Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 100


__ADS_3

Arya mendaratkan pantatnya ke sofa, dia menjadi termenung dan tentunya Ayu-lah yang membuatnya seperti itu. Azka dan Darren terus memperhatikan mimik wajahnya.


'Kau tenang saja, sedikit lagi kau juga akan mengetahui isi hatimu itu.' Batin Darren yakin.


Darren kemudian merongoh ponselnya yang berada di dalam saku celana depan, lalu dia mengirim pesan pada Sonya.


[ Aku ingin kita berbicara empat mata sebentar. Aku tunggu di luar, ya? ]


Pesan Darren berhasil terkirim pada Sonya. Sonya yang sedang berbaring sambil bermain ponsel melihat ada notif pesan dari sang kekasih.


'Pasti ada masalah penting sampai kak Darren ingin berbicara berdua denganku,'batin Sonya.


Sonya melihat Ayu yang juga sedang berbaring di sampingnya. Mata Ayu sudah mulai sayu pengaruh ngatuk yang amat berat. Semalaman dia begadang untuk membalas chat dari Bayu entah apa yang Bayu katakan padanya.


Sonya pun mengirim pesan balasan kepada Darren.


[ Oke. ] Pesan singkat itu berhasil terkirim.


Darren yang sudah menerima pesan dari sang kekasih pun bergegas keluar namun sebelum itu, dia pamit dulu pada Azka dan juga Arya yang masih duduk di sofa.


"Kak, Kakak." Sonya memanggil Ayu dengan berbisik.


"Hm?"


"Aku keluar sebentar, ya?"


"Baiklah, Kakak juga mau tidur dulu sebentar."


"Oke."


Sonya beranjak dan keluar kamar, tidak lupa merapatkan pintu kamarnya agar Ayu juga dapat beristirahat dengan nyaman. Perlahan-lahan dia melangkah melewati ruang tamu.


"Mau ke mana kamu?"tanya Arya yang sudah melihat gerak-gerik adiknya.


"Eh, Kakak. Aku ke depan dulu, ada perlu sama kak Darren,"ucap Sonya tersenyum.


"Apa kerjaan kalian semua pacaran mulu?"tanya Arya. Kekesalannya kini muncul lagi. Dia sangat sensitif dengan kata pacaran.


"Makanya Kak, cepat punya pacar biar tidak sewot pada orang lain." Sonya sedikit menyindir kakaknya.


"Ya sudah, keluar sana!" Arya segera mengusir Sonya.


"Tuh, 'kan. Dasar jomblo karatan." Sonya bahkan mengejek kakaknya. Kakaknya malah menatapnya seakan tak percaya.


"Anak kecil sepertimu sudah berani ya sekarang?"tanya Arya, matanya melotot menatap Sonya yang masih berdiri tak jauh dari mereka.


"Di sini tidak ada tuh yang namanya anak kecil. Yang ada hanya orang yang tak memiliki pacar dan bahkan terlihat sangat menyedihkan. Apa tidak bisa move-on atau gimana, ya." Sonya meletakkan jari telunjuknya ke pipi lalu membuat ekspresi seperti orang berfikir.


Kali ini Sonya benar-benar mengejek kakaknya dengan kekuatan penuh. Dia hanya mencoba agar mata hati kakaknya itu terbuka dan dapat secepatnya menyadari perasaannya yang masih tersembunyi di tempat gelap.


"Sonya! Keluar sana! Jangan bicara asal lagi! Cepetan keluar! Jangan sampai Darren menunggu lama dan dia malah selingkuh dengan wanita cantik lainnya."

__ADS_1


Arya sudah tidak tahu harus berkata apalagi, dia hanya bisa mengusir Sonya untuk secepatnya pergi dari hadapannya. Sedang Azka memerhatikan kedua kakak beradik itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku percaya pada kak Darren. Dia orangnya setia, tidak seperti kakak. Kuat namun nyalinya bak kripik, baru di remas aja udah remuk."


"Berhentilah mengejekku!" Bentak Arya.


"Emang bener 'kan? Masa udah cinta tak menyadarinya. Keburu tua baru tahu rasa kamu, Kak." Lagi-lagi Sonya mengejek Arya.


"Ya ampun. Sana, keluar sekarang! Jangan sampai Kakak marah dan tidak memberikan uang jajan untukmu lagi."


"Huu ... baru ngomong gitu aja, udah marah. Ah, payah. Oke deh aku pamit keluar ya, Kak Arya, Kak Azka."


Akhirnya Sonya mau menurut, bukan takut karena tidak di kasih uang jajan, namun karena takut kekasihnya menunggu lama di luar.


"Silahkan!" Ucap Azka, ia bahkan mengancungkan jari jempol ke arah Sonya. Sonya membalas dengan seulas senyum di bibirnya.


"Ya. Keluar sana!" Arya seakan malas meladeni adiknya yang sudah terkesan berani padanya.


'Semua perempuan sama saja, menyebalkan.' Batin Arya.


