
"Dari mana saja kamu Honey?" tanya Arya pada Ayu yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Dari toilet. Ada apa Bee?" Ayu balik bertanya pada Arya.
"Dia bucin, Yu. Sejak tadi juga nanyain kamu, padahal kakak Ipar dan Dinda sudah memberitahunya bahwa kamu ada di toilet, eh malah di tanya lagi. Heran deh, kalau bukan bucin apa lagi itu?" terang Darren disertai kedua pundaknya terangkat.
"Diam kau," ucap Arya ketus.
"Hahahaha."
"Puff ... lalu kak Amel di mana?" Ayu hampir saja tertawa terbahak-bahak. Ia memilih untuk mencari Amel saja karena kebetulan Amel juga tidak berada di sana.
"Udah izin istirahat. Katanya sih pergi menengok anak-anak dulu," jelas Darren.
Mata Ayu berkeliling manyapu suasana dalam ruangan besar itu. "Emang bisa? Apa tidak apa-apa pergi begitu saja? Tamunya 'kan belum pada pulang dan masih banyak pula," ucap Ayu.
"Kamu tenang saja, Azka sudah mengantur semuanya," ungkap Darren enteng.
"Oh gitu."
"Iya."
Sebagian besar tamu undangan berupa keluarga besar Azka masih berada di lokasi acara, masih menunggu sampai acara resepsi berlangsung. Namun ada juga sebagian kecil dari keluarganya yang sudah pulang duluan.
...****************...
Sudah pukul 18:30 malam dan acaranya akan dilangsungkan 30 menit lagi.
Pengantin pria masih mengenakkan pakaian yang sama. Sedang pengantin wanita sudah mengenakan baju lain menjadi sedikit lebih santai.
Gaun yang di pakai oleh Amel ialah gaun cantik berwarna biru dongker, panjangnya hanya sampai pada mata kaki saja. Gaun itu membuat Amel terlihat sangat anggun dan menawan.
Ayu dan Sonya juga sudah berganti pakaian menggunakan gaun yang mereka beli tempo hari, yakni gaun sederhana terkesan elegan berwarna abu-abu.
Arya dan Darren juga tak kalah menghebohkan dari pasangan mereka. Keduanya mengenakan tuxedo berwarna cream agar dapat dipadukan dengan gaun abu-abu milik sang kekasih.
Kini mereka masih berada di dalam kamar terpisah, yang sama seperti sebelumnya.
"Bagaimana ini, Yu?" tanya Amel. Dirinya benar-benar cemas karena tidak memiliki orang tua dan sanak saudara yang bisa mewakili orang tuanya.
"Tidak usah cemas, Kak. Biar aku dan Bee saja yang menjadi wakil orang tua darimu," ucap Ayu tersenyum. Ia juga cemas namun Ayu sebisa mungkin menahan diri agar tidak terlihat cemas di mata Amel dan Sonya.
"Apa bisa?" tanya Amel serius.
"Aku juga tidak tahu, Kak."
"Huff ... " Amel hanya dapat membuang nafasnya dengan kasar.
"Tidak apa-apa, Kak. Jangan cemas," ucap Sonya. Terbesit ide kecil dalam benaknya.
"Iya Son."
Sonya yang melihat kecemasan pada Amel pun pamit keluar dari kamar itu. Setelah pamit barulah dirinya melangkah menuju pintu, membukanya lalu menutupnya kembali.
Sonya melangkahkan kakinya mendekati kamar sebelah yang ditempati oleh para lelaki.
Tok! Tok! Tok!
"Sana Ar. Bukain pintunya!" pinta Azka yang masih sibuk bercanda ria bersama keempat bocah kecil.
"Biar aku saja," ucap Darren berinisiatif.
"Baiklah."
Darren pun mengantikan Arya tuk membuka pintu. Ia melangkah perlahan menuju pintu.
Cek-lek.!
__ADS_1
"Nah, pas banget Kanda," ucap Sonya girang saat melihat seseorang yang baru saja membuka pintu untuknya.
"Eh, Dinda. Kenapa kesini?" tanya Darren.
"Aku ingin berbicara pada Kanda sebentar," jelas Sonya.
"Baiklah. Silahkan Dinda," ucap Darren mempersilahkn Sonya untuk bicara.
"Masa mau bicara di depan pintu sih! Sini, Ikut Dinda keluar sebentar," pinta Sonya. Ia langsung meraih pergelangan tangan Darren dan menariknya keluar.
