Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 41


__ADS_3

Amel menenteng tas yang berisi baju,sepatu dan juga tas barunya, ke taksi online yang sudah terparkir di sisi jalan. Setelah Amel masuk, barulah taksi itu melaju secara perlahan.


Sesampainya di rumah. Amel yang baru masuk kamar di ikuti oleh Ayu dari belakang, langsung disuguhi dengan berbagai pertanyaan yang di lontarkan oleh Ayu padanya.


"Ini semua baju branded? Pasti mahal banget, ya Kak? Siapa yang beli? Apa bos kakak itu? Wah, wah, wah kayaknya bos Kakak suka deh sama Kakak. Sampai beli baju mahal segala," ucap Ayu yang sudah memeriksa. barang-barang yang di bawah oleh Amel.


"Jangan tanyakan pertanyaan itu. Mengingatnya saja membuat Kakak kesal."


"Kenapa kesal Kak?" tanya Ayu heran.


"Orangnya terlalu pemaksa," ucap Amel ketus mengingat Azka.


"Emang Bos Kakak paksa Kakak melakukan itu lagi?" tanya Ayu. Ayu berfikir Amel marah karena dipaksa melakukan hal itu. (Kalian pasti sudah dapat menebaknya apa yang dimaksud dengan hal itu.)


Pletak!


Secepat kilat Amel menjitak Ayu. Bisa-bisanya Ayu memikirkan hal itu.


"Aduh. S-Sakit kak," Ayu meringis kesakitan. Ayu pun mengusap-usap dahinya.


"Jangan berfikir macam-macam. Maksud Kakak dia memaksa Kakak untuk naik taksi online. Padahal Kakak sudah memesan ojek online namun di suruh pergi oleh dia."


"Itu tandanya dia cemburu, Kak." Ayu seakan tahu isi hati Azka saat itu.


"Hah? Cemburu dari mananya coba?" tanya Amel tak percaya.


"Coba Kakak fikir deh, ojek online 'kan tempat duduknya terbatas, dan pastinya penumpang sama pengemudinya duduk berhimpitan. Jadi ya gitu deh," jelas Ayu mantap.


"Masa sih?! Dia terlalu banyak mikir." Amel tetap kesal dan bahkan menyalahkan Azka.


"Ya karena dia cemburu," ucap Ayu enteng, mengangkat kedua bahunya.


"Tapi kok dia malah jadi menyebalkan, ya?" Amel mulai memikirkan perlakuan Azka padanya.


Dasar Kak Amel. Tidak peka sama sekali. Bikin gemas saja. batin Ayu tersenyum.


"Ya begitulah Kak. Namanya juga orang cemburu." Ayu berusaha memojokan Amel. Mau mengelak di mana? Nyatanya itu yang benar. Azka memang cemburu.


Kalau dipikir-pikir ucapan Ayu ada benarnya juga. batin Amel sudah termakan dengan ucapan Ayu barusan.


"Hais ... dasar jomblo." Dengan terpaksa kata itulah yang keluar dari bibir Amel.


"Hahaha." Mereka berdua pun tertawa.


Si Bongkahan es cemburu?" Sudahlah-sudahlah, jangan terlalu banyak mikir. batin Amel menetralkan debaran jantungnya.


"Ayo kita ke depan Kak." Ajak Ayu pada Amel.


"Kamu duluan saja. Kakak mau menyimpan baju-baju di lemari dulu," ucap Amel.


"Baiklah Kak."


Ayu berlalu pergi keluar kamar. Amel memasukan baju dalam lemari dan keluar menghampiri mereka yang tengah asyik menonton flim kartun.

__ADS_1


🌛Malamnya hari.


Tepatnya jam 08:30 malam. Amel bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun. Kini dia tengah berdiri di depan cermin, menampilkan penampilannya yang anggun dan menawan.


Rambut panjangnya di biarkan tergerai, di hiasi dengan jepit rambut bercorak kupu-kupu. Kilauan dari manik-manik di jepit rambut kupu-kupu itu membuat rambutnya tampak indah.


Amel keluar dari kamar menemui Sonya dan Ayu yang sedang bermain bersama anak-anak di luar. Mereka tercenggang melihat penampilan Amel saat ini.


"WOW! Kakak cantik banget!" puji Ayu dengan suara yang agak besar.


"Iya. Kak Amel cantik, banget!" Sonya juga ikut memuji Amel.


"Mama antik anget. Cepelti putli ang da di lim-lim." Rasti mengingat dengan jelas sosok putri yang pernah di tonton olehnya. Rasti ikut memuji ibunya seperti putri yang ada di flim.


"Iya Mama, antik anget." Bunga juga ikut menimpali.


"Mamana tiapa dong?" tanya Raka.


