
Arya menurunkan Ayu di depan gang, karena mobil Arya tidak bisa masuk ke dalam. Ayu kemudian turun, memutari mobil dan melihat Arya dari luar jendela.
"Hati-hati, Om! Dan terima kasih atas tumpangannya,"ucap Ayu.
Ayu tersenyum pada Arya yang masih berada di dalam mobilnya. Arya menjadi heran dengan Ayu, pasalnya ia juga ingin turun dari mobil.
Arya membuka pintu mobilnya. "Aku akan menemanimu ke rumah,"ucap Arya.
"T--Tidak usah, Om. Sebaiknya Om pergi saja, aku bisa ke sana sendiri, kok." Ayu merasa tidak terlalu nyaman jika Arya juga ikut bersamanya.
Sejak perjalanan mereka kemari Arya selalu curi-curi pandang padanya, Arya bahkan tidak banyak bicara di dalam mobil, tingkah Arya yang seperti itu malah membuat Ayu salah tingkah.
Ayu juga ingin membahas hal lain dengan Arya agar kecanggungan tidak terjadi, namun usaha Ayu sia-sia saja, Arya bahkan terkadang sedang melamunkan sesuatu, jadinya ia tak terlalu fokus dengan ucapan-ucapan yang Ayu lontarkan padanya.
"Lalu kau pulang dengan siapa?"tanya Arya serius.
"Oh iya Om, aku lupa memberitahukannya pada, Om. Sebenarnya aku kembali ke sini ingin mengambil motorku. Nanti aku pulang sendiri pakai motor saja ke rumahmu Om,"jelas Ayu agar Arya tidak mengikutinya lagi.
'Pulang dengan motornya? Kenapa harus mengambil motor? Apa dia ingin menemui teman yang mengirim pesan padanya? Tidak bisa, tidak bisa dibiarkan walau bagaimana pun aku harus ikut dengannya. Dan jangan sampai dia menemui lelaki tukang ojek itu lagi!'
Arya tidak akan membiarkan Ayu di dekati oleh lelaki lain selain dirinya. Arya tidak suka jika Ayu harus bertemu dengan lelaki tukang ojek itu lagi. Bagi Arya sangat menyebalkan jika lelaki itu berusaha mendekati Ayu, Arya bahkan merasakan gelagar aneh yang masuk ke hatinya, rasa nyeri itu menusuk sampai ke ulu hati.
"Tapi--" Ingin sekali Arya membantah Ayu, namun Ayu dengan cepat memotong ucapannya.
"Sudahlah! Om sebaiknya pergi saja, ya!"pinta Ayu lembut.
'Entah mengapa aku tidak bisa menolak ucapannya. Kau benar-benar telah membuatku terhipnotis.'
__ADS_1
"Baiklah,"ucap Arya mengalah.
"Oke. Silahkan masuk kembali ke dalam mobilmu, Om!"
"Kamu saja yang duluan masuk ke dalam gang."
"Om, saja yang pergi duluan. Nanti aku lihatin dari sini. Aku janji, setelah Om pergi, aku juga akan masuk ke dalam gang."
"Baiklah. Berdebat sama kamu tidak akan ada habisnya."
"Hahaha. Bye-bye Om. Sampai ketemu di rumah."
"Ya."
Dengan malas Arya menaiki mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan tancap gas meninggalkan Ayu yang masih berdiri di tempatnya. Sedang Ayu melambaikan tangannya pada mobil Arya yang semakin menjauh darinya.
Setelah mobil Arya sudah tidak terlihat dari pandangan matanya, barulah ia melangkah masuk ke dalam gang. Para ibu-ibu dan bapak-bapak yang sempat melihatnya pun tersenyum ke arahnya.
Memang benar tidak ada satu tetangga pun yang mengetahui tentang keberadaan mereka semua saat ini, mereka menghilang bagai di telan bumi dan pergi tanpa pamit, sehingga memicu banyak pertanyaan di benak tetangga kompleks.
Ayu juga tidak ada niat untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibu itu. Besar kemungkinan ibu itu hanya ingin mencari informasi saja untuk membuat bahan gosip yang sudah mereka kerjakan sejak dahulu.
Ayu juga dapat mengetahui dengan jelas, walau pun banyak tetangga menyukai mereka, namun ada banyak juga yang tidak menyukai mereka. Selama tinggal di kompleks perumahan itu, memang ada beberapa tetangga yang tak suka mereka tinggal di situ, makanya Ayu harus tetap waspada agar gosip buruk tentang keluarga mereka tidak beredar lagi.
