Nama wanita itu adalah Amel."
"Bapak kurang kenal, Nak."
"Ini fotonya, Pak." Arya memperlihatkan foto Amel yang berada di ponselnya.
"Wah, ini mah saya kenal. Rumahnya di ujung jalan sini. Kamu tinggal lurus saja."
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama."
Di tempat lain. Amel menghabiskan waktu hampir sejam di dalam kamar mandi. Amel yang sudah selesai mandi melilit tubuhnya dengan handuk panjang yang sudah tersedia di dalam kamar mandi, kemudian dia melangkah keluar secara perlahan.
Rupanya Azka sudah tidak berada di sana. Pakaian Amel juga sudah tersedia di atas kasur. Amel berjalan mengambil pakaiannya dan memakainya.
"Kemana dia pergi?" batin Amel.
"Kamu sedang mencariku?" tanya Azka tiba-tiba yang sudah berada di belakang Amel.
"B--Bapak bikin kaget saja!"
"Ayo kita makan di luar!"
__ADS_1
Bagaimana aku menolaknya, ya? Padahal aku sudah bertekad kalau aku harus pergi dari perusahaan ini. Kenapa dia malah mau mengikatku lagi?
"Kenapa melamun? Mau kejadian semalam terulang lagi?"
"Eh. T--Tidak mau. Ayo kita pergi saja Pak!" ucap Amel. Amel buru-buru berjalan menuju pintu. Azka segera menyusul Amel.
Azka memilih cafe dekat perusahaan, mereka memesan minuman dan makanan yang sama. Kecanggungan kini menyelimuti mereka, fikiran mereka terbang entah ke mana. Bahkan tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir masing-masing.
Arya yang sudah sampai di depan rumah yang di carinya langsung bergegas menghampiri rumah itu dan mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Iya, tunggu sebentar!"
Suara ini terasa familiar seperti ...
Cek-lek!
"Loh Kakak. Apa yang membuat Kakak ke sini? Sudah dapat alamat yang Kakak cari?" tanya Sonya.
"Sudah. Pemilik rumahnya ke mana?" Arya pura-pura tetap tenang.
"Oh. Lagi pergi Kak. Ayo masuk dulu!"
"Hemm."
Setelah duduk di sofa ruang tamu.
"Alamat rumah yang Kakak cari sudah ketemu di mana?"
"Di sini!"
"Hah? Siapa yang Kakak cari di rumah ini?"
"Apa di sini ada orang yang bernama Amel?"
"Oh, Kak Amel? Ada Kak. Ayo aku perkenalkan sama anak-anaknya kak Amel. Mereka lucu sekali kak."
Anak-anak? Kem ... kembar yang diceritakan Sonya waktu itu kan?
"Ayo!" Arya buru-buru berdiri.
Sonya menuntun Arya ke ruang TV. Terlihat anak-anak sedang menonton TV dengan serius tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Raka! Rasti! Bunga! Bara!. Coba lihat siapa yang datang, hayooo?"
"Wah. Omna danteng bannet!" puji Bunga.
"Iya. Danteng banget Unga." Rasti mengiyakan ucapan Bunga.
"Biata taja!" ucap Raka ketus.
"Iya, biata taja tuh!" timpal Bara membela Raka.
"Potnya Omna danteng," ucap Rasti penuh penekanan.
"Sudah jangan ribut! Biar Tante perkenalkan pada kalian semua. Dia adalah Kakaknya Ttante. Ayo beri salam sama Omnya!"
"Hayoo Om!"
Arya masih mematung dengan fikirannya sendiri, Arya seakan tidak percaya dengan pemandangan menakjubkan di depan matanya.
Bersambung❣
__ADS_1