Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 86


__ADS_3

Setelah sampai ke ruang tamu,Azka menatap Amel takjub,senyum wanita itu tampak indah di pandangan matanya. Wanita itu sedang bermain dengan putra dan putrinya. Arya menepuk punggungnya pelan hingga membuat ia tersadar dari lamunan.


"Kak Amel!"teriak Ayu.


Teriakan Ayu membuat Amel dan Sonya menoleh padanya. Mereka terpaku melihat penampilan berbeda dari lelaki yang mengobrak-abrik hati,akhir-akhir ini. Azka dan yang lainnya menghampiri mereka di sofa.


"Ekhem!!!" Ayu sengaja berdehem agar kedua wanita itu tersadar.


"S--Selamat datang!"ucap Amel salah tingkah.


"Aku tidak mau banyak berbasa-basi lagi. kita peergi sekarang, biarkan hari ini anak-anak bersama mereka berempat."


"Putra dan putri Papa 'kan anak pintar, jadi patuh ya, sama Papa."


"Papa enang aja, tami temua atan atuh ok. ya, an?"ucap Raka yang peka dengan maksud dari ayahnya.


"Ya Tak Laka,"ucap mereka yang hampir bersamaan.


Mendapat lampu hijau dari anak-anak cerdiknya dia tak mengambil banyak waktu lagi.Azka kemudian berjalan mendekati Amel dan menggulurkan sebelah tangannya, Amel dengan malu-malu meraih tangan Azka. Pemandangan itu disaksikan langsung oleh keempat orang dewasa. Sebelum pergi Amel pamit dahulu pada Ayu dan juga Sonya, bahkan dia memberi sebuah isyarat berupah semangat entah apa artinya itu, Ayu dan Sonya juga tak terlalu paham.


Kini tinggal mereka saja di rumah, rumah tampak sunyi karena tidak ada satu orang pun dari mereka berempat membuka suara, hanya celotehan anak kecil yang terdengar jelas di ruang tamu itu. Para orang dewasa tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.


Raka yang melihat pemandangan antara keempat orang dewasa yang menjadi canggung mendapat ide cemerlang untuk mencairkan suasana. Raka sangat peka terhadap kedaaan yang ada, dia kemudian menyuruh adik-adiknya mendekat padanya, lalu Raka membisikkan sesuatu pada adik-adiknya.


Rasti,Bunga dan Bara mengerti dengan ucapan kakaknya. mereka satu persatu turun dari sofa dan menghampiri keempat orang dewasa itu.


"OM Anteng, atu engen alan-alan,ocan nih di lumah,"ucap Bara. Bara menarik kecil celana Arya.


"Ya, ami engen alan-alan teluar, Ante,"sahut Bunga dengan tatapan memelas yang tertuju pada ketua tantenya.


"Hm hm hm, benal. tami inin alan-alan." Rasti manggut-manggut membenarkan ucapan adik-adiknya.


"Ia, pa Ante dan OM, atang talah engan Papa an Mama ang dah peldi beltenang-tenang?"tanya Raka melipat tangan di dada, senyuman mengejek terlihat jelas di wajahnya.


Seperti sebuah panah yang menusuk hati Arya, rasanya Raka sedang meremehkan Arya dalam hal percintaan. Darren tidak terlalu pusing dengan ucapan Raka.


'Bukan wajahnya saja yang mirip dengan Azka, namun sifatnya juga. dan apa tadi, tatapan mengejek itu benar-benar menyebalkan. Oke, tenang ... hanya jalan-jalan doang,kan? Aku sanggup,'batin Arya.


'Sungguh anak-anak yang baik, aku tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini,'batin Darren senang.


