
Amel mengangguk dan berjalan perlahan menghampiri Azka di teras rumah, dilihatnya seseorang yang membelakanginya. Azka larut dalam lamunannya.
Rupanya selama ini dia tinggal di rumah sederhana ini.
"Pak!" lirih Amel. Azka kaget dan secepat kilat menoleh pada Amel.
Azka menatap Amel. "Tidakkah kamu menjelaskan semua ini pada saya?"
"Tentang apa, Pak?"
"Sebenarnya anakmu yang mana Bara atau Raka?" Azka yang tidak mengetahui bahwa anaknya kembar merasa binggung.
"Keduanya adalah anakku dan juga anakmu Pak. Apa Bapak tidak ingin menemui yang lain di dalam?" tanya Amel.
Yang lain? maksudnya Raka?
Hati Azka tergerak pengen melihat anaknya, namun dia juga merasa malu karena tidak ada di saat mereka tumbuh sebesar ini.
"Kenapa diam Pak? Apa Bapak tidak sudi memiliki anak da--"
"Sstt!" Azka menghentikan ucapan Amel dengan telunjuknya.
"Ayo! Bawah saya ke sana!"
Dengan hati yang berdebar-debar Azka mengekori Amel dari belakang. Mereka melewati Arya dan juga Sonya. Sebelum ke kamar Azka memerintah Arya mencaritahu keberadaan Bara putranya. Arya secepatnya pergi dari rumah Amel.
Azka dan Amel sudah berada di depan pintu kamar Amel. Amel masuk duluan sedangkan Azka masih berada di luar kamar. Azka belum siap bertemu anaknya.
"Mama. Pa tak Bala dah diemukan?" tanya Rasti yang mengira bahwa Bara sudah ditemukan.
Azka mendengar suara anak perempuan di dalam kamar milik Amel.
Masih ada anak perempuan lagi?
"Belum sayang. Sekarang Mama pengen kenalin kalian pada seseorang," ucap Amel mengelus kepala putrinya.
"Tiapa, Ma?"
Amel tersenyum. "Nanti kalian juga akan tahu sayang," ucap Amel.
"Pak Azka, ayo masuk Pak!" panggil Amel.
Dengan berani dan nampak gugup, Azka memasuki kamar Amel, dilihatnya ketiga bocah kecil sedang menatapnya. Azka kaget dan kemudian termenung.
"Om tu wadahna milip tak Laka,"ucap Rasti.
"Iya,milip tetali,"timpal Bunga.
__ADS_1
Raka melihat ayahnya dengan santai, dia sudah menyadari bahwa mereka semua akan secepatnya bertemu dengan sang ayah, namun Raka tidak menyangka dipertemuan ini adiknya kurang satu. Raka langsung menghambur peluk pada Azka. Raka memeluk kaki Azka dan menatap Azka yang masih diam membisu.
"Papa!" Panggilan pertama Raka membuat Azka tersadar dari lamunannya.
Azka berjongkok, meneliti intens setiap sudut wajah Raka yang ada di depannya.
Anak ini mirip sekali denganku sewaktu aku masih kecil.
"Maafkan Papa, Nak." Dengan penuh perasaan, Azka meminta maaf pada Raka dalam bekapannya.
Sementara Bunga dan Rasti hanya melihat mereka saja, mereka tampak bingung dengan kakaknya. Amel mendekati kedua putri cantiknya.
"Dia adalah Ayah kalian sayang. Ayo sana peluk Papa!"pinta Amel.
"Benelan Mah?"tanya Rasti memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya sayang,"ucap Amel.
Azka menatap kedua putrinya. "Sini sama Papa!"ucap Azka.
Mereka menghampiri Azka dan langsung masuk ke dalam pelukkan bersama Raka. Ketiga bocah itu menangis bahagia dalam pelukan sang ayah.
Amel juga ikut bahagia namun dia juga merasa sedih. Kenapa dipertemuan yang bahagia ini keluarganya tidak terkumpul semua. Amel merasa kurang karena Bara tidak ada di sini, dia terus memikirkan Bara.
"Kenapa kamu melamun. Ayo sini!"
Amel, aku janji akan membawa anak kita kembali dan kita akan mempunyai keluarga yang utuh. Kita berenam akan tinggal bersama.
