
Jadi saat pertama kali bertemu di perusahaan untuk menandatangani kontrak kerja dia sengaja membuat diriku kesal?
"Melihat kamu terus mengoceh tentang saya membuat saya ingin membungkam mulutmu dengan bibir saya. Makanya di Apartemen waktu itu saya sengaja menciummu." Azka tersenyum kecil mengingat tingkah lucu Amel.
Mengingat waktu di Apartemennya saat dia sakit perut membuatku malu. Waktu itu kami jatuh dua kali dan lagi-lagi aku yang menindih tubuhnya. Hingga tidak sengaja memegang sesuatu di bagian tubuh bawahnya. Duh .. malunya. Dia kalau tersenyum gitu kelihatan aura tampannya.
"Saya senang saat kamu membuatkan kopi untuk saya. Kopi yang kamu buat sangatlah enak. Saya cemburu saat kamu menyebut pria lain di dalam tidur."
"Makanya Bapak menanyakan soal Raka padaku waktu itu, kan?"
"Ya. Maafkan saya. Saya juga cemburu saat kamu memesan ojek online,"terang Azka. Baru kali ini dia mengakuinya, perasaannya perlahan-lahan mencair karena ada Amel di sampingnya.
"Hah?!"
Jadi apa yang dikatakan Ayu waktu itu, benar? Dia cemburu. Haha. batin Amel tertawa.
"Maafkan saya, karena tidak menemukan kalian dengan cepat. Harusnya saat kamu bekerja di perusahaan saya, saya sudah mencaritahu tentang kamu. Tapi saya tidak mau kalau kamu merasa tidak nyaman jika saya mengetahui semua privasimu jadi saya menundanya dan pada akhirnya kejadian ini terjadi. Maafkan saya."
Dia sampai merasa bersalah seperti ini. Harusnya aku sudah jujur dari awal. Aku juga bersalah di sini.
"Saya juga bersalah Pak. Dan saya minta maaf kalau saya menutupi semua ini dari Bapak."
"Ya sudahlah. Semua sudah seperti ini. Saya tidak akan membiarkan kalian jauh dari saya lagi."
"L--Lalu, bagaimana dengan tunangan Bapak?" Amel tidak sengaja mendengar para karyawan membicarakan tentang Kirana.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Kirana bukanlah tunangan saya. Dia hanyalah pilihan pria tua itu. Di acara ulang tahun perusahaan semalam saya sudah tegaskan bahwa wanita yang saya pilih itu kamu bukan dia, jadi semuanya sudah jelas sekarang."
Iya juga semalam dia sudah mengakuinya, tapi aku malah ingin menjauhinya karena dia adalah kakak dari Riski. Apa sebaiknya aku tanyakan saja,ya?
Beberapa menit telah berlalu.
"Apa Riski adalah adik Bapak? M--Maaf Pak, jika saya lancang bertanya." Amel ragu-ragu bertanya takutnya Azka tidak menanggapi dan malah marah padanya.
Kenapa dia selalu bertanya begini, kek orang ketakutan saja. Kalau lagi marah barulah dia bicara santai padaku. Aku harus merubah cara bicaranya.
"Tidak apa-apa. Sebelum saya menjawab pertanyaanmu. Tolong ubah gaya bicaramu itu. Saya belum setua yang kamu bayangkan. Dan mulai sekarang kalau kita sedang di luar kita bicara santai saja."
"B--Baiklah Pak. Eh, maksudku baiklah." Amel masih gugup padahal jika dia sedang kesal pada Azka ucapan yang keluar dari mulutnya tidak sekaku ini.
"Riski?Mantan ... mu?"tanya Azka.
"Bapak eh maksudku, kamu tahu dari mana?"
"Aku tidak sengaja melihat dan bahkan mendengar kamu berbicara pada Riski waktu di acara ulang tahun semalam,"ungkap Azka.
"J--Jadi Ba--kamu mendengar semuanya?" Amel masih belum terbiasa berbicara santai pada Azka.
"Iya. Sangat jelas. Pertunjukkan yang sangat bagus untuk ditonton untuk saya. Kamu sangat keren." Azka mengingat kejadian semalam saat Amel beradu mulut.
__ADS_1
Jadi dia benar-benar mendengar semuanya? Astaga! Pantas saja waktu itu dia menolongku. Dasar Bongkahan Es!
"Ceritanya panjang. Kami bertiga kuliah di kampus yang sama, aku mengenal wanita itu dan kemudian mengenal Riski. Aku dan wanita itu sudah sahabatan sebelum Riski hadir dalam hidupku. Lalu setelah tiga tahun pacaran dengannya, hubungan kamu putus di tengah jalan." Amel mengatur nafasnya sejenak dan melanjutkan ceritanya lagi.
"Ternyata mereka sudah menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuanku. Dan pada suatu hari aku mengikuti mereka sampai ke kamar Hotel dan tentunya kamu sudah pasti tahu 'kan apa yang pria dan wanita dewasa lakukan di dalam kamar?"
