
"Baiklah. Kalian interogasi dia dengan baik dan jangan biarkan dia kabur lagi. Apa kalian mengerti?" tegas Arya.
"Baik Pak. Saya mengerti!" Jawab patuh seseorang dibalik telepon. Arya pun segera mengakhiri sambungan teleponnya.
'Saat ini bukan waktu yang tepat tuk memberitahukan masalah ini pada Azka. Sebaiknya aku tunda dulu sampai pernikahannya selesai.'
Arya bergegas masuk ke dalam aula dan bergabung bersama Darren di sana.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Darren, saat melihat Arya telah duduk di sampingnya.
"Emangnya kenapa?" Arya balik bertanya, pandangan matanya menatap lurus ke depan.
"Wajahmu terlihat serius, bagaimana aku tak curiga coba," ungkap Darren.
Arya mendekatkan kepalanya pada Darren. "Orang yang meneleponku tadi, ialah bawahan yang kuperintahkan untuk mencari seseorang, katanya mereka telah menemukan keberadaan orang yang kita cari. Dan bukan itu saja, mereka juga telah berhasil menangkapnya, walau dirinya beberapa kali melakukan perlawanan. Dan sekarang orang itu sudah ada di tangan kita," jelas Arya sedikit berbisik.
"What!! Serius?" tanya Darren tak percaya.
"Iya. Kita harus menunda sampai pernikahan Azka selesai dulu, barulah kita bisa memberitahukan masalah ini pada Azka," ucap Arya. Ia tidak mau Azka terpikir oleh masa lalu lagi.
"Ya. Aku setuju denganmu," jawab Darren, mengeleng kepala pelan menyetujui ucapan Arya yang masuk akal.
"Eh, kenapa Azka sudah naik duluan?" tanya Arya melihat Azka yang sudah berada di altar.
"Jangan kau tanyakan lagi! Bukankah hubungan Ayah dan akan itu tidak baik. Kau lihat saja di sana, kedua wanita itu juga hadir," ucap Darren, matanya melihat ke arah Laksmi dan Kirana di seberang.
"Iya juga. Terus apa Amel dan yang lainnya sudah kesini?" tanya Arya celingak-celinguk. Ia tak terlalu mempedulikan kedua wanita yang Darren maksudkan.
Darren menatap Arya. "Arya, Arya. Apa kau buta? Padahal sudah jelas bahwa mereka belum tiba di sini. Kamu gimana sih! Aku tahu, kamu hanya memfokuskan diri melihat A--"
Pandangan Arya menangkap sesuatu. "Diamlah!" tintanya. Tangannya refleks membekap mulut Darren.
Hmmm ... hmmm ... hmmm
__ADS_1
"Diam dan lihatlah kesana!" Arya melepaskan tangannya, lalu menunjuk ke arah wanita-wanita yang baru saja menginjakkan kaki mereka di ujung karpet merah.
Darren melihat ke arah yang ditunjuk oleh Arya. "Wow ... cantiknya bidadariku." Puji Darren menatap Sonya, walau sempat beberapa detik tadi ia melongo.
"My Honey lebih cantik," ucap Arya tak mau kalah. Matanya fokus menatap penampilan Ayu dari kejauhan.
'Lihatlah ekspresi kedua bocah ini.'
Monica yang sedari tadi sedikit menguping pembicaraan mereka pun ikut senang. Ia hampir saja tertawa melihat bola mata milik Darren dan Arya yang hampir copot dari tempatnya.
Azka juga menatap Amel tanpa berkedip, wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya itu tampak lebih dewasa dari yang biasanya. Make-up yang lumayan begitu tebal namun tak terkesan menor itu membuat Azka tidak bisa berpaling lagi menatap yang lain.
Azka menatap Amel dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gaun yang dikenakan Amel mirip princess di negeri dongeng, dengan potongan rok mekar, di sertai dengan manik mutiara begitu tampak gemerlap. Amel juga tampak sangat anggun karena gaunnya cocok sekali dengan hiasan rambut berupa mahkota dan veil panjang menjuntai ke belakang tubuhnya.
'Benar-benar karya Tuhan yang paling sempurna.'
"Lihat ke arah jarum jam. Puff, Azka sampai melongo begitu," ucap Darren menatap Azka yang berdiri mematung di atas altar. Arya juga melihat ke arah yang sama, namun dia tampak biasa-biasa saja dan memilih memalingkan pandangan matanya tuk memerhatikan wanita yang ia cintai.
Arya masih terus menatap Ayu, matanya tidak berkedip sedikit pun, ia masih menikmati karya Tuhan di ujung sana. Darren yang ada disebelahnya pun menyenggol lengannya pelan.
