Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 105


__ADS_3

Monica masih mengengam tangan Sonya menuju sofa. Darren hanya mengikuti mereka dari belakang. Kemudian Monica duduk dan menyuruh Sonya juga ikut duduk di sampingnya. Darren baru saja ingin mendaratkan pantatnya ke sofa, namun ucapan sang ibu menghentikannya.


"Kenapa kau juga ikut duduk?"tanya Monica.


"Apa tidak bisa, Mom?" Darren balik bertanya, ia tak mengerti maksud dari ucapan ibunya.


"Tidaklah, sebaiknya kau pergi ke kamarmu sana!" Titah Monica.


"Kenapa harus ke kamar sih, Mom? Kan calon istriku ada di sini." Melirik Sonya. "Iya 'kan Dinda?" Tanya Darren. Sonya hanya diam saja saat di tanya seperti itu.


"Memangnya kenapa kalau dia calon istrimu? Mommy juga berhak dekat dengannya! Lagian Mommy hanya ingin menanyakan beberapa hal saja padanya, dan kamu sebaiknya pergi ke kamarmu atau buatkan minum untuk kami." Monica ada sejuta cara agar dia bisa mengusir Darren dari hadapan mereka.


"Tapi, Mom." Penolakan Darren membuat Monica menatap tajam pada anaknya itu, nyali Darren pun seketika menciut.


'Apa yang ingin Mommy tanyakan pada Sonya? Jika aku ke kamar maka tidak ada alasan untuk ke sini lagi. Sebaiknya aku ke dapur saja.'


"Baiklah. Aku ke dapur saja buatkan minum." Darren mengalah dan memilih jalan aman dan mudah.


"Oke. Sana pergi!" Titah Monica.


"Iya, Mom."


Darren secepatnya berlalu dari hadapan kedua wanita itu. Bahkan langkah kakinya ia panjangkan agar jalannya cepat menuju dapur. Monica menatap anaknya sampai sang anak menghilang dari pandangan matanya.


'Apa yang akan Tante katakan padaku, ya?'


Monica menghela nafas dan membuangnya. "Akhirnya tu anak pergi juga." Legah itulah yang Monica rasakan saat ini.


"Oh iya, sayang. Apa Darren memaksamu atau mengancammu, untuk menerima cintanya?" Tanya Monica serius, ia menatap manik mata Sonya yang berada di sampingnya.


"T--Tidak, Ta. Eh Mom. Kak Darren sama sekali tidak memaksaku, apalagi mengancamku, kok."


"Di depan Mommy kamu tidak perlu gugup, anggap saja Mommy sebagai ibumu sendiri. Jika kau yang mengatakan seperti itu, Mommy akan percaya."


"Terima kasih, Mommy."


Monica tersenyum. "Sama-sama sayang. Sebenarnya Darren selalu menceritakan tentang seorang wanita yang sudah ia taksir sejak lama, namun dia belum juga mengatakan perasaannya pada wanita itu, ia takut wanita itu menjauhinya dan membencinya, alhasil Darren selalu saja galau dan Mommy yakin wanita itu pasti kamu, yang berhasil merebut hati anak Mommy,"ucap Monica terkekeh pelan.


"Saat itu, ketika Kak Darren mengungkapkan cintanya padaku, aku sangat kaget, Mom. Jantungku berdebar sangat kencang, padahal hanya lewat pesan, doang! Hehe." Sonya malu-malu menjelaskan ungkapan hati Darren padanya.

__ADS_1


"Lewat pesan?"tanya Monica.


"Eh, Mommy jangan salah paham dulu. Untung saja ada seorang kakak perempuan yang membantuku, sehingga kak Darren mau mengungkapkan isi hatinya dengan bertatap muka,"jelas Sonya, agar Monica tak salah paham.


"Mommy sangat syok, bisa-bisa anak bandel itu mengungkapkan isi hatinya lewat pesan saja? Tidak gentle sama sekali."


"Anak Mommy sangat keren dan berani. Sonya takjub padanya,"terang Sonya bangga.


Sonya membayangkan wajah Darren waktu berlutut di depannya hingga membuatnya cengar-cengir, ekspresi wajahnya tidak luput dari pandangan mata Monica.


'Semoga kelak kau bisa membahagiakan Darren, Son. Mommy berharap kalian berdua langgeng sampai tua.'


"Mommy sempat khawatir sama Darren. Yang Mommy khawatirkan, Darren tidak berterus terang padamu. Tapi, mendengar penjelasanmu barusan membuat Mommy tidam khawatir lagi, bahkan saat ini Mommy sangat bahagia mendengar kabar baik dari kalian."


"Mommy tahu, tidak? Kak Darren bahkan melamarku, Mom. Dan semua itu berkat kakak perempuan, dia yang membantu Sonya."


"Hah? Benarkah?" Tanya Monica serius. Sonya hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Monica.


