Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 126


__ADS_3

Arya melajukan mobilnya menjauhi tempat wisata pantai itu. Mereka sekarang semakin mesra, walau hanya melakukan hal-hal yang sederhana.


Di sepanjang perjalanan menuju Butik, Arya mengengam tangan Ayu dengan mesra, sesekali ia mengecup tangan itu.


Bibir Arya yang menyentuh kulit tangannya membuat bulu kuduk Ayu meremang, geli itu yang Ayu rasakan di saat bibir Arya sukses menyentuh kulit tangannya.


Kejadian yang mereka lewati hari ini, dapat menggalihkan fikiran Ayu pada Arya yang tengah menyembunyikan sesuatu.


Kedua sejoli itu tampak tertawa bahagia di dalam mobil, Ayu dengan gesit menggoda Arya, Arya pun tak mau kalah, ia juga melancarkan aksinya untuk menggoda Ayu. Setelah Ayu menyerah, Arya pun menjadi senang setidaknya, kali ini ia menang melawan wanita yang ia cintai.


Tak terasa keduanya telah sampai di depan Butik langganan ibu Darren, Butik yang pernah mereka singgahi beberapa hari yang lalu. Namun kali ini dengan suasana yang berbeda.


Arya dengan semangat, membuka pintu mobil untuk sang kekasih, tidak lupa juga sedikit menggoda Ayu. Wajah Ayu bersemu merah di saat mendapatkan perlakuan manis dari Arya.


Keduanya masuk ke dalam Butik dengan bergandengan tangan mesra. Sesampainya di dalam, pramuniaga yang ada di sana mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat baju yang Arya minta.


Pramuniaga itu tampak keheranan melihat Arya yang berbeda sejak ia melihatnya terakhir kali. Wajah tampan Arya di tekuk dan memberikan perilaku yang menyebalkan itulah kesan pertamanya saat bertemu Arya tempo hari.


Melihat perubahan pada Arya membuat pramuniaga itu senang, ia juga melayani dengan senyuman tulus pada kedua orang itu. Bisa disimpulkan bahwa keduanya tengah menjalin hubungan dekat lebih dari sekedar teman.


Yah, pramuniaga itu sempat melihat Ayu yang ingin melepaskan genggaman tangannya pada Arya. Namun Arya tidak mau melepaskannya dan lebih mempererat genggamannya. Sehingga pramuniaga itu tersenyum melihat tingkah keduanya.


Ayu hanya bisa memberikan senyuman canggung kepada pramuniaga yang matanya tertuju pada tangannya yang sedang digenggam oleh sang kekasih. Sedang Arya acuh tak acuh di tatap seperti itu oleh pramuniaga.


"Baju yang kamu beli beberapa hari yang lalu, apa hanya satu saja?" tanya Arya mengingat.


"Iya. Untuk di pakai ke acara resepsinya kak Amel," ungkap Ayu berterus terang.


"Terus, yang akan kamu pakai di acara sakral mereka, bagaimana? Apa sekalian tidak di beli?" tanya Arya.


'Kok aku tidak kepikiran, yah. Waktu itu aku terlalu fokus pada gaun berwarna abu-abu, sih. Jadi lupa dengan baju yang akan kukenakkan ke acara sakral kak Amel nanti.'


Walaupun Ayu tidak pernah memakai gaun, tapi saat melihat gaun cantik berwarna abu-abu yang telah ia pilih beberapa hari yang lalu, dapat membuatnya terpesona dan lupa akan baju yang lain.


"Bee tenang saja, bajunya ada kok," kilah Ayu cengengesan.


'Masih ada waktu seminggu lagi, nanti aku beli di pasar swalayan saja. Lumayan murah dan bahan pakaiannya tidak kalah bagus dari Toko-Toko besar.'


"Kamu ini." Arya geleng-geleng kepala.


"Baiklah, carikan gaun yang cocok untuk dia. Gaunnya harus disesuaikan dengan setelah jas milikku. Oh iya, sediakan juga setelan jas sesuai dengan baju yang dibelinya beberapa hari yang lalu."


"Baik Pak."

__ADS_1


"Tapi, Bee."


"Tidak ada tapi-tapi Honey," ucap Arya penuh penekanan. Dan mau tidak mau Ayu harus menerimanya.


Pelayan itu menanyakan ukuran baju Arya, setelah mencocokkan ukuran dan hal lainnya, barulah keduanya menunggu pesanan mereka di bungkus.


Tidak memakan waktu lama, keduanya pun keluar membawa pakaian yang akan mereka kenakkan ke acara sakral dan acara resepsi nantinya.


Arya juga membawa Ayu ke toko perhiasan dan juga toko aksesoris lainnya. Semua itu Arya lakukan demi sang kekasih, walau Ayu sudah menolaknya, namun Arya tidak peduli.


Hari sudah beranjak sore. Keduanya masih menikmati jalan-jalan berdua. Sedang Darren dan juga Sonya hampir tiba di rumah milik Arya.


