Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 102


__ADS_3

Empat hari kemudian.


Kendaraan nampak berlalu lalang di kota mentropolitan. Pagi yang cerah ini bahkan sudah di penuhi oleh polusi dari kendaraan-kendaraan itu. Orang-orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Jam menunjukkan pukul 08:00 pagi, semuanya telah berkumpul di rumah Arya. Sebagian besar dari mereka sudah nampak rapi, bersih dan wangi. Baju casual yang mereka kenakkan menambah pesona tersendiri dari masing-masing orang yang sudah rapih itu.


Terkecuali hanya Ayu dan Arya saja yang masih memakai pakaian semalam, mereka berdua menatap Sonya dan Darren yang sudah rapih dengan baju senada.


Arya juga sempat melihat Darren yang sudah bersiap di Apartemen Azka namun ia tak ambil pusing. Setelah melihat Sonya barulah Arya menyadari, baju yang mereka kenakkan adalah baju pasangan.


Amel sudah memberitahukan pada Ayu bahwa dia tidak ikut sarapan di rumah. Namun kenapa juga Sonya tidak ikut sarapan? Itu yang membuat Ayu binggung pasalnya dia tidak tahu apa-apa mengenai Sonya yang sudah rapih juga.


"Sonya kau ikut mereka juga?"tanya Ayu pada Sonya yang sedang tersenyum padanya.


"Tidak Kak. Hari ini aku di ajak jalan-jalan sama kak Darren,"ungkap Sonya.


"Kakak boleh ikut, nggak?"tanya Ayu. Ia juga bosan kalau harus di rumah sendiri.


"Maaf, Kak. Bukannya tidak boleh, tapi ..." Sonya tak tahu harus memberikan alasan apa pada Ayu, agar Ayu tak curiga.


'Apa kak Ayu curiga, ya? Semoga saja, tidak.'


"Baiklah, Kakak juga dapat mengerti." Ayu memang kurang paham dengan ucapan Sonya, namun dia tahu Sonya juga berhak memiliki waktu berdua bersama kekasihnya.


'Untung saja kak Ayu tidak banyak bicara. Pokoknya aman.'


Legah, itulah yang di rasakan Sonya saat ini. "Kak Ayu tenang saja. Kak Arya juga di rumah kok. Jadi, Kakak tidak sendiri di sini!"


'Aku baru sadar kalau Om juga masih memakai baju semalam. Apa Om juga tidak tahu, kalau mereka semua mau pergi hari ini?'


Ayu melirik Arya menggunakan ekor matanya. Arya nampak santai walau harus ditinggal pergi.


'Om, sesantai itu? Jadi, tidak apa-apalah jika aku berada di rumah bersamanya. Dia juga nampak tak peduli.'


Arya walau pun berada di rumah, ia juga sangat sibuk mengurus beberapa urusan baik serius maupun tidak serius. Kadang kalah jika ada kendala di kantor, bawahannya akan langsung menghubungginya untuk meminta bantuan berupa solusi dan saran darinya. Bagi Arya baik di rumah maupun di kantor sama saja. Jadi, ada baiknya juga jika semuanya pergi keluar, dengan begitu dia juga bisa istirahat sebentar.


Arya nampak senang, ada Ayu juga yang tidak ikut mereka pergi. Setidaknya untuk hari ini Ayu tidak terlepas dari pandangannya di rumah.


"Hm, Iya,Iya. Kalian pergilah!" Arya segera menyuruh mereka pergi, dari pada menimbulkan kecurigaan yang lebih parah.


Perkataan Azka beberapa hari yang lalu membuatnya terus memikirkan tentang dirinya yang tidak fokus dan terus memikirkan Ayu. Bahkan dia juga mencari ke situs web untuk menemukan jawabannya, banyak info yang ia dapat dari sana dan semuanya mengarah pada jawaban yang sama.


"Kenapa kalian berdua tidak jadian? Supaya keluar bisa jalan berdua." Amel kini memberi saran yang menembus sampai ke hati keduanya.


Deg!


'Aku gugup gini, ya? Kak Amel ... kenapa harus ngomongin itu, jadi canggung 'kan sekarang.'


"Sebaiknya kalian cepat pergi!" Arya sengaja mengusir mereka, Arya tidak mau gerak-geriknya ketahuan.

__ADS_1


Dia sudah berusaha mencari sebab dan akibat hingga membuatnya lupa diri. Dan itu semua karena dia sedang jatuh cinta pada Ayu. Arya yakin itu, dan bahkan dia sangat bahagia. Arya belum berani menyatakan perasaannya kepada Ayu karena gengsi masih memenuhi isi fikirannya.


'Selamat berjuang, Kak. Semoga kalian berdua secepatnya bersatu.'


Sonya benar-benar tak sabar menerima kabar baik dari Arya dan juga Ayu. Harapannya semoga kali ini rencananya berhasil tuk menyatukan mereka berdua.


"Oke, kalian jaga rumah baik-baik, ya?"pinta Amel tersenyum. Sedang Azka terlihat santai sedari tadi.