"Dan pada akhirnya kamu mencari Club dan memutuskan untuk mencari seorang pria bayaran?"tanya Azka menyempurnakan apa yang diceritakan Amel padanya.
"Hehe. Iya, sedih banget, kan?" Amel tersenyum hambar mengingat kejadian waktu itu.
"Menurut pribadiku kamu sangatlah beruntung karena orang yang tidur dengan kamu adalah aku,"ucap Azka membanggakan dirinya.
"Ya ya ya sangat-sangat berun--"
Baru saja Amel ingin mengejek Azka namun pembicaraannya terhenti mendengar deringan pada benda pipih miliknya.
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
"Aku angkat teleponnya dulu, ya?" Amel meminta izin pada Azka.
"Iya. Silahkan!"
Saat melihat layar ponselnya Amel cukup terkejut karena yang meneleponnya itu dari nomor tidak dikenal. Amel segera menjawab telepon.
"Halo siapa, ya?"tanya Amel.
Siapakah dia? Apa dia orang yang aku kenal?
"Siapa kamu? Di mana anakku? Jangan macam-macam kamu!"tegas Amel.
"Kalau tidak mau melihat anak kesayanganmu mati. Maka turutilah apa yang aku katakan."
"Mama, olong Bala Ma!" Terdengar suara seorang bocah kecil.
"Kam ... Bara! Sayang! Halo,halo!"
Orang itu sudah memutuskan sambungan teleponnya, membuat Amel begitu frustasi karena mendengar suara Bara.
"Kamu tenanglah! Siapa yang menelepon? Apa yang dia katakan padamu?"tanya Azka.
"Orang yang menculik Bara. D--Dia ingin aku menjauhimu,"jelas Amel.
"Percayalah padaku dia tidak akan menyakiti putra kita. Aku yang akan mengurus dia. Berikan ponselmu padaku!"pinta Azka.
Amel memberikan ponselnya pada Azka, lalu dengan gesit Azka mengirimkan nomor itu pada Arya. Sekalian meminjam ponsel milik Amel untuk segera menghubungi Arya.
"Halo Arya, segera selidiki nomor yang sudah aku kirimkan padamu."
"Baik. Tidak sulit mencari keberadaan orang ini. Aku sudah mengecek CCTV di depan gang, yang menculik anakmu adalah seorang wanita. Sayangnya wanita itu bukan pencuri yang handal sehingga tidak menyadari CCTV telah merekamnya dan wajahnya pun kelihatan sangat jelas. Nanti aku kirimkan video rekamannya padamu."
__ADS_1
"Baiklah. Aku tunggu kabar baiknya. Jika sudah dapat lokasi dari nomor itu. Segera hubungi aku!"
"Oke." Azka segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa yang pak Arya katakan?"tanya Amel harap-harap cemas.
"Percayalah! Anak kita pasti baik-baik saja!"
Iya,apa yang Azka katakan itu benar, aku harus tetap tenang.
Amel terdiam sejenak mengingat suara yang meneleponnya tadi. Suaranya mirip dengan seseorang yang dia kenal, walaupun seseorang itu telah merubah suaranya tetapi Amel dapat mendengarnya dengan jelas.
Amelku sayang? Kata-kata itu persis yang diucapkan Yuni padaku tiga tahun lalu. Iya, aku yakin sekali pasti dia. Apalagi aku sudah menyinggungnya semalam. Jika memang dia yang menculik Bara, aku tidak akan tinggal diam lagi.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?"tanya Azka menatap Amel.
"Aku cukup mengenal suara yang meneleponku tadi,"terang Amel.
"Lalu siapa yang kamu curigai saat ini?"tanya Azka.
"Yuni."
"Yuni? Pacar Riski?"tanya Azka.
"Iya."
"Jika dia pelakunya itu artinya dia sudah bosan hidup." Ucapan Azka terdengar menyeramkan.
"Tapi itu hanyalah tebakanku saja. Jangan terlalu dianggap serius!" Amel merasa takut dengan apa yang Azka ucapkan. Jangan sampai apa yang dia fikirkan itu tidak benar dan Yuni malah menjadi korban dari Azka.
Ting!
Pesan masuk diponsel Azka. Azka membuka dan melihat isi dari rekaman CCTV yang di kirim Arya padanya.
"Coba kamu lihat wanita yang ada di video ini!"ucap Azka. Amel mendekat padanya dan menonton CCTV itu.
"Berhenti!"ucap Amel. Azka menjeda video itu. Amel meneliti gambar yang ada di ponsel Azka.
"Apa kamu mengenalinya?"tanya Azka.
D--Dia benar-benar Yuni. Aku tidak salah lagi, dia benar-benar Yuni.
"Walau dalam CCTV tampak sedikit kabur, namun aku dapat mengenali wanita itu dengan jelas,"ungkap Amel.
"Jadi dia Yuni?"
"Iya,"ucap Amel yakin.
Bersambung❣
__ADS_1