Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 70


__ADS_3

Di kamar.


Mendengar cerita yang dibacakan oleh ibunya, membuat para bocah-bocah kecil itu sudah tertidur pulas.


Azka menyuruh Darren dan Arya untuk beristirahat lalu dia pun pergi ke kamarnya yang di tempati oleh dan buah hati mereka. Sesampainya di sana ia melihat Amel baru saja merapikan selimut untuk menutupi tubuh pada para malaikat kecil.


"Kamu belum tidur?"tanya Azka.


"K--Kenapa kamu masuk ke sini?"Amel gugup dan bahkan kaget melihat Azka yang sudah tiba-tiba berada di dalam kamar, pasalnya Azka berjalan tanpa suara.


"Memangnya kenapa? Ini 'kan juga kamarku,"ucap Azka masa bodoh.


"T--Tapi ...."


"Tidak pakai tapi-tapian. Kamu tenanglah aku tidak akan memakanmu di sini. Apalagi ada anak-anak,"terang Azka. Azka tidak ingin memperlihatkan kemesraan mereka pada para malaikat kecil.


"Syukurlah. Lalu bagaimana dengan pak Arya dan pak Dokter?"tanya Amel. Dia ingin mengetahui apakah mereka sudah pulang atau belum karena informasi ini baik untuk Ayu dan juga Sonya.


"Kenapa kamu menanyakan mereka padaku? Apa aku tidak cukup untukmu?" Bukan menjawab Azka malah bertanya balik dengan nada cemburu.


"Bukan seperti yang kamu bayangkan,"terang Amel.


"Lalu seperti apa?" Terpampan kekesalan di mata Azka.


Sudah kuduga saat aku menanyakan pertanyaan ini padanya di ruang TV ada nada kekesalan dalam ucapannya itu. Kenapa kamu menjadi seperti ini? Posesif namun sangat manis. Batin Amel.


Amel mendekati Azka dan mengecup pipinya.


Cup!


"Beneran, tidak seperti yang kamu fikirkan." Amel tersenyum lembut.


"L--Lalu. Ya sudah lupakan sajalah." Azka sangat senang, ini kali pertama Amel berinisiatif menciumnya.


Ternyata cukup dengan sekali kecupan saja sudah bisa meredahkan kekesalannya padaku. Batin Amel.


"Oke,"ucap Amel mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu tidur duluan saja!"pinta Azka.


"Lalu, kamu?"tanya Amel heran.


"Jangan fikirkan aku! Kamu cukup istirahat yang baik agar besok tubuhmu segar kembali. Kamu juga pasti lelah dengan kejadian hari ini, tidurlah!"pinta Azka.


"Baiklah."


"Aku akan melihatmu menutup mata sampai kau tertidur."


Ada apa dengannya, sih? Apa dia susah tidur? Batin Amel.


Amel tidak lagi membantah, dia kemudian naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping anak-anaknya. Dia belum memejamkan mata karena matanya masih terfokuskan pada wajah Azka.


"Aku tahu aku sangat tampan sampai membuatmu terhipnotis."

__ADS_1


Jiwa narsisnya kembali lagi. Batin Amel.


"Ya, kau sangat tampan hingga membuatku tidak bisa berpaling darimu." Amel segera menutup wajahnya dengan selimut karena malu.


Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Malunya! Otakku kadang tidak bisa berfikir dengan jernih saat melihatnya. Aku tahu ada kesedihan yang tergambar di wajahnya, aku hanya ingin sedikit menenangkannya saja. Batin Amel.


Azka tersenyum, dia berjalan mendekati Amel lalu perlahan membuka selimut yang menutupi wajah Amel.


"Kau tidak perlu merasa malu,"ucap Azka mengusap kepala Amel dengan lembut. Tangan hangatnya membuat Amel semakin menikmati sentuhan yang Azka berikan untuknya.


"Sekarang tidurlah!"pinta Azka lembut.


Amel hanya mengangguk saja dan segera memejamkan mata, sedang Azka belum bergeming dari tempatnya, dia masih memerhatikan wajah Amel yang dihiasi dengan pipi tembem itu.


Maafkan aku, aku belum bisa menceritakan masalahku padamu, juga ... tidak mau melibatkanmu dalam masalahku ini. Tapi aku janji, akanku ceritakan padamu nanti. Tolong bersabarlah dan tunggulah sedikit lagi. Batin Azka.


Azka berjalan mematikan lampu kamar dan menyalahkan lampu tidur di atas nakas.


30 menit telah berlalu, namun Amel tak kunjung tidur juga. Dia hanya berpura-pura memejamkan matanya.


Amel menyipitkan matanya agar tidak ketahuan oleh Azka, matanya berkeliling menatap sekitar, namun Azka tidak berada di sisi ranjang.


Lalu Amel perlahan-lahan membuka matanya lebar-lebar, mengambil posisi duduk di atas kasur dan melihat ke sekeliling ruangan. Pria yang dicari-cari nyatanya tidak berada di sana.


"Dia pergi kemana?"lirih Amel pelan.


Perlahan Amel turun dari ranjang, berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.


"Apa dia di kamar mandi?" Amel mendekati kamar mandi, namun tidak terdengar gemercik air di dalam.


