
Ayu terus berjalan lurus ke depan. Dirinya melihat sebuah jalan yang berbelok ke kiri, kemudian ia berjalan ke arah itu untuk memasuki kawasan gang berukuran sedang yang ada di situ, gang itu masih bisa dimasuki oleh motor,namun suasananya tampak sunyi dan mencekam.
Wajah Ayu terlihat biasa saja saat berjalan di area itu, bahkan dirinya juga bersenandung ria, ia menatap bangunan tua yang berjejer rapi di wilayah itu.
"Bagunan yang ada di sini, terlihat sudah sangat kumuh, tak terpakai," lirihnya pelan.
Pandangan mata Ayu tertuju pada lumut-lumut yang menempel di dinding bangunan. Padangannya juga menangkap begitu banyak rumput liar yang sudah menjalar di dinding salah satu gedung yang tidak terawat.
Ayu masih terus berjalan melewati tempat seram itu, tanpa ada rasa takut pada dirinya. Tiba-tiba dia di hadang oleh beberapa orang berbadan kekar di jalan, padahal sekitar 5 menit lagi dirinya sampai ke ujung gang.
Ayu tidak tahu orang-orang itu munculnya dari mana, karena baginya itu tidaklah penting.
Ayu dengan santai terus berjalan, namun langkah kakinya berhenti saat salah satu dari orang berbadan kekar itu mendekatinya.
"Hei, cantik! Mau kemana?" tanya orang itu dengan tatapan menggoda.
"Kok, sendirian aja." timpal yang lain.
"Minggir!" ucap Ayu santai dengan tawa meremehkan.
"Jangan marah gitu dong, cantik," ucap yang lain sambil mencolek hidung mancung milik Ayu.
"Ayo main sama Kakak, Kakak janji akan membuatmu menikmatinya dan ingin nambah lagi dan lagi tidak mau berhenti," sambung orang itu lagi. Sedang yang lainnya tertawa terbahak-bahak di sana.
Ayu dengan sabar meladeni kelima preman yang ada di depannya. Berulang kali dirinya membuang nafas kasar, berusaha meredam emosinya.
"Tidak usah takut. Kakak janji, kamu akan ketagihan saat bermain bersama kami," sahut yang lain.
Ayu perlahan menghembuskan nafasnya. "Baiklah Om, kalian akan membawaku ke mana? Aku janji akan menuruti perintah Om, Om 'kan ganteng, mana mungkin aku tidak mau sama Om," ucap Ayu lembut selembut kain sutra.
'Rasanya aku pengen muntah di sini. Baiklah, kita lihat apa yang akan kalian lakukan padaku nanti. Cih, dasar sekelompok tikus tak berperasaan.'
Para preman itu tertawa senang. "Ayo ikut kami ke sana," tunjuk salah satu dari mereka pada salah satu bangunan yang ada di sana. Ayu menoleh pada bagunan yang di tunjuk oleh salah satu preman itu.
'Rupanya mereka datang dari arah situ.'
"Ayo, Kakak tunjukin jalannya."
Salah satu dari mereka ingin mengandeng tangan Ayu, namun Ayu segera menepisnya dengan halus.
"Aku malu, Om. Jadi jangan sentuh aku, ya. Nanti di tempat kalian aja, kalian semua boleh kok, menyentuhku sampai puas," pinta Ayu manja. Nyatanya dirinya ingin sekali muntah di sana. Beberapa preman itu mengeluarkan lidah menyapu bibir atas mereka.
'Omku jauh lebih ganteng dari kalian semua. Huhuhu ... Bee aku sangat merindukanmu, seharusnya aku pergi bersamamu agar kau dapat melindungiku. Tapi, tidak apa-apa, kali ini aku akan melindungi diriku sendiri. Lagian sudah lama juga tidak berolahraga.'
__ADS_1
Di lihatnya kelima preman itu satu persatu. Terpampan jelas muka tua mereka di mata Ayu, ada pula yang rambutnya gundul di sertai kumis tebal di atas bibir pada salah satu preman-preman itu.
Salah satu preman berada di depan untuk menunjukkan arah menuju salah satu bagunan tua yang ada di sana.
'Cih, rupanya gadis ini penurut juga. Dia secara suka rela memberikan diri sendiri pada kami, tanpa harus melawan dan memberontak. Benar-benar mangsa yang sempurna.'
Sedang keempat preman lainnya berada di belakang, guna memantau pergerakan Ayu yang berada di tengah. Ayu tampak santai mengikuti preman yang ada di depannya.
Setelah melewati beberapa anak tangga, kini mereka sudah berada di lantai dua dalam gedung bertingkat itu.
Ayu melihat ada tiga orang pria parubaya seumuran mereka sedang terbaring kaku di lantai. Posisi ketiga preman itu tak jauh dari tempatnya berdiri.
'Eh, apa mereka adalah preman yang asli yang bekerja membegal orang di kompleks sini?'
