
Setelah kepergian Arya dan Darren, Azka bangkit dari duduknya dan menghampiri anak-anaknya di ruang TV yang tidak begitu jauh dari ruang tamu.
Azka disambut hangat oleh putra dan putrinya bahkan mereka semua ingin duduk dipangkuan Azka, dengan bahagia Azka menuruti permintaan anak-anaknya.
Tampang dingin dan kejam yang hanya bisa di perlihatkan pada orang lain sirna begitu saja di depan anak-anak mungilnya, dia hanya memperlihatkan sisi hangat dan lembut pada mereka.
Amel, Ayu dan Sonya yang sudah selesai mencuci piring langsung keluar menemui para pria. Namun, mereka melihat tidak ada siapa pun di ruang tamu.
Mereka hanya mendengar canda dan tawa di ruang sebelah, ruang TV. Mereka pun berjalan kesana untuk menghampiri anak-anak yang sedang tertawa bahagia.
"Pak Arya sama pak Dokter kemana?"tanya Amel mewakili Ayu dan Sonya untuk bicara.
Hati keduanya berdebar-debar padahal mereka sama sekali tidak berlari.
"Lagi ada urusan,"ketus Azka. Azka merasa kesal kenapa dia sudah ada di sana tapi Amel malah mencari pria lain di depannya.
"Oh."
Ayu dan Sonya saling lirik mereka membuat isyarat yang mengambarkan bahwa mereka tidak pantas berada di ruangan itu. Mereka yang tidak enak hati langsung pamit untuk ke kamar saja.
Di luar rumah.
Angin malam menusuk rongga kulit orang yang berada di luar. Di teras rumah kedua orang itu sedang duduk menatap lurus ke depan.
"Ada apa kau memanggilku kesini?"tanya Darren melihat Arya sekilas di sampingnya.
"Apa kau benar-benar mencintai adikku?"tanya Arya serius. Darren menjadi heran dengan arah pertanyaan Arya padanya.
Darren tersenyum."Jika aku main-main, kenapa aku harus bersusah payah mengejernya? Padahal banyak wanita cantik yang berada disekitarku,"ucap Darren mengingat bayang-bayang Sonya di matanya.
"Dia wanita hebat yang berhasil menarik perhatianku Ar. Aku menyukainya sudah sangat lama, becandaan yang kutunjukan padanya hanyalah siasat agar aku bisa dekat dengannya. Aku mengerti dan memahami perasaanmu sebagai seorang kakak. Kamu tidak mau adikmu berada di tangan orang yang salah, aku bangga padamu karena kau adalah seorang kakak yang bertanggung jawab,"ungkapnya lagi panjang lebar.
"Kehilangan ibu dan ayah sangatlah berat untuk aku dan juga Sonya yang masih kecil pada saat itu. Dan di hari itu juga aku yang harus menjadi ayah dan ibu untuk adikku. Sekarang aku serahkan Sonya padamu. Aku percaya kau dapat membahagiakannya. Ingat kau tidak boleh menyakitinya! Tentu kau sudah tahu apa yang aku rasakan selama ini, bukan?" Akhirnya Arya luluh juga, Arya sudah termakan dengan ucapan Ayu.
"A--Apa yang kamu katakan barusan?" Darren mencoba bertanya lagi, takut-takut dia salah mendengar apa yang Arya katakan barusan.
Arya menepuk bahu Darren pelan. "Jaga dia! Cintai dia sebagaimana aku menjaga dan mencintainya,"ucapnya kemudian lalu menarik tangannya kembali.
"Aku tidak bermimpi, kan?"tanya Darren yang masih tidak percaya.
"Aku merestui hubungan kalian. Tapi ..."
"Tapi apa?"tanya Darren.
"Jika Sonya tidak menyukaimu jangan memaksanya,"terang Arya serius.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih Arya. Aku sangat senang hingga membuat diriku ingin memeluk dan menciumimu sekarang,"ucap Darren. Hampir saja dia berteriak histeris saking senangnya.
"Sebelum tangan dan bibirmu menyentuh tubuhku, sudah di pastikan tangan dan gigimu tidak akan sempurna lagi,"ucap Arya penuh penekanan.
"Ampun bos, ampun. Jangan keluarkan jurusmu padaku!" Darren memohon maaf namun terkesan bercanda pada Arya. Arya hanya menanggapinya dengan tatapan datar.
"Oke. Di luar sangat dingin. Ayo kita masuk!"pinta Darren kemudian.
"Hmm."
Arya dan Darren kembali masuk ke dalam. Mereka menghampiri Azka yang sedang duduk di ruang tamu, karena Amel sudah pergi untuk menidurkan anak-anaknya di kamar.
"Kenapa kamu masih di sini? Kemana yang lain?"tanya Darren pada Azka.