A--Apa itu pencuri? A--Atau ha--hantu? Batin Amel.


Amel dengan susah payah menelan salivanya, dia segera mengambil vas bunga dan berjalan mengendap-ngendap mendekati arah balkon.


Udara yang masuk melalui fentilasi jendela di tambah AC yang lumayan dingin membuat bulu kuduk Amel berdiri.


Dilihatnya lebih dekat sesosok makhluk itu membelakangginya di atas cahaya bulan yang remang-remang. Bahkan ada asap putih yang memencar di mana-mana membuat suasana di malam hari semakin mencekam memekik dada. Seram? Sudah tentu menurut Amel yang melihat pemandangan itu.


Amel mendekat semakin mendekat mendekati sosok bertubuh tinggi itu. Amel segera mengambil posisi untuk melayangkan vas bunga yang dipegangnya pada makhluk itu.


Baru saja tangan Amel di ayunkan ke sosok itu, namun tangannya terhenti di kalah sosok makhluk itu membuka suara.


"Kenapa belum tidur?"tanya Azka yang masih membelakanggi Amel.


"Astaga! Hampir saja kepalamu pecah! Lagian kenapa malam-malam berada di balkon? Udaranya di sini sangat dingin, nanti kamu masuk angin."


Berbalik badan menatap Amel. "Kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Kamu merokok?" Amel tidak menangapi ucapan Azka. Matanya tertuju pada rokok yang masih menyala di sela-sela jari Azka.


"Ya, seperti yang kamu lihat sekarang,"ucap Amel.


"Rokok tidak baik untuk kesehatanmu. Kenapa kamu melakukannya?"tanya Amel.

__ADS_1


"Maaf." Azka mematikan rokoknya yang masih tersisa sepenggal, belum habis di hisapnya.


"Apa yang sebenarnya kau tutupi dariku?"tanya Amel membuka unek-unek di hatinya.


"Please! Jangan tanya aku mengenai hal itu!" Azka sedikit memohon.


Dia masih tetap menutupinya dariku. Batin Amel sedih merasa kecewa.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk memberitahukannya padaku,"ucap Amel, berbalik badan dan ingin meninggalkan Azka sendiri.


Azka meraih tangan Amel, lalu menariknya, hingga Amel tersandar ke bidang kekar miliknya.


Azka memeluk Amel. "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku membutuhkanmu saat ini! Kuharap ... kuharap kau mengerti,"lirih Azka lembut.


Hati Amel melunak, dia berbalik badan dan membalas pelukkan Azka. Dia menepuk punggung lelaki yang berada dalam pelukkannya. Amel menyalurkan sedikit kekuatan pada Azka.


Apapun yang kau sembunyikan dariku, aku 'kan berusaha untuk tidak memaksamu agar berterus terang padaku. Namun, entah mengapa aku kecewa. Aku merasa bahwa kau tak menggangapku ada. Batin Amel.


Azka yang licik dalam bidang pekerjaan, keras seperti batu, hingga kekejamannya membuat semua orang takut dan tunduk padanya, namun pada malam ini Amel dapat melihat dengan jelas sesosok Azka yang lemah, dia juga sesosok manusia biasa yang bisa merasakan sakit dan luka.


Amel mengelus punggung Azka. "Tenanglah! Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri."


Azka yang mendengar penuturan itu merasa senang dan bahagia.


Azka melonggarkan pelukkannya. Matanya yang sendu menatap manik mata Amel yang berada di depannya.


Cahaya bulan yang remang-remang menampakan wajah Amel begitu menggoda. Pemandagan malam ini sangatlah indah untuk bercinta namun itu bukanlah saatnya.


Tidak terasa bibir keduanya bertemu, entah siapa yang memulainya duluan mereka juga tak tahu.


Mereka hanya menikmati dan terus menikmati tautan itu, bahkan vas bunga yang di pegang oleh Amel sudah jatuh dan pecah.


Bulan malam menjadi saksi kedua sejoli itu saling menyalurkan kekuatan melalui benda kenyal yang sedang bertautan tanpa niat untuk dilepaskan.


Nafas keduanya memburu hebat, gejolak dalam darah mendidih, jantung keduanya merontah-rontah ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


Tangan Azka menjelajah kemana-mana, membuat Amel sesekali mengeluarkan suara yang merdu memekik telinga.


Amel segera tersadar dan menahan tangan Azka. Masih dalam bertautan, Amel menatap Azka dalam memberikan sebuah isyarat agar tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Azka tersadar dan melepas tautan pada bibir mereka lalu memberikan sentuhan terakhir pada leher mulus milik Amel.


"Itu sebagai tanda kalau kau adalah wanitaku. Kedepannya jangan pernah menanyakan pria lain lagi padaku."


Azka mengecup seluruh tempat di wajah Amel, kecupannya yang terakhir mendarat ke kening Amel, kecupan itu sedikit lebih lama. Lalu mereka kembali berpelukkan.


"Terima kasih!"ucap Azka tulus.


"Untuk apa?"tanya Amel.


"Semuanya!"


"Aku juga berterima kasih untuk semuanya,"lirih Amel pelan.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2