Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 120


__ADS_3

Hari ini tidak ada sesuatu yang istimewa untuk dikerjakan oleh Amel, Amel hanya menikmati waktu senggangnya bersama anak-anak di rumah saja, semua itu atas perintah Azka.


Semalam saat Azka memasuki kamar besarnya, ia sempat mengirim pesan pada Amel bahwa esok hari, dirinya akan pergi ke rumah besar milik keluarga Abraham. Ada sesuatu hal mendesak yang ingin disampaikan oleh ayahnya padanya.


Azka ingin sekali menolak ajakan ayahnya, namun saat Daniel menyebut tentang cucu-cucunya membuat Azka tersentak kaget dan mau tidak mau harus pergi ke rumah besar itu.


Tanpa memberitahu Arya, Azka terpaksa pergi sendiri ke rumah tempat tinggal sang ayah. Sekarang baru pukul 08:30 pagi, Azka sudah bersiap untuk pergi ke sana karena ia harus meminta penjelasan pada ayahnya.


Daniel sudah mengirim pesan pada Azka untuk menemuinya di rumah, namun sudah beberapa kali Azka menolak permintaannya. Hingga membuat Daniel harus membuka kartu As miliknya dan alhasil Azka mau menemuinya juga.


Sebelum pergi, tidak lupa Azka mengirim pesan singkat pada Arya agar Arya tidak mencarinya.


[ Aku ke rumah pria tua dulu. Kamu baik-baiklah di rumah. ] Send to Arya.


Arya yang sudah selesai bersiap dengan baju casualnya; pun mengambil ponselnya di dalam saku celana, guna melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Setelah melihat pesan singkat dari Azka, senyum Arya terkembang sempurna.


"Baguslah. Dengan begini tidak ada kendala apapun saat aku mengajak Ayu jalan-jalan," lirihnya senang.


Arya yang sudah tidak sabar langsung bergegas turun ke bawah dan berjalan ke arah garasi Apartemen, namun ketika sampai di sana, mobilnya tidak berada di garasi.


Menepuk jidat. "Arya, kenapa kau ceroboh sekali," ungkapnya menyalahkan dirinya sendiri.


Ia mengingat bahwa semalam dirinya pulang memakai mobil milik Azka, karena sedang gerimis. Arya takut hujan deras akan turun, jadinya setelah melakukan sedikit adegan panas bersama Ayu ia memilih menjadi supir untuk Azka saja agar tidak menjadi hal yang tidak diinginkan.


Dengan langkah gontai, terpaksa Arya segera menghubunggi kaki tangannya untuk menjemputnya. Ia memberikan sedikit tekanan agar bawahannya itu menjemputnya dengan cepat.


Di rumah milik Arya.


Ayu baru bangun dari tidurnya, entah kenapa semalaman ia tidak bisa tidur, ia masih tetap terjaga, dan pada pukul 03:00 malam barulah matanya terpejam sempurna.


Hoam!


Suara ngantuknya memenuhi ruangan kamar milik Sonya, ia mengambil posisi duduk dan merenggangkan semua otot yang terasa kaku.


"Jam berapa ini?" tanyanya, saat melihat sinar dari sang raja siang, yang sudah memasuki area kamar melalui ventilasi jendela.


Melihat jam weker di atas nakas. "Astaga! Dah jam segini lagi." Ia bangkit dari duduknya.


Ayu buru-buru ke kamar mandi guna membersihkan mulut dengan sikat dan pasta gigi agar sisa-sisa bau amis dalam mulutnya itu sirna. Tidak lupa membasuh wajahnya dengan air dingin agar terlihat lebih segar.


Ayu melangkah keluar dari kamar menuju kamar yang di tempati oleh Amel dan anam-anaknya.


Tok! Tok! Tok!


"Kak Amel!" ucapnya. Namun tidak ada sahutan dari dalam.


"Apa di depan kali, ya?" lirih Ayu.


Ayu ke ruang keluarga untuk mengecek Amel di sana. Dan benar saja ternyata mereka berlima sedang bermain di sana.

__ADS_1


Ayu mendekati Amel. "Kak Amel. Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Ayu.


"Apa kamu yakin kamu akan bangun setelah Kakak bangunkan?" Amel malah balik memberi pertanyaan pada Ayu.


"Kenapa tidak, Kak?" ucap Ayu tak mengerti maksud terselubung dari ucapan Amel.


"Kakak fikir kamu tidak bisa tidur, karena mengingat kejadianmu dan asisten pribadi calon suamiku," jelas Amel terkekeh pelan. Anak-anak tetap fokus bermain dan tidak mencuri dengar pembicaraan kedua orang dewasa itu.


"Ehem, ehem. Kakak apa-apaan sih!" Ayu salah tingkah bahkan sekelabat ingatan kejadian itu kembali terlintas begitu saja di otaknya, hingga berhasil membuat pipinya kembali memerah.


"Hehe. Sana sarapan dulu!" titah Amel, terkekeh kecil melihat wajah Ayu.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya Ayu santai demi menutupi perasaannya.


"Sudah. Tadi, kami sudah sarapan duluan." Amel tersenyum.


"Oh, baiklah. Eh, Hm, Hari ini aku ijin jalan-jalan sa--" Ayu belum selesai mengucapkan kata-katanya.


Amel segera memotong pembicaraan Ayu. "Iya pergi saja. Semoga langgeng ya!" ucap Amel tersenyum. Ia sudah mengetahui apa yang akan Ayu ucapkan. Ayu hilang kata dan hanya tersenyum canggung ke arah Amel.


"Ciee ... yang udah e,e." ucap Amel dengan nada menggoda. Amel memperagakan tangannya membentuk dua orang yang sedang berciuman.


