
Setelah mengambil kunci mobil di kamarnya, Arya berlalu keluar dari rumahnya dan menemui Ayu yang masih berdiri di teras rumah.
"Ayo!" ajak Arya pada Ayu.
"I--Iya, Om."
Arya berjalan ke arah mobilnya yang masih terparkir di sana, tanpa memanaskan mesin mobilnya ia lantas membuka pintu mobil itu lalu mempersilahkan Ayu untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk Nyonya Arya!" pinta Arya kikuk.
Ayu tergelak mendengar candaan Arya yang terdengar ambigu di indera pendengarannya. "Jika Om tidak bisa bercanda, maka sebaiknya Om diam saja, ya!" pinta Ayu terkekeh.
Arya merasa gemas dan refleks mengacak-ngacak rambut sebahu milik Ayu. "Ya sudah, masuk sendiri sana!" ucapnya. Ia pun memutari mobilnya tanpa menghiraukan Ayu.
Mendapat perlakuan Arya barusan, Ayu sama sekali tidak marah padanya, melainkan ia hampir saja tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Arya barusan.
'Kenapa Om manis sekali, sih!'
Ayu yang sudah masuk langsung duduk dengan sopan di dalam mobil itu. Ayu menatap lurus ke depan, ia sedang menggulum bibir munggilnya. Ayu benar-benar tidak sanggup melihat wajah Arya di sampingnya, ia takut tawanya pecah begitu saja.
"Kenapa kau malah menatap tembok? Harusnya kau melihat ke arahku," ungkap Arya merasa tidak nyaman.
"Om, sebaiknya diam, ya!" pinta Ayu masih menatap lurus ke depan.
"Kenapa aku harus diam melihatmu menatap tembok yang tidak menarik sama sekali? Tuhan sudah menciptakan mulut untuk bicara, bukan hanya diam saja," jawab Arya.
'Lama-lama aku tidak tahan lagi.'
"Om diam!" pinta Ayu, kali ini dia tidak menahan tawa melainkan menahan sesuatu yang lebih berani.
"Tidak bisa. Aku akan terus mengoceh kalau kamu tidak menatap ke arahku," sungut Arya. Entah kenapa dia menjadi sedikit manja dan ingin di perhatikan. Masa sama tembok saja cemburu.
'Sejak kapan Om jadi banyak bicara?'
"Kenapa tidak bicara? Ayo hadap sini dulu! Sesudah itu barulah aku menghidupkan mesin mobilku," ucap Arya penuh penekanan. Kini posisinya menyamping menatap Ayu yang masih dengan posisi yang sama.
'Aku akan membuatmu bungkam, Om.'
Tiba-tiba Ayu memalingkan wajahnya ke sampingnya, lalu menatap orang yang sedang bicara padanya, sedikit menatap mata pria itu dan secepat kilat mengecup singkat pipi Arya.
Cup!
"Ayo jalan!" pinta Ayu. Ayu memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak berani menatap Arya karena malu.
__ADS_1
Selama beberapa detik Arya terdiam membatu di tempat duduknya. Setelah sadar dari keterkejutannya. "Ah, i--iya," ucap Arya gugup.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Arya menghidupkan mobilnya dan mengemudikan mobil itu dengan lihai.
Fikirannya masih terus berputar pada kecupan Ayu padanya yang terjadi begitu tiba-tiba. Dia yang tadinya banyak bicara langsung terdiam, walau mobilnya terus membelah jalan perkotaan. Ayu yang melihat perubahan Arya, berinisiatif menjahili Arya.
Memalingkan wajahnya ke arah Arya. "Kita mau kemana, Om?" tanya Ayu membuka pembicaraan.
"Ah, kemana ya?" Hal yang ia fikirkan semalaman malah hilang begitu saja dari otaknya. Padahal Arya sudah menyiapkan tempat untuk jalan-jalan berdua namun kini ia melupakan semua itu hanya karena sebuah kecupan singkat dari sang pemilik hatinya.
"Kok malah nanya balik ke aku? Bukankah semalam Om yang mengajakku?" tanya Ayu serius. Rasanya Ayu ingin sekali tertawa namun ia berusaha untuk menahannya.
'Lihat wajah Om yang sedang kebingungan itu. Hahaha.'
"Kamu diam saja dulu," pinta Arya sedikit memaksa.
'Ini semua karena kamu, sekarang aku jadi terlihat seperti orang bodoh. Arrght ... benar-benar bisa gila, kalau lama-lama seperti ini.'
