Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 87


__ADS_3

Amel bergelayut pada Azka, memberi isyarat padanya jangan membesarkan masalah lagi, namun Azka tetap saja tak terima Amel di perlakukan seperti itu. Amel tahu betul dengan sifat Azka sebelum bertemu dengannya, walau bagaimana pun Azka seorang pria dingin yang kejam.


'Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?'batin Pramuniaga yang masih berdiam diri di tempat.


Beberapa menit kemudian, seorang Pramuniaga kembali dengan seorang manager yang berusia sekitar 50 tahun ke atas. Manager itu langsung menghampiri Azka, sedang Pramuniaga tadi sudah pamit pergi tidak mau melihat apa yang terjadi selanjutnya.


"P--Pak Azka, ada apa ya, Anda memanggil saya ke sini?"tanya manager Butik.


'Apa?! Pak manager saja tunduk dan memberi hormat pada orang ini. Gawat aku sudah menggali lubang untukku sendiri,'batin Pramuniaga.


"Beginikah cara didik Anda pada pekerja Anda?"tanya Azka dingin.


"Maaf Pak, saya tidak tahu tentang masalah ini,"terang Manager, harap-harap cemas.


"Mirna apa yang kau lakukan pada pembeli kita?"tanya Manager pada pramuniaga yang bernama Mirna itu.


"Bagini Pak ...." Mirna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau tahu mereka siapa?"tanya manager itu. Mirna hanya menggeleng pelan.


"Mereka tamu VVIP di Butik kami, dan kau malah menyinggung mereka seperti itu? Cepat minta maaf!!"bentak pak Manager lagi.


"Maafkan saya Bu." Terlihat jelas kesedihan di mata wanita bernama Mirna.


"Kau fikir dengan meminta maaf saja cukup? Kau harusnya bersujud mencium kakinya,"berang Azka.


Amel yang mendengar itu pun menjadi heran pada Azka, Amel tak habis fikir masalah sepele seperti ini harus diselesaikan dengan cara menghancurkan martabat seseorang.


"B--Baiklah!" Mirna bersiap untuk duduk dan bersujud, dengan air mata yang sudah tertampung di pelupuk matanya. Dia benar-benar telah menyadari kesalahannya, tidak seharusnya ia memperlakukan pembeli seperti itu.


Sebelum Mirna duduk di lantai, Amel segera menghentikannya. "Berdirilah!! Nama kamu siapa?"tanya Amel lembut.


"M--Mirna, Bu. Maafkan saya Bu, saya janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Mirna menundukkan kepalanya.


"Oh, Mirna. Tidak apa-apa, saya harap kau menepati janjimu, jangan pernah meremehkan orang lain lagi, ya?"pinta Amel tersenyum.


"Iya, Bu. Terima kasih banyak!" Ucap Mirna tulus.


"Sekarang segera bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini. Mulai hari ini juga, kau di pecat!" Bentak pak manager penuh penekanan.


"Apa? Pak, kumohon jangan pecat saya!" Mirna memohon dengan mimik wajah yang kasihan. Namun, pak Manager itu tak menghiraukannya.


"Itu sepenuhnya kesalahan dia Pak, Bu. Tokoh kami tidak ada sangkut pautnya. Dia pekerja baru yang bekerja sudah tiga hari di sini, jadi jangan salahkan tokoh kami!" Terang pak Manager.


"Baiklah, itu keputusan yang tepat,"ucap Azka acuh tak acuh.


"Aku tak setuju. Mirna sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Kenapa harus di pecat?" Amel membantah perkataan dua pria itu. Dia tak setuju kalau Mirna harus di pecat.


"Sayang ... dia sudah menyakitimu,"ucap Azka lembut.


Pak manager menjadi terdiam mendengar penuturan Azka barusan, selama ia bekerja di sini tak sekali pun Azka menunjukkan sisi lembutnya pada orang lain. Dan pada hari ini dia mendengar kata lembut yang keluar dari bibir pria kejam itu, sungguh di luar dugaan.

__ADS_1


'Untuk ke depannya tidak boleh menyinggung wanita ini,'batin Pak manager.


"Namun kenapa? Dia sudah meminta maaf 'kan dan juga sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi? Jadi, tidak apa-apa. Pokoknya dia tidak boleh di pecat." Amel masih kekeuh dengan pendiriannya. Bahkan secara terang-terangan dia menunjukkan wajah kesal pada Azka.


"Baiklah, baiklah! Jangan pecat dia sesuai permintaan calon istriku." Azka pun menjadi patuh seperti seekor @njing yang patuh terhadap tuannya.


"Terima kasih Pak, Bu."


"Sama-sama."


"Sudah, kau lanjut bekerja. Di sana masih ada pelanggan yang baru saja masuk."


"Terima kasih pak Manager." Mirna membungkuk hormat dan segera pergi dari situ.


"Tunjukkan di mana desain baju pengantin yang sudah saya pesan."


"Ayo ikut saya, Pak."


...****************...


Di tempat lain.


Mereka sudah tiba di depan Mall terbesar yang ada di kota H, Darren di ikuti oleh Arya memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia di Mall.


Mereka berbondong-bondong keluar dari mobil, anak-anak tampak senang, namun berbeda dengan Raka yang hanya santai menanggapi apa yang di lihatnya.


"Wah, teyen anget,"ucap Rasti menatap bangunan mewah yang ada di depan mereka.


"Om, Ante. Pa tita bita beyi ainan di tini?"tanya Rasti.