"Sudah istrirahat,"jawab Azka singkat.
"Tunggu sebentar! Akan kubuatkan kopi untuk kalian,"ucap Darren berinisiatif.
"Oke."
Tidak lama Darren muncul membawa tiga gelas kopi menggunakan nampan. Lalu meletakan gelas di atas meja.
Azka mengambil secangkir kopi dan menghirupnya. "Tidak seenak kopi buatan Amel,"terang Azka.
"Ya, jelaslah. Kakak ipar orang yang kau cinta bagaimana bisa kau menyamaiku dengannya? Kalau tidak suka sama kopi buatanku, jangan di minum! Itu saja repot,"ucap Darren. Dengan kesal Darren menyeruput kopinya.
"Jangan di paksa!"
"Dari rona di wajahmu menggambarkan kebahagiaan. Apakah aku benar?"tanya Azka meneliti ekspresi wajah Darren.
"Matamu memang jelih, Az. Kau tahu, berkat Arya aku mendapatkan sebuah lotre yang sangat besar." Darren atusias menjelaskannya.
"Dan aku tidak ingin mengetahui kemenanganmu itu,"ucap Azka.
"Aku juga tidak ingin memberitahukannya padamu,"ujar Darren kesal.
"Ckck. Ar, apa orang suruhan kita sudah melaksanakan tugas?"tanya Azka.
"Mereka belum memberi kabar. Tapi, kau tenang saja pasti mereka sudah melaksanakan apa yang kau perintahkan. Mungkin besok sudah bisa melihat siarannya di TV."
"Aku sudah memutuskan kerja sama pada perusahaan yang didirikan oleh ayah Yuni,"sambungnya lagi.
"Bagus, bukan tanpa alasan kita memutuskan kerja sama dengan mereka. Sebenarnya perusahaan itu akan segera bangkrut tanpa campur tangan dari kita. Obsesi ayahnya sangat besar hingga berani mengadaikan perusahaannya pada Bank. Sudah jelas jika kita memutuskan kerja sama dengan mereka, otomatis dana yang sudah kita berikan pada perusahaan itu akan ditarik ulang sesuai kontrak yang ada." Azka kembali menyeruput kopinya dengan santai.
Azka memang seorang CEO yang licik. Dia tidak akan melakukan kerja sama tanpa mendapatkan keuntungan besar. Dengan kepandaiannya dalam mengelola bisnis membuat perusahaannya dalam setahun sudah berkembang dengan cepat.
__ADS_1
"Memang Azka yang terbaik,"ucap Darren mengacungkan ibu jarinya pada Azka.
"Apa kalian juga akan menginap disini?"tanya Azka, karena melihat mereka berdua belum pamit untuk pulang.
"Ya."
"Iya. Aku sudah izin sama Mommy dan Daddy akan menginap di Apartemenmu,"ucap Darren.
Sebelum Darren kembali ke Apartemen milik Azka dia sudah meminta izin pada ayah dan ibunya.
"Tumben menginap? Apa yang ingin kau lakukan di sana?"tanya ibu Darren saat itu.
"Ada deh,Mom. Mommy 'kan pengen cepat-cepat dapet calon mantu. Jadi, izinkanlah anakmu ini menginap di Apartemen milik Azka, ya?"pinta Darren.
"Baiklah terserah kau saja. Awas ya, jangan macam-macam dulu!" ucap ibu Darren memberi peringatan.
"Iya, Mom."
"Ayah juga setuju, kan?"tanya Darren pada ayahnya yang sedang membaca koran.
"Yah, cepatlah cari mantu agar ibumu tidak sendiri dan rewel lagi."
"Daddy tenang saja, aku masih dalam tahap berjuang."
"Semangat. Anak ayah harus bisa mendapatkan gadis itu."
"Ya. Oke Darren pamit, ya. Bye-bye Dad, Mom."
"Hati-hati di jalan!"
"Iya, Mommy."
Itulah percakapan terakhir Darren dengan orang tuanya sehingga membuat Darren bisa datang dan menginap ke tempat Azka.
"Kalian belum izin padaku. Kenapa sudah seenaknya seperti itu,"tanya Azka datar.
"Ayolah kawan. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku harus terus perjuangin cintaku dan tidak akan menyerah?" Kini Darren kembali menyerang Azka dengan kata-kata Azka sendiri.
"Lalu kamu?"tanya Azka pada Arya.
"Kamu juga mengatakan padaku bahwa aku harus melindungi gadis itu, bukan?" Arya juga melakukan hal yang sama pada Azka.
"Kalian berdua ini ...." Azka memijit pelipisnya. "Ya sudah, kalian boleh menginap di sini." Pada akhirnya Azka pun mengalah.
"Terima kasih Azka,"ucap Darren senang. Sementara Arya hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
Bersambung❣