
Dengan takut-takut mereka berdua duduk bersama Amel. Amel kemudian membuka suara.
"Ada apa dengan kalian? Sikap kalian hari ini menjadi sedikit aneh dan Kakak merasa tidak nyaman. Kalian jujur pada Kakak apa yang sebenarnya terjadi?"
"I--Itu. A--Anu, Kak." Sonya gugup harus menjelaskannya dari mana.
'Biar bagaimana pun aku dan Sonya harus berkata dengan jujur. Aku juga tidak mau kak Amel menjadi canggung dengan kami. Kenapa harus malu, kita semua sudah sama-sama dewasa, tidak ada salahnya juga aku berkata dengan jujur. Oke, aku putuskan untuk menjelaskan semuanya pada kak Amel,"batin Ayu.
"Begini, Kak ...."
Ayu mengingat kejadian semalam waktu dia dan Sonya berada di kamar sebelah.
Mereka belum tidur masih bermain ponsel membaca pesan di akun sosial media, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
Prank ...
"Suara apa itu? Apa kakak mendengarnya?"tanya Sonya, menghentikan tangan yang baru saja ingin mengetik sesuatu.
"Iya,"jawab Ayu singkat. Menatap Sonya yang kini menatapnya.
"Kak, aku takut!"ungkap Sonya.
"Tenanglah! Ayo kita periksa keadaan di balkon!"ucap Ayu. Dia juga penasaran dengan asal suara itu.
Ayu berjalan duluan sedang Sonya mengikutinya dari belakang. Mereka memeriksa asal suara. Dengan langkah pelan tapi pasti, Ayu mengintip keluar balkon namun tidak ada siapa-siapa di sana. Mereka memberanikan diri untuk keluar dan melihat situasi yang ada di balkon itu. Baru saja Ayu membuka suara.
"Ti-- Hmmp ... hmmmp," Sonya membekap mulut Ayu dengan tangannya karena dia baru saja melihat sesuatu.
"Sstt! Diam, Kak." Bisik Sonya. Sonya melepaskan tangannya.
"Ada apa?"bisik Ayu heran pada Sonya.
"I--Itu." Tunjuk Sonya ke arah Amel dan Azka yang sedang memadu kasih.
Ayu melototkan matanya. "Kita tidak boleh berada di sini. Kita juga tidak pantas melihat hal itu lebih jauh. Ayo kita masuk ke dalam!" Sonya belum menjawab namun Ayu sudah buru-buru menariknya ke dalam kamar.
Di dalam kamar. "I--Itu?"tanya Sonya.
"Diam Son! Kak Ayu hampir tidak dapat bernafas nih."
"S--Sama, Kak. Aku juga,"ucap Sonya gugup.
...----------------...
"Apa!!? J--Jadi kalian melihat semuanya?"tanya Amel kaget bercampur malu. Dia tidak meyangka perbuatan Azka dan dirinya dilihat oleh Ayu dan juga Sonya.
"M--Maaf Kak. Beneran suer kami tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya, Kok!"tegas Ayu. Mengancungkan tangan berbentuk huruf 'V' ke arah Amel.
Melihat Sonya. "Benar 'kan, Son?"tanya Ayu.
"Iya, Kak. Kami tidak mendengar dan melihat terlalu dalam." Kata-kata Sonya seakan menusuk jantung Amel.
__ADS_1
'Tapi tetap saja mereka melihatnya. Jadi ini yang membuat mereka menjadi aneh padaku. Aku harus bagaimana? Harus menyikapi mereka bagaimana?'batin Amel.
Amel sangat malu mengingat bahwa dirinya sangat menikmati sentuhan-sentuhan kecil yang diberikan oleh Azka.
"Kalian membuat kakak menjadi malu. Andai kakak tidak menanyakannya,"ungkap Amel jujur.
"Kenapa harus malu, Kak? Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah? Jadi, wajar-wajar saja melepas rindu sebentar,"ucap Ayu.
"Semua tidak seperti yang kalian bayangkan,"ucap Amel.
"Kami janji Kak, akan menutupi apa yang kami lihat kemarin malam."
"Iya, Kak. Kami janji!"ucap Sonya.
"Ya, sudah. Kalian kembalilah main bersama anak-anak."
"Baik Kak,"ucap mereka serempak.
Azka yang sudah berpamitan duluan pada Amel, sehabis berpakaian lengkap langsung menuju kantor untuk mengurus beberapa hal di sana.
Azka juga akan diwawancai perihal masalah pak Rikco. Mereka akan sangat sibuk hari ini banyak pekerjaan juga yang menumpuk akibat beberapa hari tidak masuk kerja.
Di tempat lain. Sebelum berita itu ditayangkan. Laksmi sudah mendapat kabar duluan dari kaki tangannya. Dia segera menemui anaknya Riski untuk mengklarifikasi tentang masalah yang tengah dihadapi Yuni.
Di kamar milik Riski.
"Kamu harus mengikuti apa kata Mama. Jangan sampai reputasimu hancur karena wanita itu!"ucap Laksmi memberi peringatan.
"Bagus. Dengan begini Mama tidak mengkahwatirkanmu lagi."