Sonya pun berlalu dan pergi meninggalkan mereka. Sesampainya di luar, matanya berkeliling mencari keberadaan sang kekasih.


"Hei! Sebelah sini!" Teriak Darren yang sedang duduk di kursi taman depan rumah.


Setelah melihat Darren Sonya pun menghampirinya dan duduk di samping Darren. Matahari di siang hari begitu terik namun angin sepoi-sepoi juga dapat menyejukkan kulit apalagi saat duduk berteduh di bawah pohon.


"Ada apa kakak memanggilku ke sini?"tanya Sonya menatap Darren.


"Ada suatu hal yang ingin Kakak sampaikan padamu. Tapi, sebelum itu, kita ganti nama panggilan dulu di antara kita."


"Apa Kak Darren tidak suka jika aku memanggilmu dengan sebutan Kakak?" Tanya Sonya pada lelaki yang sedang membalas tatapan matanya.


"Suka kok, apapun itu kakak tetap suka kalau Anya yang memberikannya pada Kakak. Hanya saja ... Kakak ingin kita terlihat romantis dengan nama panggilan sayang dari pasangan,"ucap Darren serius.


"Terus aku harus panggil Kakak dengan sebutan apa?"tanya Sonya.


"Kakak sudah menyiapkan nama panggilan untuk kita. Untuk itu Kakak butuh kerja samamu."


"Baiklah Kak."


"Kakak panggil kamu dengan sebutan Dinda dan kamu panggil Kakak dengan sebutan Kanda. Bagaimana?"tanya Darren antusias.


"Bagus Kak. Aku suka,"ucap Sonya malu-malu meong.


"Coba kamu praktekin,"pinta Darren.


"Kanda!" Lirih Sonya.


"Ulangi sekali lagi!" Pinta Darren tertawa dalam hati.


"Kanda!"

__ADS_1


"Lebih keras."


"Kanda!!!"


"Hahaha. Terima kasih Dindaku yang manis." Darren tergelak dan sedetik kemudian memuji calon istrinya itu.


"Oke Dinda. Kanda ingin melakukan sesuatu tapi Kanda butuh kerja sama dari Dinda. Apa Dinda setuju?" Sambungnya lagi.


"Baiklah Kanda. Katakanlah!"


"Empat hari ke depan Azka dan kakak Ipar akan melakukan foto prewedding."


"Aku sudah dengar dari kak Amel tadi."


"Bagus deh untuk itu Kanda sudah tidak perlu memberitahumu lagi. Rencana Kanda pada hari itu kita juga harus keluar untuk jalan-jalan."


"Jalan-jalan kemana Kanda?"tanya Sonya ingin tahu.


'Apa itu saja ya yang ingin Kanda katakan padaku?' Batin Sonya.


"Begini. Kanda akan mengajak Dinda ke rumah Mommy sama Daddy. Juga kita akan ke rumah Nenekmu Dinda, agar Kanda meminta restu dari Nenek untuk meminangmu nanti. Bagaimana?" Jelas Darren, meminta persetujuan.


"Hah?! K--Ketemu sama ayah dan ibu Kanda?"


Darren mengangguk. "Tenanglah Dinda. Dinda tidak perlu khawatir. Mommy sama Daddy pasti senang ketemu sama Dinda,"terangnya. Berusaha menyakinkan sang pujaan hati.


'Dan mereka pasti sangat bahagia, akhirnya Kanda bisa mendapatkan Dinda walau belum seutuhnya. I love Anya, Dindaku sayang.' Batin Darren.


"Baiklah Kanda. Apa Kanda beneran mau menemui Nenek di kampung?" Tanya Sonya memastikan ucapan Darren.


"Ya. Bila perlu kita menginap di rumah Nenek. Kanda juga harus pandai mengambil hati agar Nenek juga merestui hubungan kita."


"Baiklah Kanda. Dinda setuju, Nenek juga orangnya sangat baik dia pasti sangat menyukai Kanda. Tapi, apa cuma ini yang ingin Kanda katakan pada Dinda?"tanya Sonya lagi.


"Tidak dong, Dindaku sayang! Ada juga hal yang lain. Kanda sengaja mengajak Dinda pergi jalan-jalan agar Arya dan Ayu dapat bersama di rumah. Untuk itu Dinda tidak boleh memberitahukan rencana kita pada siapapun, agar tak gagal nanti."


"Kereeen, Dinda setuju Kanda. Dinda jadi tak sabar melihat kak Arya dan kak Ayu bersama. Jika rencana kita gagal kali ini bagaimana?"


"Tidak apa-apa Dinda. Selagi masih ada wakti kita harus terus berusaha."


"Benar itu Kanda. Terima kasih." Sonya sontak memeluk tubuh Darren erat.


Darren membalas pelukkan Sonya dan tersenyum. "Sama-sama Dinda."


Bersambung❣


Kalian mendukung pasangan yang mana?


Amel Azka?😁


Ayu Arya?😁

__ADS_1


Sonya Darren?😁


😍😍


__ADS_2