
Di tempat lain.
Kirana kini masih berada di kediaman Abraham, dia berada di sana sudah sejak dua minggu yang lalu, itu semua atas perintah dari Laksmi.
Alasannya adalah membantu Laksmi mengurus persiapan di rumah, nyatanya tidak ada persiapan sama sekali di rumah besar itu, semua sudah dikerjakan oleh pembantu.
Acara nikahan Azka, Daniel sudah mempersiap tempatnya di Hotel mewah milik mereka. Daniel sudah mengetahui kalau Kirana hanya ingin mencari simpati darinya, semua tak luput dari pandangan mata Daniel. Namun Daniel membiarkannya saja, selama Kirana tak mengacau di sana. Dan jika Kirana mengacau maka Daniel tidak segan-segan tuk membereskannya.
Persiapan yang dilaksanakan di Hotel kini tengah berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun, sebagian sudah selesai di dekor, hanya tersisa sebagian lagi dan akan selesai dengan sempurna, semua itu atas permintaan Daniel.
Baru kali ini Daniel melakukan persiapan dengan sungguh-sungguh, seingatnya ia tak pernah sekalipun memperhatikan Azka, rasa bersalahnya pada Azka sangatlah besar hingga membuatnya menjadi sosok yang sekarang. Daniel tidak mau menyesal di suatu hari jadi ia akan melakukan yang terbaik untuk putra sulungnya itu.
Daniel mengambil ponselnya dan menelepon Azka.
Tut ... tut ... tut ...
Di dalam mobil, dua sejoli yang sedang memadu kasih pun tersadar dari apa yang barusan mereka lakukan. Azka dan Amel menjadi salah tingkah, bunyi ponsel milik Azka menghentikan keduanya yang sudah larut dalam lautan asmara.
'Siapa yang meneleponku sih, ganggu saja!'batin Azka kesal.
Azka masih belum mengambil ponsel dalam saku celananya. Dia ingin melanjutkan kegiatannya itu bersama Amel, rasanya tak rela jika kegiatan yang menurutnya sangat langkah terhenti hanya karena suara deringan telepon.
"Ah, Itu ... ponselmu!"
"Biarkan saja, mungkin orang iseng. Ayo, lanjut! Aku pengen ulangi yang tadi sayang ...." Azka memelas.
Bagaimana Amel mau menolak, kalau tatapan Azka itu sangat mendebarkan. Dengan ragu-ragu Amel mendekatkan wajahnya lagi pada wajah Azka. Namun belum sempat bibir keduanya bertemu, mereka diganggu lagi oleh deringan ponsel yang berbunyi untuk kedua kalinya. Alhasil kegiatan mereka harus segera dihentikan.
"Angkat dulu! Siapa tahu penting,"ucap Amel memberi saran
'Awas saja kalau tak penting,'batin Azka.
"Baiklah ... "ucap Azka lesuh.
Tanpa melihat nama yang terterah di layar ponsel miliknya, Azka langsung mengeser tombol hijau dengan cepat dan meletakkan ponselnya di telinga.
"Ada apa? Ganggu orang saja!"ucap Azka ketus. Daniel yang menelepon anaknya sampai kaget mendengar nada bicara Azka yang terkesan kesal.
"Ekhem!" Daniel berdehem. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan putra sulungnya sekarang, hingga membuat ia melontarkan kata-kata itu padanya.
"Ayah!" Seketika Azka keceplosan memanggil Daniel dengan sebutan ayah.
"Apa? Coba katakan sekali lagi!"pinta Daniel. Dia tak menyangka bahwa Azka akan memanggilnya ayah. Sudah lama sekali Azka tak memanggilnya seperti itu.
"Katakan apa? Ada perlu apa Anda menelepon saya?"tanya Azka,ia merubah nada bicaranya seperti biasa saat berbicara dengan Daniel.
Azka sebenarnya juga ingin sekali memanggil Daniel dengan sebutan ayah, tapi karena gengsi yang amat besar membuatnya tidak bisa mengubah nada bicaranya dengan sang ayah.
"Hm ... begini, acara pernikahanmu akan dilaksanakan di Hotel kita yang ada di pusat kota. Sebagian sudah selesai di dekor dan sebagian lagi masih dalam tahap penyelesaian,"jelas Daniel.
Daniel sudah mengecek langsung kinerja di lokasi Hotel yang akan ia gunakan untuk tempat acara pernikahan anak sulungnya.
__ADS_1
"Oh, baiklah. Anda atur saja semau Anda,"ucap Azka acuh tak acuh.
"Ya ... "ucap Daniel terputus.
Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
"Ayah juga ingin menanyakan sesuatu hal padamu,"ucap Daniel lagi, setelah batuknya meredah.
"Apa itu?"tanya Azka.
"Apa kamu tidak melakukan foto preweddingmu bersama Amel? Saat itu kau pulang terburu-buru dan tidak membahas tentang foto prewedding jadinya ayah meneleponmu untuk menanyakannya. Tidak mungkin juga 'kan kalau Ayah yang melakukan foto prewedding untukmu." Daniel sedikit terkekeh ketika sedang mengutarakan maksudnya.
'Aku benar-benar ceroboh, bisa-bisanya diriku melupakan hal yang sangat penting,'batin Azka.
"Baiklah. Aku dan Amel akan melakukannya. Kapan?"tanya Azka.