'Yuni? Cih, dia memang sudah lama menemaniku, tapi aku sama sekali tidak mencintainya. Sekarang di mataku Amel sangat menarik, dia bahkan dapat membuatku tertarik lagi padanya,'batin Riski menyerigai.
Laksmi kembali ke kamarnya dia menghubunggi Kirana. Laksmi juga mengetahui penculikan itu ada sangkut pautnya dengan Kirana.
"Hallo,Tan. Ada apa?"tanya Kirana di seberang telepon.
"Kenapa kamu melakukan hal itu?"tanya Laksmi.
"Hal apa, Tan?" Kirana pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura! Kamu fikir Tante tidak mengetahui tentang perbuatanmu di belakang?"
"Tante tenang saja, masalah penculikan sudah beres aku atasi. Azka tidak akan curiga kalau aku terlibat dalam insiden itu." Dan pada akhirnya Kirana menjelaskan pada Laksmi.
"Jangan melakukan hal-hal konyol lagi, Kirana. Kau tahu Azka, kan? Dia bisa melakukan apa saja tanpa sepengetahuan kita,"ucap Laksmi penuh penekanan.
"Baik, Tan."
"Mungkin ke depannya, kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi pada Azka. Karena, Azka sudah memilih wanita itu sebagai pendampingnya, dan ... "ucap Laksmi tertahan.
'Dan tentunya rencanaku yang sudah kususun selama bertahun-tahun akan gagal total. Tapi, aku masih banyak rencana lain lagi dan jika rencana kali ini gagal, maka aku akan melaksanakan rencana yang tidak diketahui oleh siapapun,'batin Laksmi menyerigai.
__ADS_1
"Dan apa?"tanya Kirana penasaran dengan ucapan terakhir Laksmi.
"Tidak apa-apa. Mungkin kita masih bisa menyusun rencana lagi. Kali ini serahkan saja pada Tante."
"Baiklah, Tan. Kirana tunggu kabar baiknya."
"Ya." Laksmi mengakhiri sambungan teleponnya.
Laksmi sudah mengetahui apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Sedang Kirana merasa legah karena namanya tidak terseret dalam penculikan anak. Sesuai dengan rencana Kirana hanya Yuni saja yang menerima semua tuduhan itu. Kali ini keluarga Yuni benar-benar hancur.
Di perusahaan Abraham Group Agency.
Kedatangan Azka di kantor hanya memberi perintah pada Arya saja, untuk menghadiri wawancara juga menyelesaikan sebagian urusan kantor karena saat ini Azka masih ada urusan yang lebih mendesak lagi di kediaman Abraham.
"Kamu selesaikan pekerjaan semampumu saja. Jika tidak bisa diselesaikan hari ini, maka aku akan menyelesaikan sisanya nanti. Oh iya, kamu juga harus mengantikanku untuk menghadiri wawancara itu."
"Baik."
Azka kemudian pulang ke kediaman Abraham untuk menemui sang ayah. Dia ingin menagih janji pada ayahnya.
Sesampainya di sana, Azka memakirkan mobilnya di garasi mobil. Azka turun dan berjalan memasuki rumah besar itu. Ternyata di dalam kedatangannya sudah ditunggu oleh Daniel dan juga Laksmi yang sudah duduk di sofa.
"Kebetulan kau datang kemari, Nak. Ada yang ingin ayah tanyakan padamu,"ucap Daniel.
Azka duduk berhadapan dengan Daniel. "Masalah pemutusan kerja sama itu?"tanya Azka datar.
"Kurang lebih seperti itu."
"Jika Anda melarang saya untuk membatalkan pemutusan kerja sama itu, maka saya tidak dapat melakukannya untuk Anda. Perusahaan pak Rikco memang pantas bangkrut. Jangan biarkan mereka menjadi benalu di perusahaan milik Abraham."
"Kali ini bukan masalah tentang pekerjaan yang akan dibahas oleh ayah."
"Lalu, apa yang ingin Anda bahas bersama saya? Tidak mungkin Anda capek-capek menunggu kedatangan saya, kan?"tanya Azka curiga.
"Ayah hanya ingin menanyakan satu hal. Apa wanita pilihanmu itu sudah mempunyai anak?"tanya Daniel membuat kecurigaan Azka pada Laksmi semakin kuat.
'Pantas saja mereka sudah menungguku di sini. Apa rubah tua ini juga mengetahui tentang anak-anakku?'
"Ya,"jawab Azka singkat.
"Terus suaminya ke mana?"tanya Daniel lagi.
'Mungkin rubah tua yang licik itu tidak mengetahui semuanya tentang anak-anakku. Dilihat dari pertanyaan ayah sih begitu, tapi tidak akanku biarkan wanita jahat ini mencelakai mereka,'batin Azka.
"Suaminya berada di depan Anda. Saya ke sini ingin meminta restu kepada Anda. Bahwa saya dalam waktu dekat akan menikah dengan wanita yang sudah mempunyai anak itu. Saya harap Anda dapat menepati janji Anda."
"Kalau itu keputusanmu, ayah akan melakukannya sesuai dengan janji ayah padamu,"ucap Daniel tersenyum.
"Terima kasih atas pengertiannya. Ada banyak pekerjaan di kantor, untuk itu saya undur diri."
Tanpa mendengar jawaban dari Daniel, Azka segera bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
__ADS_1
Bersambung❣