Arya yang sudah selesai membawa Ayu berbelanja, ia melajukan mobilnya menuju ke salah satu Restoran mewah di kota, untuk sekedar mengisi perut yang sudah keroncongan sejak siang tadi. Keduanya memilih duduk di dekat jendela, agar lebih leluasa melihat pemandangan di luar.


Setiba di rumah milik Arya. Yang di dapati Sonya hanyalah Amel bersama anak-anak saja di rumah.


"Kak Amel, kak Ayu mana? Kok tidak ada di kamar?" tanya Sonya menghampiri Amel di dapur.


"Kakak juga tidak tahu. Yang kakak tahu, dia perginya bareng Arya."


"Wah ... baguslah. Hihihi, kak Arya makin berani saja."


"Apa Darren sudah pulang?"


"Belum Kak. Kanda lagi main sama anak-anak di ruang keluarga."


"Apa kak Amel tidak butuh bantuan?"


"Tidak apa-apa, kamu mandi dan temani Darren. Biar Kakak yang menyiapkan makan malam untuk semuanya."


"Maaf ya Kak. Jadi ngerepotin."


"Tidak apa-apa. Mandi dulu sana!"


"Baiklah Kak. Aku pamit."


"Iya."


Sonya yang sudah selesai memakai pakaian lengkap, segera bergegas bergabung bersama Darren yang masih setia bermain bersama anak-anak di ruang keluarga.


"Apa Kanda tidak pulang dulu?" tanya Sonya setelah duduk di sofa.


"Ini sudah sore. Aku istirahat dulu di sini sekalian makan juga di sini, baru aku pulang ke Apartemen."

__ADS_1


"Tapi, Kanda 'kan belum mandi."


"Hm ... Kanda 'kan tidak bau keringat," jawab Darren sedikit meniru ucapan Sonya.


"Hahaha, iya juga."


Jam tangan milik Arya sudah menunjukkan pukul 18:00 sore hari, namun keduanya enggan berdiri dari Restoran itu. Mereka masih bercanda ria di sana. Tawa Ayu membuat beberapa penggunjung Restoran menatap ke arah mereka.


Selang beberapa menit, Arya menyudahi pembicaraan dan mengajak Ayu untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. Ayu pun mengangguk menimpali ucapan Arya.


Setelah membayar, barulah mereka bergegas pulang ke rumah milik Arya. Sesampainya di rumah, Arya memakirkan mobilnya ke garasi, samping mobil milik Darren berada.


"Rupanya Sonya sudah pulang," lirih Ayu, melihat ada mobil lain di garasi.


"Iya. Darren juga pasti masih ada di dalam," timpal Arya.


Keduanya pun turun dari mobil, tidak lupa membawa barang belajaan yang mereka beli. Kemudian keduanya melangkah masuk ke dalam rumah begitu saja.


Sonya dan Darren yang masih setia menemani anak-anak, mengendarkan pandangan ke arah dua orang yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Kak Ayu!!!" teriak Sonya.


Sonya bangkit dari duduknya dan langsung berlari menghambur peluk pada calon kakak iparnya. Ayu tersenyum canggung ke arah Darren, Bahkan tatapan anak-anak menatapnya dengan raut wajah keheranan.


"Ekhem!" Arya berdehem cukup keras agar Sonya melepas pelukkan pada tubuh Ayu.


Terpaksa melepas pelukkannya. "Kak Arya ganggu saja," sungut Sonya memayunkan bibirnya ke depan. Ayu hanya tersenyum kecil menanggapi sikap kekanak-kanakan Sonya.


Pandangan mata Sonya tertuju pada beberapa tas di tangan Arya dan juga di tangan Ayu.


"Wah ... habis belanja, ya? Seru tidak?" tanya Sonya kepo. Senyum lebar terpampan indah di wajah imutnya.


"Honey, jangan hiraukan anak kecil ini," sindir Arya. "Nih, bawah barang-barangmu masuk ke kamar," pinta Arya. Arya menyodorkan beberapa tas berupa hasil belanjaan di tangannya.


"Biar aku saja, Kak." Sonya dengan cepat merampas beberapa tas dari tangan Arya.


'Tingkah kedua saudara ini, benar-benar lucu.'


"Ehem. Ayo MY HONEY, kita pergi ke kamar," ucap Sonya penuh penekanan. Ia ingin menggoda kakaknya.


Arya lupa jika di sana ada Sonya dan juga Darren, bahkan anak-anak juga ada di sana. Sonya dan Darren pasti sedang menertwakannya itulah yang Arya fikirkan saat ini.


"Ehem! Ayo sana temani calon kakak iparmu." pinta Arya mengalah. Arya tidak mau adiknya semakin menggodanya jika ia membantah.

__ADS_1


Ayu, Darren dan Sonya tersenyum kecil, melihat Arya yang sedang salah tingkah.


Bersambung❣


__ADS_2