"Eh, Kakak perempuan? Kata Darren perempuan yang ia sukai hanya mempunyai kakak lelaki saja,"ungkap Monica, tampak keheranan di wajahnya.


Seingat Monica Darren hanya menceritakan tentang wanita yang ia taksir saja, dimulai dari keluarga dan hal lainnya yang menyangkut sifat Sonya, namun perkataan Darren ibarat teka-teki, ia bahkan hanya menceritakan tentang wanita itu saja, tidak dengan nama dan tempat tinggalnya.


"Jadi begini, Mom ...." Sonya menceritakan awal pertemuannya bersama Ayu sampai akhirnya ia berada di sini. Monica mendengar cerita Sonya dengan serius.


"Wah ... jadi Arya itu kakakmu, Son?"tanya Monica.


"Iya, Mom."


"Padahal Mommy sudah cukup kenal dengan kakakmu namun Darren menutupi semuanya dari Mommy,"ungkap Monica kesal.


Monica merubah ekspresi wajahnya dengan cepat. "Lalu, wanita yang kau sukai untuk di jodohkan dengan kakakmu sekarang bagaimana?" Tanya Monica antusias.


"Ya, kami masih berusaha mendekatkan mereka, Mom."


"Baguslah. Semoga rencana kalian berhasil, ya! Agar kamu juga bahagia, semangat!" Monica memberikan dukungan penuh pada Sonya.


"Terima kasih, Mom." Sonya benar-benar senang di perlakukan seperti itu.


"Mommy sangat senang, apalagi saat anak-anak Mommy yang sudah kelewat bujang, ingin menjalin hubungan serius,"ucap Monica ceplas-ceplos. Sonya menatap Monica, heran itulah yang Sonya rasakan.

__ADS_1


"Kamu jangan menatap Mommy seperti itu. Bagi Mommy, Azka dan Arya juga anak Mommy, sama seperti Darren,"terang Monica, ia tersenyum lembut pada seorang wanita yang ada di sampingnya.


Sonya juga tersenyum membalas senyuman Monica. "Ternyata benar apa kata kak Darren, Mommy sangat baik. Apa bisa Sonya memeluk Mommy sebentar?" Pinta Sonya penuh harap.


"Bisa sayang. Yang lama juga boleh, kok." Monica merentangkan kedua tangannya. "Ayo sini! Mommy peluk!" Ucap Monica tersenyum.


Sonya tidak mau kehilangan kesempatan itu, ia kemudian masuk ke dalam pelukkan sang calon ibu mertua yang baik hati. Monica mendekap Sonya dalam pelukkan hangatnya, lalu membelai rambut panjang Sonya dengan lembut.


'Aku sudah lama tidak pernah merasakan sentuhan ibu. Kuharap Mommy dapat menjadi ibuku nanti.'


"Anak baru Mommy!" Lirih Monica masih mengelus rambut panjang Sonya. Ucapannya masih terdengar jelas oleh Sonya.


'Terima kasih, Mommy. Kak Darren aku sangat bahagia.'


Monica tiba-tiba kepikiran. "Lalu kapan kalian menikah? Mommy sudah nggak sabar gendong cucu,"ucap Monica.


Sonya seketika langsung melepaskan pelukkannya dari tubuh Monica. Lalu menatap Monica dengan mata yang terbelalak, kaget.


"Mommy jangan lontarkan pertanyaan itu pada Dinda-ku, dong! Tanyakan saja padaku, Darren siap menjawab semuanya dengan jujur,"ucap Darren tiba-tiba.


Monica kaget dan melihat siapa biang keladi, yang sedang berjalan mendekati mereka sambil membawa dua gelas minuman di tangannya.


"Bikin kaget saja!"


"Ini minumannya, Mom." Darren meletakkan dua gelas minuman ke meja.


"Kau yakin bukan garam yang kau masukkan ke dalam?"tanya Monica mengintimidasi.


Darren sudah pergi agak begitu lama. Monica jadi curiga, Darren membuatkan jus jeruk nipis menggunakan garam.


"Ya bukanlah, Mom."


Darren sangat yakin dengan hasil jerih payahnya dalam membuat jus. Ia lama di dapur karena sibuk melihat garam dan gula yang membuatnya sedikit binggung.


Setelah lama berfikir ia pun mendapat ide cemerlang, yaitu merasakan rasa dari kedua benda itu. Setelah selesai membedakan barulah ia menaruh gula ke dalam jus tersebut.


Dengan santai Darren segera duduk di sofa berhadapan dengan kedua wanita yang sedang menatapnya itu.


Bersambung❣

__ADS_1


Maaf Author sedikit curhat. akhir-akhir ini, aku sedang sibuk. pagi sampai sore harus ke kebun dulu, jadi malem udah capek dan hanya nulis semampunya saja.😊. semoga kalian dapat mengerti ya sayang. lope-lope deh untuk kalian. ummaact😘❤


__ADS_2