
Tubuh Azka sudah di penuhi keringat dingin yang amat banyak hingga membuat bajunya basah. Ia membuka jasnya dan membuang ke sembarang arah. Jantungnya mulai berdebar-debar, berdetak sangat cepat dari batas normalnya.
Hujan mulai turun deras bahkan diiringi dengan suara gemuruh guntur dan kilat yang sedang menyambar. Azka sedikit memelankan laju kendaraannya menjadi sedang.
Lampu kendaraan yang dikendarai oleh pengendara lain di depannya, membuat Azka mendadak panik dan ketakutan melahirkan rasa cemas dan was-was terus menghantuinya.
"Tidak Azka. Kamu harus bisa! Oke, jangan takut!" Berulang kali Azka menggelengkan kepalanya, ia berusaha menyakinkan diri agar terus bertahan melewati hujan deras itu.
Namun naas sudah, Azka tidak bisa mengendalikan rasa paniknya yang ada dalam dirinya, apalagi mendengar suara klakson dari arah yang terdengar ada di mana-mana, seketika membuat fikirannya menjadi kosong.
Hujan yang semakin deras, guntur yang masih menggelegar, bahkan disertai dengan sambaran kilat dan petir, membuat dadanya sesak, mencekik pernafasannya.
Bagaikan flim yang diputar ulang, ingatan demi ingatan masa lalunya terbayang jelas dalam benaknya.
"Tidak! Tidak! Tidak! Jangan! Jangan! Jangan ambil ibuku!" teriak Azka dengan bibir gemetar.
Bibirnya pucat pasi seperti mayat hidup. Ia seperti orang yang sedang kebinggungan tak tahu harus melakukan apa. Mobil yang di kendarai oleh Azka, berlenggak-lenggok seperti sedang menari, tak tentu arah.
Kendaraan yang berada di belakangnya membunyikan klakson mobilnya berulang kali, sebagai peringatan untuk tetap berhati-hati saat berkendara. Namun mobil Azka tak kunjung juga di normalkan, sehingga pengendara yang ada di belakang mobilnya menjadi murkah.
Bahkan setelah melewati mobil milik Azka, pengendara itu tidak segan-segan memaki-maki ke arah mobil yang di kendarai oleh Azka. Tapi, bagaikan angin lalu, Azka tidak mendengar sehingga dirinya juga tidak menghiraukan suara klakson dan makian orang itu padanya.
"Aaaarrrgtt! Jangan ambil ibuku. Ibuku tidak meninggal!! Ibuku tidak meninggal!! Huhuhu, Ibuku tidak mungkin meninggalkanku sendiri!" teriaknya frustasi dengan deraian air mata.
Seketika kejadian di masa lalunya terputar kembali di benaknya.
Bagaikan mimpi di siang bolong, Azka tidak menyangka kecelakaan mobil tiba-tiba terjadi pada keluarganya.
Pada malam berhujan saat itu, Azka yang masih kecil, baru saja jalan-jalan bersama ayah dan ibunya. Mereka sengaja mengikuti jalur yang tidak terlalu padat akan kendaraan.
Canda tawa ketiganya masih terdengar ria di dalam mobil itu, namun tiba-tiba ponsel Daniel berdering, pertanda ada orang yang sedang menghubungginya.
Setelah mengetahui siapa orang yang menghubungginya Daniel pun menerima telepon dari orang tersebut.
__ADS_1
"Halo, Daniel. Apa kamu masih bersama dengan keluargamu?" tanya seorang wanita dari seberang telepon.
"Ya. Ada apa kamu meneleponku?" ketus Daniel.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja," terang wanita itu, manja.
"Jangan meneleponku lagi!" bisik Daniel.
"Santai saja sayang. Diana tidak akan tahu jika kamu sudah pernah meniduriku," ucap wanita itu menggoda. Tawa sinisnya terdengar jelas oleh indera pendengaran Daniel.
"Diam kamu!" hardik Daniel pelan.
"Siapa Mas? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Diana setelah habis bercanda bersama Azka.
"Bukan siapa-siapa sayang!" kilah Daniel.
"Cih." Wanita di seberang telepon mendecih tak suka.
"Coba siniin ponselmu. Siapa sih yang meneleponmu. Aku jadi penasaran." Diana tetap memaksa Daniel.
"Siniin!" pinta Diana tidak mau kalah.
"Kalau aku bilang jangan ya jangan!" hardik Daniel.
