Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 38


__ADS_3

Terlepas dari kekesalannya. Amel tiba di rumahnya dengan selamat.


Tok! Tok! Tok!


Amel yang lupa, bahwa hari ini Ayu tidak ada di rumah pun memanggil nama Ayu.


"Ayu! Kakak pulang!" seru Amel dari luar pintu.


Sonya bergegas membukakan pintu. "Iya, tunggu sebentar!"


Loh kok suaranya beda, itu bukan suaranya Ayu deh? fikir Amel.


Cek-lek!


"Siapa ya?" tanya Sonya pada Amel.


"Aku Amel, Kakaknya Ayu. Kamu Sonya 'kan? Gadis imut itu?"


Jadi ini yang namanya kak Amel. Cantik banget, imut pula lagi. Gumam Sonya dalam hati memuji kecantikan Amel.


"Oh Kak Amel. Eh iya Kak, tapi pujianmu terlalu berlebihan. Hehe." Sonya tersipu dikatakan imut oleh Amel.


"Kita masuk saja dulu. Nanti kita bicarakan nanti."


"Baiklah Kak."


Setelah memasuki rumah."Di mana anak-anak?" tanya Amel pada Sonya.


"Di kamar Kak. Mereka lagi main."


"Oh, kita duduk dulu sebentar." Amel dan Sonya duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu masih sekolah?" tanya Amel.


"Tidak Kak. Aku udah lulus SMA." Jujur Sonya.


"Tidak lanjut kuliah?"


Kak Amel sedang menginterogasiku. Wajar saja, aku 'kan orang asing di sini. batin Sonya.


"Tidak Kak."


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa Kak. Hehe."


"Kenapa kamu bersedia bekerja sebagai pengasuh?"


"Hm, itu karena aku sangat suka dengan anak kecil Kak. Aku ingin mencari pengalaman, lagian ya Kak, anak-anakmu itu sangatlah lucu dan mengemaskan. Pengen cubit tapi sayang terlalu imut jadi tidak bisa.Hehe." Sonya yang tidak dapat menutupi isi hatinya langsung berbicara dengan bahagia. Wajahnya tampak berseri-seri tanpa dibuat-buat.


Dia gadis yang baik, batin Amel meneliti wajah Sonya.


"Haha. Kamu bisa saja. Oh iya mana Ayu?"


"Kak Ayu dari pagi belum pulang Kak. Katanya mau kerja Kak."


"Ya ampun Kakak lupa. Kamu belum pulang?" ucap Amel.


"Belum Kak. Aku masih betah di sini. Hehe. Tidak apa-apa 'kan Kak, kalau aku di sini dulu?"


"Iya sayang. Malah bagus." Amel tersenyum membalas pertanyaan Sonya.


Tok! Tok! Tok!


"Aku pulang!"


"Kayaknya itu suara kak Ayu deh," ucap Sonya.


"Iya. Kakak ke depan bukain pintu dulu, ya?" Amel hendak berdiri. Namun dicegah oleh Sonya.


"Tidak usah Kak, biar aku saja. Mending Kakak mandi dulu," ucap Sonya.


"Baiklah." Amel yang merasa gerah bahkan sisa-sisa kekesalannya terhadap Azka masih membekas dalam benaknya memilih untuk mengalah dan mandi saja.

__ADS_1


Amel berlalu ke kamarnya. Sedangkan Sonya berjalan membukakan pintu.


Cek-lek!


"Hallo Sonya! Apa kak Amel sudah pulang?"


"Sudah Kak. Belum lama pulangnya."


"Terus, anak-anak di mana?" tanya Ayu.


"Di kamar Kak. Pasti Kakak capek 'kan? Sebaiknya Kakak mandi dulu saja. Biar makan malamnya aku yang siapin."


"Eh. Kamu bisa masak?" tanya Ayu heran.


"Hehe. Lumayanlah Kak."


"Oke baiklah. Maaf ya harus merepotkanmu juga, padahal kamu di sini hanya menjaga anak-anak. Kakak jadi tidak enak hati, kalau kamu masak untuk kami lagi."


"Tidak apa-apa Kak. Memasak adalah hobiku Kak dan aku suka kok."


Udah imut, baik, pintar masak lagi, batin Ayu.


"Makasih ya! Kakak ke kamar dulu."


"Iya Kak. Sama-sama."


Makan malam telah tiba.


Sonya yang belum pulang, kini menemani Amel dan yang lainnya makan bersama di ruang makan.


"Wah, makananmu wangi dan kelihatan banget enaknya." Mata Ayu berbinar melihat makanan lezat di atas meja.


"Iya, Kakak setuju Yu," timpal Amel.


"Mama ama Ante tetindalan ii, celain tantik Ante Nya duja pintel asak. Tiang adi ami emua matan temilan enat uatan Ante Nya. Benal tan?" Rasti memuji masakan Sonya, dia pun bertanya pada kakak dan juga adik-adiknya.


"Benal. Ebih enat dali matatan Ante Ayu." Raka ikut menimpali.


"Benal, enat tetali. Atu ampe ambah tida tali." Bara ikut memuji.


"Wah, anak Mama sesenang itu ya, sama Tante Sonya?" Mereka semua mengangguk menanggapi pertanyaan Amel.


