
Di kamar Sonya memuji-muji kakaknya dia sangat senang jika Arya dan Ayu segera bersama, Sonya bercerita panjang lebar membuat orang yang mendengarnya menjadi panas.
“Stop!” Ayu menutup mulut Sonya dengan tangannya.
“Haha, Kakak malu,ya?"tanya Sonya ketika tangan Ayu sudah terlepas dari mulutnya.
“Bukan malu,tapi kesal. Lagian kamu gimana sih! Kakakmu dingin sedingin Es Batu begitu malah mau dijodohkan dengan Kak Ayu yang lucu ini.” Ayu mengedipkan matanya berulang
kali.
“Yaelah Kak,setidaknya dicoba dulu. Siapa tahu cocok! Beneran loh Kak aku sangat menyukai
Kakak. Malah bagus kalau Kakak menjadi Kakak iparku,"ucap Sonya serius.
“Kamu jangan bilang begitu! Lagian ya, kakakmu itu bukan tipe Kakak, kamu juga dengar sendiri 'kan kalau dia juga tidak menyukai Kak Ayu.”
“Ya, dengar sih Kak. Tapi ‘kan kalian belum mencobanya.”
“Kakak nggak mau ah. Kalau pun Kakak mau juga kakakmu tidak mau. Haha,”ucap Ayu bercanda.
Mana mungkin dia bisa menyukaiku, aku saja tidak menyukainya. Anak ini terlalu polos. Batin Ayu menatap wajah Sonya.
“Jadi … kalau kak Arya mau, Kakak juga mau?” Mata Sonya berbinar menatap manik mata Ayu.
“Mau apaan?”tanya Ayu, dia tidak paham dengan arah pembicaraan Sonya.
“Mau hidup bersama gitu kak. Hehe,”ungkap Sonya sambil terkekeh geli.
Oh, maksud Sonya itu. Kirain apaan.
“Kalau Kakakmu mau, Kak Ayu juga pasti mau,"ucap Ayu asal.
Mustahil jika dia mau hidup bersama denganku, jadi aku iya ‘kan sajalah.
"Beneran Kak? Ah, senangnya! Biar kak Arya aku yang mengurusnya."
"Hah? Jangan lakukan sesuatu yang aneh-aneh!"
"Kak Ayu, tenang saja."
Ya ampun anak ini.
"Baiklah-baiklah!"
Dengan waktu yang bersamaan, Azka dan Amel yang berada di kamar saling terdiam menatap tidur pulas anak-anaknya. Namun dalam lubuk hati keduanya mengatakan, kapan mereka bisa hidup bersama dalam seatap, makan bersama, jalan-jalan bersama seperti keluarga utuh lainnya, membayangkannya saja sudah seindah ini, apalagi sampai terlaksana mungkin keluarga mereka adalah salah satu keluarga yang bahagia di dunia.
Nak, kalian harus percaya sama Ayah, Ayah kalian memang orang hebat percayalah kita akan berkumpul bersama lagi dan hidup bahagia. Batin Amel.
Mereka semua pasti sudah melewati masa-masa yang sulit, ini salahku kenapa dari awal tidak mencaritahu tentang mereka. Amel terima kasih kau telah merawat anak-anakku dengan baik sehingga mereka sama sekali tidak membenciku.
Kenapa dia termenung?batin Amel melihat raut wajah Azka yang tengah menatap anak-anak mereka.
Amel menyenggol pelan lengan Azka.
"Pak!"
"Hemm!"
"Kenapa diam?"tanya Amel.
"Kamu juga diam tadi! Kenapa kamu diam?" Azka balik bertanya.
"Aku sedang membayangkan sesuatu."
"Sesuatu tentang apa?"
"Hmm, seandainya kita bisa berkumpul bersama, Bapak, aku dan juga anak-anak, pasti kita akan hidup bahagia."
__ADS_1
Bapak lagi? Nama panggilannya padaku membuatku muak dan ingin sekali membungkam mulutnya.
"Itu sudah pasti, kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang itu."
"Aku hidup tanpa ibu dan ayah, jadi untuk anak-anakku aku akan berusaha menyayangi mereka dengan tulus dan menjaga mereka dengan baik. Bapak mau membantuku, kan?"
"Untuk masalah itu aku juga akan melindunggi kalian. Yang jadi masalahnya sekarang adalah mulutmu!"
"Hah? Kenapa dengan mulutku?"tanya Amel heran dia pun mengusap-usap bibirnya barangkali ada sesuatu di sana.
"Mendekatlah! Akan aku perlihatkan apa yang aku lihat,"ucap Azka.
Amel dengan polos mendekatkan wajahnya ke arah Azka. Azka lalu mengusap pelan bibir Amel dan secepat kilat mengecupnya.
Cup!
"Pak!!!"teriak Amel, Amel sangat panik dengan perlakuan Azka barusan.
"Jangan teriak! Nanti mereka bangun." Azka tersenyum kemenangan.
"Lagian Bapak kenapa sih?"tanya Amel sedikit kesal dan separuhnya merasa senang.
"Rupanya kamu masih tidak mengerti dengan kesalahanmu!"
Salah? apa lagi yang salah dengan ucapanku kali ini?
"Kenapa kamu masih memanggilku Bapak? Aku bukan Bapakmu!" Azka mengerutkan alisnya.
Ternyata itu.