Pipi Ayu bertambah merah. "Apaan sih Kak. Aku ke dapur sarapan dulu, ya." Ia ingin secepatnya berlalu dari hadapan Amel.


"Iya cepat sana! Jngan sampai membuat pangeran Arya menunggumu lama." Kini Amel terkikik geli, ia hanya mengembalikan ucapan Ayu padanya tempo hari.


"Ya ampun Kakak! Masih ingat saja," pekik Ayu.


"Iya deh iya. Aku pergi nih." Rasanya Ayu sudah tidak ingin berlama-lama lagi di depan Amel.


"Baiklah. Selamat menikmati sarapanmu. Hati-hati! Nanti keselek," goda Amel lagi.


Kini Ayu tidak mengatakan apapu lagi dan segera berjalan memunggungi Amel. Amel sangat senang menatap punggung Ayu yang sedang berjalan menjauhinya.


'Apa ini rasanya di goda? Aduh, aku makin tambah malu. Tapi, senang juga sih.'


Ayu hanya mesem-mesem sendiri di goda oleh Amel, kini perkataannya yang dulu kembali pada dirinya sendiri, mungkin ini karma, namun bukan karma buruk.


Ayu menghampiri meja makan dan sarapan di sana, setelah sarapan barulah ia ke kamar untuk mandi dan bersiap.


Sehabis mandi, ia membuka lemari baju, lalu mengambil pakaian dalam, celana jins biru dongker dan baju kaos warna putih polos miliknya. Setelah selesai memakai pakaian, barulah ia memakai sepatu bertali yang warnanya sama dengan bajunya.


Lalu berjalan ke arah meja rias dan merapikan rambut sebahunya. Ayu membiarkan rambut sebahunya tergerai indah begitu saja.


Setelah habis bersiap, ia pun keluar dari kamar dan menghampiri Amel yang masih setia berada di ruang keluarga. Kini Amel dan anak-anak sedang menonton flim kartun di sana.


"Kakak!" panggil Ayu.


Amel melihat ke arah sumber suara. "Eh, udah mau pergi? Apa pangeranmu sudah datang?" tanya Amel.

__ADS_1


"Om belum datang, Kak. Aku ke sini hanya mau pamit menunggu Om di luar rumah saja, tidak apa-apa, kan?" tanya Ayu.


"Iya. Tidak apa-apa," ucap Amel tersenyum.


"Oke Kak. Aku ke depan dulu, ya!" pamit Ayu.


"Iya."


Setelah pamit barulah Ayu keluar dari rumah milik Arya dan menunggu Arya di teras rumah. Diliriknya jam di ponselnya, sudah pukul 09:00 pagi.


"Masih setengah jam lagi rupanya. Apa aku yang terlalu kecepatan, ya? Tidak apa-apa deh, santai aja dulu," lirihnya.


Mata Ayu berkeliling menatap jalanan, lalu setelah matanya dialihkan ke arah garasi dilihatnya mobil seseorang yang ia kenali ada di sana.


"Loh, itu bukannya mobil punya Om, ya? Kok bisa masih ada di sini?" tanyanya heran.


"Oh iya lupa. Semalam kan Om bilangnya, ia mengemudikan mobilnya dengan mengebut, agar cepat sampai di Apartemen. Apa dia menjadi supir untuk kak Azka, tapi kenapa? Bukankah mereka memiliki mobil masing-masing?" lirih Ayu merasa ada sesuatu yang mencurigakan.


Ayu pun segera menghidupkan ponsel yang ada di tangannya, lalu membuka applikasi yang biasa ia gunakan untuk mengirim pesan. Di kliknya nama 'Om Rese' di benda pipih miliknya, dan segera mengetik sesuatu di sana.


[ Om, jalan-jalan hari ini jadi, tidak? ]


Arya frustasi menunggu kedatangan bawahannya itu, ini sudah lewat beberapa menit setelah ia selesai menelepon, namun bawahannya belum datang-datang juga, hingga membuat dirinya gusar.


"Ini sudah pukul 09:00. Kenapa dia lama sekali, sih!" gerutunya sambil mondar mandir tak jelas di depan Apartemen Azka.


Ting!


Arya segera merongoh saku celananya dan mengambil ponselnya di sana. Setelah melihat siapa yang mengirim pesan, senyumnya terkembang begitu saja.


[ Jadi dong! Pokoknya kamu tunggu saja di situ. Aku akan menjemputmu nanti. ] balas Arya.


[ Baiklah Om, aku udah siap juga nih. Om di mana sih? Mobil Om juga ada di sini semalam. Kenapa kalian tidak membawa mobil sendiri-sendiri saja agar tidak ribet? ] tanya Ayu penasaran.


[ Oke. Pokoknya kamu tunggu aku saja di situ. Jawaban yang kamu minta, aku tidak dapat menjelaskannya. ] balas Arya.


[ Kenapa? Apa seserius itu? ]


[ Apa Om menyembunyikan sesuatu dariku? ] pesan beruntun dari Ayu.


[ Sudahlah, jangan terlalu mempedulikan itu, oke? ] timpal Arya.


[ Baiklah Om, sampai ketemu di sini. ] balas Ayu mengalah.


[ Oke ]


Ayu benar-benar semakin penasaran namun dia tidak memaksa Arya untuk berkata jujur padanya. Sedang Arya merasa tidak enak menyembunyikan sesuatu pada sang kekasih, namun apalah dayanya. Ini bukan masalah dirinya, tapi menyangkut dengan masalah Azka, jadi dia tidak bisa membocorkannya pada siapa pun.


"Maafkan Aku!" lirih Arya. Membuang nafas kasarnya.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2