
Azka dan Arya sampai ke Apartemen dengan selamat. Saat di perjalanan tadi mereka hanya diam saja, keduanya tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Setelah masuk ke dalam Apartemen, Arya pergi ke kamarnya tanpa pamit pada Azka. Azka berfikir Arya masih kesal padanya, jadinya ia tidak terlalu memusingkan kecuekkan Arya.
Namun apa yang Azka fikirkan itu salah, ternyata Arya ingin secepatnya dan buru-buru meninggalkan dirinya karena ada hal mendesak yang harus Arya sampaikan pada Ayu, dan itu semua telah ia fikirkan mateng-mateng waktu di dalam mobil.
Sesampainya di kamar, Arya membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk, lalu merongoh ponselnya dan segera menelepon Ayu.
Ayu mengunci dirinya di kamar milik Sonya. Dadanya masih bergemuruh hebat dikala mengingat ciuman panas mereka barusan. Sesekali ia menepuk-nepuk pipinya berulang kali.
Posisinya sekarang sedang berbaring di atas ranjang namun gerakannya kali ini seperti cacing yang sedang kepanasan, balik sana, balik sini tentunya dengan kedua tangan yang masih berada di pipi.
"Sadar Ayu, sadar. Om sudah pergi kenapa jantungmu masih berdetak kencang begini?" ucapnya pada diri sendiri. Pipinya bersemu merah bak buah delima.
"Aku jadi malu pada kak Amel, padahal diriku sudah berusaha menyankinkan diri ini agar tidak malu. Namun, apalah dayaku, aku tak kuasa menahan malu apalagi secara terang-terangan aku menikmati ciuman itu dan itu juga dilihat oleh kak Amel," lirihnya pelan. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt
Ponsel Ayu tiba-tiba berdering, ia pun segera mengambil dan melihat nama yang terterah pada benda pipih miliknya.
"Om!" lirih Ayu pelan. "Kenapa Om meneleponku, ya? Apa mereka sudah sampai? Cepat sekali," ucapnya lagi. Ia pun segera menggangkat telepon dari sang kekasih.
"Halo Om, ada apa? Apa sudah sampai ke Apartemen?" tanya Ayu ketika sambungan sudah berhasil disambungkan.
"Besok apa kamu ada waktu?" tanya Arya tanpa menjawab pertanyaan Ayu.
"Ada, Om. Kenapa?" tanya Ayu lagi. Ia saat ini berusaha menahan kegugupannya.
"Besok aku mau mengajakmu jalan-jalan berdua. Sekalian ingin mendiskusikan nama panggilan sayang buat kita nanti," jelas Arya mantap. Rencananya sudah ia susun rapi dalam memorinya.
"B--Baiklah Om. Oh iya, setidaknya Om jawab dulu pertanyaanku tadi." Ayu sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Arya tidak tahu kalau dia sangat gugup mendengar penuturan Arya barusan.
"M--Maaf. Aku dan Azka sudah sampai ke Apartemen dengan selamat," terang Arya.
"Kenapa sampainya cepat sekali?" tanya Ayu lagi.
"Aku ngebut," jawab Arya canggung.
"Ya ampun Om. Kalau Om dan kak Azka, sampai kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Ayu panik. Arya yang mendengar itu pun tentu saja senang, karena wanitanya sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak akan. Bukankah sekarang kami sudah sampai dengan selamat?" tanya Arya. Arya sengaja melontarkan kata-kata itu, nyatanya ia sudah tahu maksud dari ucapan Ayu.
"Huh! Orang perhatian juga malah tak peka. Belum aku jitak kepala Om biar Om peka sedikit," sungut Ayu mengebu-gebu. Rasa kegugupannya kini berangsur-angsur menghilang.
"Hahaha. Terima kasih." Tawa Arya pecah begitu saja, memang Ayulah yang akhir-akhir ini sering membuat dirinya mejadi seperti sekarang. Kadang marah, kadang senang, semua itu karena sang pujaan hati.
__ADS_1
"Iya Om, sama-sama," ucap Ayu.
"Jangan lupa besok, ya!" Arya kembali mengingatkan.
"Iya Om. Pasti."
"Oke. Bye! Sampai ketemu pukul 9 pagi."
"Siaap Om. Bye-bye juga Om." Sambungan telepon keduanya pun terputus.
Keesokan harinya.
Setelah pamit pada sang nenek, Sonya dan Darren berangkat pagi-pagi sekali untuk kembali ke rumah Arya.
