
Arya yang masih berada di dalam ruangan Darren segera pamit keluar, untuk menjemput Amel di depan rumah sakit. Dia sudah bertekad bahwa inilah saatnya dirinya menceritakan semua kejadian tentang Azka pada Amel.
'Yah, mungkin hari ini adalah hari yang tepat.'
Tidak memakan waktu lama Amel segera tiba di rumah sakit, Arya sudah menunggunya di depan. Amel yang melihat Arya segera menghampirinya.
"Arya! Di mana Azka?" tanya Amel khawatir.
"Sebelum kamu menemuinya. Aku ingin memberitahukan suatu hal yang penting padamu," ucap Arya.
"Apa itu?"tanya Amel.
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini. Mari ikut aku ke tempat yang lebih aman," pinta Arya.
"Hmm." Amel hanya menjawab dengan deheman disertai anggukkan kepala.
Arya membawa Amel ke ruangan Darren, yang menurutnya tempat paling aman untuk bicara.
"Apa yang ingin kamu sampaikan padaku? Apa ini menyangkut dengan kondisi Azka?" tanya Amel, setelah duduk di sofa.
"Iya. Sebelumnya aku minta maaf karena menutupi ini darimu," terang Arya. Arya melirik Darren yang masih duduk di kursi kebesarannya. Darren mengangguk memberi isyarat bahwa Arya harus berani.
"Aku dan Darren berharap Azka dapat memberitahumu tentang penyakitnya. Namun, dia tetap ngotot tidak mau memberitahukan masalah ini padamu, sebelum orang itu tertangkap," jelas Arya. Menghembuskan nafas kasarnya.
"Apa maksudmu, Arya? Tolong ceritakan dari awal, agar aku bisa mengerti dan juga bisa memahami," ucap Amel.
"Jadi begini, bla ... bla ... bla ...."
Arya menceritakan tentang kecelakaan yang merenggut nyawa ibu Azka dan juga kedua orang tuanya. Arya juga menceritakan seluk beluk kecelakaan itu dengan penyakit yang di derita oleh Azka sekarang. Ia juga menceritakan bahwa mereka sedang mencurigai seseorang, namun belum ada bukti kuat tuk menceploskan orang itu ke terali besi.
Amel mendengar penjelasan Arya dengan serius, dia bahkan beberapa kali menutup mulutnya tak percaya, bahkan Amel menitikkan air matanya dikala mendengar kejadian yang menyesakkan dada, seakan-akan dia juga dapat merasakan rasa sakit yang diderita oleh Azka.
'Kamu hebat sayang. Aku bangga padamu, kamu dapat melewati semua ini dengan baik. Kuharap kedepannya kita masih terus bersama, dan bahagia untuk selamanya.'
Amel yang awalnya marah pada Azka, kini ia tidak marah lagi saat mengetahui alasan Azka menutupi masalah ini darinya. Dia juga dapat memahami posisi Azka sekarang, yang ia rasakan hanyalah rasa sakit.
'Aku janji, akan selalu setia dan memberikan kebahagiaan padamu.'
"Ya. Aku akan berusaha membujuknya agar ia mau berobat," ucap Amel setelah mendengar cerita Arya.
"Terima kasih. Jangan lupa kamu harus tetap berhati-hati pada nenek sihir itu," terang Arya memperingati.
"Sama-sama. Aku mengerti."
__ADS_1
"Mungkin untuk saat ini. Kamu tidak boleh membawa atau memperlihatkan anak-anakmu pada wanita itu," ucap Arya.
Arya tidak mau mengambil resiko yang lebih besar saat Laksmi melihat Raka yang mirip dengan Azka, anak tirinya. Bisa saja targetnya berubah, bukan lagi pada Azka melainkan pada Raka.
"Ya. Aku akan berusaha menyembunyikan mereka semua dari wanita itu."
"Baiklah. Ayo! Aku akan membawamu ke ruangan Azka. Om Daniel juga akan datang ke sini. Mungkin beserta dengan keluarganya. Kamu harus hati-hati!"
"Iya."
Arya beranjak dari duduknya. "Oh iya. Jangan memberitahukan keadaan Azka yang sebenarnya pada mereka," pinta Arya pada Darren.
"Baiklah. Serahkan semuanya padaku."
Daniel beserta keluarganya sudah sampai di rumah sakit dan kini sudah berada di depan ruangan yang di tempati oleh Azka.
Ketika mereka masuk, ruangan Azka begitu sepi, tidak ada seorang pun yang menemaninya di sana. Semburat kekhawatiran terpampan jelas pada wajah Daniel. Sedang Laksmi menatapnya dengan penuh rasa syukur.
'Hahaha, rasain kamu. Lihat wajahmu yang tak berdaya itu.'
