Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 114


__ADS_3

Saat Darren melangkah ke depan tatapannya tertuju ke bawah, matanya hanya menatap tanah yang sedikit ditumbuhi oleh beberapa rumput liar.


Gerak-gerik Darren tidak luput dari pandangan mata kedua wanita itu. Sonya terkekeh geli, ia sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak pecah ia tidak mau membuat Darren semakin takut dan malu.


Sedang neneknya Sonya, semakin penasaran akan sosok lelaki yang di bawah pulang oleh cucu perempuannya. Kini Darren sudah berada di dekat kedua wanita itu.


"Angkat kepalamu Anak Muda!" pinta sang nenek lembut.


Darren dengan susah menelan air liurnya, ia perlahan mendongakkan kepalanya. "H--Hai, Nenek!" sapa Darren tersenyum canggung.


"Wah ..." Mata sang Nenek berbinar, di kala menatap lelaki muda yang ada di depannya.


"Sonya, Pangeran dari Istana mana yang sudah berhasil kamu culik?" tanya Nenek antusias pada cucunya.


"Aduh Nenek. Jangan menggoda kak Darren seperti itu," ucap Sonya tak enak hati.


"Jadi dia yang bernama Darren?" tanya Nenek serius. Nenek tampak berfikir sesuatu.


"Iya Nek. Perkenalkan saya Darren, pacar Sonya." Kini Darren sudah mulai berani.


'Semoga respon Nenek barusan, adalah awal baik untuk hubunganku dan juga Sonya.'


Nenek terbelalak. "P--Pacar!?" tanya Nenek kaget. Buru-buru nenek mendekati Sonya.


Meraih tangan kanan Sonya. "Sonya sini ikut Nenek sebentar!" pinta Nenek menarik Sonya sedikit jauh dari tempat Darren berdiri.


"Eh ...." Sonya sendiri juga kaget, ia juga tidak bisa menolak permintaan neneknya.


"Beneran dia pacar kamu?" tanya nenek bisik-bisik tetangga.


"Iya, Nek."


"Cucu nenek memang hebat. Patut di beri penghargaan," ungkap nenek antusias. Dia sangat bahagia dengan jawaban Sonya barusan. Nenek juga ingin cucu-cucunya memiliki pasangan sebelum ia tiada.


"Kalian pasti capek, kan? Ayo masuk! Kebetulan Nenek bikin cemilan banyak banget di dapur," ungkap Nenek tersenyum ramah.


"Ayo, jangan malu-malu! Sonya, ajak Darren masuk ke dalam, ya! Nenek ke dalam dulu, mau buat minum untuk kalian." sambung nenek lagi.


"Iya Nek." Setelah Sonya mengiyakan barulah nenek pergi masuk kembali ke dalam rumah. Terdengar senandung ria di dalam sana.


'Kufikir, aku bakalan di usir dari sini. Ternyata malah disambut baik oleh Nenek.'


"Kenapa Kanda diam saja?" tanya Sonya.


"Apa nenekmu seantusias itu?" tanya Darren penasaran.


"Ya, begitulah Nenek. Kenapa? Apa Kanda merasa tak nyaman?" tanya Sonya menatap manik mata milik Darren.


"Nyaman kok. Tapi, Kanda sempat berfikir bahwa Kanda akan di usir dari sini. Ternyata Nenek tidak mengusir Kanda."

__ADS_1


"Hahahaha, mana mungkin Nenek mengusirmu, Kanda. Ada-ada saja deh!"


"Ya mungkin saja, nenek marah Dinda membawa Kanda kemari. Hingga mengusir Kanda dari sini."


"Kanda tenang saja, ya. Nenek sangat baik kok. Percayalah!" ucap Sonya di sertai dengan senyuman tipisnya. Ia berusaha menyakinkan Darren bahwa neneknya tidak seperti yang Darren fikirkan.


"Iya. Kanda percaya padamu, Dinda."


"Kalau gitu, ayo masuk!" Ajak Sonya. Setelah mendapat anggukan kepala dari Darren, barulah Sonya meraih tangan Darren dan mengengamnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu.


Nenek yang masih berada di dapur segera keluar, sesudah cemilan dan minumannya sudah lengkap di atas nampan yang akan dibawanya ke ruang tamu.


Sesampainya di sana, Nenek menatap punggung kedua orang yang duduk di sofa.


'Mereka berdua sangat lengket seperti lem saja. Hihihi, Arya kau tidak salah memilih adik ipar. Dilihat dari wajahnya ia memang pria yang baik. Lalu kamu kapan Arya?'


Ketika Arya tidak sibuk, Arya selalu mengabari neneknya mengenai kabar mereka di kota, nenek juga melakukan hal yang sama. Namun sering kali nenek menanyakan tentang pendamping hidup, ia selalu menekan Arya agar mencari calon dan segera menikah karena umur Arya sebentar lagi akan memasuki kepala tiga.


Demi menghindari tekanan dari sang nenek, Arya memilih memberitahukan tentang Darren yang sering curhat bahwa dia menyukai Sonya. Oleh karena itu, saat Darren mengakui hubungannya dengan Sonya tadi, membuat nenek begitu senang dan bahagia.


"Minuman dan cemilannya sudah siap! Taraaaa ... silahkan dinikmati! Semoga suka, ya?" ucap Nenek tersenyum.