"Ya, maaf Pa--" Amel tidak meneruskan perkataannya.
"Sekali lagi kamu memanggilku Bapak, aku akan menciummu sampai mereka bangun,"ancam Azka.
"Ya jangan dong! Iya deh iya, aku tidak akan salah memanggilmu lagi. Aku janji!" Amel memaksa untuk tersenyum.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu. Jika ada lain kalinya lagi,kamu harus siap menerima hukuman dariku bahkan lebih parah dari sekedar kecupan. Apa kamu mengerti?"
"I--Iya, iya." Amel sedikit gugup, mimik wajahnya sedikit cemberut.
Lebih dekat dengannya sangatlah menyenangkan. Imutnya!
Tok! Tok! Tok!
"Kamu tunggu di sini! Aku akan membukakan pintunya,"ucap Amel.
"Jangan! Kamu temani anak-anak, biar aku saja yang membukakan pintu itu."
"Baiklah!"
Amel menatap anak-anaknya yang masih tertidur pulas, diusapnya puncak kepala mereka satu persatu.
Mama sayang banget sama kalian semua, semoga apa yang Mama lakukan kali ini sudah benar, Mama pengen ada yang melindungi kalian selain Mama, yaitu Ayah kandung kalian.
Azka yang baru saja membuka pintu melihat Arya yang sudah berdiri tegak di luar.
Azka menutup pintu kamar dan menghampiri Arya. "Ada apa kau kemari?"tanya Azka.
"Maafkan saya Tuan."
"Ayolah, berhentilah bicara formal padaku saat di luar. Apa kau menemukan sesuatu?"tanya Azka.
"Nah, itulah yang ingin aku sampaikan padamu. Orang suruhanku sudah menyelidiki Yuni, tapi katanya Yuni berada di rumah sepanjang hari, dia tidak perna keluar pagi ini dari rumah."
"Apa kamu yakin dengan informasi itu?"
"Orang yang aku suruh sudah menanyakan beberapa pembantu di sana namun mereka semua mengatakan hal yang sama bahwa Yuni memang tidak keluar dari rumahnya,"jelas Arya.
__ADS_1
"Aku yakin mereka semua sedang menutupi sesuatu. Kamu periksa sekali lagi!"
Azka tidak terlalu yakin dengan informasi yang Arya katakan, karena Amel tidak mungkin salah mengenali orang, Azka juga tidak terlalu memperhatikan wajah wanita yang berada di pesta waktu itu, karena dia selalu berfokus pada Amel saja dan Azka hanya mengetahui bahwa wanita itu adalah pacar Riski.
"Eh iya, bagaimana dengan penyelidikan yang ada di hutan bambu?"tanya Azka lagi.
"Mereka belum memberi kabar padaku."
Saat Azka dan Arya sedang berbincang tiba-tiba Amel membuka pintu kamarnya.
Cek-lek!
"M--Maaf, apa aku menganggu pembicaran kalian?"
"Tidak Nona."
"Tentu saja tidak. Ayo ke sini! Kita lagi membahas tentang penyelidikian Bara,"ucap Azka.
"Terus bagaimana dengan hasilnya?"tanya Amel.
"Belum ada kabar,"sahur Azka.
"Terus sekarang kita harus bagaimana?"
"Kamu tenanglah!"
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
"Saya permisi angkat telepon dulu."
"Oke. Cepat angkat!"
Arya menerima panggilan telepon dari orang suruhannya.
"Hallo Pak Arya!"sapa orang itu.
"Bagaimana?"tanya Arya.
"Saya telah menemukan sebuah gudang kosong di tengah hutan bambu Pak. Saya juga melihat ada seorang pria kekar keluar dari sana, namun saya tidak melihat anak kecil."
"Kamu segera kumpulkan beberapa orang yang kuat. Kemungkinan besar mereka menyembunyikan anak Tuan di sana, setelah semuanya terkumpul segera grebek tempat itu sampai tuntas!"
"Baiklah Pak!" Arya segera mengakhiri sambungan teleponnya.
"Bagaimana?"tanya Azka.
"Orang yang aku suruh telah menemukan sebuah gudang di tengah hutan bambu itu, dia juga melihat ada pria kekar yang keluar dari sana. Jadi, aku menyuruhnya mengrebek gudang kosong itu."
"Bagus!"
"Kamu tenang saja Amel. Semua pasti akan kembali netral,"ucap Azka menenangkan Amel, dia tahu kalau Amel pasti sangat khawatir denga keadaan anaknya.
"Ya, aku percaya padamu!"
"Kalau begitu aku permisi dulu! Aku juga akan mengikuti mereka untuk mengrebek tempat itu."
Azka mengangguk menimpali ucapan Arya barusan, Arya segera berlalu meninggalkan keduanya. Sebelum Arya menghilang dari pandangan mata, Amel mengucapkan kata agar Arya berhati-hati.
"Lain kali, kamu jangan memberi perhatian pada pria lain saat kamu berada di depanku!"tegas Azka datar.
"Kalau di belakang emang boleh?"tanya Amel.
"Tidak boleh! Kamu cukup menunjukan perhatianmu itu padaku saja!"tegas Azka datar.
"Pelit!"gumam Amel pelan.
"Apa yang kamu katakan barusan?"tanya Azka.
__ADS_1
"Hehehe, tidak ada,"kilah Amel.
Bersambung❣