Darren merapatkan pintu kamar, lalu mengikuti langkah kaki Sonya ke depan. "Ada apa?" tanya Darren.
"Jadi begini, Kanda. Kanda tahu sendiri 'kan, kalau kak Amel tidak memiliki orang tua dan sanak saudara di negara ini?" tanya Sonya basa-basi.
"Iya. Emang kenapa Dinda?" Darren bertanya kembali karena belum paham ke arah ucapan Sonya.
"Dinda hanya Ingin meminta bantuan Mommy dan Daddymu, Kanda. Dinda berharap mereka dapat mewakili orang tua dari kak Amel di acara resepsinya nanti," jelas Sonya.
"Ide bagus Dinda. Sebentar ya, Kanda pamit dulu pada mereka," ucap Darren antusias.
"Baiklah. Eh, iya Kanda. Jika kak Arya sudah selesai bersiap, maka ajaklah ia keluar juga, untuk pergi ke aula bersama. Lagian kak Ayu juga sudah selesai berhias. Biar aku panggil kak Ayu agar kita sekalian turun ke bawah bersama."
"Hm. Itu lebih baik Dinda."
Sesuai keinginan Sonya, keempat orang dewasa itu sudah berada di aula. Ayu dan Arya sudah mengambil tempat duduk. Sedang Sonya dan Darren pergi membujuk orang Darren. Bukan menolak permintaan anak dan calon menantunya, Monica malah seantusias menerima apa yang mereka pinta.
Monica lantas berdiri dan mengajak suaminya agar keluar dari aula menunggu pengantin datang di sana. Jonathan juga ikut senang melihat istrinya bahagia, pada akhirnya diri hanya mengikuti kemauan istri tercintanya untuk keluar dari aula.
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan dan sudah 90% telah hadir memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan. Lampu begitu berkilauan dan bahkan berkelap-kelip seperti bintang dan kunang-kunang di dalam ruangan itu sangat memanjakan mata, benar-benar pernikahan yang megah dan indah.
Altar yang awalnya dipakai untuk acara pemberkatan, sudah berubah menjadi tempat duduk mempelai serta tempat duduk kedua orang tua dari sang mempelai.
Di bagian kepala altar sudah dihiasi sedemikian rupa agar terlihat seakan berada di negeri dongeng. Sangat indah dihiasi dengan bunga-bunga yang seakan mekar di sana.
Arya sudah duduk bersama Ayu, ia secara terang-terangan terus memuji-muji Ayu yang duduk di sampingnya. Arya tidak lelah jika harus terus memperlihatkan senyum termanisnya pada sang kekasih.
Arya sesekali menggoda Ayu dengan ucapan-ucapan mesra hingga membuat Ayu menjadi salah tingkah.
Tiba-tiba ponsel milik Ayu berdering. Ayu yang tidak memakai tas, hanya mangandalkan Arya tuk menaruh ponselnya di saku celana Arya.
Pada akhirnya harus Arya yang merongoh ponsel milik Ayu di dalam saku celananya. Tidak mungkin kan, jika Ayu yang harus mengambil ponselnya di dalam saku celana Arya.
Arya menatap layar ponsel milik Ayu. "Bayu!" ucap Arya. Mimik wajahnya kini berubah menjadi masam.
"Bayu?" tanya Ayu, matanya melirik ke arah ponselnya yang berada di tangan Arya.
"Iya," jawab Arya ketus.
'Kenapa dia masih menelepon Honey?'
"Mungkin dia sudah berada di luar, Bee."
"Kamu mau menemuinya?" tanya Arya melototkan matanya.
'Uugg lucunya. Saat cemburu kau terlihat sangat menggemaskan, Bee.'
"Iya Bee. Dia tidak memiliki undangan," ungkap Ayu terkekeh pelan.
"Terus?" tanya Arya dengan ekspresi wajah yang masih sama.
"Panjang jika harus menjelaskannya, Bee. Intinya kak Amel dan kak Azka sudah tahu dia akan kesini dan mereka juga sudah mengundangnya," jelas Ayu.
"Oh."
"Iya, aku keluar menjemputnya dulu, ya?"
'Tidak akan kubiarkan lelaki lain mendekatimu.'
__ADS_1
"Aku ikut," ucap Arya.
'Puff ... benar-benar raja posesif.'
"Baiklah. Agar kamu tak cemburu lagi," ucap Ayu sedikit mengejek Arya.
"Hhmmpt."