"Baiklah." Diana pura-pura merajuk. Setelah Daniel lenggah dia pun mengambil kesempatan itu dan segera merebut ponsel dari tangan suaminya.
Diana yang melihat nama yang tertera di layar ponsel Daniel, seketika diam membeku tanpa sadar ponsel itu jatuh ke bawah. Diana terisak, air matanya luruh begitu saja. Semua tidak terlepas dari pandangan Azka yang duduk di pangkuan Diana.
Daniel berusaha menyankinkan Diana, bahwa dirinya bisa menjelaskan semuanya. Namun Diana hanya diam membisu dengan deraian air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk mata indahnya.
Diana sudah mencurigai Daniel namun ia tetap mempercayai suaminya. Tapi, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Daniel membuat Diana sedih.
Apalagi dirinya juga pernah dikirimi foto yang tidak senonoh dari orang asing. Dan di dalam foto itu ada wajah suaminya yang tengah tertidur pulas bersama wanita lain dibalik selimut, lebih parahnya lagi Diana juga sangat mengenali wajah wanita itu.
__ADS_1
Air mata diana tidak kunjung berhenti walau Daniel sudah membujuknya. Azka yang masih kecil hanya mengusap pipi ibunya. Diana tidak henti-hentinya menciumi puncak kepala sang anak.
Daniel terlalu sibuk menyakinkan Diana, hingga ia tak melihat pengendara lain dari arah depan.
"Daniel awas!!!" teriak Diana.
Daniel segera melihat ke depan, diinjaknya rem namun dirinya panik karena remnya blong dan akhirnya Daniel membanting stir ke arah lain, tapi tidak sempat juga, sehingga membuat mobilnya menabrak motor milik pengendara lain yang juga sedang kebingunggan.
Sebelum kecelakaan naas itu terjadi, Diana sudah siap siaga dan segera memeluk anaknya dengan erat. Diana yang tidak memakai sabuk pengaman terlempar keluar melalui kaca jendela depan mobil. Sedang Daniel masih berada di kursi kemudi karena dirinya memakai sabuk pengaman.
Azka yang masih berada dalam pelukkan ibunya hanya merasakan sedikit nyeri pada sikut tangannya yang sedikit tergores oleh aspal.
Azka kecil segera melepaskan diri dari pelukkan sang ibu dan bangkit untuk melihat apa yang telah terjadi.
Darah segar mengalir di jalanan tempat terjadinya kecelakaan maut itu. Beberapa menit telah berlalu pengendara lain dan para warga yang tinggal di dekat situ segera berkumpul dan turut membantu, ada juga yang sedang merekam kejadian itu.
Azka masih berdiri mematung melihat orang yang semakin hari semakin banyak berdatangan. Telinganya tidak mendengar suara apa-apa, air matanya juga tak kunjung turun dari pelupuk matanya, bibirnya kaku membisu.
Diedarkan pandangan matanya menatap orang yang baru saja di turunkan dari atas mobil milik keluarganya. Orang itu terbentur kemudi stir namun lukanya tidak terlalu parah.
Arah pandang Azka berubah melihat ke arah orang-orang yang sedang menggangkat pria dan wanita parubaya, yang juga tergeletak tak berdaya tak jauh darinya berdiri, sedang motor mereka terpental jauh dan bahkan sudah tak terbentuk kerena remuk akibat kecelakaan itu.
Dia juga melihat ke arah wanita yang sempat memeluknya tadi. Dilihatnya darah semakin mengalir deras di bagian kepala wanita yang sedang terkapar di depan matanya.
Seketika dirinya tersadar dari lamunan panjangnya, dirinya menyadari bahwa sekarang semuanya tidak baik-baik saja, dan sedetik kemudian, air matanya luruh membanjiri mata kecilnya.
"I--Ibu!" lirihnya. Suaranya bahkan tidak terdengar seakan tercekat ditenggorokkan.
Azka kecil terduduk di jalan. Kepalanya pusing, pandangan matanya menjadi kabur, dan pada akhirnya ia pun pingsan dan tak sadarkan diri.
Azka mengerjapkan matanya, bau obat-obatan begitu pekat menyelimuti rongga hidung kecilnya. Azka membuka matanya perlahan-lahan dilihatnya lampu besar sedang menerangi ruangan itu. Matanya berkeliling melihat sekitarnya, terlihat ruangan yang temboknya berwarna putih.
'Aku ada dimana? Dimana ibu? Di mana ayah?'
__ADS_1
"I--Ibu!" lirihnya serak.
Bersambung❣