
Salam dari Indonesia bagian timur.
Amasing kali, Bacan, Hal-Sel, Maluku utara.
Selamat berbuka puasa, bagi yang menjalankan😉😍
...................❤...................
Azka memang terlihat lemah, tapi bukan berarti ia tak kuat. Melihat ekspresi yang ditunjukan Arya padanya membuat Azka sedikit tidak nyaman.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"tanya Azka.
"Apa kau baik-baik saja?" Bukan menjawab pertanyaan Arya malah balik bertanya.
"Menurutmu?"tanya Azka acuh tak acuh.
"Ya--"
"Tidak usah banyak basa-basi lagi, kau pasti ke sini ingin menemuiku. Katakan! Ada masalah apa sampai kau kemari?"tanya Azka yang sudah menebak kedatangan Arya.
"Kau seperti peramal saja,"ucap Darren tersenyum.
"Ini bukan waktunya becanda,"tegas Azka datar.
"Iya-Iya, kalian berdua 'kan sama-sama datar jadi teruskan saja arah pembicaraan kalian. Silahkan!" Darren sedikit mengejek para sahabatnya, ia kemudian berbalik dan segera duduk di sofa yang ada di kamar milik Azka.
"Ya. Orang suruhan kita mengatakan bahwa Yuni yang melakukan itu sendiri,"ungkap Arya. Amel yang berada di sisi ranjang sebelahnya hanya mencuri dengar saja.
Mana mungkin hanya Yuni yang melakukan itu? Bukankah Bara mengatakan kalau ada wanita lain yang bersama Yuni? Aku diam saja biarkan mereka yang mengurusnya, aku yakin dan percaya kalau Azka dapat menyelesaikan masalah ini. Batin Amel.
"Apa kamu percaya?"tanya Azka melukiskan senyum sinis di bibirnya.
"Aku masih ragu,"ungkap Arya. Ia juga tidak percaya kalau Yuni melakukan semua itu sendiri.
"Biarkan saja dulu. Masih belum ada bukti untuk membuktikan bahwa ada dalang di balik kejadian ini."
Azka sengaja tidak memberitahukan perihal wanita yang diceritakan oleh Bara. Dia juga harus mencari bukti dulu barulah mengambil tindakkan selanjutnya.
"Baik."
"Kita beri pelajaran pada orang-orang yang sudah tangkap dulu,"ucap Azka kejam.
"Apa kita akan melakukan dengan cara seperti biasanya agar tidak meninggalkan jejak?"tanya Arya. Cara lama yang mereka pakai adalah cara membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
"Karena kondisi hatiku sedikit membaik, maka kalian boleh melaporkan mereka ke kantor polisi saja, tentunya kamu sudah pasti tahu apa yang akan kau lakukan selanjutnya agar mereka tidak membuka mulut, kan?"tanya Azka menyeringai.
Untuk saat ini Azka tidak mau mengotori kejadian membahagiakan yang baru saja di alami olehnya dengan darah para sekelompok berandalan itu. Yang terpenting untuk Azka saat ini adalah keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Ya. Lalu bagaimana dengan Yuni? Biar bagaimana pun dia adalah pacar dari adik tirimu,"ucap Arya.
Apa yang dikatakan pak Arya itu benar adanya. Walau Yuni pernah mengkhianatiku di masa lalu dan bahkan menculik Bara, tapi dia juga manusia biasa, bisa saja dia khilaf. Namun, apa yang akan Azka lakukan padanya? Apa dia akan melakukan hal yang kejam lagi? Batin Amel.
"Putuskan kerja sama kita pada perusahaan ayahnya. Tuntut dia karena menculik anak di bawah umur,"tegas Azka.
Itu jauh lebih baik dari pada membunuh orang. Batin Amel sedikit merasa legah.
"Baik."
Semejak ada Amel, hati Azka sedikit demi sedikit melembut. Biasanya dia tidak segan-segan melenyapkan perusahaan yang berani menghinanya dalam semalam. Bahkan jejaknya tidak diketahui oleh polisi. Batin Arya.
Darren yang duduk di sofa sudah memasang telinga pendengarnya dengan tajam. Dia bahkan dapat mendengar pembicaraan Azka dan Arya barusan. Darren bersyukur bahwa ada saatnya Azka berubah menjadi sedikit lebih baik. Kini giliran Darren yang menghampiri Azka pasalnya dia sudah tidak tahan untuk mengomelinya.
"Hei,aku heran sama kamu kenapa kamu menahannya?"tanya Darren melipat tangan di dadanya.
"Menahan apa?"tanya Azka datar.
"Kamu tidak bisa ke rumah sakit kenapa kau mencoba datang kesana?"ungkap Darren.
"Kamu ini seperti seekor burung beo saja."
"Aku bukan burung beo. Kau tidak sadar kak ipar mengkahwatirkanmu,"ucap Darren serius.
Benarkah? Amel mengkawatirkanku?, Ah senangnya. Batin Azka. Dia menyungingkan senyum indah di wajahnya.
Azka segera merubah ekspresi wajahnya. "Ehem! Se--sebaiknya kamu diam,"ucap Azka.