Dulu Ayu sempat mendengar cemoohan para tetangga tentang Amel yang mereka lontarkan secara diam-diam, mereka mengada-ngada bahwa Amel yang berstatus sebagai Single Mommy, suka menggoda suami mereka dengan wajah cantiknya dan itu membuat Ayu merasa kesal. Bagi Ayu mereka hanya besar mulut saja dan tidak tahu apa yang tengah dihadapi oleh kakak angkatnya itu.
Ayu bahkan telah melaporkan ucapan para tetangga pada Amel, namun jawaban Amel membuat Ayu tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Ayu, Ayu. Kakak sudah mengetahuinya. Kamu tidak usah cemas dan mengkhawatirkan kakak seperti itu. Dan Jangan terlalu memusingkan apa yang orang lain katakan tentang kita, cukup kita dan Tuhan yang tahu tentang baik dan buruknya diri kita sendiri. Ingat Yu, penilaian manusia itu tidaklah penting dan yang kita butuhkan hanyalah penilaian dari Tuhan bukan manusia. Oh iya, dan satu lagi, kakak sudah terbiasa dengan semua itu jadi kamu tidak usah dengarkan ucapan para tetangga," jelas Amel panjang lebar kala itu.
Ucapan Amel yang mengandung nasihat yang amat besar membuat Ayu tertegun saat mendengarnya.
"Bisa dikatakan seperti itu, Bu. Saya permisi ke rumah ya, Bu." Ayu buru-buru pamit, ia juga tidak ada niat berbohong pada wanita parubaya itu.
"Iya, Neng." Ayu melempar tersenyum membalas perkataan tetangga mereka.
Ayu terus berjalan hingga sampai di depan rumah mereka yang sudah mereka tinggali selama beberapa tahun ini. Ayu memandang rumah itu dan membayangkan semua kenangannya bersama Amel dan para malaikat kecil.
Rumah sederhana itulah yang menjadi saksi bisu, semua tanggisan pilu dan juga tawa kebahagiaan dari bibir mereka, semua terlihat jelas oleh mata Ayu. Ayu tersenyum tipis membayangkan bahwa kebahagiaan Amel akan datang sebentar lagi dan itu juga membuat Ayu bahagia.
"Kuharap semuanya berjalan dengan lancar,"lirih Ayu pelan.
Ayu pun melangkah mendekati pintu, kemudian merongoh kunci dalam saku dan membuka pintu rumah. Lalu ia masuk ke dalam dan pergi ke kamarnya, Ayu mengambil kunci motor di tempat biasa ia menyimpannya.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, barulah Ayu keluar dari rumah dan memanaskan mesin motor matic miliknya yang masih terparkir indah di garasi kecil milik mereka. Kini motor miliknya sudah siap untuk ia kendarai.
Ayu kembali masuk ke dalam rumah lalu berjalan menuju kamar untuk mengambil jaket yang biasa ia kenakkan saat jalan-jalan, mengendarai motor bututnya. Setelah siap barulah ia keluar rumah dan mengunci kembali rumah sederhana itu, melangkah pergi ke garasi.
Ayu menaiki motor bututnya, tidak lupa memakai helm agar aman saat berkendara. Ia mengemudikan motornya dengan pelan karena masih berada di area yang banyak anak-anak.
Setelah keluar dari gang barulah ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Pria yang sudah menunggunya keluar sedari tadi mengembangkan senyumnya. Pria itu juga menghidupkan mesin mobilnya dan bergerak perlahan mengikuti motor Ayu dari belakang.
Pria itu terus menatap gerak-gerik Ayu, fikiran buruknya berkelana kemana-mana. Rasa takut kini bersemayam dalam hatinya bahkan rasa sesak menggerogoti dadanya. Ia juga ingin secepatnya menghilangkan apa yang ia rasakan namun semua itu masih dalam angan-angan, tak berani dan tak percaya diri menjadi kendalanya.
Bagaimana jika dia di tolak mentah-mentah? Apa dia masih bisa berhubungan lagi dengan wanita yang sedang mengendarai motor itu? Tak sanggup itulah apa yang ada dalam fikiran pria itu.
__ADS_1
'Perasaanku kini terus terombang-ambing di tengah laut. Kuharap ada secercah harapan untukku dalam hatimu kasih."
Bersambung❤