Kedua wanita itu tidak bisa menjawab semau mereka saja, mereka juga ingin sekali keluar rumah, karena selama dua minggu berada di rumah milik Arya tak pernah sekalipun mereka jalan-jalan keluar, para bodygard yang ditugas berjaga tidak memperbolehkan mereka keluar dari rumah, layaknya seeorang tahanan yang tak dibiarkan kabur. Alasan terbesar pada bodygard itu bahwa semua keperluan juga sudah disiapkan di dalam rumah, terus kenapa lagi harus keluar rumah? Mau tidak mau mereka juga harus patuh.


Ayu menatap Arya untuk meminta pendapat. Ayu berharap Arya menuruti permintaan para malaikat kecil itu, kasihan mereka sudah terkurung bak penjara di rumah selama dua minggu.

__ADS_1


"Baiklah, hari ini kita keluar jalan-jalan." Arya menyetujui permintaan anak-anak.


"Holeee!!!"teriak ketika bocah kecil itu dengan bahagia, sedang Raka hanya tersenyum karena rencananya berhasil.


"Om membawa mobil masing-masing, jadi siapa yang ingin ikut sama, Om?"tanya Darren.


"Bedini taja, Om. Atu an Unga itut Om Alya denan Ante Yu. Sedantang, Asti ama Bala itut Om Okter an Ante Nya. Dimana?"tanya Raka memberi saran.


'Ini hanya permintaan dari seorang anak kecil saja Arya. Kamu harus menyetujuinya,'batin Arya.


"Baiklah, Om setuju."


'Yes!!'batin Darren senang.


Bukan tanpa alasan Raka menawarkan dirinya untuk berpasangan dengan adiknya Bunga bukan dengan Rasti yang menurutnya sangatlah reseh. Seperti saran Raka mereka berjalan beriringan dengan masing-masing pasangan yang sudah ditentukan. Darren sudah menyiapkan tempat untuk mereka datanggi. Dia akan menuntun semuanya untuk pergi ke mall terbesar di kota H, di sana banyak permainan anak-anak, dulu waktu dia masih kecil ayah dan ibunya selalu membawanya ke sana. Arya yang sama sekali tidak tahu harus jalan-jalan kemana hanya mengikuti mobil Darren dari belakang saja.


Azka dan Amel sudah tiba di tempat Butik yang pernah mereka datanggi tempo hari, sebelumnya Azka sudah mengatur semuanya, bukan Azka namanya disetiap perjalanan dia selalu menggoda Amel hingga membuat Amel tersipu, juga kesal dengan kelakuannya. Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk Butik itu. Namun, ketika hendak memasuki Butik, seseorang menelepon Azka.


"Kamu duluan saja. Aku jawab teleponnya dulu, nanti aku menyusulmu,'pinta Azka lembut. Amel hanya manggut-manggut, dan langsung memasuki Butik itu.


Amel memutuskan untuk melihat-lihat pakaian saja dalam Butik itu, dia juga melihat harga yang terterah pada pakaian yang dia pegang.


'Bajunya juga tidak terlalu bagus, kok bisa harganya semahal ini ya. Masih hemat jika membeli baju di pasar, kualitasnya juga lumayan bagus,'batin Amel meneliti.


"Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"tanya pramuniaga wanita yang sudah melihat Amel sedari tadi.


Amel menoleh. "Ah, tidak ada,"ucap Amel tersenyum. Pramuniaga ini bukan salah satu dari pramuniaga yang ia lihat tempo hari.


'Tampang aja seperti orang kaya, ternyata tidak ada tujuan apapun di sini, apa dia ingin mencuri?'


"Maaf, Bu. Jika Anda hanya melihat-lihat saja dan tidak membeli apapun, maka sebaiknya ibu mencari tokoh lainnya saja,"ucap pramuniaga itu mengejek.


"Eh, saya ke sini--" Amel heran dengan perlakuan sang pramuniaga bahkan perkataannya belum selesai ia ucapkan.


"Butik di sini sangat terkenal dan barang-barangnya semua samgatlah mahal, jadi jika tidak dapat membelinya, silahkan keluar saja,Bu!''sergah pramuniaga itu dengan cepat.