Darren memberanikan diri untuk membuka toples berisi cemilan yang dibuat nenek, lalu kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Nenek mengamati ekspresi yang ditunjukan Darren setelah memakan cemilan yang dibuat olehnya.


Darren tampak mengunyah makanannya. "Enak, Nek! Mantap!" Puji Darren setelah menelan hasil kunyahan di dalam mulutnya, ia juga mengacungkan kedua jari jempol miliknya ke arah Nenek.


"N--Nenek bilang apa?" tanya Darren ingin mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Nenek barusan.


"Cucu menantu. Apa ada yang salah? Atau kamu tidak mau menjadi cucu menantu, Nenek?" tanya Nenek serius.


"Mau Nek, mau banget malah. Terima kasih, Nek." Senyum Darren terkembang sangat-sangat indah.


'Aku bilang juga apa, pasti kak Darren di terima baik oleh, Nenek.'


"Hahahaha. Baiklah." Nenek tertawa melihat respon Darren, yang menurutnya sangatlah lucu.


"Eh itu, anu Nek. Maksud kedatangan kami ke sini, ingin meminta Restu padamu, Nek. Apa Nenek, setuju?" tanya Darren takut-takut. Walaupun sudah mendengar panggilannya dari nenek namun ia juga ingin menyampaikan maksud kedatangannya untuk lebih memperjelas hubungannya lagi.


"Tentu saja. Asalkan orang tuamu juga menerima cucu perempuan nenek dengan baik."


"Nenek tenang saja. Mommy sangat baik pada Sonya. Sebelum kami ke sini, kami sudah mampir ke rumah kak Darren juga," timpal Sonya, lalu tersenyum pada neneknya.


"Baguslah. Dengan begini, Nenek bisa tenang. Ayo makan lagi cemilannya! Jangan lupa minumannya diminum juga, jangan sampai kau tersedak di sini."


Apa yang diucapkan nenek barusan mengundang gelak tawa dari semuanya, dinding dan perabotan yang ada di ruangan itu, menjadi saksi bisu dari tawa mereka yang terdengar keras. Tiba-tiba tatapan nenek berubah menjadi sendu, ia juga sedang memikirkan sesuatu saat ini.


"Kenapa wajah nenek jadi sedih? Bukankah tadi baik-baik saja," tanya Darren.

__ADS_1


"Nenek sedih memikirkan Arya. Masa Sonya sudah mempunyai kamu dan dia masih single aja," terang Nenek. Darren dan Sonya saling melempar pandang.


"Oh, kalau itu nenek tidak perlu khawatir. Nenek cukup berdoa saja, semoga kali ini rencana kami berhasil, Nek."


"Rencana? Rencana apa?" tanya nenek penasaran.


"Begini Nek ... bla ... bla ... bla." Kini Sonya yang menjelaskan pada neneknya agar neneknya dapat mengobati rasa penasarannya. "Jadi begitu Nek ceritanya," ucap Sonya, setelah ia selesai menceritakan rencana mereka pada sang Nenek.


"Kamu sudah kenal sama perempuan itu?" tanya Nenek.


"Iya dong Nek. Dia jauh lebih baik dari mantan Kakak yang dulu," ucap Sonya bangga.


Kejadian di antara Arya dan Aulia, nenek juga mengetahuinya dari Sonya. Nenek hanya bisa berdoa saja untuk kebahagiaan Arya, ia juga tidak membenci Aulia karena telah melukai Arya begitu besar sehingga sampai sekarang Arya susah mengenal cinta lagi.


"Sekarang nenek sudah bisa tenang. Semoga saja mereka cepat di persatukan," ungkap Darren penuh harap.


'Hais ... ya sudahlah, semoga saja cucu lelakiku juga mendapat kebahagiaan. Anak itu sudah terlalu banyak menderita.'


"Oh iya, Darren kamu malam ini pakai kamar milik Arya saja, ya. Atau kamu ingin tidur sekamar dengan Sonya?" ucap nenek dengan tatapan penuh arti.


"Hah?!" Darren tercenggang.


"Ah, Nenek ... jangan buat Sonya malu deh," sahut Sonya, pipinya sudah bersemu merah.


"Tidak apa-apa. Aku mau kok Nek, tidur berdua sama Sonya," ucap Darren malu-malu.


"Eh maaf Nenek hanya bercanda tadi."


Sonya dan nenek sama-sama tergelak di tempat, karena melihat ekspresi wajah Darren yang tiba-tiba berubah kecut.


"Mana mungkin nenek menyuruh kalian yang belum menikah tinggal berdua di kamar yang sama? Makanya cepat nikah agar bebas nantinya," ungkap Nenek setelah menetralkan diri dari tawanya.


"Nenek mah PHP!" ucap Darren pura-pura kesal pada Nenek.


"PHP? Apa itu PHP?" tanya Nenek serius.


"Pemberi Harapan Palsu," jelas Darren ketus.


"Hahahaha." Sonya dan nenek kembali tergelak bahkan Darren juga ikut-ikutan tergelak.


"Udah sana, mandi dan istirahat!" usir Nenek pada Darren dan Sonya.


"Sonya beritahu Darren di mana letak kamar Arya berada," titah Nenek.


"Baik Nek."


"Ayo, Kanda!" ajak Sonya.


"Oh, oke." Mereka kini menjauhi nenek yang masih berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Awas jangan sampai salah haluan, ya!" teriak Nenek terkekeh geli.


Bersambung❣


__ADS_2