Kirana juga merasa iba pada kondisi Azka saat ini, Riski pun juga merasakan hal yang sama. Riski tak menyangka bahwa kakaknya yang sangat begitu kejam, mengalami kecelakaan hingga membuatnya terbaring di ranjang rumah sakit.
Mereka mungkin beda ibu namun sejauh ini Riski tetap menghormati dan menghargai Azka. Walau mereka tidak terlalu akrab.
"Cepatlah sadar, Nak. Pernikahanmu tinggal hitungan hari lagi, dekorasinya juga sudah hampir selesai, undangan juga sudah dibagikan. Kamu harus bisa bangkit, masa depanmu yang cerah masih menunggumu," ucap Daniel lagi. Sedang Laksmi menatap tak suka ke arah suaminya.
"Cih. Masa calon suami sakit, calon istrinya tidak menemaninya di sini!" Laksmi berusaha mencari cara agar Daniel membenci Amel.
"Mungkin calon istrinya lagi sibuk mengurus anaknya, Tan." timpal Kirana menyindir Amel.
"Ya, mungkin. Perempuan kotor sepertinya pasti sibuk mengurus anaknya," sahut Laksmi, melipat tangan di dadanya.
"Cukup!! Jika kalian berdua ingin tetap mengoceh, maka sebaiknya kalian keluar dari sini. Azka masih perlu istirahat dengan tenang," hardik Daniel. Mampu menutupi mulut Kirana.
"Jangan marah sayang ... aku tidak bermaksud seperti itu, kok." Bujuk Laksmi.
'Akhir-akhir ini, sikap Daniel tidak seperti biasanya.'
Cek-lek!
Darren langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. "Permisi! Om, Tante."
"Eh, ada Riski juga. Dan ini ...?" Sambung Darren lagi. Ia kini menatap Kirana.
__ADS_1
"Oh, aku Kirana," ucap Kirana. Darren hanya ber-O ria saja.
Amel juga masuk ke dalam ruangan Azka, sedang Arya mengekorinya dari belakang.
"Halo Ayah. Apa kabar?" sapa Amel pada lelaki parubaya yang berada di depannya.
"Baik, Nak. Ayah kira kamu tidak datang." Daniel senang jika Amel juga ada di sini. Daniel akan melihat bagaimana ekspresi wajah istrinya dan Kirana saat melihat Amel juga datang ke rumah sakit.
"Tidak Om. Malahan Amel yang datang kesini duluan, aku ada perlu padanya jadi sengaja memanggilnya. Dan pada akhirnya ia terlambat menemui Azka," terang Arya jujur. Ia tahu membaca situasi, jadi Arya sengaja menggunakan alasan itu untuk membela Amel.
Daniel tersenyum. "Iya, Om mengerti kok."
"H--Halo Amel," sapa Riski. Namun Amel tidak mengkhiraukannya.
'Sialan! Kau masih tetap belagu.'
"Ckck, calon adik ipar menyapamu saja, kau enggan menjawabnya. Sesombong itukah dirimu? Calon Nyonya Azka?" decak Kirana berusaha memprovokasi Amel.
"Maaf, bukan maksudku tidak membalas sapaan dari CALON ADIK IPARKU. Aku hanya berusaha menjaga kesetiaanku pada calon suamiku. Aku juga tidak mau membuatnya cemburu karena diriku merespon pria lain selain dirinya," ucap Amel penuh penekanan pada kata 'Calon Adik Ipar', tidak lupa ia memperlihatkan senyum termanisnya pada Kirana.
Daniel, Arya dan Darren tersenyum penuh arti, sedang Laksmi, Kirana dan Riski memperlihatkan mimik tak suka mereka, pada Amel.
'Jangan merasa menang dulu Amel. Kau bahkan tidak pantas walaupun kau harus menjadi pembantuku.' batin Kirana.
'Kali ini kamu menang. Tapi, lain kali tidak lagi. Karena aku akan membuat kalian menderita. Hahaha.' batin Laksmi.
"Maaf Om, saranku, sebaiknya kurangi orang dalam ruangan ini. Karena Azka butuh ketenangan," timpal Darren.
"Baiklah. Mama, kamu bawah Kirana dan Riski keluar dari sini dulu. Papa mau bicara sama Darren menyangkut kondisi Azka."
"Lalu, kenapa Amel dan Arya juga berada di dalam?"
"Mama 'kan tahu sendiri. Mereka adalah orang yang akrap dengan Azka. Jadi, untuk saat ini Azka sangat memerlukan mereka di sisinya," terang Daniel.
"Mama juga ingin mendengarnya, Pah."
"Bukankah Dokter Darren sudah mengatakan, bahwa pasien butuh ketenangan?"
"Huh! Baiklah. Ayo kita keluar dari sini!" Ketus Laksmi. Kedua orang dewasa itu hanya mengikutinya.
'Sialan!'
Bersambung❣
__ADS_1