
Amel yang berniat membangunkan Azka malah mengurungkan niatnya sebab melihat Azka yang masih tertidur dengan pulas.
"Dia mungkin jarang tidur senyenyak ini. Mending aku tidak membangunkannya,"lirih Amel pelan.
Amel membangunkan keempat anaknya dengan cara seperti biasa. Amel mengelus puncak kepala dan menciumi mereka semua secara bergantian hingga mereka pun terjaga dari tidur.
"Mama!"teriak mereka serempak.
"Sssttt! Pelankan suara kalian sayang. Papa lagi bobo."
"Maap Mama,"ucap mereka kemudian.
"Ayo, ikut Mama ke kamar mandi!"
Amel menurunkan anak-anaknya dari atas ranjang lalu menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah mereka, setelah itu barulah mereka pergi meninggalkan Azka di dalam kamar.
Masih di perjalanan.
"Tenapa Papa idak itut?"tanya Rasti.
"Ya, tenapa Papa idak itut tita?" Bunga ikut menimpali.
"Papa capek sayang, nanti kalau papa sudah bangun baru papa turun ke bawah menemui kita,"ucap Amel lembut.
"Oh. Aik Mama." Amel tersenyum.
Waktu Amel pergi ke ruang makan semuanya sudah berkumpul di sana dan hanya Azka saja yang belum bangun dari tidur nyenyaknya.
"Ekhem!" Arya berdehem, hingga semua menatap Amel yang baru saja sampai ke meja makan.
'Ada apa dengan mereka semua? Mereka tampak aneh,'fikir Amel.
"Kakak Ipar, di mana Azka? Apa semalam tidur kalian nyenyak? Tumben banget dia belum turun sarapan,"tanya Darren. Darren selaku dokter pribadi Azka dapat mengetahui bahwa Azka jarang tidur malam karena mimpi buruk yang ia alami.
"Masih di kamar. Lagi tidur." Amel tersenyum.
"Ayo, kita makan duluan,"titah Amel.
Amel menyuapi anak-anaknya seperti biasa, namun keempat orang dewasa masih berada dalam fikiran mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian Azka turun dan menghampiri mereka di ruang makan.
"Sayang ... kenapa tidak bangunin aku?"tanya Azka manja.
Pertanyaannya mendapat pelototan dari Arya, Darren, Ayu, dan juga Sonya. Arya yang baru saja mengunyah makanannya menjadi terbatuk-batuk karena mendengar ucapan Azka barusan.
Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
__ADS_1
Arya segera mengambil gelas dan meneguk air putih hingga tandas. Sementara Amel melototkan matanya memberi isyarat pada Azka.
"Kenapa kamu malah melihatku seperti itu, sayang?" Azka tidak menghiraukan yang lainnya bahkan anak-anak hanya menatap ayahnya dengan senyuman bahagia.
"Dan kalian kenapa melihatku dengan tatapan aneh seperti itu? Tidak pernah lihat orang bermesraan,kah?"tanya Azka pada keempat orang dewasa.
'Dasar bucin,'batin Arya.
"Ah maaf, Kak Azka." Ayu menjadi salah tingkah.
"Ya, Ya kami minta maaf. Ayo silahkan makan!"ucap Sonya kemudian.
Mereka makan dengan tenang, sesekali Azka tersenyum pada Amel. Amel merasa tak enak hati, pasalnya tidak seperti biasa Amel secanggung ini pada adik dan juga dua pria lainnya. Amel dapat merasakan ada yang mereka sembunyikan darinya.
Selesai makan Amel ingin meminta izin untuk pulang ke rumah sederhananya. Dia ingin memandikan anak-anaknya dengan benar, lagian baju mereka juga tidak berada di Apartemen Azka. Jangankan anak-anaknya dia sendiri pun tidak mandi dengan benar.
Amel, Ayu dan Sonya masih berada di dapur, mereka masih membersihkan piring kotor bersama. Namun, tidak seperti biasanya Ayu dan Sonya seakan mendiami Amel.
'Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka mendiamiku? Ada yang tidak beres,'batin Amel curiga.
Selesai mencuci piring barulah Amel menghampiri Azka yang sedang menonton TV sendiri. Para malaikat kecilnya telah di bawah pergi oleh Ayu dan Sonya.
"Dimana pak Arya dan pak Dokter?"tanya Amel. Amel sangat lupa dengan peringatan yang Azka berikan padanya semalam.