"Seminggu lagi, ayah sudah membicarakannya dengan fotografernya dan kau tinggal datang saja ke tempatnya, nanti Ayah kirimkan lokasinya padamu,"jelas Daniel.
"Baiklah. Aku tutup, ya."
Tidak peduli apa yang akan Daniel katakan padanya, Azka tetap saja acuh tak acuh dengan ketidaksopanan pada ayahnya.
"Ya,"ucap Daniel singkat.
Daniel terheran dengan sikap Azka yang tak seperti biasanya. Sedang Azka yang sudah mematikan panggilan teleponnya nampak sedikit kesal, ternyata ayahnya adalah orang yang menganggu kesenangannya.
"Itu ... Ayah?"tanya Amel.
"Apa yang Ayah katakan padamu, apa ada hal yang penting lagi?"tanya Amel.
"Katanya persiapan yang ia lakukan sebagiannya sudah selesai di dekor,"jawab Azka.
"Oh, tidak ada yang lain?"tanya Amel lagi.
"Ada. Sama foto prewedding. Ayolah jangan bahas itu dulu! Gimana kalau kita lanjutkan lagi apa yang tertunda tadi."
Azka benar-benar tidak ingin membahas soal foto prewedding dulu. Yang ia inginkan hanyalah melakukan aktivitas mereka yang sempat tertunda, masalah foto prewedding sangatlah mudah dilakukan fikirnya.
"Astaga, masih sempat-sempatnya kau memikirkan hal itu." Amel menepui jidatnya pelan.
"Ayolah sayang ...." Bujuk Azka manja.
"Tidak. Kita pulang saja, anak-anak pasti sudah lama menunggu,"tegas Amel.
'Bisa bahaya kalau aku menuruti permintaanmu itu. Yang aku takutkan kau tak tahan dan akan menerkamku habis-habisan di sini,'batin Amel bergidik ngeri.
Membuang nafas. "Baiklah,"lirih Azka mengalah.
Azka mulai kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, meski ia terlihat cukup sedih karena Amel tidak menuruti permintaannya, namun dia tidak terlalu mempermasalahkan penolakkan itu, baginya yang terpenting Amel merasa nyaman saat berada di sampingnya.
Melirik Amel. "Kamu mau foto prewedding kita yang di luar ruangan atau dalam ruangan?"tanya Azka serius.
__ADS_1
"Terserah kamu saja,"ucap Amel yang tidak tahu harus memilih.
"Beneran, nih? Nanti kau malah marah lagi, kalau aku terlalu mengutamakan kemauanku,"ucap Azka mengingat perkataan Amel padanya.
'Dia sampai tersinggung gitu, tapi tak apalah, biar dia belajar menghargai pendapat orang lain juga,'batin Amel.
"Hmm, menurutku nih, ya. Akhir-akhir ini 'kan cuacanya sedang bagus tuh. Jadi, kita lakukan saja foto preweddingnya di luar ruangan. Ambil pemandangan alam gitu, biar terkesan natural. Bagaimana menurutmu?"tanya Amel antusias.
"Aku setuju sama kamu. Apapun pilihanmu, itu juga yang terbaik untukku, kau senang aku pun ikut senang. Oh iya, aku juga akan membawa putra dan putri kecil kita, untuk ikut juga dalam sesi pemotretan. Pasti seru!"
"Wah ... emang bisa?"tanya Amel.
"Bisa. Aku juga ingin kita mempunyai foto keluarga. Pokoknya Kau cukup duduk berdiam diri di rumah, semuanya serahkan saja padaku biar aku yang mengurusnya. Dalam waktu seminggu, aku akan menjemput kalian semua."
"Baiklah, kuserahkan semuanya padamu pak Azka. Dan gomawo!"ucap Amel tersenyum.
"Gomawo? Apa kau sedang mengejekku?"tanya Azka datar.
Pufftt ...
"Kenapa ketawa?"tanya Azka pada Amel yang menertawainya.
"Itu bahasa dari flim yang sering kutonton akhir-akhir ini. Dan gomawo itu artinya terima kasih,"jelas Amel semangat.
"Oh ... sama-sama. Tapi aku heran deh sama kamu, kenapa kamu tidak belajar ciuman dari flim yang sering kau tonton itu? Kau masih tetap saja kaku saat melakukannya denganku, padahal itu bukan yang pertama kalinya loh,"cerocos Azka.
Plak ...
Amel refleks memukul lengan Azka cukup keras.
"Ahhk! Sakit, sayang!"pekik Azka. Nyatanya pukulan Amel tidak berasa apa-apa di kulitnya.
"Fokus nyetirnya, nanti kalau kau menabrak sesuatu bagaimana?"tanya Amel cari alasan.
Melirik Amel. "Hahaha. Kamu malu?"tanya Azka sambil tertawa.
"Au ah!"ketus Amel.
"Jangan membuat nada seperti itu sayang! Nanti sesuatu bangun loh dari sarangnya,"goda Azka terkikik geli.
"Apaan sih!"
"Hahaha. Kelinci kecilku sangatlah lucu. Gemes deh!" Azka mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Amel dengan lembut.
"Kelinci Kecil? Kamu tuh, Bongkahan Es nyebelin."
"Hahaha, nyebelin tapi kamu sayang, kan?"
"Iiiih!"
'Imutnya ... aku jadi tak sabar memilikimu seutuhnya, jiwa dan ragamu hanya untukku bahkan hati pun juga punyaku,'batin Azka senang.
__ADS_1
Bersambung❣