Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 85


__ADS_3

Darren duduk di sofa ruang tamu, menyelonjorkan kakinya ke depan.


"Nyamannya ... "lirihnya pelan.


Dia berusaha menenangkan dirinya agar tak terlalu mengingat pesan dari Sonya. Azka dan Arya yang baru saja masuk segera menghampiri Darren.


"Kau kenapa?"tanya Arya.


"Ada apa dengan diriku?" Bukan menjawab Darren malah balik bertanya.


"Jangan pura-pura tenang seperti itu! Kau kira kami tak dapat membacanya,"ucap Azka datar dan ikut duduk di sofa.


'Yang benar saja, aku tak akan memberitahu rahasiaku ini pada kalian. Yang ada kalian berdua akan menertawaiku,'batin Darren.


"Ini masalah pribadi. Jadi kalian tak boleh tahu sebelum waktunya tiba,"ucap Darren santai.


"Baiklah. Kami hargai privasimu,"ucap Arya. Arya duduk duduk di samping Azka.


"Lantas siapa yang memberitahumu bahwa kami menginap di sini?"tanya Azka penuh selidik.


"Anya. Kalau dia tidak memberitahuku, apakah kalian akan mengabariku?"tanya Darren cemberut.


"Tadi juga kami ingin memberitahumu, tapi Azka lupa tuk mengabarimu,"jelas Arya.


"Ckck, hal sebesar ini saja lupa." Darren berdecak sebal.


"Sudahlah kau tak cocok ngambekkan seperti itu,"ucap Azka.


"Ya. Kapan kalian akan fitting baju pengantin, Az?"


"Sekitar dua minggu lagi, kenapa?"tanya Azka curiga.


"Oh ... tidak apa-apa."


'Baguslah, aku akan mengambil kesempatan itu untuk mengutarakan perasaanku,'batin Darren bersiasat.


"Kita ke kamar yuk, aku capek nih! Butuh istirahat." Darren mencari alasan agar dia terbebas dari tatapan sahabatnya yang seakan mencurigainya.


"Kau duluan saja!"ucap Azka.


"Baiklah, aku tak akan sungkan."


"Hemm."


Darren segera beranjak dari duduknya menuju salah satu kamar tamu yang ada di Apartemen besar itu. Sedang Azka dan Arya masih membahas soal pekerjaan.


...****************...

__ADS_1


2 minggu kemudian.


Detik berganti menit, menit berganti jam dan jam berganti hari. Siang malam sudah mereka lewati, kini tibalah waktunya.


Ketiga lelaki itu masih menikmati secangkir kopi di ruang tamu. Darren sudah di izinkan oleh ibu dan ayahnya untuk tinggal di Apartemen Azka selama sebulan.


Mereka masih bersantai menikmati pagi yang cerah, suasana hati mereka tak sama, ketiganya tenggelam dalam fikirannya masing-masing.


Darren sengaja cuti bekerja pada hari ini, rencananya sudah ia susun dengan rapih dan mantap. Azka dan Arya juga tidak masuk kerja semua pekerjaan mereka akan di handle oleh bawahan mereka di kantor.


Hari ini benar-benar hari yang sibuk, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Arya di tugaskan untuk menjaga anak-anak di rumah miliknya. Dalam dua minggu ini Arya selalu menjengguk mereka setiap tiga hari sekali.


Beberapa hari berkunjung ke rumahnya, membuat ia dapat bertemu dengan seorang gadis yang berhasil merebut perhatiaannya. Arya masih membatasi diri untuk melangkah lebih jauh lagi, rasa traumanya masih membekas di hati, membuat ia sulit jatuh cinta lagi. Dia tak tahu perasaan apa yang ia rasakan pada gadis itu. Cintakah? Atau hanya sekedar rasa keakrapan biasa saja.


Azka sudah berusaha menepati apa yang seharusnya ia tahan. Dia bahkan tidak bertemu dengan Amel, di kantor pun sama, karena Amel sudah ia liburkan sebelumnya. Hanya bermodal android saja mereka saling menanyakan kabar. Terkadang Azka menggoda Amel hingga membuatnya merona.


Berbeda dengan Darren, dia masih gusar memikirkan Sonya yang tak kunjung mengirimi ia pesan sejak hari itu bahkan teleponnya juga di tolak oleh Sonya, entah apa yang terjadi pada wanita pujaannya. Dan pada akhirnya dia bertekad dan mempersiapkan diri untuk mengutarakan isi hatinya pada Sonya.


Setelah selesai menikmati kopi, mereka segera beranjak untuk bersiap-siap.


1 jam kemudian, ketiga pria itu sudah terlihat rapih dan tampan dengan baju casual yang mereka pakai. Penampilan mereka sangat berbeda saat menggunakan setelan jas seperti biasanya.


Di tempat lain tepatnya di rumah milik Arya.


Setelah sarapan barulah Amel mengajak anak-anaknya mandi di bantu oleh kedua tantenya. Terjadi keseruan, canda tawa menggelegar seisi ruang kamar mandi. Selesai memandikan anak-anak dan berganti pakaian, kini giliran Sonya dan Ayu yang harus kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Selama dua minggu di rumah Arya membuat Ayu belajar banyak hal dari Sonya. Di mulai dari masak masakan sederhana, masakan yang paling sulit sekali pun, juga membuat kue yang Sonya tahu, semua itu dia ajarkannya pada Ayu. Sonya bahkan mengatakan makanan kesukaan kakaknya dan juga neneknya yang ada di kampung.