"Aaa ... maaf. Aku hanya ingin meminta izin padamu untuk pulang ke rumahku dulu." Amel tersenyum canggung merasa tak enak hati.
"Mau mandi."
"Kenapa tidak mandi di sini saja?"
"Itu, baju ganti dan pakaianku bersama anak-anak masih berada di rumah,"jelas Amel.
"Kamu tidak perlu kembali ke sana dulu. Nanti aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilkan barang-barangmu. Untuk sementara waktu, kalian tinggallah di sini saja. Ini juga demi kebaikan kalian, aku tidak mau ada orang yang berniat jahat lagi pada anak-anakku dan juga ... kamu."
"Tapi--"
"Tidak pakai tapi-tapian."
"Iya-iya. Terserah kau saja."
"Darren sudah pulang. Arya sedang mengurus sesuatu."
"Oh," Amel berjalan dan duduk di samping Azka.
"Selamat pagi pemirsa. Kembali lagi bersama saya di tayangan berita terkini. Kali ini kita akan membahas tentang perusahaan milik pak Ricko salah satu perusahaan yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik Abraham Group Agency.
__ADS_1
Dikabarkan perusahaan yang baru-baru ini sedang naik daun, kini terlilit hutang miliaran rupiah pada pihak Bank, membuat saham yang ada di perusahaan milik pak Rikco turun drastis. Pihak Bank juga menyita seluruh asek perusahaan sehingga perusahaan itu mengalami kebangkrutan mendadak.
Setelah mengalami kebangkrutan, ternyata anak dari pak Ricko yakni Yuni Yuliana terlibat dalam insiden penculikan anak berusia tiga tahun. Para saksi dan tersangka sudah berada di kantor polisi untuk di interogasi lebih lanjut.
Kita juga akan mewawancarai pacar dari Yuni Yuliana. Barangkali dia juga mengetahui aksi dari pacarnya melakukan tindak kejahatan."
Masih berada dalam siaran TV. Setelah Riski diwawancarai dia mengakui bahwa Yuni bukanlah pacarnya dan hanya menggangap Yuni sebagai teman lama saja. Dia juga menjelaskan tidak tahu-menahu soal insiden yang dilakukan Yuni di belakangnya.
'Semudah itu Riski membuang Yuni yang sudah menemaninya bertahun-tahun,'batin Amel.
"Itu pasti perbuatanmu, kan?"tanya Amel pada Azka yang masih fokus menonton berita.
"Masalah kebangkrutan itu bukan sepenuhnya perbuatanku. Itu salah pak Rikco sendiri, terlalu serakah hingga membuatnya runtuh." Azka mengambil remote dan mematikan TV.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang dikatakan oleh Bara? Apa dia sama sekali tidak mendapat hukuman?"tanya Amel.
"Untuk saat ini bukti kita belum terlalu kuat dan masih tidak jelas. Kamu tidak usah memikirkan hal itu, biar aku saja yang menyelesaikan semuanya."
"Baiklah."
"Ada urusan mendadak yang harus aku lakukan di luar. Untuk sementara waktu kalian jangan pergi kemana-mana dulu."
"Iya. Aku mengerti."
Mereka berlalu ke lantai atas. Azka memilih mandi di kamarnya. Sebelum itu Amel yang merasa dirinya sedang terancam segera pamit ke kamar Ayu dan juga Sonya. Dia takut hal memalukan yang ia lakukan tempo hari terjadi kembali.
Amel segera masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Ayu dan Sonya. Mereka yang sedang main kelitikkan seketika itu terhenti karena melihat kedatangannya.
"K--Kak, Amel."
"Ada yang ingin kakak tanyakan pada kalian berdua."
'B--Bagaimana ini?'batin Ayu.
Tertawa canggung. "S--Soal apa ya, Kak?"tanya Ayu.
"Anak-anak kalian main sendiri dulu, ya sayang. Mama ada perlu sama Tante Ayu dan juga Tante Sonya,"jelas Amel.
"Aik Mama,"ucap mereka serempak.
"Ayo!"seru Amel.
Amel menuntun keduanya duduk di sofa kamar itu.
Bersambung❣
__ADS_1
Mohon maaf saya tidak berbakat dalam hal menyusun berita😅, karena saya jarang menonton berita jadi saya nulis apa adanya saja.🙈😂. Oke, semoga puasanya lancar.😍