Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 103


__ADS_3

Senyum tipis terkembang begitu saja di sudut bibir Arya. Dia bahkan memerhatikan tangan Ayu yang masih menempel indah di sana.


'Aku jadi senang tanpa alasan. Apakah ini yang di namakan cinta? Waktu bersama aulia, aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini.'


Arya dan Aulia memang menjalin hubungan suka saling suka tapi entah kenapa Arya rasa itu berbeda saat dia bersama Ayu. Mereka memang berpacaran, namun pada masa itu Arya masih minim mengenal hal percintaan dia berfikir suka pada seseorang itu juga sudah mencintainya nyatanya tidak.


Ketika ia di khianati oleh Aulia, amarahnya begitu besar dan bahkan menimbulkan rasa bencinya pada Aulia, hingga trauma itu membuatnya sulit menyukai seseorang dan bahkan sulit mencintai orang lain. Semua itu berawal dari rasa kepercayaan berlebihan pada orang yang di sukai hingga menimbulkan kekecewaan yang begitu besar pada diri Arya.


Arya juga menganggap semua wanita itu sama, namun ucapannya itu terbantahkan saat Ayu masuk ke dalam kehidupannya. Gadis yang suka berterus terang itu akhirnya singgah juga dalam hatinya.


Arya seperti seorang remaja yang sedang di mabuk cinta, ingin sekali ia mendekap Ayu dari belakang, namun keberanian itu menciut karena belum tahu perasaan Ayu padanya.


"Silahkan duduk, Om!" Ayu mempersilahkan Arya duduk di kursi.


"Eh, iya."


Tiba-tiba Arya tersadar dari lamunannya, ia bahkan salah tingkah ketika Ayu sudah melepaskan tangan dari pergelangan tangannya.


"Tunggu bentar ya, Om. Aku ambilkan makanannya dulu." Ayu tersenyum pada Arya yang masih belum kunjung duduk juga.


"Baiklah."


Ayu ke dapur untuk mengambil nasi goreng yang sudah ia simpan. Setelah menatap punggung Ayu barulah ia duduk menunggu.


Ayu segera mengambil nasi goreng yang ia buat sendiri, kebetulan nasi gorengnya ia buat hanya dua porsi saja, untuknya dan juga untuk Sonya, karena Amel memang sudah berpesan kalau mereka bakal keluar dan makan di luar bersama Azka.


Ayu juga belum sempat sarapan pagi, dia malas kalau hanya makan sendiri, mumpung ada Arya di sini jadi ia menawarkan Arya saja untuk makan bersamanya.


Sejak bertemu dengan Amel membuat Ayu jarang makan sendiri di rumah. Setiap makan, mereka tentu saja makan bersama. Tapi ketika makan sendiri makanan yang tadinya enak malah enek untuk di makan sendiri.


Ayu mengambil 2 piring nasi goreng, seperingnya ia letakkan ke depan Arya.


"Silahkan makan, Om. Maaf ya nasinya sudah agak dingin." Lagi-lagi Ayu tersenyum pada Arya.


"Tidak apa-apa. Apa nasi gorengnya kamu yang masak?"tanya Arya memastikan.


"Iya, Om. Aku memasaknya untuk Sonya tapi dia juga sudah ada janji keluar bareng pak Dokter, tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Nasi gorengnya 'kan sayang jadi nganggur. Hehe,"terang Ayu terkekeh.


"Baiklah. Aku akan memakannya,"ucap Arya.


Arya mengambil sendok berisi nasi goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya. Arya menikmati setiap kunyahannya, semua itu tak terlepas dari penglihatan Ayu.


"Apa enak?"tanya Ayu menatap Arya serius.


Arya membalas tatapan mata Ayu. "Lumayan!" Ucapnya salah tingkah.


Tatapan Ayu dapat menembus sampai ke dalam hatinya. Baru kali ini ia menatap mata Ayu dengan sempurna. Jantungnya sudah tidak bisa di ajak kompromi, benar-benar berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Ayu menyipitkan matanya. "Kok, lumayan? Nggak enak ya, Om?"tanya Ayu khawatir.


"Beneran. Enak kok,"ungkap Arya serius.


'Aku tak menyangka gadis tomboy sepertimu bisa masak juga.'


Arya mengira selama ini yang masak makanan di rumah hanya Amel dan Sonya saja, namun ternyata Ayu juga bisa memasak.


"Jangan bohong ya, Om!" Ayu mendesak Arya agar berkata yang sebenarnya.