"Eh, bukankah Om sendiri yang bilang, kalau Tuhan itu, menciptakan mulut untuk bicara," terang Ayu mengembalikan ucapan Arya padanya.
"Diam ah, aku pusing nih!" ungkap Arya sedikit kesal.
"Hahaha. Apa Om tidak bisa move on dari kecupanku tadi?" tanya Ayu. Kini ia sedang melancarkan jurus mautnya.
"Tuh 'kan, wajah Om seperti kepiting rebus." Ayu senang dapat menggoda Arya sekarang.
"Enak saja."
"Hahaha. Om malu-malu meong ya?" tanya Ayu semakin menjadi.
"Jika kamu tidak mau diterkam olehku di sini, maka duduklah dengan tenang, oke?" tanya Arya sedikit mengancam.
"Waduh ... emang Om macan? Harimau? Singa? Atau hm ... Buaya? Hahaha." Ayu tidak takut dengan ancaman Arya, bahkan secara terang-terangan malah menjadikan ancaman itu sebagai bahan candaan.
"Mana mungkin pria sepertiku disamakan dengan Buaya," ucap Arya serius.
"Apa tidak boleh? Buaya juga 'kan termaksud salah satu hewan yang paling ganas." Ayu tidak mengerti dengan ucapan Arya.
"Buaya mah hanya ada di kisah anak ABG doang! Apa kamu tahu suara buaya yang sudah bersiap menerkam mangsanya?" tanya Arya menatap sekilas ke arah wanita yang duduk di sampingnya.
"Mana kutahu Om, aku 'kan bukan buaya," ucap Ayu polos.
"Apa kamu Mau dengar suara buaya versi anak ABG?" tanya Arya serius.
__ADS_1
"Coba-coba, aku mau dengar."
"Yang pertama, Aku mencintaimu. Yang kedua, Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Yang ketiga, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan masih banyak lagi. itulah suara buaya versi anak ABG," jelas Arya mantap. Ia tersenyum menatap lurus ke depan.
'Dasar ABG labil.'
Arya tak habis fikir anak ABG jaman sekarang hanya bermodalkan janji manis tuk memikat wanita yang mereka taksir. Mereka tidak memikirkan masa depan dan hanya menaburkan serbuk-serbuk gombalan dan rayuan yang tidak ada artinya.
'Dek, Dek. Sekolah dulu yang benar agar masa depanmu cerah. Tentunya jangan dengarkan suara buaya.'
Ucapannya hanya ia lontarkan dalam hatinya, itu karena Arya sempat melihat berita tentang pernikahan dini, yang ujung-ujungnya melahirkan kesingsaraan karena sang lelaki tidak mampu menafkahi istrinya.
"Lah, apa hubungannya dengan seekor buaya?" tanya Ayu polos. Ia memang tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Arya.
"Apa buaya bisa berbicara semua itu, ya? Memikirkannya saja sudah tidak masuk akal."
"Dasar bocil, itu saja tidak paham."
"Hahaha. Makanya Om, kamu yang harus menjelaskan detailnya padaku, biar aku paham. Karena aku juga tidak pernah pacaran saat masih ABG, Om. Alias JOMTER."
"Apa kamu tidak pernah nonton berita?" tanya Arya serius.
"Tidak. Hehe. Sebenarnya aku nonton flim yang berisi pria ganteng semua, Om."
"Ah, dasar. Pantes saja kamu tidak tahu."
"Hahaha."
"Tapi, ngomong-ngomong. JOMTER itu apa?" tanya Arya ingin tahu.
"Nah, sekarang giliran Om-Om yang tidak paham," ucap Ayu tertawa mengejek.
"Emang apaan?" tanya Arya penasaran.
"Jadi Jomter itu singkatan dari 'JOMblo TERhormat', Om." jawab Ayu enteng.
"Kamu ini ada-ada saja," ungkap Arya.
"Hahaha."
Ayu tergelak sedang Arya hanya geleng-geleng kepala saja. Kini Arya sudah mengingat akan membawa Ayu kemana. Mereka suda tidak canggung lagi, bahkan sesekali mereka bercanda hingga mengeluarkan tawa bahagia dari bibir keduanya.
Mobil Arya kini telah memasuki kawasan pantai, sudah dipastikan tempat itu ialah salah satu tempat wisata yang ada di kota H, pantai yang indah menyejukkan mata dengan panorama laut yang begitu menggoda.
__ADS_1
Bersambung❣