"Jangan ganggu aku!" Larang Arya tanpa melihat ke arah Darren.
"Hei, kuharap setelah mereka selesai mengiring pengantin ke atas altar, kamu harus bergesek sedikit ke sana. Karena Dindaku akan duduk di sini, di sampingku," ucap Darren.
"Baiklah. Terserah kau saja," ucap Arya masih dengan posisi yang sama.
Posisi Amel di tengah, sedang kedua wanita itu berada di samping kanan dan kirinya. Daniel menatap Azka dan mengalihkan pandangan matanya menatap Amel yang masih terpaku di ujung karpet merah.
Amel masih belum melangkahkan kakinya ke depan, rasanya berat sekali untuk melangkah. Daniel berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Amel berada.
'Andai saja Ayah dan Ibu masih ada. Mungkin sekarang kebahagianku ini juga dapat dirasakan oleh mereka.'
Amel termenung menatap karpet merah sesaat, beberapa detik kemudian ada uluran tangan seseorang dari arah depan terulur di depannya. Ia mendongak dan melihat siapa orang itu.
__ADS_1
"A--Ayah!"
Daniel tersenyum. "Iya Nak. Izinkan Ayah yang menjadi pengiringmu," pinta Daniel.
"Ayo Son, kita duduk saja," pinta Ayu. Sonya hanya membalas ucapan Ayu dengan anggukkan kepala disertai jari tangan berbentuk huruf 'O'.
Darren yang melihat itu pun melambai tangannya guna memanggil kedua wanita itu, saat keduanya melihat lambaian tangan Darren barulah keduanya berjalan menuju ke arah Darren berada.
"Baik Ayah, dengan senang hati," Amel tersenyum dan menerima uluran tangan dari Daniel.
Pendeta sudah naik di atas altar untuk bersiap-siap karena kedua mempelai telah lengkap.
Daniel mengambil posisi berdiri di samping Amel, meminta Amel untuk mengandeng tangannya. Amel pun mengandeng tangan Daniel tanpa ragu. Daniel berjalan perlahan mengiring Amel ke depan, berjalan sepanjang karpet merah menuju altar. Azka tidak dapat berkata-kata, saat melihat ayahnya begitu peduli pada Amel.
'Setidaknya kamu tidak sedih lagi sayang.'
Azka tersenyum lebar-lebar ke arah Amel. Amel bahkan salah tingkah saat menatap Azka yang tersenyum manis ke arahnya. Ia yang sempat gerogi malah lebih tenang sekarang karena ada pangeran tampan yang sedang menunggu kedatangannya.
Daniel terus berjalan mengiring Amel naik ke atas altar, Azka mendekati Daniel dan Amel. Daniel pun meraih tangan Amel dan juga meraih tangan Azka untuk dipersatukan. Azka memegang telapak tangan Amel dengan lembut, lalu membawanya ke depan pendeta.
Pendeta sudah siap membimbing keduanya mengucap janji suci.
"Tuan Azka dan Nona Amel, mulai saat ini kalian akan menghabiskan sepanjang hidup kalian bersama-sama. Maka tibalah waktunya, saya meresmikan pernikahan kalian. Saya persilahkan kepada saudara/saudari untuk menjawab pertanyaan saya," ucap pendeta. Kedua mempelai itu hanya manggut-manggut saja.
"Azka Pratama Abraham bersediakah engkau menikahi Amel Andini Wijaya sebagai pendamping hidup Anda. membagi suka dan duka baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Mulai hari ini dan seterusnya sampai maut memisahkan?"
"Saya bersedia menerima Amel Andini Wijaya sebagai pasangan hidup saya. Membagi suka dan duka, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Pada hari ini hingga seterusnya sampai maut yang akan memisahkan."
Pendeta pun beralih bertanya pada mempelai wanita, Amel pun menjawab pertanyaan yang sama dari pendeta dengan jawaban yang sama seperti Azka. Kini keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Riuh tepuk tangan mengelegar indah di ruangan itu.
Bersambung❣
Sebelumnya salam toleransi. Jika kata-kata saya di atas masih kurang tepat, harap di maklum. Aku hanya mengandalkan mba sama mas Google untuk mengambil sdikit inspirasi dlm pngucapan janji suci. Bab ini hampir 2 hari baru bisa kuselesaikan karena binggung😅. Maka dari itu sekiranya kalian dpt memberi masukkan pada saya, agar saya dapat memperbaikinya kembali😁. terima kasih❤
__ADS_1