"Bisa, sayang. Tapi, kalian tentu tahu 'kan tante Ayu dan juga tante Sonya tidak memiliki uang?"tanya Ayu.


"Talian temua enang aja, bial Om Alya an Om Allen ang membayalna,"ucap Raka enteng.


"Iya, kalian boleh memilih apapun yang kalian mau. Om juga akan membawa kalian ke tempat permainan yang seru. Kalian pasti suka,"ucap Darren. Darren tidak memperhitungkan biaya yang dia keluarkan asalkan keponakannya itu bahagia dan juga tentunya misinya juga harus tercapai.


"Holee!" Teriak ketiga bocah itu dengan girang.


"Tapi, kalian juga harus ingat dengan pesan dari mama Amel. Apa itu?" Tanya Ayu.


"Iya Ante. Tami tan memiyi atu ainan aja."


Ayu sangat senang jika bocah-bocah itu masih mengingat nasihat Mamanya tidak boleh boros dengan hal-hal yang tidak begitu penting, karena di luaran sana masih banyak anak yang tidak memiliki apa-apa.


"Anak pintar." Ayu mengelus puncak kepala Rasti.


"Arya sampai ke dalan kita berpisah saja! Jika kau kesusahan mencari jalan, hubunggi saja aku." Darren sengaja memberitahu pada Arya, karena Darren tahu Arya baru pertama kalinya mampir ke Mall.


'Kau terlalu meremehkanku Darren,'batin Arya.


"Baiklah. Ayo masuk!"ajak Arya.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan sesuai pasangan masing-masing yang telah di atur dahulu. Setelah masuk barulah mereka berpisah. Darren dan Sonya menuju ke kanan begitu pun sebaliknya Arya dan Ayu menuju ke sebelah kiri.


Belum juga sampai ke tempat tujuan yaitu tempat permainan anak-anak, malah di pertemukan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak ingin Arya temui.


Ayu yang tadinya sedang bercanda dengan Bunga pun terbungkam di kalah seorang wanita memanggil nama Arya dengan manja.


"Arya! Kau di sini juga?"tanya wanita itu.


"Ya,"jawab Arya singkat melihat Aulia berjalan menghampiri mereka.


'Apa yang akan dia lakukan lagi?'batin Arya tak suka.


Arya berfikir setelah kejadian di rumah sakit tempo hari membuat Aulia berhenti menganggunya, namun wanita itu tak ada perubahan dan semakin mengincarnya. Aulia sudah berkali-kali menghubungi Arya namun Arya tidak meresponnya.


Arya sudah menganti nomornya berulang kali, tapi tetap saja Aulia dapat menghubungginya dengan cepat. Hingga membuat Arya jenggah dan tidak menganti nomor ponselnya sampai sekarang, dia juga sudah memblokir nomor Aulia, tapi tetap saja Aulia menghubungginya menggunakan nomor baru.


'Ada yang tidak beres dengan Tante ini. Seperti cacing yang di siram abu saja,'batin Raka. Raka dapat membaca situasi dan peka dengan keadaan di situ.


"Wah ... anak-anak ini lucu sekali,"ucap Aulia pura-pura tersenyum senang.


'Aku baru lihat kalau mereka membawa anak. Apa ini anak Arya dan wanita ini?'batin Aulia menebak.


Aulia buta wajah jadi dia tak mengenali wajah Raka mirip siapa. Dia hanya memfokuskan pemikirannya pada Arya dan Ayu.


'Kelihatan banget, kalau Tante ini tak suka dengan kami. Hei, wanita tua kau fikir dapat membodohiku?'batin Raka.


Raka menatap Aulia tanpa ekspresi, sambil melipat tangan di dadanya.


'Kenapa anak ini menatapku seperti itu?'batin Aulia.


"Sedang apa kau di sini?"tanya Arya dingin.


"Aku sedang melihat-lihat perhiasan di sana, namun tak sengaja melihat kalian di sini jadi sekalian menyapa. Tak kusangka kalian membawa anak juga,"terang Aulia.


"Yah, kedua bocah itu adalah anak kami, dan sekarang kami juga sedang menunggu anak ke tiga kami yang belum lama tumbuh dalam rahim istriku,"jelas Arya. Dia ingin membuat wanita seksi yang berada di depan mereka menyerah mengejarnya.


'Mendengar Om berbicara seperti itu, kok aku jadi geli gini, ya?'batin Ayu merinding.


"Iya 'kan sayang!"tanya Arya pada Ayu yang sedang melamun. Raka segera menyadarkan tantenya dengan memegang tangannya. Ayu pun tersadar dari lamunannya.


"Eh, i--iya."


"Ya, atu udah ak abal memiyiki teolang dik gi,"ucap Raka.


Raka juga sengaja menggelus perut rata milik Ayu. Raka yang sudah tahu dengan situasi yang ada malah ikut bermain peran di bersama, membantu Arya.


Sementara Bunga hanya tersenyum, dia menjadi diam karena tahu yang Om dan kakaknya lakukan pasti baik. Dia juga tak berniat memberitahu tentang ayah dan ibu mereka yang sebenarnya.


Senyum yang di buat-buat Aulia menjadi pudar, sorot kemarahan terpancar jelas di matanya.


'Tidak akan kubiarkan kalian bahagia. Sementara aku, setelah diterlantarkan oleh kekasihku (kekasih selingkuhannya) kau malah hidup bahagia bersama wanita tak jelas ini. Aku tidak terima, aku akan merebutmu dan kembali padaku,'batin Aulia.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2