Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 115


__ADS_3

Ayu bersenandung ria di dalam kamar milik Sonya yang di tempati juga oleh dirinya. Badannya kini telah bersih dan tentunya juga sudah wangi. Ia berbaring telungkup sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. Sesekali dia meraba bibirnya lalu senyam-senyum sendiri.


"Apa tadi aku mimpi, ya?" tanyanya. Ia kemudian mencubit kulitnya.


"Sakit! Berarti kejadian tadi bukan mimpi. Om ... uughh gemas deh," ucapnya cengar-cengir. Berulang kali kakinya naik turun menepuk kasur dengan ujung jemari kakinya.


"Telepon kak Amel dan Sonya dulu, ah." Ayu bangkit dari pembaringannya, mengambil ponselnya yang masih di charger.


"85%, lumayanlah," lirihnya ketika melihat ke arah ponsel yang sudah menyala.


Ayu mengambil posisi duduk di ranjangnya, kemudian ia melihat siapa yang ingin ia hubunggi pertama. Tidak butuh waktu lama ia memutuskan untuk menelepon Amel.


Di Apartemen. Amel memilih menggunakan kamar terpisah, sekarang mereka berlima sedang bermain dan tertawa. Amel usil mengelitik perut anak-anaknya. Sedang Azka baru saja pamit keluar membeli makanan untuk mereka semua. Tiba-tiba ponsel milik Amel berbunyi pertanda ada telepon masuk dari seseorang.


Amel menghentikan permainannya dan menyuruh anak-anak untuk melanjutkan permainan mereka tanpa dirinya. Amel mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu melihat layar ponselnya.


"Ayu!" lirihnya. Setelah pamit ke anak-anak. Amel menuju balkon kamar dan mengangkat telepon dari Ayu.


"Halo, Yu. Ada apa?" tanya Amel.


"Tunggu Sebentar, Kak!" pinta Ayu.


"Eh," Suara tut tut tut terdengar jelas pada pendengaran Amel.


"Dia sedang menyambungkan panggilan telepon, sama siapa?" lirih Amel pelan.


Di rumah nenek. Setelah mengantar Darren ke kamar kakaknya, Sonya kembali ke kamar lamanya. Sekarang Sonya sedang berbaring terlentang menatap langit-langit kamar yang ia rindukan. Tangannya mengusap seprei pink favoritnya yang tampak bersih, karena neneknya selalu membersihkannya.


Sonya baru saja ingin main ponsel, tiba-tiba panggilan masuk dari Ayu memenuhi layar ponselnya.


"Kak Ayu!" lirihnya. Tidak banyak basa-basi lagi, ia segera mengeser tombol hijau di layar benda pipih itu.


"Halo, Kak." sapanya ketika telepon sudah tersambung.


"Ya, Halo juga Sonya," balas Ayu.


"Ayu, ada apa kau menelepon kami hari ini?" tanya Amel.


"Kalian kemana aja, sih? Pemotretan dan jalan-jalannya lama banget. Jam segini aja belum pulang." ungkap Ayu. Dia memanyunkan bibir tanpa ada yang melihatnya.


"Ah, itu ... ada deh, Kak. Mungkin besok malam baru Sonya tiba di situ, Kak. Kakak baik-baiklah di sana," ucap Sonya tak enak hati telah menyembunyikan sesuatu dari Ayu.


"Kenapa harus besok malam?" tanya Ayu.


"Pokoknya kakak baik-baiklah di rumah. Oke?"


"Ya. Jalan-jalannya, jangan lama-lama! Nanti kebablasan, loh," ucap Ayu memperingati. Dia hanya takut Sonya dan Darren melangkah terlalu jauh saja.


"Kakak tenang saja. Aman kok," jelas Sonya yakin. Karena dia lebih tau kemana mereka pergi hari ini, jadi semuanya pasti berjalan dengan aman terkendali.


"Iya deh. Terus kak Amel bagaimana? Kenapa jam segini belum pulang?" tanya Ayu, karena Amel hanya diam mendengar obrolan dirinya da juga Sonya.


"Kakak juga tidak berdaya, Yu. Selesai pemotretan, kami semua di ajak jalan-jalan juga oleh ayah dari anak-anak. Dan sekarang, kami masih berada di Apartemennya, hm ... katanya kami makan malam bersama dulu di sini," jelas Amel memberi alasan.


"Baiklah. Aku bisa legah sekarang kalian baik-baik saja."


"Ya," ucap Amel dan Sonya bersamaan.


"Tapi, kak Ayu kenapa nelpon kami malam-malam begini?" tanya Sonya penasaran.

__ADS_1


"Hm, sebenarnya selain ingin tahu kabar kalian hari ini. Aku ... aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting," terang Ayu mengigit bibir bawahnya.


"Emang apaan, Kak? Jangan buat Sonya dan kak Amel penasaran dong!" Sonya sudah semakin penasaran. Amel juga ingin mendengar jawaban dari pertanyaan Sonya.


"Itu ... aku ...."


"Aku apa, Kak? Aduh cepatlah!" tanya Sonya mengebu-gebu.


"Sebenarnya Kakak su--sudah ja-ja ...."


"Sudah ja, apa sih, Kak?" tanya Sonya geregetan.


"Sudah jadian sama Kakakmu." Kata itu lolos begitu saja dari mulut Ayu.


"What?! Apa aku tidak salah dengar?" tanya Sonya membelalakkan matanya.