'Pelayanan di sini sangatlah buruk, mereka juga tidak boleh semena-mena meremehkan siapapun dan menilai dari latar belakang dari seseorang saja.'


"Apa saya boleh berkata jujur, Mba?'"tanya Amel masih tersenyum.


"Silahkan!"ucap pramuniaga itu acuh tak acuh.


"Tokoh ini memang sangat terkenal dan barangnya memang sangatlah bagus, namun cara pelayanannya masih kurang memuaskan. Anda juga tidak berhak menilai latar belakang dari tamu yang masuk ke sini."

__ADS_1


Amel masih tetap tersenyum. Pramuniga menjadi naik pitam dan menghardik Amel dengan kata-kata kasarnya.


"Cih, dasar. nggak punya uang saja belagu. Berlagak seperti orang kaya, pakai barang palsu aja bangga. Sebaiknya ibu pergi saja dari Butik ini, jangan mencoba menjadi penipu di tokoh kami!!"ejek Pramuniaga itu.


"Jika perkataan saya menyinggung hati nuraninya Mba, maka maafkanlah saya. Tapi, menurut saya cara Mba melayani pembeli di sini, sangatlah tak baik."


"Halah ... jangan mengaturku!! Kau mau keluar sendiri atau aku panggilkan satpam dan mengusirmu keluar?"tanya Pramuniaga dengan kilat mata yang membara, dia tak habis fikir Amel malah menasehatinya.


"Siapa yang berani menyeretnya?"tanya seseorang yang tak lain tak bukan adalah Azka.


Azka yang sudah selesai menerima telepon dari bawahannya di kantor segera masuk menghampiri Amel, namun dia malah mendengar hal tak terduga dari seorang Pramuniaga, Azka tak terima jika Amle di perlakukan seperti itu.


"Anda siapa lagi? kenapa sekarang banyak sekali penipu di tokoh kami, ya?" Pramuniaga itu kembali mengejek.


"Cepat minta maaf pada calon istriku!!"bentak Azka dengan sorot mata yang menyalah.


'Tatapan macam apa itu? Kau fikir aku akan takut, hah?'batin Pramuniaga.


"Ternyata memang benar kamu adalah pasangan dari pria penipu yang di sana,'ucapnya menyindir Amel. Amel ingin membuka suara namun tertahankan karena keduanya saling beraduh mulut.


'Jaga ucapanmu!!!"bentak Azka. Kali ini Azka benar-benar marah besar.


Amel yang sudah tahu dengan sifat Azka langsung berjalan menghampirinya, Amel juga berusaha menenangkan Azka dengan sentuhan tangannya pada lengan Azka.


"Sudah jangan hiraukan dia!'pinta Amel lembut.


"Aku tak terima dia mengejekmu seperti itu,'terang Azka dingin.


"Panggil managermu kemari,'titah Azka datar pada pramuniaga itu.


"Emang anda siapa? kenapa anda memerintah saya? Saya tak akan menuruti perintah Anda." Pramuniaga itu tak mau kalah.


Salah satu pramuniga yang mendengar keributan segera menghampiri tempat kejadian. Dia kaget saat melihat siapa yang sudah membuat keributan itu.


'Kenapa dia berani sekali, apa dia tak tahu siapa yang ada di hadapannya itu?'


"Selamat datang, pak Azka." Seorang pramuniaga yang baru saja datang langsung memberi hormat pada Azka.


"Panggil managermu ke sini!"titahnya dengan nada yang sedikit merendah dari sebelumnya.


"Baiklah Pak. Mohon menunggu sebentar."


Pramuniga itu pun pergi dari hadapan mereka, sedang pramuniaga yang mengejek Amel diam membatu di tempat, wajahnya sudah pucat pasi, fikirannya berkecamuk hebat, dia takut dengan akibat yang telah ia buat.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2