Ayu tidak mempedulikan saat anak-anak membandingkan dirinya dengan Sonya. Dia kini tengah memperhatikan makanan lezat yang sudah tertata rapi di atas meja.


"Kapan makannya? Aku sudah nggak sabar nih!" ucap Ayu.


"Hahaha." Semua tertawa melihat Ayu yang hampir meneteskan air liurnya.


"Ayo kita berdoa dulu." Amel membimbing mereka untuk berdoa, setelah berdoa barulah mereka menikmati makanan dengan lahap.


Ouuggh ...


Sendawa besar Ayu terdengar seisi ruang makan.


"Ya ampun Ayu, kenapa kelakuan bar-barmu kembali lagi?"


"Haha. Sejak ngojek pagi tadi, kelakuanku sudah sedikit kembali Kak. Habisnya makanannya terlalu enak Kak. Aku sampai lupa sudah menghabiskan berapa piring."


"Jangan terlalu memujiku Kak. Nanti aku bisa terbang. Hehe." Sonya merasa malu dipuji terus.


"Benal Ante Nya. Matanan Ante enat tetali." Rasti ikut memuji Sonya dan di angguki oleh semua saudaranya.


"Makanannmu sangatlah enak. Anak-anak juga suka. Jadi kapan-kapan ajarin Kakak masak, ya?" pinta Ayu dengan tatapan yang sedikit memelas.


"Dengan senang hati, Kak."


"Terima kasih Sonya."


"Sama-sama Kak."


Sehabis makan mereka duduk di ruang tamu untuk berbincang. Anak-anak sedang berada di ruang TV menonton kartun yang tayang pada malam hari.


"Kamu belum pulang?" Amel bertanya pada Sonya yang duduk tidak jauh darinya.

__ADS_1


Ting!!!


Pesan masuk di ponsel Sonya tapi dia belum melihatnya.


"Lagi nunggu jemputan, Kak."


"Oh, jemputan dari Abangmu?" tanya Ayu.


"Iya Kak. Sebentar ya Kak, aku baca pesan dari Abangku dulu."


"Oke baiklah. Silahkan!"


Sonya melihat layar ponselnya.


[ Aku sudah berada di depan gang.] Pesan singkat dari Arya untuk Sonya.


"Abangku sudah berada di depan gang Kak. Aku pulang dulu, ya?" Sonya pamit untuk pulang.


"Eh. Kakak temani, ya?" Ayu menawarkan diri untuk mengantar Sonya.


"Tidak usah Kak."


"Tidak apa-apa. Di luar juga agak gelap. Kakak takut kamu kesasar," ucap Ayu.


"Baiklah Kak." Sonya pun mengalah.


"Kak Amel, aku temani Sonya dulu, ya?"


"Iya hati-hati!"


"Siap Kak."


Ayu menemani Sonya melewati gang yang temaram akan penerangan. Mobil Arya yang sudah di perbaiki siang tadi, kini sedang menunggu adiknya di depan gang.


Sesampainya di ujung gang Ayu berdiri di tempat yang tidak di sinari cahaya lampu. Sedangkan Sonya berjalan menghampiri mobil yang ada di depan gang. Mobil itu tampak gelap karena tidak menyalahkan lampu di dalamnya.


Aneh mobilnya gelap banget. Kek mau syuting flim horor aja. Mana orangnya tidak kelihatan lagi, batin Ayu melihat mobil yang terparkir di depan.


"Sonya! Kakak pergi dulu, ya?" ucap Ayu sedikit berteriak.


"Iya Kak. Makasih telah mengantarku!"


"Sama-sama."


Ayu berjalan untuk pulang ke rumah dan Sonya naik ke mobil kakaknya.


"Kakak kenapa tidak menyalahkan lampu mobilnya?" tanya Sonya. Sonya juga heran dengan kakaknya.


"Nyalahkan saja sendiri."


"Huh!" Mobil Arya melaju perlahan membelah jalan.


"Tadi itu siapa?" Tanya Arya, di tengah perjalanan pulang.


"Yang mana?"


"Yang mengantarmu tadi?"


"Oh ... itu Kak Ayu Kak. Orangnya baik, cocok untuk Kakak. Orangnya juga cantik. Hehe." Sonya memuji Ayu di depan kakaknya.


"Oh." Arya hanya membalasnya dengan singkat.


Suaranya kok sangat familiar, ya? Hmm, mana mungkin cewek gila itu ada di sini. Gumam Arya dalam hati.


Arya yang berada di dalam mobilnya yang gelap, tidak dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang mengantar adiknya itu, pasalnya wanita itu berdiri di tempat yang tidak di sinari cahaya.


"Kakak tidak seru! Masa di jawab hanya 'oh' doang!"


"Bagaimana pekerjaanmu itu? Apa mereka menyusahkanmu?" tanya Arya tidak menghiraukan ucapan Sonya.


"Tidak. Sama sekali tidak menyusahkanku Kak. Malahan nih ya, anak-anak di sana sangat imut dan lucu Kak. Aku kira hanya satu anak saja Kak, nyatanya ada empat anak dan mereka itu kembar Kak. Oh iya Kak, ada salah satu anak yang sangat mirip dengan orang yang aku kenal. Tapi, aku lupa Kak siapa orang itu." terang Sonya antusias.


Dia sesenang ini, jadi aku bisa legah memberikan sedikit kebebasan untuknya. batin Arya.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2