Sonya juga menceritakan tentang masa lalu Arya dengan tunangannya. Entah mengapa Ayu yang mendengarnya merasa geram dengan wanita itu. Ayu juga sudah bisa menebak wanita yang membuat Arya seperti sekarang adalah wanita yang mereka temui di rumah sakit.


Perihal Sonya tak memberi kabar pada Darren itu semua saran dari Ayu, Sonya hanya mengikuti apa yang Ayu sarankan padanya yang menurutnya masuk akal.


Walaupun Ayu bukan seorang yang sudah berpengalaman dalam hal cinta, namun dia menyakinkan Sonya bahwa Darren akan mengutarakan isi hatinya dalam waktu dekat, jadi Sonya harus benar-benar mempersiapkan diri secara matang untuk menerima cinta dari seorang dokter tampan.


Menurut Ayu jangan menjadi wanita yang mudah didapatkan, jadilah sedikit gengsian biar si target penasaran.


Ayu masih sama dengan sebelumnya masih belum ada kemajuan. Dia juga tak terlalu memusingkan tentang perasaannya. Dia sekarang sedang memfokuskan diri pada kebahagiaan Amel bisa dikatakan Ayu orang pertama yang tulus melihat kebahagiaan Amel terlepas dari masa lalu Amel yang kelam.


Dikhianati pacarnya dan juga sahabatnya, bermalam dengan pria asing, menopang beban hidup yang berat demi menghidupi anak-anak tercinta semua kejadian itu sudah Ayu lihat di kehidupan Amel, dia berharap kelak hidup Amel dipenuhi oleh warna yang tak akan memudar lagi.


Sonya dan Ayu tak pergi ke mana-mana tetap saja mereka juga harus membersihkan diri malulah dengan anak-anak yang sudah bersih dan wangi. Setelah bersiap barulah mereka menghampiri Amel yang sudah nampak cantik dengan gaun selutut yang diberikan oleh Azka melalui Arya tempo hari.


"Wah ... Kakak bagaikan putri yang turun dari kahyangan."


Ayu yang melihat penampilan Amel hari ini terpukau dengan kecantikan naruralnya.


"Iya benar, kak Amel cantik banget,"timpal Sonya membenarkan ucapan Ayu.

__ADS_1


Amel selalu cantik dengan pakaian apapun, wajahnya yang mulus di hiasi dengan pipi tembemnya membuatnya sangat imut di pandang mata.


"Mama tami meman telalu antik,"ucap Raka bangga.


"Iya, Mama kalian memang yang tercantik di seluruh dunia,"ucap Ayu melebih-lebihkan. Sedang Amel hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Mama, pa tebental lagi Papa tang atang?"tanya Rasti.


"Ya, sayang."


Anak-anak mungkin akan di tinggalkan dengan kedua tante dan juga om mereka, itu semua sudah Azka susun secara matang agar dia dapat berduaan dengan Amel tanpa ada gangguan dari siapa pun.


Ketiga pria tampan keluar dari Apartemen, mengambil mobil di garasi, mereka mengendarai mobil yang berbeda-beda. Tidak memakan waktu lama akhirnya sampai juga di tempat tujuan.


Demi menjaga kesopanan dalam hal bertamu, Darren mewakili semuanya untuk memencet bell yanga ada di dinding samping pintu.


Ting tong!


Mereka semua yang sedang menunggu di ruang tamu mendengar suara bell berbunyi pertanda ada tamu di luar.


"Mungkin itu mereka. Biar aku saja yang membuka pintu,"pinta Ayu.


"Baiklah,"ucap Amel.


Ayu segera beranjak untuk membukakan pintu.


Cek-lek!


Dilihatnya seorang pria tampan sedang berdiri di depan, tidak seperti biasanya pria yang menggunakan jaz putih setiap hari itu bisa memakai baju casual yang sangat cocok sekali dengan aura keceriaannya.


"Eh, pak Dokter!"sapa Ayu setelah melihat Darren di balik pintu.


"Selamat pagi, Nona." Darren ikut menyapa Ayu dengan senyumannya.


"Kemana yang la--"


"Bisakah kami masuk sekarang?"sergah Arya cepat.


Ayu yang tidak membuka pintu lebar-lebar itu tak dapat melihat dengan jelas dua pria yang masih setia berdiri di belakang Darren. Hingga Arya membuka suara barulah dia membuka pintu itu dengan lebar.


Matanya meneliti setiap penampilan mereka. Tentunya yang dia perhatikan adalah penampilan Arya yang tak seperti biasanya, baju casual yang di pakai Arya sangat cocok dengan raut wajahnya yang datar membuat Ayu tertegun.


"Apa kau masih mau berdiri di situ dan tidak mempersiapkan kami masuk?"tanya Arya.


"Ah, iya. Maaf Om, habisnya kalian semua terlihat sedikit berbeda. Haha. Ayo, silahkan masuk! Kak Amel sudah menunggu kak Azka di dalam."


Ayu mempersilahkan ketiga pria itu masuk dan menemui Amel dan yang lainnya yang sedang duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung❣


Apakah ceritaku ini terlalu banyak omong kosong? jika iya, berikan tanggapan dan jika tidak, juga berikan tanggapan 😉 aku siap menerima kritik dan juga saran dari kalian semua. tanpa dukungan kalian saya bukanlah apa-apa.😍


__ADS_2