"Iya."


"Om, Ante, tami amit uyu, ya?" Rasti pamit mewakili adik dan kakaknya.


"Iya. Hati-hati di jalan!" Ayu tersenyum.


Azka, Amel dan anak-anak sudah berjalan mendekati pintu keluar.


"Kakak, kami juga pamit dulu, ya."


'Dan semangat berjuang untuk hari ini.'


Sonya tersenyum penuh harap dalam hati.


"Iya. Kalian juga hati-hati!"


"Oke, Kak. Bye-bye. Ayo Kanda kita pergi!"


'Kanda? Sejak kapan Sonya memanggil Darren dengan sebutan Kanda? Mereka masih mesra saja. Lah aku masih jomblo sejak lahir.'


'Eh, jadi itu panggilan sayang mereka, ya? Sudahlah yang jomblo bisa apa? Oh iya bisa rebahan seharian. Wkwkwk.'


Ayu senang dengan keharmonisan hubungan Darren dan Sonya. Dia bahkan menertawakan dirinya yang masih sendiri sampai sekarang.


'Bro semangat' kata itu yang saat ini Darren isyaratkan pada Arya. Arya nampak binggung dengan isyarat yang Darren berikan padanya, sedang pelakunya menatap Arya dengan senyuman yang sulit diartikan.


'Apa yang dia katakan, sih? Pakai isyarat segala lagi. Tunggu, keknya aku melewatkan sesuatu. Eh, apa tadi. Ah, ya. Nama panggilan mereka ... Kanda? Dinda? Benar-benar dua sejoli yang saling mencintai.'


"Cepat pergi sana!" Usir Arya.


"Baiklah. Bye-bye, Ar."


Setelah Darren dan Sonya sudah menghilang di balik pintu. Arya dan Ayu menjadi semakin canggung. Arya yang lebih dulu mengabaikannya membuat Ayu tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi pada Arya. Sedang Arya merasa sedikit bersalah karena telah mengabaikan Ayu selama ini.


'Apa aku menyapanya duluan saja,ya? Meski dia mengabaikanku,'batin Ayu.


'Baiklah. Tenang Arya, tenang. Kau hanya perlu mengatakan sepatah kata saja,'batin Arya.


"Ah itu."


"Ah itu."

__ADS_1


Ucap mereka serempak.


"Kamu duluan."


"Om duluan."


Untuk sekian kalinya ucapan keduanya masih bersamaan.


"Kamu saja,"pinta Arya.


"Om saja. Silahkan Om!"


"Tidak, harus wanita yang berbicara duluan. Silahkan!" Tolak Arya.


"Tidak Om. Harusnya yang lebih dulu itu, orang yang lebih tua." Ayu tak mau kalah, ucapannya kali dapat membuat Arya tercenggang.


'Tidak perlu mengataiku juga kale.'


'Kenapa Om menatapku seperti itu? Apa kata-kataku tadi, menyinggungnya?'


"Baiklah."


Beberapa menit telah berlalu, namun Arya belum juga mengeluarkan suaranya, dia bahkan masih berenang dalam fikirannya.


"Apa yang ingin Om katakan padaku?"tanya Ayu berhasil mengeluarkan Arya dalam fikirannya.


"Itu, aku minta maaf." Arya mencoba memberanikan diri. Awalnya dia tak tahu harus di mulai dari mana, jadi hanya dapat mengeluarkan kata maaf saja.


"Untuk apa Om?"tanya Ayu heran sekaligus senang, karena Arya sudah mau berbicara padanya lagi.


"Ya, untuk beberapa hari ini,"jelas Arya singkat.


'Terima kasih, Om. Rasanya hatiku senang dan tenang mendengar suara Om yang menyapaku lagi. Walau terkadang aku kesal saat Om menjadikanku sebagai tukang sandiwara di saat Om butuh, tapi tak apa. Hehe.'


"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu, Om. Oh iya Om, apa Om lapar?"tanya Ayu.


"Tadi, Om belum sarapan, kan?" Tanya Ayu menebak.


"Ya,"jawab Arya singkat.


Arya mengingat kembali waktu masih di Apartemen. Azka dan Darren yang sudah bersiap malah tidak sarapan dulu kata mereka ingin sarapan di luar, jadi Arya juga mengikuti mereka dan buru-buru pergi ke rumahnya tempat Amel dan yang lainnya berada.


"Ayo Om, kita sarapan dulu."


"Eh."


"Ayolah!" Ajak Ayu.


Ayu menarik perelangan tangan Arya menuju meja makan. Arya tak kunjung melepaskan tangan Ayu yang masih melekat pada pergelangan tangannya. Bahagia? Tentu saja Arya sangat bahagia.

__ADS_1


Bersambung❣


Keadaanku saat ini tidak VIT, ya! Maaf jika kedepannya aku tidak update. tapi, aku usahain agar tetap update. terima kasih telah menjadi pembaca setiaku. lope-lope for kalian😘❤


__ADS_2