"Beneran, aku tidak bohong. Sebaiknya kita makan saja dulu, tidak baik berbicara saat sedang makan." Arya segera menetralkan kondisi jantungnya. Di tatap terus oleh Ayu dapat membuatnya gugup juga.


Ayu tersenyum. "Oke, Om."


Hari ini, detik ini, menit dan jam ini juga, seorang gadis tomboy merasa sangat senang melihat tingkah seorang pria yang ada dihadapannya.


Ayu benar-benar senang karena Arya sudah berbicara padanya lagi bahkan kini kata demi kata yang dikeluarkan oleh Arya sudah sedikit banyak. Tidak seperti kemarin-kemarin Arya nampak dingin dan kasar sekarang Arya sudah sedikit lembut dan perkataannya juga tidak terkesan dingin.


'Sekarang Om jauh lebih baik.'


Saat sedang menikmati nasi goreng miliknya, tiba-tiba ponsel Ayu berbunyi pertanda ada pesan dari seseorang.


Ayu menghentikan makannya dan merongoh ponsel yang ada di saku celananya. Dia menghidupkan layar dan melihat nama yang terterah di benda pipi miliknya itu.


[ Hay super hero! Elo sibuk nggak hari ini? ]


[ Tidak Kok. Emang kenapa? ]


Beberapa detik kemudian Bayu pun membalas pesan yang Ayu kirim.


[ Ketemuan Yuk, gue juga nggak sibuk nih. ]


[ Sekalian Loe mampir ke rumah, ibu udah nanyain tentang Loe. ]


Dua pesan berurutan dari nomor ponsel yang sama. Membaca pesan terakhir dari Bayu membuat hatinya tergerak. Sudah lama juga ia tidak mampir kesana.


[ Oke, baiklah. ] Balas Ayu. Lalu meletakkan ponselnya di meja dan kembali fokus memakan nasi gorengnya.


[ Jangan lupa bawah motor sendiri! ]


[ Atau mau gue jemput? ]


Ayu segera membuka pesan dari Bayu lagi.


"Hah!" Ayu terkejut melihat pesan dari Bayu.


'Bisa gawat kalau Bayu tahu di mana posisiku sekarang.'

__ADS_1


"Kenapa? Apa ada hal yang mendesak?"tanya Arya penasaran. Sedari tadi dia melihat Ayu bermain ponsel bahkan deringan ponsel milik Ayu sedikit mengusiknya.


"Eh, tidak ada apa-apa kok, Om. Hanya teman yang ingin mengajakku ketemuan saja."


"Oh,"ucap Arya acuh tak acuh.


Arya kembali mencerna perkataan Ayu. "Apa?!"


"Ada apa, Om? Kok kaget gitu,"tanya Ayu heran dengan respon Arya barusan.


"Tidak apa-apa."


'Teman? Lelaki tukang ojek itukah?'


Ayu pun segera membalas pesan pada Bayu. [ Nanti aku kesana sendiri saja. ]


'Kebetulan ada Om di sini. Aku minta di anterin ke rumah lama saja deh. Kira-kira mau nggak, ya?'


"Om!" Panggil Ayu.


"Hm."


"Aku minta bantu, boleh?"tanya Ayu.


"Soal apa?" Arya terus menikmati nasi goreng yang masih tersisa sedikit di piringnya.


'Apa dia ingin aku mengantarnya untuk bertemu dengan lelaki itu?'


"Tolong anterin aku ke rumah lama, ya!"pinta Ayu. Ayu ingin ke rumah lama untuk mengambil motornya yang masih berada di sana.


'Oh, mungkin temannya tinggal di sekitar situ juga.'


"Baiklah." Arya menyetujuinya, dia tetap berfikiran positif.


"Terima kasih, Om."


"Sama-sama."


Tak terasa makan mereka sudah habis. Arya tidak menyisakan sebutir nasi di piringnya, Ayu pun juga sama.


Ayu membersihkan meja makan dan membawa piring dan gelas kotor ke wastafel untuk di cuci. Setelah mencuci piring, barulah ia pamit pada Arya sebentar untuk mandi.


Arya juga masuk ke kamarnya, dia minder jika tidak mandi, apalagi harus duduk berdekatan di dalam mobil bersama gadis yang telah berhasil merebut hatinya, memikirkannya saja membuat Arya pangling.


"Sebaiknya aku juga mandi, biar wangi. Aku tak sempat mandi di Apartemen tadi. Dan ini semua karena Darren,"lirih Arya.


Bersambung❤

__ADS_1


Makasih tetap selalu mendukung😘😍


__ADS_2