"Diam-diam, lain kali jangan membuat kakak iparku khawatir lagi!" Darren masih saja mengomel.
"Iya. Mirip emak-emak saja,"ucap Azka.
"Huh!"
Arya dan Darren segera pamit keluar untuk membantu Sonya dan Ayu menata makanan di atas meja besar. Sebelum membantu Arya segera memerintah orang suruhannya untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Azka, setelah itu barulah dia ikut membantu yang lainnya di dapur.
Bukan mereka namanya kalau tidak saling beradu mulut, mereka tampak begitu akrab, menimbulkan kenyamanan tersendiri dalam hati semuanya. Sesudah menyiapkan dan menata semua makanan di atas meja, barulah Ayu memanggil Amel,Azka dan anak-anak yang masih berada di kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Tunggu sebentar!"
Cek-lek.
"Eh, Ayu. Ada apa?"tanya Amel yang melihat Ayu berdiri di depan pintu kamar.
Ayu tersenyum. "Kak, ayo turun kita makan malam bersama."
__ADS_1
"Iya, kamu duluan saja,"pinta Amel membalas senyuman Ayu.
"Baiklah, Kak."
Semua sudah hadir di meja makan, suasana kali ini sangat berbeda dari biasanya. Suasana yang awalnya suram dan sepi kini menjadi ramai. Mereka bagaikan sekumpulan saudara yang sudah memilik keluarga masing-masing dan sedang reunian merayakan hari keluarga bersama.
Lampu yang begitu terang dalam ruang makan tidak bisa menandinggi cahaya yang ada di hati Azka. Suasana ramai seperti ini mengingatkannya pada masa-masa saat dia masih kecil, namun semuanya sirna begitu saja sebab sebuah kecelakaan yang menimpah keluarga Azka hingga membuat ibu tercintanya meninggal dunia.
Amel juga sangat,sangat merasa bersyukur atas kelimpahan rahmat yang diberikan Tuhan untuknya pada malam ini. Bara telah di temukan dan tentunya juga sangat senang bahwa Azka sangat menyanyangi anak-anak yang lahir dari rahimnya.
Awalnya Amel berfikir dia dan Azka tidak mungkin dapat hidup bersama. Azka yang sejak lahir sudah menjadi sendok emas mana mungkin mau hidup bersamanya yang hidupnya serba berkecukupan. Namun, melihat ketulusan di mana Azka membuat Amel yakin bahwa Azka adalah orang yang tepat untuknya.
Kejam, dingin namun memiliki hati yang hangat itulah sosok Azka di mata Amel. Walau Amel sedikit kecewa kalau Azka belum membuka isi hati seutuhnya padanya, tapi Amel akan tetap menunggu agar hati Azka terbuka dan berharap bawah Azka akan mengatakan kejadian yang membuatnya trauma sampai sekarang.
Di meja makan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu juga celotehan anak kecil yang menggema seisi ruang makan.
Sesudah makan barulah mereka berpisah, para pria membawa anak-anak ke ruang tamu sedang para wanita membersihkan meja makan serta mencuci piring agar cepat selesai.
Di dapur.
"Bagaimana?"tanya Amel pada Sonya dan Ayu. Pertanyaan Amel bagaikan teka-teki bagi keduanya.
"Bagaimana apanya, Kak?"tanya Ayu dan Sonya serempak.
"Yah, menurut kalian apa?"tanya Amel lagi.
Ayu dan Sonya saling pandang. "Tidak tahu, Kak,"ucap keduanya bersamaan.
"Itu, bagaimana hubungan kalian dengan pak Arya dan juga pak Dokter?"tanya Amel penuh penekanan.
Ayu tertawa. "Kirain apaan, Kak."
"Kalian harus terbuka sama Kakak, ya?"pinta Amel tersenyum.
"Iya-iya. Aku dan pak Arya ya lumayan sudah sedikit dekat. Tapi, sifat menyebalkannya masih tetap sama,"ungkap Ayu.
"Apa Kak Ayu pernah melihat kak Arya tersenyum?"tanya Sonya antusias, ia senang kalau Ayu dan kakaknya menjadi semakin dekat.
"Iya, dia juga bahkan tertawa,"terang Ayu. Amel hanya diam saja dia ingin mendengar pembicaraan Ayu dan Sonya.
"Wah ... Kak Ayu hebat banget! Kak Arya tipe orang yang jarang ketawa, Kak. Kalau Kakak bisa membuatnya tersenyum dan bahkan sampai tertawa, itu tandanya kak Ayu sudah masuk ke dalam hatinya,"terang Ayu dengan girang.
"Maksudnya bagaimna?"tanya Ayu yang belum paham dengan apa yang diucapkan oleh Sonya.
Jika apa yang dikatakan Sonya benar, itu akan menjadi awal yang baik untuk Ayu dan pak Arya. Pak Arya tipe orang yang setia dan pak Dokter pun juga sama namun sifat keduanya berbeda, tapi itu tidak masalah. Baik pak Arya maupun pak Dokter memang pantas mendapatkan hati dari kedua adikku ini. Batin Amel menatap Ayu dan Sonya secara bergantian. Bagi Amel Ayu dan Sonya bagaikan saudari kandungnya.
Bersambung❣
__ADS_1