Ayu sengaja mengandeng tangan Arya agar kecemburuan Arya sedikit meredah. Kini keduanya pun sudah berada di luar gedung Hotel. Di sana sudah tampak sepi karena orang-orang telah fokus ke acara resepsi. Di luar hanya ada dua satpam yang sedang berjaga di depan pintu Hotel saja.
Terlihat seorang pria memakai setelan putih sedang membelakangi Arya dan juga Ayu.
"Bayu!" Sapa Ayu.
Bayu menoleh ke belakang. "Hai! Lama tidak bertemu." Bayu membalas sapaan Ayu.
"Kamu tampak berbeda Bay," ucap Ayu, ia dapat melihat sangat jelas bahwa Bayu berbeda dari biasanya, bukan karena penampilannya melainkan karena sesuatu hal yang lain.
"Hehehe." Bayu hanya tertawa canggung, apalagi saat melihat ekspresi wajah lelaki yang berada di samping Ayu. Rasanya lelaki itu ingin menelannya hidup-hidup.
"Eh, siapa wanita yang berada di belakangmu itu?" tanya Ayu.
Wanita itu melangkah ke depan guna memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, saya Naura, pacar Bayu," ucapnya tersenyum. Naura mengulurkan tangannya.
Ayu dengan senang hati menerima uluran tangan itu. "Aku Ayu, senang berkenalan denganmu." Ayu membalas senyuman lembut dari wanita itu.
'Ternyata dia sudah punya pacar. Bagus deh dengan begini tidak ada lagi orang yang mengincar My Honey.'
"Selamat ya Bayu, Naura, atas hubungan kalian."
"Iya. Terima kasih," ucap keduanya serempak.
"Sama-sama," ucap Ayu tersenyum.
"Ayo kita masuk!" pinta Ayu mempersilahkan mereka masuk.
"Hm."
Ayu tak kunjung melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Arya. Tangannya masih setia melingkar indah pada pergelangan tangan Arya, bahkan dirinya juga sedikit merapatkan tubuhnya pada Arya.
Arya sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Ayu, apalagi Ayu melakukannya di depan orang yang pernah menyatakan cinta padanya. Tingkat kecemburuannya berangsur-angsur meredah.
"Ayo Nau, gandeng tanganku juga, agar tidak kalah romantis dari mereka," pinta Bayu tak mau kalah. Kekasihnya itu hanya geleng-geleng kepala.
"Iih, Abang bikin malu saja," ucap Naura kemudian.
"Tidak apa-apa, sayang."
'Syukurlah, Bayu telah mendapatkan kebahagiaannya juga.'
Semejak Bayu ditolak oleh Ayu, pada awalnya dirinya memang merasakan sakit dan kecewa, namun setelah dua minggu merana. Seorang wanita mendatanginya, tiba-tiba wanita itu menggungkapkan isi hatinya dan langsung menembak Bayu.
Bayu tak menyangka wanita itu bisa melakukan hal seperti itu, bahkan sampai menyambar bibirnya serta berhasil merebut ciuman pertamanya, membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
Wanita yang mencium Bayu ialah teman masa kecilnya. Temannya itu mengaku sudah mencintainya sejak lama, ia juga selalu berusaha ada untuk Bayu. Namun, Bayu sama sekali tidak penah meliriknya. Hingga membuat Naura harus melakukan hal yang nekat dan memalukan. Tapi, bukan jijik dan menolak ciuman itu, justru Bayu lebih memperdalam ciuman mereka.
'Mungkin ini sudah saatnya melepaskanmu, Yu. Aku baru sadar ternyata Naura sangat mencintaiku.'
'Memang benar kata pepatah, jika kita tidak bisa mengejar seseorang yang kita cintai. Maka lihatlah ke belakang dan menerima orang yang mencintai kita.'
Pada akhirnya mereka sampai ke tahap ini, menghadiri resepsi pernikahan Amel di Hotel. Keduanya terlihat sangat bahagia.
Mereka berempat memasuki aula besar itu. Mata Bayu tidak sengaja menangkap wajah wanita cantik yang begitu familiar di sana. Wanita itu juga melihat ke arahnya dan langsung membuang muka agar Bayu tidak mengenalinya.
Bayu disadarkan oleh Naura untuk tetap fokus berjalan dan duduk di kursi yang masih kosong. Pada akhirnya Bayu tidak mengingat wanita itu lagi.
Bersambung❣
__ADS_1