Ayu bertanya-tanya dalam hati, pandangan matanya menangkap tiga orang yang sudah pingsan di lantai, dengan luka lebam di sudut bibir dan jidat ketiganya, bahkan darah segar masih terus keluar dari rongga hidung mereka.
'Apa mereka baru saja di pukuli? Ada yang tidak beres, jika benar mereka preman yang asli kompleks sini, berarti kelima preman yang membawaku ke sini adalah suruhan dari orang lain. Apa mereka orang suruhan, Aulia?'
"Kenapa melamun, cantik?" tanya salah satu preman, ia melihat ke arah yang sama. "Oh, mereka bukanlah siapa-siapa, jadi kamu tidak perlu khawatir, karena kita akan bermain di sini, dan Kakak janji, mereka tidak akan melihat kita, kok."
"Iya, mereka tidak akan melihat kita," timpal yang lain.
"Ya. Jadi kita aman di sini," sahut yang satunya lagi. Kemudian mereka semua tertawa di sana.
"Baiklah," ucap Ayu santai setelah tawa kelimanya meredah.
Kelima preman itu pun membuka baju mereka, Ayu menutup mata karena jijik dengan tubuh kelima preman.
"Jangan malu, cantik."
Ayu mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah agar mata cantiknya tidak ternodai dengan pendangan menjijikkan yang ada di depannya.
'Bagus, lepaskanlah sepuasnya. Dengan begini di tubuh kalian tidak akan ada senjata lagi.'
Kelima preman itu melepas dan melempar pakaian mereka ke sembaran arah, meninggalkan sepenggal kain segitiga yang masih menutupi sesuatu di tempatnya.
"Sekarang giliran kamu, cantik. Ayo buka pakaianmu, biar kami dapat melihat pemandangan indah di sana," ucap salah satu mereka, tatapannya menatap ke arah tubuh Ayu.
Ayu menoleh sekilas pada kelima preman itu, seketika dirinya sudah tak tahan lagi, ia ingin secepatnya segera mengakhiri semua ini, apalagi dirinya tak sengaja menangkap bentuk tubuh si preman.
'Kalian semua pasti sangat senang dan menikmati saat bermain-main bersamaku.'
"Hm ... aku maunya Kakak-Kakak yang membuka pakaianku," pinta Ayu manja, matanya menatap lantai kotor di sana.
__ADS_1
"Baiklah, cantik. Dengan senang hati."
Salah satu dari mereka menghampiri Ayu dengan air liur yang sudah meleleh. Tangan sang preman terjulur ke depan namun dirinya belum sempat menyentuh Ayu, karena tangan Ayu lebih cepat menangkap tangan si preman itu, kemudian memutar pengelangan tangan si preman ke belakang tubuh preman tersebut.
"Auuu! Sakit sakit sakit," ringis si preman.
"Aku akan membuat kalian semua puas, apa enak?" tanya Ayu tersenyum smirk.
"Kurang ajar! Kau serang dia!" titah salah satu dari mereka.
Salah satu dari mereka maju dan langsung menedang ke arah Ayu, namun secepat kilat Ayu menghindar membiarkan preman yang masih di dalam genggamannya merasakan tendangan dari temannya. Hingga keduanya tubang karena tubuh mereka tak seimbang.
Para preman yang tersisa, menyerang secara bersamaan. Mereka sekuat tenaga melayangkan pukulan dan tendangan, tapi Ayu dapat menahan semuanya dan bahkan mengambil kesempatan untuk menyerang balik ke arah mereka.
Parah preman itu tubang ke lantai, darah segar sudah keluar di sudut bibir mereka, namun mereka tidak menyerah dan bangkit kembali.
"Semuanya, ayo serang lagi!" teriak salah satu dari mereka penuh emosi.
'Masih kuat juga rupanya. Heh, jangan salahkan aku jika aku menghantam masa depan kalian. Eh, salah. Seharusnya pria tua seperti kalian selamanya mengingat kejadian ini.'
Mereka semua menyerang Ayu dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke arahnya. Ayu dengan gesit menghindar dan bahkan menyerang balik seperti sebelumnya. Ayu sudah merasa geram dan ingin secepatnya menyelesaikan perkelahian itu.
'Aku harus cepat, mereka pasti sedang menungguku di rumah sakit. Mana makanannya belum di beli lagi.'
"Banyak bacot!!!" teriak Ayu lantang dan segera menedang ke titik vital dari semuanya.
Bug ...
Bug ...
Bug ...
Bug ...
Bug ...
Tendangan dari Ayu membuat semuanya tubang menahan sakit di area sensitif mereka.
Kelima preman itu sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan balik. Ayu sedikit mengertak, ingin segera memukuli mereka sebagai hadiah akhir dari perkelahian itu, namun kelima preman itu bersujud memohon belas kasihan darinya.
"Ampun ... Ampun ... tolong ampuni kami," ucap salah satu preman gugup, juga menahan rasa sakit di area miliknya.
"Katakan! Siapa yang menyuruh kalian."
__ADS_1
Bersambung❣