Amel kini meneteskan air mata, air mata yang selama ini ia pendam. Dia tidak membayangkan hari ini akan terjadi. Kalau Bara tidak hilang pasti mereka sangat bahagia. Amel tumpahkan segala perasaannya dalam bekapan Azka, hangat itulah yang ia rasakan. Mengingatkan Amel pada keluarganya yang telah pergi mendahuluinya.
Ayah,Ibu. Kalian sekarang sudah bisa tenang, Amel sudah menemukan seseorang yang dapat membuat Amel bahagia, seseorang yang tidak sengaja Amel temui. Mungkin inilah takdir yang Tuhan gariskan untuk Amel. Pengkhianatan, perpisahan, luka, dan bencana membuat Amel sampai pada hari ini.
"Sudahlah jangan menangis lagi! Saya akan mencari dan menemukan anak kita nanti,"ucap Azka, berusaha menenagkan Amel.
Ibu, Azka sudah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan ini membuat Azka nyaman Bu. Azka sangat senang, Azka janji sama Ibu Azka akan membahagiakan mereka. Terima kasih sudah memberikan malaikat cantik seperti Amel untukku Bu, hingga dia memberiku berubah empat malaikat kecil lagi.
Azka melepaskan pelukkannya, dengan lembut Azka mengusap air mata yang mengalir di pipi Amel.
"Iya Mama danang nanis agi! Peltaya ama Papa," ucap Rasti.
"Iya sayang Mama tidak akan menangis lagi." Amel buru-buru menghapus air matanya.
"Saya butuh penjelasan sekarang. Tolong kamu jangan mengelak lagi!"ucap Azka.
Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat, aku tidak akan menundanya lagi.batin Amel.
"Kalian tunggu dulu di sini, ya? Jangan ke mana-mana!" Amel memperingati putra dan putrinya.
__ADS_1
"Aik Mama," ucap mereka serempak.
"Papa danang pelgi agi, ya?"pinta Bunga.
"Iya sayang. Papa janji!"tegas Azka.
Tenang sayang, ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi.
Azka mengekori Amel dari belakang. Sesampainya di ruang tamu ternyata sudah ada Ayu di sana. Sonya dan Ayu sedang mengobrol serius, obrolan mereka terhenti saat melihat Amel dan Azka.
"Kakak. Apa Bara baik-baik saja?"tanya Ayu.
"Kakak juga tidak tahu."
"Tenanglah selama ada saya di sini, tidak ada yang dapat menyakitinya,"ucap Azka.
Orang ini benar-benar mirip Raka.batin Ayu.
"Kalian berdua jagain yang lainnya dulu. Kakak mau bicara sama Bos Kakak."
Bos? Aku harus mengubah cara bicaranya padaku.batin Azka.
"Baiklah Kak. Kami permisi dulu,"ucap Ayu. Sonya tersenyum pada Azka dan Amel lalu mengikuti Ayu yang sudah berjalan duluan.
Amel dan Azka ke teras rumah untuk berbincang. Namun setelah sampai ke teras belum ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka. Mereka tengelam dalam fikiran masing-masing.
"Maafkan saya!" lirih Azka membuka pembicaraan.
"Harusnya saya yang meminta maaf, Pak."
"Tolong jangan panggil saya dengan sebutan Bapak lagi!"pinta Azka.
"Terus saya harus memanggil apa, Pak?"tanya Amel binggung.
"Sayang!"
"Hah? Jangan bercanda dong Pak!"
"Panggil Azka saja."
"Baiklah."
Mereka terdiam hingga beberapa menit telah berlalu.
"Tiga tahun lalu saya sudah mencari keberadaanmu di kota M, tapi sayangnya saya tidak menemukanmu di sana. Ada yang mengatakan kalau kamu sudah pindah entah ke mana. Waktu kamu melamar pekerjaan di perusahaan saya, saya sangat senang dapat bertemu kamu lagi dan saya tidak sabar untuk menemuimu waktu itu. Namun saya mengendalikan diri saya agar terlihat biasa-biasa saja,"ungkap Azka menceritakan tentang dirinya pada Amel.
Bersambung❣
__ADS_1