Semalam waktu Sonya menyuruh Darren masuk ke kamar Arya, neneknya sudah melihat apa yang mereka berdua lakukan di depan pintu kamar milik Sonya.
Nenek juga kaget mendengar teriakan cucu perempuannya itu, namun pada saat ia ingin menemui cucunya, malah langkah kakinya terhenti saat melihat seorang pria tampan mengetuk pintu kamar cucunya dengan raut wajah yang begitu panik.
Nenek menunda niatnya dan terus memerhatikan kedua orang yang sedang bercengkrama di depan pintu. Sesekali nenek menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum melihat tingkah keduanya.
Setelah Darren di usir oleh Sonya barulah nenek menghampiri pintu kamar cucunya. Nenek mengetuk pintu pelan agar Darren tidak keluar dari kamar sebelah.
Sonya yang masih cengar-cengir sendiri di kagetkan dengan ketukan pintu dari kamarnya. Ia pun terpaksa balik haluan dan membuka pintu kamarnya lagi.
Ceklek!
"Kenapa? Apa kau sudah tidak mengenali Nenek lagi?" sungut nenek melipat tangan di dadanya.
"M--Maaf Nek. Aku fikir kak Darren tadi. Hehe," jelas Sonya canggung.
"Huh!"
"Ayo masuk Nek!" pinta Sonya kemudian.
Tanpa menjawab nenek langsung masuk begitu saja ke dalam kamar. Sonya menutup pintu kamarnya dan mengekori neneknya dari belakang. Neneknya memilih duduk di sofa yang ada di kamar itu, lalu memangku kakinya menatap ke arah cucunya.
"K--Kenapa Nenek menatapku seperti itu?" Sonya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Tidak ada. Tadi, Nenek sudah melihat semuanya," jelas Nenek masih dengan posisi yang sama.
Mengalihkan perhatian pada nenek. "A--Apa yang Nenek lihat?" Sonya sedikit gugup.
"Kelakuanmu pada pacarmu itu," terang nenek santai.
"Aduh Nek! Jangan memikirkan itu dulu! Karena kak Arya Nek, Kak Arya sudah jadian sama kak Ayu. Aku senang sekali, Nek." ucap Sonya antusias.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya nenek pura-pura. Nyatanya ia telah mendengar semuanya.
"Iya, Nenekku sayang."
"Baguslah kalau begitu. Nenek juga ikut senang, kalau Arya menikah kalian juga pasti akan menikah. Dan Nenek berharap, kalian berdua bahagia dengan pasangan kalian masing-masing."
"Iya Nek. Makasih selalu suport kami. Nenek memang yang terbaik." Sonya berhambur peluk pada neneknya.
"Kamu ini, udah besar juga masih kek anak kecil segala," ucap Nenek mengelus rambut panjang Sonya.
"Hahaha. Habisnya aku terlalu senang, Nek."
"Jadi apa esok hari kalian akan kembali ke kota?" tanya nenek, setelah pelukkan mereka dilepas.
"Iya Nek. Aku ingin cepat-cepat kembali ke sana."
"Baiklah. Sekarang kamu istirahat saja, esok nenek akan membangunkanmu pukul 05:30 subuh, agar sampai di kota tidak kemalaman lagi."
"Oke Nek. Aku sayang nenek!" Sonya mengecup singkat pipi sang nenek.
"Perhatikan tingkah manjamu itu."
"Iya-iya."
Bangkit dari duduknya. "Nenek pamit, ya!"
"Baiklah Nek. Semoga mimpi indah." Sonya tersenyum cerah ke arah sang nenek.
"Heem!"
Dan begitulah ceritanya, Kini Darren dan Sonya sudah berada di perjalanan pulang. Nenek sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan bekal agar Sonya dan Darren tidak turun lagi saat mengemudi.
"Nenekmu sangat baik, Dinda."
"Iya dong," ucap Sonya tersenyum ke arah Darren yang sedang menyetir.
"Aku sangat bahagia kita direstui oleh Mommy, Daddy dan Nenek."
"Aku juga Kanda."
"Jadi tidak sabar," ungkap Darren membayangkan masa depannya bersama Sonya.
"Ya harus sabarlah Kanda. Kan kak Arya dulu baru kita," ucap Sonya terkekeh pelan.
"Iya Dindaku sayang, Kanda paham, kok."
__ADS_1
Bersambung❣