"Tami ditu loh." Ketiganya serempak dan kemudian tertawa.


"Hahaha."


Mereka tertawa bahagia. Raka yang paling bahagia di antara adik-adiknya yang belum mengetahui jejak ayah mereka ada di mana. Dengan dandanan cantik ibunya walau memakai make-up naturalnya pun, ayahnya pasti tergoda.


Ayah, pasti terpesona dengan penampilan Mama. Bila perlu Mama tidak pulang malam ini juga tidak apa-apa. Asalkan Mama pergi bersama Ayah. batin Raka seneng.


"Kalian bisa saja. Kakak 'kan jadi malu." Mendapat pujian yang banyak membuat wajah Amel bersemu merah.


"Apaan sih!" Amel salah tingkah dibuatnya.


"Haha. Masa ke acara naik ojek online. Gimana ceritanya coba." Ayu menggoda Amel lagi.


"Terus mau naik apaan kalau bukan ojek online, Hm? Taksi online juga terlalu boros," ucap Amel, bertanya pada Ayu.


"Mau aku anterin Kak?" tawar Ayu.


"Gimana, ya? Emang Sonya bisa sendiri di rumah?" tanya Amel memastikan.


"Bisa kok Kak. Kakak tenang saja," ucap Sonya.


"Tuh 'kan, Bisa. Ayo kak!" Ajak Ayu.


Tiba-tiba telepon Amel berdering. Nama pemanggil di layar telepon 'Bongkahan Es' sudah pasti nama itu adalah nama yang diberikan Amel pada Azka. Amel yang sudah sempat menyimpan nomor Azka terpaksa segera mengangkatnya. Kalau tidak, pasti orang itu mengancamnya lagi.


"Sstt, kalian diamlah!" Semua mengangguk. Amel mengeser tombol hijau di layar ponselnya lalu membesarkan volume suara.


"Hallo."


I-Itu pasti suara Ayah. batin Raka.


"Iya Hallo Pak. Ada apa?" Tanya Amel.


"Kamu di mana?" Azka balik bertanya.

__ADS_1


"Masih di rumah Pak. Kenapa?"


"Share lokasi. Saya akan menjemputmu sekarang."


Ayu menatap Amel begitu pun sebaliknya. Ayu mengucapkan sesuatu tanpa bersuara.


"Terima, terima, terima, terima, terima saja. Kak." Gerak bibir milik Ayu seakan mengikuti irama. Amel yang dapat membacanya langsung menerima tawaran Azka.


"Baiklah. Nanti saya share lokasi saya, Pak."


"Oke." Sambungan telepon pun terputus begitu saja.


"Ciee ... pangerannya peka bener. Tahu aja kalau tuan putrinya butuh tumpangan malam ini. Haha." Ayu semakin menggoda Amel.


"Ayu!" teriak Amel.


"Haha. Tuan putrinya malu. Ayo cepat share lokasi agar pangerannya ke sini dengan cepat," ucap Ayu lagi dan masih saja menggoda Amel.


"Dasar jomblo!" teriak Amel. Mendengar itu semuanya tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahaha."


Setelah tawa mereda. "Anak-anak. Kayaknya kalian bakalan punya Ayah dalam waktu dekat nih," ucap Ayu lagi.


"Hole!" teriak girang para bocah kecil.


"Atu au unya Yah. Adal mama da ang elindungi. Hihi." Rasti sangat setuju kalau mereka punya Ayah. Agar ibunya dapat dilindungi.


"Atu duja. Engen unya Yah." Bunga pun ikut menyetujui.


"Tuh 'kan, mereka juga setuju tuh Kak. Ayo pepet terus bosnya."


"Apaan sih!?" Dengan malu Amel memukul lengan Ayu.


"Auu. Sakit Kak."


"Kakak kira kamu tidak merasakan sakit. Haha. Dasar preman!"


"Itu dulu ya Kak. Sekarang feminim kok. Nih lihat." Ayu menunjukkan sisi feminimnya.


"Feminimnya dikit aja. Haha." Tawa Amel pecah bukan terlihat seperti perempuan tetapi seperti seorang banci yang sedang berpose.


"Udah share lokasi, belum?" tanya Ayu lagi.


"Sudah, dari tadi."


"Baguslah. Hihi." Ayu terkikik geli.


Semoga dengan adanya ayah dari anak-anak kak Amel. Dapat membuat kak Amel bahagia. batin Ayu mengingat masa lalu saat Amel menderita dan terpuruk.


Sonya yang tidak mengetahui bos Amel adalah Azka teman sekaligus bos dari kakaknya pun, ikut tertawa dan senyam-senyum sendiri. Dia seakan bahagia melihat kebahagiaan mereka.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2