"Ya Son. Kamu tidak salah dengar kok. Hehe."


Tut.


Sambungan telepon Sonya tiba-tiba terputus, karena Sonya sengaja memutuskan sambungan teleponnya.


"Aaaaaaaa!!!" Teriaknya kencang. Dia melempar ponselnya di kepala ranjang dan mulai bangkit dari pembaringannya lalu lompat-lompat di atas kasur empuknya untuk meluapkan kebahagiaannya.


'Aku sangat-sangat bahagia.'


Darren yang mendengar terikan Sonya dari kamar sebelah, langsung datang tergopoh-gopoh dan mengetuk pintu kamar Sonya.


Tok! Tok! Tok!


"Dinda! Dinda kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Darren panik di balik pintu. Tanpa Suara Sonya langsung membuka pintu untuk Darren.


Cek-lek!


"Aku senang sekali, Kanda!" ungkap Sonya tersenyum dan langsung berhambur peluk ke dada bidang Darren yang sedanf terpaku.


"Akhirnya Kanda ... akhirnya. Huhuhuhu," ucap Sonya terharu dan menangis.


"Eits, kenapa Dinda malah menangis?" tanya Darren heran.


"Huhuhu, akhirnya Kanda."


"Akhirnya apa?" tanya Darren.


"Akhirnya kak Ayu dan kak Arya pacaran juga. Huwaaa." ungkap Sonya dengan suara tangisan yang sedikit kencang.


Darren tersenyum. "Kanda senang mendengarnya, Dinda," ungkapnya, lalu mengelus puncak kepala Sonya.


Sonya melepas pelukkan mereka. "Ini semua berkat Kanda. Terima kasih Kanda," lirih Sonya pelan. Dengan secepat kilat Sonya mengecup pipi Darren.


Cup!


"Y--Ya. Sama-sama Dinda," ucap Darren gugup.


"Ya udah, Kanda kembali saja ke kamar milik kak Arya." Usir Sonya cepat.


"Eh, cuma segitu?" tanya Darren sedikit kecewa.


"Terus?"

__ADS_1


'Kukira kau bakal mengajakku tidur bersamamu.'


"Tidak jadi."


"Ya udah, sana-sana! Pergi!" Usir Sonya lagi.


"Iya-iya."


'Tadi aja menempel, sekarang kok malah diusir. Nasib-nasib!'


Darren kembali ke kamar sebelah dengan lesuh. Sedang Sonya cengar-cengir sendiri di dalam kamarnya, selain merasa bahagia Sonya juga merasa lucu dengan tingkah Darren.


'Sabar ya, Kanda. Ini belum waktunya. Hihihi.'


Ayu kembali melihat layar ponsel miliknya, sambungan telepon Sonya sudah benar-benar terputus dari ponselnya.


"Sonya kenapa?" tanya Ayu pada Amel.


"Kakak juga tidak tahu, Yu."


"Hm, mungkin ponselnya lowbeat kali, ya?"


"Mungkin saja begitu, Yu. Oh iya selamat atas hubungan kalian, ya! Kakak turut senang mendengarnya. Sudah kakak katakan kalian pasti akan bersama jika dia memang jodohmu."


"Hehe iya Kak. Makasih atas dukungan dan suporrtnya selama ini, Kak."


"Iya. Kakak tutup dulu, ya? Anak-anak sedang bermain sendiri di sana. Bye-bye."


"Baiklah Kak. Bye-Bye."


Amel merasa sangat senang dalam hatinya ia mengucap syukur. Amel pun kembali menghampiri anak-anak, ikut gabung bermain bersama mereka. Sedang Ayu merasa legah, karena sudah mengabari kedua orang yang sudah ia anggap sebagai kakak dan juga adik kandungnya.


Setelah mencharger ponselnya yang masih belum penuh sempurna. Ia kembali berbaring ke kasur empuk milik Sonya. Belum beberapa menit sudah terdengar suara ketukkan pintu dari luar kamar.


"Apa kau sudah tidur?" tanya seseorang dari balik pintu.


"Belum Om. Sebentar!" Ayu buru-buru membuka pintu untuk Arya.


Cek-lek!


"Ayo makan! Makanannya sudah siap. Kamu pun sudah tidak bau asem lagi!" ajak Arya sedikit bercanda.


"Kenapa Om? Apa wangiku sudah tercium oleh indera penciuman Om dan Om tidak tahan lagi, hingga membuat Om tergoda dengan wangi tubuhku ini??" tanya Ayu mengedipkan sebelah matanya.


Arya menyentil dahi Ayu. Pletak! "Kamu masih sama saat pertama kali bertemu. Tidak mau kalah dan jahil padaku."


"Hahaha!"


"Jangan tertawa! Ayo jalan!"


"Iya, Om. Ini juga mau jalan. Om saja yang masih berdiri di depan pintu kamarku dan menghalangi jalanku."


"Oh iya. Siniin tanganmu!" pinta Arya tidak meladeni ucapan Ayu barusan.


"Mau ngapain, Om." tanya Ayu heran.


"Mau di bakar! Ya di gandenglah."


"Hahaha, iya-iya. Takut cintamu ini hilang, ya Om? Kek anak kecil aja."

__ADS_1


Walaupun Ayu banyak bicara tetap saja ia menuruti permintaan Arya. Arya dengan senang hati mengandeng tangan wanita yang ia cintai menuju meja makan.


Bersambung❣


__ADS_2